Kamis, 05 Mei 2011

Menjaga Hati Nan Tetap Ikhlas


“lho... masak sih ngasihnya cuma segitu...? Apalagi dari luar negeri, masak infaknya kecil amat, sih...?” keluh seseorang yang kusegani itu. “gak pantes deh, memang sih udah gede bagi orang sini, tapi bagusnya double ngasih dananya...” lanjutnya lagi.

Sudah berulang kali topik seperti ini mampir di telingaku. Bahkan kualami sendiri di depan mata, skala prioritas yang biasanya kita tetapkan dalam menyalurkan zakat, infaq atau sedekah, seringkali “dikomplain” oleh pihak yang kita beri, herannya hal ini biasanya terjadi di tanah air.

Bahkan hal yang seperti itu bisa menjadi ajang gossip di mana-mana. Padahal jika berada di negara rantau, saling memberi bukan hanya tradisi muslim, tetanggaku banyak yang non-muslim. Sekeping coklat saja yang diberikan sulungku untuk teman bermainnya membuat mama anak itu berterima kasih berulang kali kepada kami. Juga saat sepotong roti yang ia berikan kepada pak tua pembersih taman, “ketulusan ucapan terima kasih” bersinar di mata bapak tersebut.

Dan yang paling menyedihkan dari isu di negeri kita akan hal ini, ada sikap yang berbeda dari sang penerima dana kepada donaturnya berdasarkan jumlah rupiah yang diberikan. Mungkin kalian pernah mengalami hal ini, dalam kehidupan bersanak-saudara, ataupun lingkungan pertemanan dan relasi. Dan kebanyakan “pembumbu cerita” telah lupa, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia berkata dengan perkataan yang baik-baik atau dia berdiam saja.” (HR. Bukhari) dan pada riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Kebanyakan dosa anak Adam adalah karena lidahnya.” (HR. Tabrani dan Baihaqi)

Suatu hari ibu Sishy (bukan nama sebenarnya) bercerita kepadaku, “kalau infak buat ustadzahnya, satu orang lima ribu, neng... saya ngasihnya sepuluh ribu atau lima belas ribu, nah... kalau neng ini kan orang berduit, mestinya dua puluh lima ribu-lah pantasnya...” seraya mimik mukanya meyakinkan kalau “hal pantas” yang diungkapkannya adalah pengertian yang tepat.

Sejujurnya, malas meladeni perangai yang seperti ini. Pernah kuungkapkan perihal “pantasnya sedekah seberapa besar”, subjek aneh ini kepada sang kekasih. Suamiku mengutip nasehat, secuil tapi sangat bermakna, “mi... seorang petani yang penghasilannya cuma sejuta perbulan, lalu dia memberikan 500 ribu saat berinfaq tentulah lebih besar nilainya di mata Allah SWT jika dibandingkan seorang milyuner yang memberikan jumlah yang sama, 500 ribu rupiah. Mungkin bagi si milyuner jumlah itu cuma untuk beli kaos kaki, misalnya. Namun, semua orang tidak perlu menilai “pantas atau tidak pantas” jumlah uang itu, apalagi mereka-reka penghasilan seseorang dan membanding-bandingkan. Itu akan mengotori keikhlasan, dan bisa memancing seseorang untuk menyombongkan diri atau malah emosi... Bisa jadi milyuner itu punya pos donasi sendiri di ribuan yayasan atau rumah santunan lainnya, banyak para dermawan yang merahasiakan dana pemberiannya guna menjaga keikhlasan hati...” ujarnya lembut.

Saudara-saudariku, Allah SWT berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2] : 195)

Jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani semata-mata untuk mengabdi kepadaNYA, salah satunya terwujud dalam bentuk melakukan segala amalan kebaikan. Dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai bekal timbangan di yaumil hisab. Namun menjaga “rewards” dari Allah SWT ini ada dua syarat:

Kesatu, ikhlas dalam beramal, yakni melakukan suatu amal dengan niat semata-mata karena Allah SWT, atau tidak riya dalam arti mengharap pujian dari selain Allah SWT. Karena itu, dalam hadits arbain yang terkenal, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada niatnya.”

Kedua, melakukan kebaikan itu secara benar, karena meskipun niat seseorang sudah baik, bila ia melakukan amal dengan cara yang tidak benar, maka hal itu tetap tidak bisa diterima oleh Allah SWT, misalnya mencampuradukkan harta halal dengan korupsi (yang haram).

Tidak ada seorang pun yang berhak menilai “pantas atau tidak pantasnya” pemberian seseorang, malah prilaku ini dapat berbuah buruk sangka, dengki dan berdampak buruk lainnya, antara lain :

1. Dengki menggusur hati yang bersih, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (QS. Al-Baqarah [2] : 10)

2. Buruk sangka menyebabkan renggangnya tali persaudaraan, salah satu sifat terbaik dalam ukhuwah islamiyah adalah husnuzhon (berbaik sangka). Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi lahir bathin, perkara ini disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta." (HR. Muttafaqun alaihi)

Bahkan Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat [49] : 12)

3. Memancing amarah dan menyebut-nyebut pemberian, misalkan terjadi pada salah seorang ibu yang juga disindir oleh ibu Sishy dalam wacana tsb. Sang ibu menjadi emosi dengan pembanding-bandingan donasi, “eh, bu Sishy... gue bukan cuma infak di RT ini, anak yatim asuhan gue banyak, ngurusin persatuan ibu-ibu RT sebelah juga, sedekah gue kemana-mana, sampe’ ikutan dana bantuan Palestine...” uppps...! Kita yang mendengarnya pasti miris.

Padahal Allah SWT berfirman, “Wahai orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekahmu itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati (penerimanya).” (QS Al-Baqarah [2] : 264)

Serta peringatanNya dalam surah An-Najm agar tidak meremehkan orang lain, ayat 32 : “(Oleh karena itu), janganlah kamu memuji dirimu sendiri. Dia (Allah) Maha Mengetahui siapa yang sebenarnya takut.” (QS. An-Najm [53] : 32)

4. Membuat saudara bersedih hati atau malah menyakiti hatinya. Padahal saling memberi hadiah dan kegiatan tolong-menolong adalah suatu kebiasaan yang bertujuan untuk saling berbagi kebahagiaan,dll. Semoga kita makin pandai meresapi makna ayatNya, berlomba-lomba dalam kebaikan dengan tetap mengutamakan keikhlasan hati, senantiasa istighfar, Astaghfirullahal 'adzim... kala “mulai men-judge” amalan orang lain

Cukup hanya Allah yang paling berhak menilai dan menghitung amal kita!

Allah SWT mengingatkan, "Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar." (QS. An-Nisa [4] : 146)

Wallohu'alam bisshowab.
(Bidadari Azzam, krakow, 2010, edit 2011)

Read More..

Doa Menolak Takdir


Dari Salman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Tak ada yang dapat menolak takdir selain doa, dan tak ada yang dapat memperpanjang umur selain kebajikan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2139. Al-Albani menganggapnya hasan lighairih dalam Shahih At-Targhib, no. 1639).

Ada beberapa hadits lain yang senada dengan ini dan menunjukkan bahwa takdir bisa dicegah dengan doa, tapi semuanya dha’if. Sedangkan hadits ini derajatnya hasan, sehingga bisa dipakai sebagai hujjah.

Bagaimana doa bisa menolak takdir padahal takdir sudah ditentukan?

Jawabnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan takdir dan menciptakan pula sebabnya. Allah maha tahu apa yang akan terjadi nanti dan Ia tidak mungkin lupa atau kecolongan sehingga mengubah keputusan-Nya yang telah lalu. Tapi itu semua berada dalam dimensi ilahiyyah yang tak mungkin bisa diselami akal manusia yang serba terbatas ini. Maka tak perlu membahas masalah tersebut lebih lanjut.

Manusia hanya diperintahkan untuk melakukan sebab. Bila ingin mendapatkan rezki harus bekerja, tidak mungkin bisa kaya dengan bermalas-malasan. Nah, kerja adalah sebab dan rezki memang di tangan tuhan. Hanya orang kurang akal yang mengatakan, “Ah, buat apa bekerja bukankah rezki di tangan tuhan. Jadi, kalau saya sudah ditakdirkan kaya, maka saya akan kaya dengan sendirinya.”

Demikianlah doa, ia merupakan sebab yang diciptakan Allah untuk memperoleh keuntungan dan menolak kerugian, sama seperti kerja yang diciptakan sebagai sebab untuk mendapat kekayaan.

Kesimpulannya, takdir sudah ditetapkan dan tidak akan berubah dalam dimensi Allah. Ia hanya akan berubah dalam dimensi manusia. Manusia tidak boleh tahu apa yang sudah diputuskan Allah, tapi hanya harus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Dan, Allah telah menunjukkan jalan terbaik untuk selamat dari keburukan yang kemungkinan besar akan terjadi, yaitu dengan doa. Itulah takdir dalam dimensi manusia, sesuatu yang sudah dipastikan akan terjadi, sehingga secara logika tak mungkin tertolak. Misalnya, ada yang sakit dan menurut dokter tinggal menunggu waktu saja dan tidak mungkin disembuhkan. Tapi, dengan doa siapa tahu terjadi keajaiban dan yang bersangkutan ternyata sembuh. Inilah maksud doa menolak takdir. Walahu ‘alam.

