Selasa, 12 April 2011

Mencari Kesempurnaan


Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi di sebuah cafe.
Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
“Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?” ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
“Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna.
Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir ini adalah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata dimasa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong.
Hubungan kami putus sampai di situ.”
“Suatu saat, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.”
“Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.”
“Lantas,” sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, “Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?”
Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening.
Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, “Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.”
Adakah yang sempurna? Siapa?


Read More..

KENTANG


Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.
Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.
Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.
Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.
Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.
pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu,sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.
Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap,bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.
Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.
Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedengkian hati.


Read More..

Senin, 11 April 2011

KOPI ASIN KENANGAN ( salty coffee)


Laki-laki itu datang ke sebuah pesta. Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dengan penampilan laki-laki lain yang datang, namun kelihatannya tidak seorangpun yang tertarik padanya. Ia lalu memperhatikan seorang gadis yang dari tadi dikelilingi banyak orang. Di akhir pesta itu, ia memberanikan diri mengundang gadis itu untuk menemaninya minum kopi. Karena kelihatannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang sopan, gadis itupun memenuhi undangannya. Mereka berdua kini duduk di sebuah warung kopi. Begitu gugupnya laki-laki itu hingga ia tidak tahu bagaimaan harus Memulai sebuah percakapan.

Tiba-tiba ia berkata kepa da pelayan, "Dapatkah engkau memberiku sedikit garam untuk kopiku?"
Setiap orang yang ada di sekitar mereka memandang lelaki itu keheranan. Wajahnya memerah seketika, tetapi ia tetap memasukkan garam itu ke dalam kopinya lalu kemudian meminumnya. Penuh rasa ingin tahu, gadis yang duduk di depannya bertanya, "Bagaimana kau bisa mempunyai hobi yang aneh ini?"

Laki-laki itupun menjawab, "Ketika aku masih kecil, aku hidup di dekat laut, aku suka bermain-main di laut. Jadi aku tahu rasanya air laut, asin seperti rasa kopi asin ini. Sekarang, setiap kali aku meminum kopi asin ini, aku terkenang akan masa kecilku, tentang kampung halamanku, aku sangat merindukan kampung halamanku, aku merindukan orang tuaku yang tetap hidup di sana." Ia mengatakan itu
sambil berurai air mata, kelihatannya ia sangat tersentuh.
Gadis itu berpikir, "Apa yang dicer itakan oleh laki-laki tersebut adalah ungkapan isi hatinya yang terdalam. Orang yang mau menceritakan tentang kerinduannya akan rumahnya adalah orang yang setia, peduli dengan rumah dan bertanggung jawab terhadap seisi rumahnya". Maka gadis itupun mulai bercerita tentang kampung halamannya yang jauh, masa kecilnya dan keluarganya.

Merekapun berpacaran. Gadis iu menemukan semua yang dia inginkan di dalam diri laki-laki tersebut. Laki-laki itu begitu toleransi, baik hati, hangat dan penuh perhatian. Ia adalah laki-laki yang sangat baik, sehingga ia selalu merindukannya. Singkat cerita, merekapun menikah dan hidup bahagia. Setiap kali, ia selalu membuatkan kopi asin bagi suaminya karena ia tahu suaminya sangat menyukai kopi asin.

Sesudah empat puluh tahun menikah, meninggallah suaminya. Ia meninggalkan surat kepada istrinya, "Sayang ku, maafkan aku, maafkan kebohonganku selama aku hidup. Inilah satu-satunya kebohonganku padamu, yaitu tentang "kopi asin". Ingatkah engkau pertama kali kita bertemu dan berpacaran? Saat itu aku begitu gugup untuk memulai percakapan kita... Karena kegugupanku, aku akhirnya meminta garam padahal yang aku maksudkan adalah gula. Selama hidupku banyak kali aku mencoba untuk mengatakan kepadamu hal yang sebenarnya, sebagaimana aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong kepadamu untuk apapun juga. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kini aku sudah mati, aku tidak takut lagi, maka aku memutuskan untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu bahwa aku tidak suka kopi asin. Rasanya aneh dan tidak enak. Selama hidupku aku baru meminum kopi asin sejak aku mengenalmu. Meski begitu, aku tidak pernah menyesal untuk apapun yang aku lakukan untukmu. Memiliki engkau merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki s elama hidupku. Jika aku dapat hidup untuk kedua kalinya, aku tetap ingin mengenalmu dan memilikimu selamanya, meskipun aku harus meminum kopi asin lagi". Air mata wanita itu membasahi surat yang dibacanya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya kopi asin itu?" "Sangat enak", jawabnya.