Kisah nyata:

Kisah ini dialami oleh salah seorang teman istri saya yang bekerja di PT Sanyo Electronics Cikarang. Dia menuliskan ceritanya khusus untuk penulisan buku saya ini, semoga Allah membalasnya dengan kabaikan.

Ia mengalami kehamilan pertama, dan ketika diperiksa oleh dokter ternyata janin yang ia kandung terinveksi virus rubella akibat sakit yang diderita sang ibu. Virus itu menyerang pada saat usia kandungannya 3,5 bulan. Hasilnya, sang bayi positif akan lahir dalam keadaan cacat, seperti buta, gangguan pendengaran dan lain sebagainya.

Beberapa kali ia berusaha memeriksakan kandungannya melalui USG. Menurut dokter yang memeriksa bayi tersebut memiliki kelainan kromosom di tengkorak belakang yang akan mengakibatkan anak itu jadi idiot setelah lahir nanti.

Dengan perasaan tak menentu sang teman ini berusaha untuk pasrah. Sampai pada saatnya untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di RSCM. Pada malam sebelum pemeriksaan itu dia bangun shalat tahajjud dan berdoa kepada Allah, dengan keyakinan penuh bahwa Allah pasti mendengar doa hamba-Nya yang kesusahan. Lalu dia juga berusaha bertawassul dengan meminum air zam-zam. Dan sangat mengejutkan bahwa hasil pemeriksaan di RSCM menyatakan bahwa sang janin sehat dan tidak terdapat kelainan apapun. ALLAHU AKBAR!

Bukan main gembiranya perasaan sang teman ini, dan dia merasakan betapa Allah maha baik bila diminta dengan ikhlas oleh sang hamba. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengenakan jilbab (sebelumnya dia tidak berjilbab) pasca melahirkan sebagai bentuk syukurnya kepada Allah Taala.

Dari sini ada beberapa hal menurut pandangan syar’i mengapa anaknya itu sembuh. Beberapa ikhtiyar yang dia lakukan adalah:

Dia berdoa
Dia pasrah pada keputusan Allah
Dia Shalat Tahajjud
Dia bertawassul dengan meminum air zamzam

Semua itu memang disunnahkan, dan masing-masing akan menyebabkan terkabulnya doa bila dilakukan ikhlas dan memasrahkan diri kepada Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu makna hadits Rasulullah SAW di atas yang menerangkan bahwa doa bisa mengubah takdir. Maksudnya, takdir yang sudah diperkirakan bakal terjadi tapi masih mengandung kemungkinan lain. Wallahu a’lam.

Anshari Taslim.

Read More..

PANTASKAH SUAMI MEMUKUL ISTRI


Setiap orang senantiasa mendambakan kebahagaiaan, namun kadang harapan indah itu tak selamanya terwujud di dalam kehidupan berumah tangga, konflik dan pertengkaran kecil antara suami istri adalah suatu yang lumrah yang tak bisa di tampik dari fakta yang ada, bahkan kadang konflik tersebut berubah manjadi sangat negatif

Kenyataan pahit ini banyak dirasakan dan dialami oleh pasangan suami-istri jika mereka tidak pandai-pandai mengelolah konflik yang muncul, disebabkan kurangnya pengertian antara keduanya, bermula dari hal kecil namun begitu kompleks menimbulkan ketidak senangan terhadap pasangan, lama kelamaan perasaan ini berubah menjadi sangat benci dan membangkang oleh salah satu pihak dari suami maupun istri, sikap inilah yang dikenal dengan Nusyuz.

Banyaknya fakta aktual yang membuktikan, dengan kompleksnya konflik berumah tangga membuat suami tak segan-segan untuk memukul istrinya. Dalam majalah Family Relation menyatakan, 79% laki-laki di Amerika memukul istrinya hingga koma, 17% dari wanita yang dipukul suami harus dirawat di rumah sakit jiwa, begitu pun di Inggris dan Perancis, bahkan di Indonesia sendiri telah bosan koran dan majalah memuat berita tersebut. Kejadian demikian haruslah di pertanyakan, apakah pantas seorang suami memukul istri yang telah ia pilih sendiri sebagai pendamping hidupnya dan apakah penyebab yang membuat ia memukul istri itu logis atau hanya mengada-ada? Apakah suami pernah terpikirkan atau sadar mengapa harus melakukan perbuatan tersebut? pasti jawaban rata-rata suami adalah gelap mata disebabkan karena telah naik pitam termakan ego sendiri, padahal masalahnya sangat simpel dan mudah untuk dibenahi, karena wanita adalah makhluk yang lemah, dan segala sesuatu yang lemah mudah untuk diluruskan agar tidak terjadi pemukulan.

Di dalam Al Quran, masalah memukul istri hanya termuat sekali yang terdapat dalam surah An Nisa ayat:12 “Wallati takhafuna Nusyuzahunna fa’idzuhunna wahjuruhunna fil Madhaji’ wadhribuhunna”, Nusyuz adalah pelanggaran terhadap nilai sosial dan moral dimana seorang istri lalai dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang mana kewajiban tersebut adalah hak dari seorang suami, begitupun sebaliknya terhadap seorang suami. Ibnu Mandzur (630-711 H) dalam Lisanul Arab mendefenisikan Nusyuz adalah rasa kebencian salah satu pihak (suami atau istri) terhadap pasangannya. Wahbah Az Zuhaili, guru besar ilmu fiqh pada Universitas Damascus, mengartikan Nusyuz sebagai ketidakpatuhan salah seorang pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi atau rasa benci terhadap pasangannya. Lebih jelas lagi, Nusyuz berarti tidak taatnya istri terhadap suami dan suami terhadap istri secara tidak sahatau tidak mempunyai alasan yang cukup kuat, kecuali membangkan terhadap susuatu yang memang tidak wajib untuk dipatuhi maka tidak dikategorikan sebagai nusyuz, misalnya suami menyuruh istri untuk berbuat maksiat dan sebaliknya.

Inti dari arti Nusyuz adalah pelanggaran terhadap nilai moral dan sosial, apabila istri melakukan pelanggaran tersebut maka bagi suami diperintahkan untuk menasehati istrinya dengan perkataan yang lemah lembut untuk mengingatkan akan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri yang telah diberikan oleh Allah SWT yang merupakan bagian dari masalah sosial, apabila belum berhasil dalam mengingatkannya cara kedua adalah pisah ranjang sebagai tekanan agar ia lebih berfikir tentang hak dan kewajibannya. Jika kedua cara tersebut belum juga berhasil, agama membolehkan untuk memukul sebagai ungkapan rasa ketidakrelaan melihatnya lalai dalam melaksanakan kewajiban ataupun ungkapan kemarahan. Akan tetapi haruslah diingat bahwa pukulan itu janganlah sampai meninggalkan bekas apalagi melukai. Tidaklah menjadi keharusan bagi suami untuk memukul karena semua ulama menganjurkan agar suami menjauhi dari perbuatan tercela tersebut, begitupun jika suami yang melanggar dan lalai akan kewajibannya maka istri harus mengingatkannya, contohnya suami memecahkan keperawanan istri dengan memakai jari, meskipun hal itu enak namun tidak sesuai dengan akhlak, tidak heran ulama-ulama berkata: Izalatul bakarah bil Asba’i haramun”, apalagi hingga memukul istri.

Dalam islam, Rasulullah SAW mensunahkan kepada orang muslim agar tidak memukul istrinya, Nabi sendiri tidak pernah memukul istrinya hal itu menunjukan bahwa memukul adalah tercela yang tergolong ke dalam perbuatan makruh bahkan haram, karena Nabi sangat marah dan murka terhadap para suami yang memukul istri mereka, sebagaimana yang terdapat dalam sunan Abi Dawud hal:245, banyaknya suami-suami yang memukul istrinya sehingga mereka mengadu kepada rasul SAW, seraya Rasul marah dan keras terhadap suami-suami yang telah memukul istrinya. Kalaupun terpakasa dan tak bisa mengelak untuk memukul, maka Rasulullah SAW menganjurkan untuk memukul dengan siwak seperti sikat gigi dan semacamnya. Menurut Muhammad Ali As Shabuni dan Wahbah Az Zuhaili, saat suami melakukan pemukulan terhadap istri haruslah dihindari, 1. bagian wajah, sebab wajahn adalah bagian tubuh yang paling dihormati, 2. Bagian perut dan bagian tubuh lain yang dapat menyebabkan hal yang negatif atau kematian, sebab pemukulan tidak dimaksudkan untuk mencederai apalagi membunuh istri yang nusyuz melainkan untuk mengubah sikap nusyuznya, 3. Memukul hanya pada suatu tempat , karena akan menambah rasa sakit dan memperbesar kemungkinan timbulnya bahaya di daerah lain. Dalam soal memukul istri yang nusyuz, dalam mazhab Hanafi dianjurkan agar menggunakan alat berupa sepuluh lidi atau kurang atau dengan alat yang tidak akan melukai istri.