CATATAN : Kita selalu berpikir bahwa kita sudah mengenal pasangan kita lebih dari orang lain mengenal mereka. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui di mana pasangan kita telah rela meminum "kopi asin" (salty coffee) dengan membuang ego, kesombongan, kesenangan dan hobinya untuk menjaga keharmonisan hubungan kita dengannya. Ya, begitulah caranya mengasihi dan mencintai. Bukan menuntut, tetapi berkorban. Membuang kebencian dan mengasihi lebih lagi, menyebabk an rasa garam lebih enak daripada rasa gula.

ARIS AHMAD JAYA


Read More..

Karakteristik wanita [istri] yang menjadi pendamping hidup idaman pria [suami]


Selalu memberikan masukan kepada suami,
Tidak jarang seorang suami tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya setelah mereka berumah tangga. Oleh karena itu, yang pertama harus dikerjakan seorang istri adalah membantu memperjelas angan-angan dan keinginan yang ada dalam benak suami. Seorang istri harus membantu suaminya mengetahui apa target yang dikejar dalam kehidupannya. Tentu dengan bahasa yang baik dan spoan, tidak seolah-olah menggurui.

Membantu suami merancang target baru,
"Jika kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain," (QS al-Insyirah : 7)
Bila suami telah berhasil merealisasikan tujuan yang dikehendakinya, istri harus menyampaikan pada suaminya bahwa keberhasilan suatu tujuan bukan akhir dari segala-galanya. Tapi, keberhasilan suatu target adalah awal langkah mengejar target yang lain. Yang penting disampaikan kepada suami adalah bahwa janganlah takut tidak berhasil mengejar suatu target.

Mendampingi suami hingga berhasil meraih target,
Tindakan logis yang dilakukan oleh setiap istri yang berpikir cemerlang sewaktu berada di samping suaminya adalah membantunya dengan kata-kata yang baik, memberikan senyuman yang memotivasi, dan mendorongnya terus-menerus untuk merealisasikan semua target yang diharapkannya. Setiap keberhasilan yang diraih bukanlah milik sendiri, melainkan milik mereka berdua.

Menghidupkan semangat dan harapan suami,
Di antara ciri khusus istri cerdas adalah selalu berusaha membangkitkan semangat dan menghidupkan harapan dalam diri suaminya, begitu pula pada anaknya, saudaranya, atau ayahnya sekalipun. Janganlah sekali-kali seorang istri mengatakan bahwa suaminya selalu mengalami kegagalan. Menurut Margaret Colcen, kewajiban terpenting seorang istri adalah memanfaatkan waktu makan bersama untuk berbicara dangan suami tentang harapan, optimisme, dan keberhasilan.

Bunda Khadijah selalu mampu memberikan semangat untuk Muhammad Saw lewat kata-kata dan perilaku yang menarik. Ungkapannya berisi daua hal:
1. Meyakinkan kepada suami bahwa perjuangannya benar dan lurus.
2. Memuji dan menganggap suami mempunyai potensi yang dapat dijadikan modal.
3. Dorongan semangat bahwa usahanya akan berhasil dan menghasilkan.

Jangan lupa, pujian yang tidak berlebihan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pembangkitan suami.

Mengimbangi kecemasan suami dengan sikap dan tindakan simpatik,
Seorang wanita sama sekali tidak dapat membahagiakan suami dan mendorongnya mencapai keberhasilan, kecuali bila ia tetap kreatif dan mampu menghiburnya. Hendaklah seorang istri benar-benar memahami bahwa suaminya sangat membutuhkan pandangan yang mendalam dari istrinya mengenai apa yang dilakukannya.

Harus dipahami oleh seorang istri, kecemasan suami mendorongnya uring-uringan, terkadang marah-marah, dan emosinya cepat meninggi. Hal ini sangan wajar, sebab, suami sedang mencari pelampiasan ketegangan. Sebagai istri yang baik, jangan sekali-kali mengimbanginya dengan emosi dan marah juga. Sikap yang seperti itu, ikut terbawa marah dan emosi, dapat membuat kapal suami yang semakin menghilangkan kekuatan semangat dan kesabarannya. Yang tepat dilakukan oleh seorang istri adalah menyarankannya untuk berdzikir kepada Allah dan sholat. Atau, ajaklah dia tidur, supaya ketegangannya menurun.

Tidak merecoki tekad bulat suami,
Tekad seorang suami memerlukan perekat yang kental dari istrinya. Keinginan merecoki tekad suami adalah akibat istri yang tidak membiasakan belajar bersabar. Yang lebih parah, ketakutan kehilangan suami dan perasaan cemburu yang tak beralasan membuat istri menghalangi suaminya uintuk maju.

Pandai melontarkan kritik membangun,
Kritik yang diberikan seorang istri adalah bantuan berharga bagi seorang suami. Orang yang paling tahu dan merasakan kekurangan suami adalah istri. Istri adalah orang yang tahu luar dalam suaminya.

Anti campur tangan,
Seorang istri cerdas akan menguras pikirannya untuk mencari cara agar suaminya dapat tenang dan konsentrasi pada kegiatannya. Ia akan membiarkan suaminya berbuat dan mengerjakan pekerjannya tanpa ikut campur di dalamnya, jika suaminya menginginkan hal itu.

Rela memberikan waktu luas kepada suami untuk konsentrasi pada tugasnya
Seorang suami yang pandai adalah suami yang dapat memenuhi kewajiban tugas dan hak keluarga. Sedangkan istri yang cerdas adalah istri yang banyak legowo atas hak diri dan lebih mementingkan kemaslahatan keluarga. "Biarlah dia kurang memperhatikanku, asalkan keutauhan dan kemaslahatan keluarga terjaga dengan baik," moto inilah yang biasa dipegang wanita terpelajar.

Susah ga ya diterapkan????

Read More..

Rabu, 09 Maret 2011

Ayah Super Sibuk


“Ayah lagi sibuk”, “Ayah capek ”,” Jangan ganggu Ayah lagi kerja” begitulah jawaban-jawaban yang selalu diberikan Ayah kepada Alif (5 tahun), jika Alif mengajaknya bermain bola. Kini, Alif tidak pernah lagi mengajak ayahnya bermain bola, karena ayahnya selalu menolak,dan berakhir kekecewaan pada Alief. Alief kemudian memilih bermain Playstation di kamarnya. Sang Ayahpun bersyukur, Alief tak lagi mengganggunya…

Menyedihkan, tapi nyata. Saya yakin, banyak Alif Alif lain,anak-anak yang memiliki ayah super sibuk, yang tidak lagi memberikan waktu untuk anaknya. Dengan alasan ‘Saya bekerja mencari uang’, para ayah terlupa kalau anak butuh perhatian ayah, anak butuh berkomunikasi dengan ayah, anak butuh kasih sayang seorang ayah…

Saya merasa beruntung dan bersyukur, sebab ayah saya masih memberikan waktunya untuk kami, empat anaknya. Maghrib adalah waktu spesial kami bersama ayah. Ketika azan maghrib berkumandang, televisi dimatikan, dan tidak ada aktifitas lain kecuali sholat berjamaah bersama ayah. Seusai sholat, kami anak-anaknya bergantian maju mencium tangan ayah, dan ayah akan berdoa untuk kami. Doa yang tulus terucap dari hatinya, harapan seorang ayah kepada anaknya…” Ayah doakan, kamu jadi anak solehah, pintar, berbakti kepada Ayah Ibu, memperoleh kebahagiaan, di dunia dan di akhirat nanti...” Doa yang begitu indah, doa yang terus melekat kuat di hati ini…

Kemudian ayah akan memberikan kultum kepada kami. Berisi nasihat seperti jangan melalaikan sholat yang lima waktu, pentingnya saling menyayangi diantara saudara, atau kadang berisi ungkapan rasa syukur ketika keluarga kami diberi rizki lebih oleh Allah.