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana jika suami memukul istri atas permintaan istri itu sendiri dengan maksud untuk bertamattu’ atau bersenang senang, atau si istri yang hyper yang lebih bersemangat dan bernafsu jika dupukuli oleh suami? Islam adalah agama yang mengajarkan untuk tidak melukai sesorang lahir batin, dan tidak seorang pun ingin celaka, olehnya itu islam menganjurkan untuk tidak mencelakai dan mengantarkan diri ke dalam kecelakaan yang berakibat buruk. Dan para ulama telah sepakat bahwa suami yang memecahkan keperawanan istri dengan jari adalah haram meskipun hal itu enak apalagi sampai memuku “Izaalatul bakarah bil Asba’i haramun”.

Dari uraian di atas, jelas bahwa pengertian memukul dalam islam adalah suatu musibah yang harus dijauhi dan ditentang oleh setiap orang muslim sebagaimana para ulama telah menentangnya, karena Rasulullah SAW sendiri telah menjelaskan bahwa hubungan antara suami istri adalah hubungan yang berdasarkan mawaddah warahmah yang menunjukkan tidak boleh adanya pemukulan dan penyiksaan sebagaimana sabdanya:”Ayadhribu ahadukum imraatahu kama yudhrabul ‘abdu tsumma yujaamiuha akhiral yaum”, apakah pantas bagimu untuk memukul istrimu seperti seorang hamba yang dipukul kemudian setelah itu engkau gauli ia pada malam hari?,pantaskah atau tidak, tanya saja pada diri anda sendiri./fikar


Read More..

Istri Yang Di Anggap Durhaka Kepada Suami


Apabila dipanggil oleh suaminya ia tidak datang. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Apabila suami memanggil isterinya ke tempat tidur. ia tidak datang nescaya malaikat melaknat isteri itu sampai Subuh.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Membantah suruhan atau perintah suami. Sabda Rasulullah SAW:
‘Siapa saja yang tidak berbakti kepada suaminya maka ia mendapat laknat dan Allah dan malaikat serta semua manusia.”
Bermuka masam terhadap suami. Sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja perempuan yang bermuka masam di hadapan suaminya berarti ia dalam kemurkaan Allah sampai ia senyum kepada suaminya atau ia meminta keredhaannya.”

Jahat lidah atau mulut pada suami. Sabda Rasulullah SAW:
“Dan ada empat golongan wanita yang akan dimasukkan ke dalai Neraka (diantaranya) ialah wanita yang kotor atau jahat lidahnya terhadap suaminya.”

Membebankan suami dengan permintaan yang diluar kemampuannya.

Keluar rumah tanpa izin suaminya. Sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya d akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminy atau suaminya redha terhadapnya.”
(Riwayat Al Khatib)

Berhias ketika suaminya tidak disampingnya. Maksud firman Allah
“Janganlah mereka (perempuan-perempuan) menampakkan perhiasannya melainkan untuk suaminya.”
(An Nur 31)

Menghina pengorbanan suaminya. Maksud Hadis Rasulullah SAW
“Allah tidak akan memandang (benci) siapa saja perempuan yang tidak berterima kasih di atas pengorbanan suaminya sedangkan dia masih memerlukan suaminya.”

Mengijinkan masuk orang yang tidak diijinkan suaminya ke rumah
maksud Hadis:
“Jangan ijinkan masuk ke rumahnya melainkan yang diijinkan A suaminya.” (Riwayat Tarmizi)

Tidak mau menerima petunjuk suaminya.
Maksud Hadis:
“Isteri yang durhaka hukumnya berdosa dan dapat gugur nafkahnya ketika itu. Jika ia tidak segera bertaubat dan memint ampun dari suaminya, Nerakalah tempatnya di Akhirat kelak. Apa yang isteri buat untuk suami adalah semata-mata untuk mendapat keredhaan Allah SWT”

Read More..

Selasa, 12 April 2011

Mencari Kesempurnaan


Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi di sebuah cafe.
Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
“Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?” ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
“Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna.
Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir ini adalah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata dimasa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong.
Hubungan kami putus sampai di situ.”
“Suatu saat, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.”
“Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.”
“Lantas,” sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, “Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?”
Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening.
Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, “Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.”
Adakah yang sempurna? Siapa?


Read More..

KENTANG


Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.
Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.
Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.
Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.
Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.
pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu,sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.
Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap,bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.
Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.
Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedengkian hati.


Read More..

Senin, 11 April 2011

KOPI ASIN KENANGAN ( salty coffee)


Laki-laki itu datang ke sebuah pesta. Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dengan penampilan laki-laki lain yang datang, namun kelihatannya tidak seorangpun yang tertarik padanya. Ia lalu memperhatikan seorang gadis yang dari tadi dikelilingi banyak orang. Di akhir pesta itu, ia memberanikan diri mengundang gadis itu untuk menemaninya minum kopi. Karena kelihatannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang sopan, gadis itupun memenuhi undangannya. Mereka berdua kini duduk di sebuah warung kopi. Begitu gugupnya laki-laki itu hingga ia tidak tahu bagaimaan harus Memulai sebuah percakapan.

Tiba-tiba ia berkata kepa da pelayan, "Dapatkah engkau memberiku sedikit garam untuk kopiku?"
Setiap orang yang ada di sekitar mereka memandang lelaki itu keheranan. Wajahnya memerah seketika, tetapi ia tetap memasukkan garam itu ke dalam kopinya lalu kemudian meminumnya. Penuh rasa ingin tahu, gadis yang duduk di depannya bertanya, "Bagaimana kau bisa mempunyai hobi yang aneh ini?"

Laki-laki itupun menjawab, "Ketika aku masih kecil, aku hidup di dekat laut, aku suka bermain-main di laut. Jadi aku tahu rasanya air laut, asin seperti rasa kopi asin ini. Sekarang, setiap kali aku meminum kopi asin ini, aku terkenang akan masa kecilku, tentang kampung halamanku, aku sangat merindukan kampung halamanku, aku merindukan orang tuaku yang tetap hidup di sana." Ia mengatakan itu
sambil berurai air mata, kelihatannya ia sangat tersentuh.
Gadis itu berpikir, "Apa yang dicer itakan oleh laki-laki tersebut adalah ungkapan isi hatinya yang terdalam. Orang yang mau menceritakan tentang kerinduannya akan rumahnya adalah orang yang setia, peduli dengan rumah dan bertanggung jawab terhadap seisi rumahnya". Maka gadis itupun mulai bercerita tentang kampung halamannya yang jauh, masa kecilnya dan keluarganya.

Merekapun berpacaran. Gadis iu menemukan semua yang dia inginkan di dalam diri laki-laki tersebut. Laki-laki itu begitu toleransi, baik hati, hangat dan penuh perhatian. Ia adalah laki-laki yang sangat baik, sehingga ia selalu merindukannya. Singkat cerita, merekapun menikah dan hidup bahagia. Setiap kali, ia selalu membuatkan kopi asin bagi suaminya karena ia tahu suaminya sangat menyukai kopi asin.

Sesudah empat puluh tahun menikah, meninggallah suaminya. Ia meninggalkan surat kepada istrinya, "Sayang ku, maafkan aku, maafkan kebohonganku selama aku hidup. Inilah satu-satunya kebohonganku padamu, yaitu tentang "kopi asin". Ingatkah engkau pertama kali kita bertemu dan berpacaran? Saat itu aku begitu gugup untuk memulai percakapan kita... Karena kegugupanku, aku akhirnya meminta garam padahal yang aku maksudkan adalah gula. Selama hidupku banyak kali aku mencoba untuk mengatakan kepadamu hal yang sebenarnya, sebagaimana aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong kepadamu untuk apapun juga. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kini aku sudah mati, aku tidak takut lagi, maka aku memutuskan untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu bahwa aku tidak suka kopi asin. Rasanya aneh dan tidak enak. Selama hidupku aku baru meminum kopi asin sejak aku mengenalmu. Meski begitu, aku tidak pernah menyesal untuk apapun yang aku lakukan untukmu. Memiliki engkau merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki s elama hidupku. Jika aku dapat hidup untuk kedua kalinya, aku tetap ingin mengenalmu dan memilikimu selamanya, meskipun aku harus meminum kopi asin lagi". Air mata wanita itu membasahi surat yang dibacanya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya kopi asin itu?" "Sangat enak", jawabnya.



CATATAN : Kita selalu berpikir bahwa kita sudah mengenal pasangan kita lebih dari orang lain mengenal mereka. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui di mana pasangan kita telah rela meminum "kopi asin" (salty coffee) dengan membuang ego, kesombongan, kesenangan dan hobinya untuk menjaga keharmonisan hubungan kita dengannya. Ya, begitulah caranya mengasihi dan mencintai. Bukan menuntut, tetapi berkorban. Membuang kebencian dan mengasihi lebih lagi, menyebabk an rasa garam lebih enak daripada rasa gula.

ARIS AHMAD JAYA


Read More..

Karakteristik wanita [istri] yang menjadi pendamping hidup idaman pria [suami]


Selalu memberikan masukan kepada suami,
Tidak jarang seorang suami tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya setelah mereka berumah tangga. Oleh karena itu, yang pertama harus dikerjakan seorang istri adalah membantu memperjelas angan-angan dan keinginan yang ada dalam benak suami. Seorang istri harus membantu suaminya mengetahui apa target yang dikejar dalam kehidupannya. Tentu dengan bahasa yang baik dan spoan, tidak seolah-olah menggurui.