Usai kultum kami duduk di meja makan untuk belajar. Mengerjakan tugas sekolah, dibimbing oleh ayah. Ayah akan memeriksa tugas sekolah kami, ia juga mengajarkan kami materi pelajaran selanjutnya. Untuk memastikan kami paham pelajaran yang diajarkannya, tak lupa ayah memberi kami pe er yang akan diperiksanya esok hari sepulang kantor.

Kebersamaan bersama ayah yang paling membahagiakan adalah kala sore hari. Setelah cantik dan harum sehabis mandi, kami semua menanti ayah pulang kantor. Bila dari luar rumah terdengar suara derum motor, kami berlarian menghambur keluar, minta dibonceng ayah. Biasanya ayah dengan senanghatimembonceng kami mengelilingi kompleks rumah. Bergiliran tentunya, kamipun menanti giliran dibonceng ayahdengan hati riang.Kebahagiaan masa kecil, sungguh terasa indah bila dikenang…

Rasulullah Saw bersabda “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan Aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu.” (HR. Tirmidzi).

Mari kita tengok kehidupan Rasulullah saw sebagai seorang ayah… Rasulullah dikenal sebagai ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Fathimah, putri Rasulullah dibesarkan oleh beliau dengan penuh kasih sayang. Rasulullah sangat bangga dengan putri kecilnya, beliau berkata “Siapa yang mengenal anak ini, maka dia telah mengenalnya, Siapa yang belum mengenal anak ini, maka ketahuilah dialah Fathimah putriku, Dia belahan jiwa, hati dan ruhku. Siapa menyakitinya berarti telah menyakitiku. Siapa menyakiti Aku dia telah menyakiti Allah. “

Perhatian Rasulullah tetap tercurah kepada anak-anaknya meskipun mereka telah dewasa. Ketika Rasulullah hendak berangkat Perang Badar, beliau berpesan kepada Usman bin Afan untuk tidak ikut berperang, Rasulullah meminta Usman menjaga istrinya, Ruqayyah (putri Rasulullah) yang sedang sakit. Ruqayyah akhirnya meninggal dunia. Ketika kembali dari Perang Badar, yang pertama kali beliau lakukan adalah mengunjungi pusara Ruqayyah bersama Fathimah.

Rasulullah bukan saja ayah teladan, beliau juga seorang kakek penyayang. Rasulullah selalu menunjukkan rasa cintanya kepada cucunya, Hasan dan Husein. Usamah bin Zaid menceritakan satu kisah teladan Rasulullah. Suatu hari dia pergi ke rumah Rasulullah, Rasulullah membuka pintu dan ia melihat sesuatu bergerak-gerak dibalik jubah panjang nabi,dan beliau bersusah payah memegangnya, Usamah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang Engkau pegang itu?" Dengan wajah cerah Nabi membuka jubahnya dan terlihat kedua cucunya tertawa. Beliau mengatakan bahwa kedua cucunya terbiasa bermain bersamanya, dan berkata, “Inilah kedua putraku, putra anakku Fathimah.”

Para Ayah sering berkilah kalau mereka sangat sibuk, tapi bagaimana bila kita bandingkan dengan kesibukan Rasulullah?
Rasulullah Saw seorang pemimpin umat, penerima ribuan wahyu, mengajarkan sendiri setiap wahyu yang diterimanya, Rasulullah seorang komandan perang, 19 Perang besar dan puluhan ekspedisi militer dipimpinnya, Rasulullah imam setiap shalat di Masjid Nabawi, dan shalat tahjud pun tak pernah ditinggalkannya. Subhanallah!

Ayah.. masihkah kita katakan kita terlalu sibuk? Sementara Rasulullah telah memberikan teladan kepada kita bagamana beliau memberikan perhatiannya kepada keluarga di tengah kesibukannya yang luar biasa...

Memang benar Ayah…kita perlu uang. Namun, begitu banyak kebahagiaan lain yang bisa kita berikan kepada anak kita, bukan dengan uang.

Ayah… Anak-anak butuh sedikit waktu dari Ayah untuk menemani mereka bermain, untuk bercerita kepada mereka, untuk mendapat pelukan seorang ayah…

Ayah… anak-anak butuh cinta./Oleh Silvani


Read More..

Cinta Dalam Pernikahan


Saat kau goreskan luka dan kecewa biarlah
kutulis pada hamparan pasir dan
luka dan kecewa itu sirna
ditelan ombak kecintaanku pada-Nya

Saat kau beri aku bahagia izinkanlah
kuukir pada batu karang dan bila
ombak kehidupan garang menerjang
karang itu tetap kokoh
dalam naungan cinta-Nya

Dulu, ketika saya memutuskan untuk menikah, yang terbayang di benak saya adalah semua yang indah-indah. Betapa tidak, seumur hidup akan saya habiskan bersama orang yang saya cintai.

Berbunga-bungalah hati ini saat sang pujaan hati datang pada ayah bunda, bermaksud melamar, menjadikan saya sebagai istrinya. Dan hari pernikahan itupun tiba, sungguh hari terindah…

Bagaikan kisah dongeng “Cinderella”, hari itu sayalah si gadis jelita yang dinikahi sang pangeran tampan, akan diboyong menuju istananya and they lived happily ever after… begitulah akhir kisah dongeng "Cinderella".

Bagaimana dengansaya? Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, setelah melewati hari-hari bersamanya, ohh ternyata… tersadarlah saya, kalau saya dan suami sangat jauh berbeda.

Perbedaan itu bagaikan bumi dengan langit! Saya yang suka becerita, suami yang tidak suka mendengar cerita … Saya yang suka bertemu orang banyak, suami yang tidak suka keramaian… Saya yang sensitif, suami yang bicara ceplas-ceplos…

Hari demi hari berlalu, tahunpun berganti. Telah hampir sepuluh tahun kami kayuh biduk rumah tangga ini. Biduk rumah tangga yang penuh nuansa. Suka, tawa, bahagia, duka, dan lara ada di sana.

Batin ini kemudian bertanya… Setelah sepuluh tahun berlalu, masih adakah cinta tersisa? Kemana gerangan perginya getaran cinta itu? Yaa Allah… saya tak mau cinta itu hilang, jangan sampai cinta menjadi redup dan kemudian mati. Saya harus menghidupkan kembali cinta diantara kami…

Saya sadar, manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga saya dengan segala ketidaksempurnaan saya. Sia-sia mencari pasangan yang sempurna, karena tak kan pernah ada, karena hanya Allahlah yang Maha Sempurna.

Setiap manusiapun unik dengan karakter yang dimilikinya. Ini membuktikan bahwa Allah Maha Kaya. Allah yang sanggup memberikan karakter yang berbeda-beda pada setiap hamba-Nya. Subhanallah…

Perbedaan yang ada bukanlah menjadi jarak yang memisahkan kami, melainkan untuk saling melengkapi. Seperti saling melengkapinya bumi dan langit.

Saya menikmati hidup berumah tangga dengan segala nuansanya. Berumah tangga adalah perjuangan. Saya harus pandai mengelola hati, saat hati ini luka dan kecewa, saya maafkan suami. Karena saya melihat kesungguhannya memperbaiki kesalahannya. Karena luka bagaikan beban berat di punggung kita.

Maukah saya berjalan dengan terus membawa beban berat di punggung? Dan tentang cinta… Cinta dalam rumah tangga ternyata lebih luas, bukanlah cinta sesaat yang menggetarkan… jauh lebih indah, lebih dewasa, berwujud rasa kasih sayang kepada pasangan kita.

Dan kutemukan kembali cinta itu, tak pernah hilang, semakin berkilauan…

Saat saya menatapnya, tertidur dalam lelahnya… Dialah lelaki yang telah bekerja keras untuk saya, rela bekerja siang malam, berpeluh keringat…Seumur hidupnya dihabiskan untuk bekerja.