Membantu suami merancang target baru,
"Jika kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain," (QS al-Insyirah : 7)
Bila suami telah berhasil merealisasikan tujuan yang dikehendakinya, istri harus menyampaikan pada suaminya bahwa keberhasilan suatu tujuan bukan akhir dari segala-galanya. Tapi, keberhasilan suatu target adalah awal langkah mengejar target yang lain. Yang penting disampaikan kepada suami adalah bahwa janganlah takut tidak berhasil mengejar suatu target.

Mendampingi suami hingga berhasil meraih target,
Tindakan logis yang dilakukan oleh setiap istri yang berpikir cemerlang sewaktu berada di samping suaminya adalah membantunya dengan kata-kata yang baik, memberikan senyuman yang memotivasi, dan mendorongnya terus-menerus untuk merealisasikan semua target yang diharapkannya. Setiap keberhasilan yang diraih bukanlah milik sendiri, melainkan milik mereka berdua.

Menghidupkan semangat dan harapan suami,
Di antara ciri khusus istri cerdas adalah selalu berusaha membangkitkan semangat dan menghidupkan harapan dalam diri suaminya, begitu pula pada anaknya, saudaranya, atau ayahnya sekalipun. Janganlah sekali-kali seorang istri mengatakan bahwa suaminya selalu mengalami kegagalan. Menurut Margaret Colcen, kewajiban terpenting seorang istri adalah memanfaatkan waktu makan bersama untuk berbicara dangan suami tentang harapan, optimisme, dan keberhasilan.

Bunda Khadijah selalu mampu memberikan semangat untuk Muhammad Saw lewat kata-kata dan perilaku yang menarik. Ungkapannya berisi daua hal:
1. Meyakinkan kepada suami bahwa perjuangannya benar dan lurus.
2. Memuji dan menganggap suami mempunyai potensi yang dapat dijadikan modal.
3. Dorongan semangat bahwa usahanya akan berhasil dan menghasilkan.

Jangan lupa, pujian yang tidak berlebihan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pembangkitan suami.

Mengimbangi kecemasan suami dengan sikap dan tindakan simpatik,
Seorang wanita sama sekali tidak dapat membahagiakan suami dan mendorongnya mencapai keberhasilan, kecuali bila ia tetap kreatif dan mampu menghiburnya. Hendaklah seorang istri benar-benar memahami bahwa suaminya sangat membutuhkan pandangan yang mendalam dari istrinya mengenai apa yang dilakukannya.

Harus dipahami oleh seorang istri, kecemasan suami mendorongnya uring-uringan, terkadang marah-marah, dan emosinya cepat meninggi. Hal ini sangan wajar, sebab, suami sedang mencari pelampiasan ketegangan. Sebagai istri yang baik, jangan sekali-kali mengimbanginya dengan emosi dan marah juga. Sikap yang seperti itu, ikut terbawa marah dan emosi, dapat membuat kapal suami yang semakin menghilangkan kekuatan semangat dan kesabarannya. Yang tepat dilakukan oleh seorang istri adalah menyarankannya untuk berdzikir kepada Allah dan sholat. Atau, ajaklah dia tidur, supaya ketegangannya menurun.

Tidak merecoki tekad bulat suami,
Tekad seorang suami memerlukan perekat yang kental dari istrinya. Keinginan merecoki tekad suami adalah akibat istri yang tidak membiasakan belajar bersabar. Yang lebih parah, ketakutan kehilangan suami dan perasaan cemburu yang tak beralasan membuat istri menghalangi suaminya uintuk maju.

Pandai melontarkan kritik membangun,
Kritik yang diberikan seorang istri adalah bantuan berharga bagi seorang suami. Orang yang paling tahu dan merasakan kekurangan suami adalah istri. Istri adalah orang yang tahu luar dalam suaminya.

Anti campur tangan,
Seorang istri cerdas akan menguras pikirannya untuk mencari cara agar suaminya dapat tenang dan konsentrasi pada kegiatannya. Ia akan membiarkan suaminya berbuat dan mengerjakan pekerjannya tanpa ikut campur di dalamnya, jika suaminya menginginkan hal itu.

Rela memberikan waktu luas kepada suami untuk konsentrasi pada tugasnya
Seorang suami yang pandai adalah suami yang dapat memenuhi kewajiban tugas dan hak keluarga. Sedangkan istri yang cerdas adalah istri yang banyak legowo atas hak diri dan lebih mementingkan kemaslahatan keluarga. "Biarlah dia kurang memperhatikanku, asalkan keutauhan dan kemaslahatan keluarga terjaga dengan baik," moto inilah yang biasa dipegang wanita terpelajar.

Susah ga ya diterapkan????

Read More..

Rabu, 09 Maret 2011

Ayah Super Sibuk


“Ayah lagi sibuk”, “Ayah capek ”,” Jangan ganggu Ayah lagi kerja” begitulah jawaban-jawaban yang selalu diberikan Ayah kepada Alif (5 tahun), jika Alif mengajaknya bermain bola. Kini, Alif tidak pernah lagi mengajak ayahnya bermain bola, karena ayahnya selalu menolak,dan berakhir kekecewaan pada Alief. Alief kemudian memilih bermain Playstation di kamarnya. Sang Ayahpun bersyukur, Alief tak lagi mengganggunya…

Menyedihkan, tapi nyata. Saya yakin, banyak Alif Alif lain,anak-anak yang memiliki ayah super sibuk, yang tidak lagi memberikan waktu untuk anaknya. Dengan alasan ‘Saya bekerja mencari uang’, para ayah terlupa kalau anak butuh perhatian ayah, anak butuh berkomunikasi dengan ayah, anak butuh kasih sayang seorang ayah…

Saya merasa beruntung dan bersyukur, sebab ayah saya masih memberikan waktunya untuk kami, empat anaknya. Maghrib adalah waktu spesial kami bersama ayah. Ketika azan maghrib berkumandang, televisi dimatikan, dan tidak ada aktifitas lain kecuali sholat berjamaah bersama ayah. Seusai sholat, kami anak-anaknya bergantian maju mencium tangan ayah, dan ayah akan berdoa untuk kami. Doa yang tulus terucap dari hatinya, harapan seorang ayah kepada anaknya…” Ayah doakan, kamu jadi anak solehah, pintar, berbakti kepada Ayah Ibu, memperoleh kebahagiaan, di dunia dan di akhirat nanti...” Doa yang begitu indah, doa yang terus melekat kuat di hati ini…

Kemudian ayah akan memberikan kultum kepada kami. Berisi nasihat seperti jangan melalaikan sholat yang lima waktu, pentingnya saling menyayangi diantara saudara, atau kadang berisi ungkapan rasa syukur ketika keluarga kami diberi rizki lebih oleh Allah.

Usai kultum kami duduk di meja makan untuk belajar. Mengerjakan tugas sekolah, dibimbing oleh ayah. Ayah akan memeriksa tugas sekolah kami, ia juga mengajarkan kami materi pelajaran selanjutnya. Untuk memastikan kami paham pelajaran yang diajarkannya, tak lupa ayah memberi kami pe er yang akan diperiksanya esok hari sepulang kantor.

Kebersamaan bersama ayah yang paling membahagiakan adalah kala sore hari. Setelah cantik dan harum sehabis mandi, kami semua menanti ayah pulang kantor. Bila dari luar rumah terdengar suara derum motor, kami berlarian menghambur keluar, minta dibonceng ayah. Biasanya ayah dengan senanghatimembonceng kami mengelilingi kompleks rumah. Bergiliran tentunya, kamipun menanti giliran dibonceng ayahdengan hati riang.Kebahagiaan masa kecil, sungguh terasa indah bila dikenang…

Rasulullah Saw bersabda “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan Aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu.” (HR. Tirmidzi).

Mari kita tengok kehidupan Rasulullah saw sebagai seorang ayah… Rasulullah dikenal sebagai ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Fathimah, putri Rasulullah dibesarkan oleh beliau dengan penuh kasih sayang. Rasulullah sangat bangga dengan putri kecilnya, beliau berkata “Siapa yang mengenal anak ini, maka dia telah mengenalnya, Siapa yang belum mengenal anak ini, maka ketahuilah dialah Fathimah putriku, Dia belahan jiwa, hati dan ruhku. Siapa menyakitinya berarti telah menyakitiku. Siapa menyakiti Aku dia telah menyakiti Allah. “

Perhatian Rasulullah tetap tercurah kepada anak-anaknya meskipun mereka telah dewasa. Ketika Rasulullah hendak berangkat Perang Badar, beliau berpesan kepada Usman bin Afan untuk tidak ikut berperang, Rasulullah meminta Usman menjaga istrinya, Ruqayyah (putri Rasulullah) yang sedang sakit. Ruqayyah akhirnya meninggal dunia. Ketika kembali dari Perang Badar, yang pertama kali beliau lakukan adalah mengunjungi pusara Ruqayyah bersama Fathimah.