Semua itu untuk saya! Menafkahi saya, menafkahi kedua anak kami. Satu tujuannya, membahagiakan kami. Dia teristimewa dipilihkan Allah untuk saya… Yaa Allah... segala puji dan syukur kupanjatkan kepada Engkau…

Duhai suamiku… Engkaulah Langit bagiku. Engkau senantiasa menaungiku, memberi kehangatan sang mentari, melindungi dengan awan putih nan lembut, mencurahkan air sejuk di kala dahaga, melukiskan semburat warna pelangi… Saat mentari tenggelam, kau beri aku rembulan dan taburan bintang, hanya untukku…

Duhai Suamiku… berpijaklah engkau kepadaku sebagai Bumimu, kan kuberi Engkau cinta, cinta yang tak mengenal lelah, untuk selamanya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S Ar Rum: 2)

Wallahu’alam bishshowaab.

Oleh Silvani/Bangkok, 28 Februari 2011.

Read More..

Perilaku "mbak" yang patut ditiru


Hari ahad lalu saya sekeluarga berkesempatan menghadiri undangan masjid dekat rumah yang tengah mengadakan launching sebuah program zakat bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia.

Kegiatan launching tersebut ditutup dengan ceramah yang disampaikan seorang ulama ternama di kota Bogor. Beliau adalah orang yang sangat menguasai dan sering berbicara mengenai zakat. Tentu ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari tuturan beliau. Salah satunya adalah ketika sang ulama berbagi cerita saat ia berceramah seputar zakat di sebuah daerah.

Sang ulama mengisahkan di tempat tersebut ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Tentu hal ini bukan suatu hal yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya. Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Bagaimana kisah ini menjadi sebuah hal yang menarik perhatian yang hadir saat itu (khususnya saya)?

Ulama tersebut menyampaikan bahwa kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik, melainkan seorang majikan dan seorang pembantu (khadimatnya).

Tanpa diketahui oleh masing-masing, setiap menerima gaji, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari khadimatnya.


Namun ternyata, besar harta yang disisihkan sang pembantu untuk berinfaq lebih besar dari infaq sang majikan. Padahal ia memiliki banyak anak yang harus dinafkahi dengan penghasilannya yang pas-pasan itu. Namun demikian, ternyata dengan kondisinya tersebut, ia berhasil menghantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi.

Hmmm...apa yang terpikirkan oleh kita setelah mengetahui hal di atas? Mungkin ada yang merasa heran dan terselip tanya, bagaimana dengan gaji tak lebih dari 500 ribu bisa menghidupi sebuah keluarga bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi?

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Al-Quran:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS. Al-Hadid: 18)

Demikianlah Allah telah menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah yang dituturkan sang ulama di atas sebagai sebuah pelajaran supaya menyandarkan sepenuhnya keyakinan pada Allah atas rezeki yang diberikan-Nya pada kita, disamping itu tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut. Sungguh, perilaku pembantu itu adalah suatu hal yang patut ditiru.

Ada banyak cerita nyata yang senada dengan kisah tersebut dimana orang-orang yang dalam hitungan matematika kita berpenghasilan sangat minim dan diprediksikan tak kan sanggup memenuhi kebutuhan hidup, ternyata perkiraan tersebut tak dapat dibuktikan ketika orang-orang tersebut membelanjakan hartanya di jalan Allah. Akan selalu kita temukan kebenaran firman-Nya dalam kehidupan mereka.

Kembali pada kisah yang dituturkan sang ulama itu, kita pun dapat menemukan satu pelajaran lainnya, yakni untuk selalu menghormati sesama atau tidak meremehkan keadaan orang lain.

Berbeda keadaan atau kedudukan dalam penilaian manusia tak mengurangi nilai kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT, seperti kisah dua orang wanita sebagai majikan dan pembantu tersebut. Karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukanlah ia yang kaya, tampan atau cantik, memiliki sederet gelar dan atribut lainnya melainkan hanya satu saja, yakni yang paling takwa.

“.... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al Hujuraat [49]:13)./ oleh Ineu


Read More..

PERSEPSI SEORANG ANAK


Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" Tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.

Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah.
Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ....."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya :
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ...."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ......",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.
Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, tapi perlu diingat bahwa orang tua juga tak luput dari kesalahan.
Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku".
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium.
Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari..

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."

Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku ..."

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik..
Diposkan oleh Serpihan Kecil Kembaraku di 20:18

Read More..