Rasulullah bukan saja ayah teladan, beliau juga seorang kakek penyayang. Rasulullah selalu menunjukkan rasa cintanya kepada cucunya, Hasan dan Husein. Usamah bin Zaid menceritakan satu kisah teladan Rasulullah. Suatu hari dia pergi ke rumah Rasulullah, Rasulullah membuka pintu dan ia melihat sesuatu bergerak-gerak dibalik jubah panjang nabi,dan beliau bersusah payah memegangnya, Usamah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang Engkau pegang itu?" Dengan wajah cerah Nabi membuka jubahnya dan terlihat kedua cucunya tertawa. Beliau mengatakan bahwa kedua cucunya terbiasa bermain bersamanya, dan berkata, “Inilah kedua putraku, putra anakku Fathimah.”

Para Ayah sering berkilah kalau mereka sangat sibuk, tapi bagaimana bila kita bandingkan dengan kesibukan Rasulullah?
Rasulullah Saw seorang pemimpin umat, penerima ribuan wahyu, mengajarkan sendiri setiap wahyu yang diterimanya, Rasulullah seorang komandan perang, 19 Perang besar dan puluhan ekspedisi militer dipimpinnya, Rasulullah imam setiap shalat di Masjid Nabawi, dan shalat tahjud pun tak pernah ditinggalkannya. Subhanallah!

Ayah.. masihkah kita katakan kita terlalu sibuk? Sementara Rasulullah telah memberikan teladan kepada kita bagamana beliau memberikan perhatiannya kepada keluarga di tengah kesibukannya yang luar biasa...

Memang benar Ayah…kita perlu uang. Namun, begitu banyak kebahagiaan lain yang bisa kita berikan kepada anak kita, bukan dengan uang.

Ayah… Anak-anak butuh sedikit waktu dari Ayah untuk menemani mereka bermain, untuk bercerita kepada mereka, untuk mendapat pelukan seorang ayah…

Ayah… anak-anak butuh cinta./Oleh Silvani


Read More..

Cinta Dalam Pernikahan


Saat kau goreskan luka dan kecewa biarlah
kutulis pada hamparan pasir dan
luka dan kecewa itu sirna
ditelan ombak kecintaanku pada-Nya

Saat kau beri aku bahagia izinkanlah
kuukir pada batu karang dan bila
ombak kehidupan garang menerjang
karang itu tetap kokoh
dalam naungan cinta-Nya

Dulu, ketika saya memutuskan untuk menikah, yang terbayang di benak saya adalah semua yang indah-indah. Betapa tidak, seumur hidup akan saya habiskan bersama orang yang saya cintai.

Berbunga-bungalah hati ini saat sang pujaan hati datang pada ayah bunda, bermaksud melamar, menjadikan saya sebagai istrinya. Dan hari pernikahan itupun tiba, sungguh hari terindah…

Bagaikan kisah dongeng “Cinderella”, hari itu sayalah si gadis jelita yang dinikahi sang pangeran tampan, akan diboyong menuju istananya and they lived happily ever after… begitulah akhir kisah dongeng "Cinderella".

Bagaimana dengansaya? Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, setelah melewati hari-hari bersamanya, ohh ternyata… tersadarlah saya, kalau saya dan suami sangat jauh berbeda.

Perbedaan itu bagaikan bumi dengan langit! Saya yang suka becerita, suami yang tidak suka mendengar cerita … Saya yang suka bertemu orang banyak, suami yang tidak suka keramaian… Saya yang sensitif, suami yang bicara ceplas-ceplos…

Hari demi hari berlalu, tahunpun berganti. Telah hampir sepuluh tahun kami kayuh biduk rumah tangga ini. Biduk rumah tangga yang penuh nuansa. Suka, tawa, bahagia, duka, dan lara ada di sana.

Batin ini kemudian bertanya… Setelah sepuluh tahun berlalu, masih adakah cinta tersisa? Kemana gerangan perginya getaran cinta itu? Yaa Allah… saya tak mau cinta itu hilang, jangan sampai cinta menjadi redup dan kemudian mati. Saya harus menghidupkan kembali cinta diantara kami…

Saya sadar, manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga saya dengan segala ketidaksempurnaan saya. Sia-sia mencari pasangan yang sempurna, karena tak kan pernah ada, karena hanya Allahlah yang Maha Sempurna.

Setiap manusiapun unik dengan karakter yang dimilikinya. Ini membuktikan bahwa Allah Maha Kaya. Allah yang sanggup memberikan karakter yang berbeda-beda pada setiap hamba-Nya. Subhanallah…

Perbedaan yang ada bukanlah menjadi jarak yang memisahkan kami, melainkan untuk saling melengkapi. Seperti saling melengkapinya bumi dan langit.

Saya menikmati hidup berumah tangga dengan segala nuansanya. Berumah tangga adalah perjuangan. Saya harus pandai mengelola hati, saat hati ini luka dan kecewa, saya maafkan suami. Karena saya melihat kesungguhannya memperbaiki kesalahannya. Karena luka bagaikan beban berat di punggung kita.

Maukah saya berjalan dengan terus membawa beban berat di punggung? Dan tentang cinta… Cinta dalam rumah tangga ternyata lebih luas, bukanlah cinta sesaat yang menggetarkan… jauh lebih indah, lebih dewasa, berwujud rasa kasih sayang kepada pasangan kita.

Dan kutemukan kembali cinta itu, tak pernah hilang, semakin berkilauan…

Saat saya menatapnya, tertidur dalam lelahnya… Dialah lelaki yang telah bekerja keras untuk saya, rela bekerja siang malam, berpeluh keringat…Seumur hidupnya dihabiskan untuk bekerja.

Semua itu untuk saya! Menafkahi saya, menafkahi kedua anak kami. Satu tujuannya, membahagiakan kami. Dia teristimewa dipilihkan Allah untuk saya… Yaa Allah... segala puji dan syukur kupanjatkan kepada Engkau…

Duhai suamiku… Engkaulah Langit bagiku. Engkau senantiasa menaungiku, memberi kehangatan sang mentari, melindungi dengan awan putih nan lembut, mencurahkan air sejuk di kala dahaga, melukiskan semburat warna pelangi… Saat mentari tenggelam, kau beri aku rembulan dan taburan bintang, hanya untukku…

Duhai Suamiku… berpijaklah engkau kepadaku sebagai Bumimu, kan kuberi Engkau cinta, cinta yang tak mengenal lelah, untuk selamanya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S Ar Rum: 2)

Wallahu’alam bishshowaab.

Oleh Silvani/Bangkok, 28 Februari 2011.

Read More..

Perilaku "mbak" yang patut ditiru


Hari ahad lalu saya sekeluarga berkesempatan menghadiri undangan masjid dekat rumah yang tengah mengadakan launching sebuah program zakat bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia.

Kegiatan launching tersebut ditutup dengan ceramah yang disampaikan seorang ulama ternama di kota Bogor. Beliau adalah orang yang sangat menguasai dan sering berbicara mengenai zakat. Tentu ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari tuturan beliau. Salah satunya adalah ketika sang ulama berbagi cerita saat ia berceramah seputar zakat di sebuah daerah.

Sang ulama mengisahkan di tempat tersebut ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Tentu hal ini bukan suatu hal yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya. Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Bagaimana kisah ini menjadi sebuah hal yang menarik perhatian yang hadir saat itu (khususnya saya)?

Ulama tersebut menyampaikan bahwa kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik, melainkan seorang majikan dan seorang pembantu (khadimatnya).

Tanpa diketahui oleh masing-masing, setiap menerima gaji, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari khadimatnya.


Namun ternyata, besar harta yang disisihkan sang pembantu untuk berinfaq lebih besar dari infaq sang majikan. Padahal ia memiliki banyak anak yang harus dinafkahi dengan penghasilannya yang pas-pasan itu. Namun demikian, ternyata dengan kondisinya tersebut, ia berhasil menghantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi.

Hmmm...apa yang terpikirkan oleh kita setelah mengetahui hal di atas? Mungkin ada yang merasa heran dan terselip tanya, bagaimana dengan gaji tak lebih dari 500 ribu bisa menghidupi sebuah keluarga bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi?

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Al-Quran:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS. Al-Hadid: 18)

Demikianlah Allah telah menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah yang dituturkan sang ulama di atas sebagai sebuah pelajaran supaya menyandarkan sepenuhnya keyakinan pada Allah atas rezeki yang diberikan-Nya pada kita, disamping itu tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut. Sungguh, perilaku pembantu itu adalah suatu hal yang patut ditiru.

Ada banyak cerita nyata yang senada dengan kisah tersebut dimana orang-orang yang dalam hitungan matematika kita berpenghasilan sangat minim dan diprediksikan tak kan sanggup memenuhi kebutuhan hidup, ternyata perkiraan tersebut tak dapat dibuktikan ketika orang-orang tersebut membelanjakan hartanya di jalan Allah. Akan selalu kita temukan kebenaran firman-Nya dalam kehidupan mereka.

Kembali pada kisah yang dituturkan sang ulama itu, kita pun dapat menemukan satu pelajaran lainnya, yakni untuk selalu menghormati sesama atau tidak meremehkan keadaan orang lain.