Kamis, 17 Februari 2011

Bilik Hati Perempuan


Selama tiga tahun terakhir, saya menjadi sahabat untuk para perempuan perempuan yang luka, ada sahabat saya yang tiba tiba harus diangkat rahimnya karena tumor ganas menyerang, ada seorang perempuan yang begitu ikhlasnya merelakan sang suami tercinta menikah lagi dengan perempuan muda nan cantik, ada perempuan yang menjadi korban perkosaan kebiadaban lelaki yang mengaku mencintainya, ada seorang gadis manis nan cantik rupawan bak bidadari yang belum juga menemukan jodohnya, padahal semua ia miliki, fostur bak model plus kerudung yang menutupi aurat menambah kecantikannya dan ada seorang perempuan yang berjuang untuk sekedar bisa bernapas melawan kanker darah yang sedang dititipi ALLAH padanya…

Dari mereka saya meneropong luka demi luka, bahwa hidup ini hitam putih, bahwa perjalanan nasib ini bak rollercoaster, yang menegangkan ketika naik, menaikan adrenalin hingga ke ubun ubun dan amnat sangat menakutkan ketika turun bak terlempar ke jurang tanpa mampu berpegangan, iya ternyata hidup memang bukan roda pedati yang berputar begitu lambat hingga mampu memberi saya kesempatan untuk bersiap tapi tidak begitu dengan roallercoaster, hidup begitu cepat berputar, belum hilang kaget saya karena naik yang begitu cepat memecut jantung, sudah harus turun ketakutan, iya begitulah hidup semua berputar, berganti antara TIADA-ADA-TIADA.

Dari bilik hati para perempuan perempuan hebat sahabat saya ini saya belajar satu hal bahwa hidup ini bukan seberapa besar luka dan ujian yang diberikan ALLAH karena ujian ujian itu TIDAK PENTING lagi, namun yang PENTING adalah seberapa mampu kita menyikapi setiap ujian …

Iya seberapa mampu saya mengimani takdir ALLAH, bahwa setiap kejadian adalah atas kehendakNYA dan saya sebagai manusia hanya mampu berdiri diatas garis pengharapan saja, tidak bisa lebih dari itu, seberapa dalam saya mampu menjaga hati agar tidak marah dengan keputusan ALLAH, ikhlas menerima ujian, menangkap hikmah seberapapun kepedihan membenamkan. Memberi arti pada airmata bukan sebagai keputus asaan namun air ini adalah air ketabahan, mengalirkan ketawakalan.

Kesadaran diatas saya peroleh baru malam ini setelah saya membaca catatan seorang sahabat saya yang tahun lalu berpulang karena kanker hati yang dideritanya selama kurun waktu satu tahun, selama itu pula saya memintanya untuk mencatat semua yang tak lagi mampu ia katakan, selama dua belas bulan, lembar demi lembar catatan itu saya kumpulkan dan dari catatan yang terserak ini, saya belajar bahwa hidup itu bukan sekedar memasukan oksigen ke paru paru, tapi keberanian menghadapi ujian, keberanian untuk ikhlas, keberanian untuk percaya bahwa ketika sayap tak lagi mampu mengepak, dan saya tahu dimana harus berdiri ketika ujian ALLAH datang…

Iya, seberapapun besarnya ujian, TAK LAGI PENTING saya pikirkan, yang harus saya pikirkan adalah bagaimana ujian itu mampu membuat saya semakin dekat dengan ALLAH dan memperoleh cintaNYA karena ikhlas saya …

Meski sakit berat sekaliber kanker yang tak ditemukan obatkan, divonis mati oleh dokter, meski tak berjodoh karena tak ada lagi yang mau, meski jadi korban perkosaan sekalipun, meski dihina dan dipuji oleh seribu orang, mau ditinggalkan oleh kekasih tercinta yang tak ada tandingannya ganteng dan alimnya, TAK LAGI PENTING, karena makna dari ujian itu bukan luka lagi tapi cinta ALLAH yang harus dikejar.

Iya karena ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu bagaimana saya merangkak, berdiri dan berlari mengejar cinta ALLAH, berlari ketika jalan hidup saya menurun dan merangkak ketika jalan hidup saya menanjak, hanya untuk meraih cinta ALLAH, ujian TAK LAGI PENTING saya pikirkan.