Berbeda keadaan atau kedudukan dalam penilaian manusia tak mengurangi nilai kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT, seperti kisah dua orang wanita sebagai majikan dan pembantu tersebut. Karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukanlah ia yang kaya, tampan atau cantik, memiliki sederet gelar dan atribut lainnya melainkan hanya satu saja, yakni yang paling takwa.

“.... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al Hujuraat [49]:13)./ oleh Ineu


Read More..

PERSEPSI SEORANG ANAK


Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" Tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.

Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah.
Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ....."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya :
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ...."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ......",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.
Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, tapi perlu diingat bahwa orang tua juga tak luput dari kesalahan.
Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku".
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium.
Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari..

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."

Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku ..."

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik..
Diposkan oleh Serpihan Kecil Kembaraku di 20:18

Read More..

Kamis, 17 Februari 2011

Bilik Hati Perempuan


Selama tiga tahun terakhir, saya menjadi sahabat untuk para perempuan perempuan yang luka, ada sahabat saya yang tiba tiba harus diangkat rahimnya karena tumor ganas menyerang, ada seorang perempuan yang begitu ikhlasnya merelakan sang suami tercinta menikah lagi dengan perempuan muda nan cantik, ada perempuan yang menjadi korban perkosaan kebiadaban lelaki yang mengaku mencintainya, ada seorang gadis manis nan cantik rupawan bak bidadari yang belum juga menemukan jodohnya, padahal semua ia miliki, fostur bak model plus kerudung yang menutupi aurat menambah kecantikannya dan ada seorang perempuan yang berjuang untuk sekedar bisa bernapas melawan kanker darah yang sedang dititipi ALLAH padanya…

Dari mereka saya meneropong luka demi luka, bahwa hidup ini hitam putih, bahwa perjalanan nasib ini bak rollercoaster, yang menegangkan ketika naik, menaikan adrenalin hingga ke ubun ubun dan amnat sangat menakutkan ketika turun bak terlempar ke jurang tanpa mampu berpegangan, iya ternyata hidup memang bukan roda pedati yang berputar begitu lambat hingga mampu memberi saya kesempatan untuk bersiap tapi tidak begitu dengan roallercoaster, hidup begitu cepat berputar, belum hilang kaget saya karena naik yang begitu cepat memecut jantung, sudah harus turun ketakutan, iya begitulah hidup semua berputar, berganti antara TIADA-ADA-TIADA.

Dari bilik hati para perempuan perempuan hebat sahabat saya ini saya belajar satu hal bahwa hidup ini bukan seberapa besar luka dan ujian yang diberikan ALLAH karena ujian ujian itu TIDAK PENTING lagi, namun yang PENTING adalah seberapa mampu kita menyikapi setiap ujian …

Iya seberapa mampu saya mengimani takdir ALLAH, bahwa setiap kejadian adalah atas kehendakNYA dan saya sebagai manusia hanya mampu berdiri diatas garis pengharapan saja, tidak bisa lebih dari itu, seberapa dalam saya mampu menjaga hati agar tidak marah dengan keputusan ALLAH, ikhlas menerima ujian, menangkap hikmah seberapapun kepedihan membenamkan. Memberi arti pada airmata bukan sebagai keputus asaan namun air ini adalah air ketabahan, mengalirkan ketawakalan.

Kesadaran diatas saya peroleh baru malam ini setelah saya membaca catatan seorang sahabat saya yang tahun lalu berpulang karena kanker hati yang dideritanya selama kurun waktu satu tahun, selama itu pula saya memintanya untuk mencatat semua yang tak lagi mampu ia katakan, selama dua belas bulan, lembar demi lembar catatan itu saya kumpulkan dan dari catatan yang terserak ini, saya belajar bahwa hidup itu bukan sekedar memasukan oksigen ke paru paru, tapi keberanian menghadapi ujian, keberanian untuk ikhlas, keberanian untuk percaya bahwa ketika sayap tak lagi mampu mengepak, dan saya tahu dimana harus berdiri ketika ujian ALLAH datang…

Iya, seberapapun besarnya ujian, TAK LAGI PENTING saya pikirkan, yang harus saya pikirkan adalah bagaimana ujian itu mampu membuat saya semakin dekat dengan ALLAH dan memperoleh cintaNYA karena ikhlas saya …

Meski sakit berat sekaliber kanker yang tak ditemukan obatkan, divonis mati oleh dokter, meski tak berjodoh karena tak ada lagi yang mau, meski jadi korban perkosaan sekalipun, meski dihina dan dipuji oleh seribu orang, mau ditinggalkan oleh kekasih tercinta yang tak ada tandingannya ganteng dan alimnya, TAK LAGI PENTING, karena makna dari ujian itu bukan luka lagi tapi cinta ALLAH yang harus dikejar.

Iya karena ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu bagaimana saya merangkak, berdiri dan berlari mengejar cinta ALLAH, berlari ketika jalan hidup saya menurun dan merangkak ketika jalan hidup saya menanjak, hanya untuk meraih cinta ALLAH, ujian TAK LAGI PENTING saya pikirkan.

Telah kuhanyutkan luka pada sungai kecil yang mengalir disudut mataku, telah kukabarkan lewat angin gerimis tentang segala catatan hati, telah kulemparkan pedih disetiap jengkal sajadah dalam tahajud dan sujud pangjangku

[dari bilik hati perempuan]

Read More..

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali.....


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul! Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!." Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!.
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
' Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.
" Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik… Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang. Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!. Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?. Dia menjawab, tersenyum, Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?. Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,

Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu. Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20..Aku 23 ..

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita! Tetapi katanya, sambil tersenyum, Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. Apakah itu sakit? Aku menanyakannya.."Tidak, tidak sakit..." Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan… Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.

Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! Mengapa membicarakan masa lalu? Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, Kakakku."Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi? " Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selamasaya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,

Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Read More..

Renungan2

Nikahkan aku...!
Seorang solehin dulunya jika ditawarkan supaya menikah pasti menolak, tiba-tiba pada suatu hari dia bangun dari tidur dan berkata; "Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku."
Orang ramai pun bertanya; "Mengapa tiba-tiba kamu minta menikah padahal selama ini engkau selalu menolak?"
Jawabnya; "Semoga aku mendapat anak, lalu mati ketika masih kecil sehingga menjadi perintis bagiku ke Akhirat.""Apa maksud kata-kata kamu ini?" tanya orang lagi.

"Aku telah bermimpi seakan-akan hari Kiamat telah tiba dan aku berdiri bersama banyak orang di Padang Mahsyar, dengan rasa yang amat haus sehingga hampir mematahkan leherku." Tiba-tiba aku nampak anak-anak kecil membawa gelas-gelas perak yang ditutupi sapu tangan dari cahaya. Anak-anak itu berada disekitarkalangan orang ramai untuk memberi minum satu-satu. Aku pun menghulurkan tanganku pada mereka dan berkata;"berikan padaku kerana aku juga sangat haus."

Tiba-tiba anak-anak kecil itu melihat padaku dan berkata;" anda tidak mempunyai anak di kalangan kami dan kami ini hanya memberi minum kepada Ibu dan Ayah kami". Aku pun bertanya; "Siapakah kamu?" Jawab mereka; "kami anak-anak kecil yang mati dari kaum Muslimin."
Dari kitab Irsyadul 'Ibad Ilasabilirrasyad


Renungan Alam
“Lakukan segala sesuatu atas dasar cinta karena cinta akan merubah persepsi kita tentang waktu
——————————————————————————–
“Sesungguhnya Hidup Ini Butuh Perjuangan, Tiada Perjuangan Tanpa Pengorbanan, Tiada Pengorbanan Tanpa Kesabaran Dan Tiada Kesabaran Tanpa Keikhlasan, Dengan Keikhlasan Akan Mengantarkan Kita Pada Kesuksesan”.
——————————————————————————–
“Ketika segala rumus kehidupan, senyawa keabadian, arsitek keagungan, morfologi kesucian, daya penciptaan, keseimbangan alam, dan akses semesta adalah milik Allah, Lantas apa yang bisa kita banggakan..??
“Dialah Raja Alam Semesta”.


.. SAYANGNYA ALLAH PADA WANITA..
Kaum Feminis menyatakan susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibandingkan lelaki
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila hendak keluar dari rumah
3. Wanita saksinya kurang dibandingkan lelaki
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
6. Wanita wajib taat kpd suami tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri
8. Wanita kurang dalam beribadah kerana masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataan)??? Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik.

Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan??? itulah bandingannya dengan seorang wanita perlu taat pada suami tetapi lelaki wajib taat pada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tak perlu diserahkan kepada suamiinya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isterinya dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat didoakan oleh segala makhluk, malaikat, dan seluruh makhluk ALlah di muka bumi ini, dan matinya jika kerana melahirkan anak adalah syahid..

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Dan wanita , tanggungjawab terhadapnya di tanggung oleh 4 orang lelaki ini.
Suaminya, ayahnya, anak lelaki dan saudara lelaki.
Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu Surga manapun yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja yaitu:

1. Sholat lima waktu
2. Puasa dibulan ramadhan
3. Taat pada suami
4. Menjaga kehormatannya

Seorang lelaki perlu pergi berjihad tetapi wanita jika taat pada suaminya serta menunaikan tanggungjawab kepada ALlah akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Subhanallah...demikian sayangnya Allah pada wanita..


10 Amanat Anak kepada Ayah dan Bunda
1. Tanganku masih kecil, tolong jangan menilaiku terlalu sempurna saat aku sedang membereskan tempat tidurku, menggambar atau melempar bola. Kakiku masih pendek, tolong jangan terlalu cepat kalau berjalan agar aku dapat berjalan bersama Ayah dan Bunda.

2. Mataku tidak seperti Ayah dan Bunda, aku belum melihat semua hal di dunia ini, beri aku kesempatan untuk dapat menjelajahi dunia dengan aman dan jangan larang aku kalau tidak begitu perlu sekali.

3. Aku tahu ada banyak pekerjaan di kantor dan di rumah yang harus Ayah dan Bunda kerjakan, aku tidak akan lama menjadi anak kecil, tolong berikan aku waktu dan perhatian untuk menjelaskan dunia yang indah dan lakukanlah dengan sepenuh hati.

4. Perasaanku lembut, perlakukan aku sebagaimana Ayah dan Bunda ingin diperlakukan oleh orang lain, jangan marah padaku sepanjang hari. Aku ingin Ayah dan Bunda sensitif pada kebutuhanku.

5. Aku adalah hadiah dari Allah swt untuk Ayah dan Bunda, perlakukan aku sesuai dengan kehendak Allah swt. Arahlan, bimbing dan siapkan diriku untuk dapat menghadapi masa depanku yang tidak sama dengan jamanmu, berilah aku aturan, penghargaan dan konsekuensi (bukan hukuman yang tanpa penjelasan yang membuat aku dendam) atas perbuatanku yang salah sehingga aku tahu mana yang benar dan salah.

6. Aku membutuhkan dukungan dan dorongan Ayah serta Bunda untuk tumbuh dan berkembang optimal, bukan hanya kritikan. Ayah dan Bunda dapat mengkritik perbuatanku tanpa harus membenciku.

7. Berikan aku kesempatan berlatih mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Ijinkan aku untuk mengalami kegagalan dan memperbaiki kesalahan sehingga di masa depan aku sudah siap mengambil keputusan yang tepat untuk hidupku.

8. Jangan lakukan semuanya untukku, karena kau akan merasa bahwa apa yang aku lakukan tidak memenuhi standar atau harapan Ayah dan Bunda. Tolong jangan bandingkan aku dengan orang lain atau dengan saudara kandungku, aku tahu ini memang berat bagi Ayah dan Bunda.

9. Jangan takut meninggalkan aku jika memang Ayah dan Bunda perlu pergi berdua. Anak-anak juga butuh liburan tanpa Ayah dan Bunda, sama seperti Ayah dan Bunda yang membutuhkan liburan tanpa anak-anaknya.

10. Bawalah aku ke mesjid secara rutin, berikan aku contoh bagaimana menjadi Umat yang baik. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Allah SWT dan Rosulnya


Bersyukurlah….!
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan… Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu, karena itu memberimu kesempatan untuk belajar…

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit, di masa itulah kamu bertumbuh…

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu, karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang…

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu….

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat, itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga…

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih, karena itu berarti kamu telah membuat suatu perbedaan…

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik … Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa yang surut…

Rasa syukur dapat mengubahkan hal yang negatif menjadi positif….

Temukan cara untuk bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …


Takut Miskin di Akhirat
Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.

“Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?”

”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”

”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan.

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.
”Anda siapa?” tanya pemuda.
”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”
”Ohh… lalu ini istana siapa?”
”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.”
”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?”
”Betul!”
”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?”
”Betul sekali.”
Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.
“Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.
”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.”
”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?”
”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”

”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak...


KENAPA AKU DIUJI......?

Surat Al Ankabut Ayat 2-3
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman". Sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?

Surat Al Baqarah Ayat 126"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamumenyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

MENGAPA UJIAN SEBERAT INI..?

Surat Al Baqarah Ayat 286
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

RASA FRUSTASI

Surat Al Imran 139"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA...?

Surat Al Imran 200
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung."

Surat Al Baqarah Ayat 45
"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'."

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI...?

Surat Attaubah Ayat 111
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka."

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP...?

Surat Attaubah Ayat 129
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nyalah aku bertawaqal."

AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI....

Surat Yusuf Ayat 87
"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan yang kafir."

Surat An Nisa Ayat 86
"Apabila kamu dihormati dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."

SUBHANALLAH
Mari kita berbenah dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup kita..
Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah...
Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun...
Selama Allah SWT menjadi "JUST THE ONE Goal"
InsyaAllah akan 'bahagia', sebagaimana do'a yang sering tertaut untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.


Read More..

Selingkuh ??????? !!!!!!!! amit2


Kamu harus bilang sama teman kamu, bahwa ini bukanlah suatu tantangan yg biasanya dia hadapi, tapi ini adalah tantangan yang harus dia jauhi, bukan kata "aku harus bisa memenangkan tantangan dan mendapatkannya", tapi "aku harus bisa memenangkan tantangan untuk menjauhi dia". suruh temanmu itu membalikkan keadaan yg sekarang sedang dilakukannya itu kepada posisi suami, suruh dia membayangkan dan mencoba merasakan apabila yg dilakukannya sekarang ini tengah dilakukan oleh suaminya,dan wanitanya sangat lebih cantik dari temanmu, suruh dia merasakan gimana rasanya dihianati.
bilang sama teman kamu,jika dia tetap melakukan itu, berarti dia harus menemui semua orang yg datang pada saat pernikahannya untuk menyaksikan dan mendoakannya pada aat itu, untuk meminta maaf atas perbuatannya. karna dengan berbuat begitu, berarti dia sudah menghianati suami,keluarga dan org2 yg telah mendoakannya saat itu. kalau temanmu itu beragama islam,suruhlah dia banyak2 membaca ayat kursi dan beristighfar.
bilang padanya, bukan kebanggaan yg akan dia dapatkan jika berhasil mendapatkan kliennya itu,tp cemoohan,kehancuran,kebencian dan dosa yg akan dia dapatkan it's not love but itu nafsu, hasrat ingin memiliki seseorang yang bukan miliknya, dia susah terobsesi sama pria itu dan ingin memilikinya. ketahuilah mencintai memang tidak salah, tapi kalau mencintai orang yang sudah memiliki pasangan yang syah apalagi ingin memisahkannya akan menjadi dosa yang sangat besar. jadi berusahalah untuk terus menyadrakan teman anda sebelum terjadi tragedi yang sangat mengharukan, karena akan sakit rasanya jika tidak dapat memiliki orang yang kita inginkan, dan satu lagi jangan terlalu cinta karena cinta manusia memiliki batas.

sorry, sebaiknya sebelum kamu menasehati dia sebaiknya lihat dulu keadaan keharmonisan keluarga dia yang sekarang.......
ajak dia berfikir tentang perasaan anak dan suaminya jika mengetahui hal ini.......
setelah kamu tau dan ternyata dia masih saja belum bisa berubah, jangan mau lagi jadi tempat curhatnya.......
karena dikwatirkan dia menilai kalau kamu mendukungnya.....

Minta teman kamu, untuk berpikir lebih jauh.
Apa manfaatnya hubungan itu untuk dia dan orang2 terdekatnya. Sepertinya tidak ada hal yang menguntungkan daripada hubungan itu untuk orang terdekatnya, suami - anak, kecuali menyakiti perasaan mereka. Juga menyakiti orang lain istri dan anak teman selingkuhannya.
Memang enak untuk memulai hubungan seperti itu, romantis dan hal2 yang indah untuk saat ini, tapi itu adalah perasaan enak sesaat dan tidak untuk dikemudian hari.

Apa manfaatnya menyakiti perasaan orang terdekat kita dan orang lain? Bila iya tidak ambil pusing dengan perasaan orang terdekatnya atau orang lain, jangan heran bila suatu hari kelak perasaan yang paling mengecewakan hatinya akan juga datang kepadanya. Apakah teman kamu siap untuk menerimanya?

Kamu berikan nasehat saja, kalau perbuatannya itu membahayakan rumah tangganya dan bisa merugikan dirinya.
Kalau dia ditolak jelas dapatnya rasa malu dan merasa diri terhina, diterima artinya masuk dalam perselingkuhan, jika hal ini diketahui pihak suami dan keluarganya maka jelas mereka tidak akan terima, ya kalau dikasih kesempatan maka hidup dalam pandangan merendahkan dan tidak percayaan kepada teman anda dari mereka.
Kalau tidak diberi kesempatan diceraikan dan jangan pernah mimpi hak asuh bisa jatuh ke wanita yang selingkuh, berarti kehilangan buah hati yang sedang lucu-lucunya itu.
Setelah ini masih belum cukup juga, kalau anak 4 tahun itu tumbuh menjadi anak belasan tahun yang mulai mengerti kekurangajaran mamanya maka rasa jijik dan penolakan akan dirasakannya.
Kalau yang diatas namanya bukan tantang lagi deh namanya tragedi, mudah-mudahan teman anda mau mengurungkan niatnya, karena kalau kerjaan adalah tantangan tapi kalau komitmen itu tidak boleh ditantang.

Sebenarnya teman anda hanya penasaran dan ingin menaklukan cowok itu saja, jadi cinta sesaat saja, ntar juga dia tau kalau cowok yg tebar pesona itu ternyata ngak jauh lebih baik dari suaminya. sebagai teman yang baik, nasehati dia supaya menjaga jarak dengan suami orang, selain jaga perasaan dan harga diri suami sendiri.

Kata pepatah rumput di pekarangan tetangga lebih hijau padahal kalau dilihat dari dekat ada tahi kucingnya lohhhhhhhhhh..... jodoh,rejeki,umur...itu kuasa tuhan.
mungkin ini adalah kehendak yg harus dia jalani,tp takdir bisa di rubah jika kita mau...masalahnya siap atau tdk kita menerima segala resikonya,jgn sampe kita berlindung dibalik cinta atas pengkhianatan yg kita lakukan pada pasangan kita...yg lbh penting anak adalah segalanya... mungkin tmn loe bkn lg jatuh cinta, dia kira dia jatuh cinta pdhal cuma lg puber kedua kali.. elo balikin aja ke dia, kalo suaminya kayak dia, merasa jatuh cinta sm perempuan lain, gmn perasaannya? dan gmn kalo ada perempuan lain yg jatuh cinta sm suaminya? kalo dia merasa gak rela, yah... begitu jg yg dirasakan sm suami dan istri kliennya itu kalo mereka sampai tahu... coba deh utk menempatkan diri di posisi org2 tsb sebelum mengambil keputusan ato tindakan yg kemungkinan bsr akan disesali nanti..

Karena wanita adalah mahluk sosial yang memiliki empati lebih tinggi dibandingkan pria. Ukuran otak wanita lebih kecil dibandingkan para pria sehingga dampaknya pada prilaku mereka kepedulian, perasaan dan empatilah yang sangat penting.

Otak pria memiliki ruang 2.5 lebih luas yang ditujukan sebagai hasrat sexsual, pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar, Untuk memecahkan masalah Logis dan agresi didalam hipotalamusnya Bahkan sejak umur tiga bulan pertama otak seorang bayi perempuan mampu berkembang sebesar 400% lebih baik dalam membedakan ekpresi wajah, tatapan, sentuhan dibandingkan seorang bayi laki-laki.
sejak bayi wanita lebih tertarik dengan emosi, coba saja anda perhatikan anak-anak perempuan sedang bermain bersama mereka lebih mementingkan sosial dan bahasa ketimbang agresi, mereka sejak kecil saja sudah mengerti dan tahu cara terbaik menghindari konflik bandingkan dengan anak laki-laki hahahaha jelas akan sangat berbeda.

Bagi seorang wanita emosi sama saja dengan membaca sebuah realitas, rata-rata seorang wanita menghabiskan sekitar 20.000 kata perhari bahkan bisa lebih, sedangkan seorang pria rata-rata mereka hanya menghabiskan 7000 kata perhari. Jadi wajar saja mengapa wanita lebih ego dibandingkan pria karena mereka ingin agar pria itu mengerti bagaimana cara mereka berpikir, berkomunikasi dan mengerti perasaan mereka. Karena itulah sehingga wanita bertindak egois "Bahasa pria mungkin menyebut mereka egois tapi bagi seorang wanita inilah cara dia menunjukkan dan mengungkapkan bahasanya". (Coba klo anda wanita mungkin ia tidak akan se-egois itu, lihat saja para wanita kalau curhat satu sama lain mereka akan cepat akrab karena mereka saling mengerti satu sama lain. Wanita lebih berpengalaman dibanding pria klo berbicara soal perasaan).

Dalam sebuah realitas yang saling tuduh menuduh antar 2 gender "Laki-laki menuduh perempuan terlalu emosional dan perempuan menuduh laki-laki tidak cukup emosional". Karena dari otak saja sudah berbeda, lalu bagaimana cara masing-masing gender berkembang dan memandang sesuatu pun sudah berbeda, jadi sangatlah wajar jika wanita
memiliki ego yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Dilema cinta suami orang
Cinta lahir tanpa diduga apabila hati mula terpikat dengan seseorang lantaran kesamaan minat, sikap ambil berat di samping kekerapan bertemu dan saling mencurahkan rasa.

Pernahkah anda berasa terlalu teruja dengan lelaki sedangkan anda tahu banyak duri yang bakal menghalang perjalanannya?

Barangkali inilah yang dikatakan takdir apabila hati terpaut pada yang sudah berpunya terutama suami orang. Sikapnya yang prihatin, bertanggungjawab, penuh perhatian dan sentiasa di sisi di saat bantuan diperlukan membuatkan hati sentiasa terkenang-kenang.

Lalu bagaimana hendak mengikis perasaan itu kerana anda merasakan bagai bertemu cinta sejati dengan lelaki milik wanita lain?

Jika anda baru belajar menyintai suami orang, renunglah rencana ini yang mungkin sedikit sebanyak membuatkan anda cuak untuk jatuh cinta dengan ‘hak milik orang’ itu.

Si dia tidak berani membuat sebarang komitmen dengan anda

Seorang lelaki yang tidak bahagia dalam rumah tangganya pasti terasa amat gembira dengan kehadiran anda apatah lagi dia terasa dirinya diberi sepenuh perhatian yang mungkin tidak diperoleh daripada isterinya sendiri.

Pasti saban masa dia akan melahirkan rasa bahagianya berada di sisi anda. Ini mungkin kelihatan seperti komitmen terhadap masa depan anda tetapi percayalah, itu hanya kata-kata manis sekadar untuk mendapatkan cinta anda saja.

Sanggup menipu isterinya

Sikapnya yang tidak jujur terhadap isterinya sendiri sudah cukup untuk dijadikan bukti jelas kepada anda sikap sebenar si dia yang tidak jujur.

Dia sanggup mencari hiburan di luar rumah apabila mendapati ada masalah atau perkara yang tidak memuaskan hatinya di rumah tanpa cuba untuk mengatasi masalah itu.

Tambahan pula, anda menjadi punca sebenar si dia menipu isterinya. Ingat, si dia mungkin akan mengulangi sikap menipu ini pada anda apabila hubungan anda berdua menghadapi masalah dalam hubungan seterusnya.

Hubungan secara sulit

Merahsiakan sesebuah perhubungan itu sememangnya suatu perkara yang meletihkan. Membabitkan diri dalam perhubungan sulit seperti ini akan membuatkan anda kehilangan keyakinan diri kerana anda akan ketinggalan dalam pelbagai aspek perhubungan yang indah.

Anda tidak boleh berjalan berdua-duaan dengan bebas dan bangga. Ini kerana anda akan sentiasa diselubungi perasaan takut dan bimbang. Takut orang lain terlihat anda berdua-duaan lalu mengadu kepada isteri si dia. Mati anda kena serang!

Lelaki lebih beruntung

Apa yang dimaksudkan ialah dia dianggap lebih bertuah kerana pada masa sama, tetap mempunyai sebuah keluarga yang akan tetap menyayanginya. Sebaliknya dalam diam, anda pula kerugian kerana terpaksa berkongsi kasih dengan keluarganya yang sah.

Bayangkan, anda tidak boleh menemaninya ke majlis kerana sudah pasti dia akan membawa isterinya. Anda hanyalah sebagai teman di kala ingin mengubat kesunyian atau mencari hiburan jika ada masalah di rumah saja.

Mampukah anda mencintainya?

Persoalannya, apakah anda masih sanggup meneruskan perhubungan dengan seorang lelaki yang tidak jujur dan tidak hormat kepada isterinya?

Dengan menjalinkan perhubungan secara sulit dengan anda sudah jelas menunjukkan bahawa dia menganggap perempuan mudah untuk dipikat dan diperlakukan sewenang-wenangnya.

Jika dia benar-benar menyayangi dan jujur dengan isterinya, sudah pasti dia sanggup berterus-terang. Alasan untuk tidak melukai hati isterinya bukannya alasan yang kukuh memandangkan dia sememangnya sudah melukai hati isterinya di saat dia menjalinkan hubungan dengan wanita lain.

Si dia akan hilang hormat

Jangan terkejut! Walaupun dia yang jatuh cinta pada anda dan menarik minat anda, di dalam hati lelakinya dia mungkin akan pandang rendah terhadap wanita seperti anda yang mudah terpedaya dengan kata-kata lelaki sepertinya.

Siapa tahu, mungkin pada awalnya dia sekadar hendak ‘mencuba’ saja. Tidak sangka pula anda benar-benar terpikat. Dalam keadaan seperti inilah yang selalunya akan timbul soal dipermainkan.

Anda menipu diri sendiri

Si dia sentiasa mengucapkan kata-kata manis pada anda tetapi masih tidak menamatkan perhubungannya dengan isterinya, dan pada masa sama, masih tidak memulakan perhubungan yang sah dengan anda.

Masa itu emas dan jangan mensia-siakannya

Hubungan dengan lelaki yang sudah berkahwin boleh berlanjutan selama beberapa tahun manakala usia anda pula semakin meningkat.

Apabila sudah tua, baru sedar yang anda terjerat dan tidak boleh melarikan diri lagi. Jika boleh melarikan diri pun, anda sudah tidak tahu apa yang patut dilakukan. Terasa begitu lama anda mempersiakan zaman muda dengan menjalinkan hubungan yang mungkin tidak bermakna.

Read More..