Telah kuhanyutkan luka pada sungai kecil yang mengalir disudut mataku, telah kukabarkan lewat angin gerimis tentang segala catatan hati, telah kulemparkan pedih disetiap jengkal sajadah dalam tahajud dan sujud pangjangku

[dari bilik hati perempuan]

Read More..

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali.....


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul! Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!." Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!.
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
' Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.
" Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik… Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang. Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!. Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?. Dia menjawab, tersenyum, Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?. Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,

Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu. Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20..Aku 23 ..

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita! Tetapi katanya, sambil tersenyum, Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. Apakah itu sakit? Aku menanyakannya.."Tidak, tidak sakit..." Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan… Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.

Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! Mengapa membicarakan masa lalu? Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, Kakakku."Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi? " Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selamasaya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,

Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Read More..

Renungan2

Nikahkan aku...!
Seorang solehin dulunya jika ditawarkan supaya menikah pasti menolak, tiba-tiba pada suatu hari dia bangun dari tidur dan berkata; "Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku."
Orang ramai pun bertanya; "Mengapa tiba-tiba kamu minta menikah padahal selama ini engkau selalu menolak?"
Jawabnya; "Semoga aku mendapat anak, lalu mati ketika masih kecil sehingga menjadi perintis bagiku ke Akhirat.""Apa maksud kata-kata kamu ini?" tanya orang lagi.

"Aku telah bermimpi seakan-akan hari Kiamat telah tiba dan aku berdiri bersama banyak orang di Padang Mahsyar, dengan rasa yang amat haus sehingga hampir mematahkan leherku." Tiba-tiba aku nampak anak-anak kecil membawa gelas-gelas perak yang ditutupi sapu tangan dari cahaya. Anak-anak itu berada disekitarkalangan orang ramai untuk memberi minum satu-satu. Aku pun menghulurkan tanganku pada mereka dan berkata;"berikan padaku kerana aku juga sangat haus."

Tiba-tiba anak-anak kecil itu melihat padaku dan berkata;" anda tidak mempunyai anak di kalangan kami dan kami ini hanya memberi minum kepada Ibu dan Ayah kami". Aku pun bertanya; "Siapakah kamu?" Jawab mereka; "kami anak-anak kecil yang mati dari kaum Muslimin."
Dari kitab Irsyadul 'Ibad Ilasabilirrasyad


Renungan Alam
“Lakukan segala sesuatu atas dasar cinta karena cinta akan merubah persepsi kita tentang waktu
——————————————————————————–
“Sesungguhnya Hidup Ini Butuh Perjuangan, Tiada Perjuangan Tanpa Pengorbanan, Tiada Pengorbanan Tanpa Kesabaran Dan Tiada Kesabaran Tanpa Keikhlasan, Dengan Keikhlasan Akan Mengantarkan Kita Pada Kesuksesan”.
——————————————————————————–
“Ketika segala rumus kehidupan, senyawa keabadian, arsitek keagungan, morfologi kesucian, daya penciptaan, keseimbangan alam, dan akses semesta adalah milik Allah, Lantas apa yang bisa kita banggakan..??
“Dialah Raja Alam Semesta”.


.. SAYANGNYA ALLAH PADA WANITA..
Kaum Feminis menyatakan susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibandingkan lelaki
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila hendak keluar dari rumah
3. Wanita saksinya kurang dibandingkan lelaki
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
6. Wanita wajib taat kpd suami tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri
8. Wanita kurang dalam beribadah kerana masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataan)??? Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik.

Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan??? itulah bandingannya dengan seorang wanita perlu taat pada suami tetapi lelaki wajib taat pada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tak perlu diserahkan kepada suamiinya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isterinya dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat didoakan oleh segala makhluk, malaikat, dan seluruh makhluk ALlah di muka bumi ini, dan matinya jika kerana melahirkan anak adalah syahid..

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Dan wanita , tanggungjawab terhadapnya di tanggung oleh 4 orang lelaki ini.
Suaminya, ayahnya, anak lelaki dan saudara lelaki.
Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu Surga manapun yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja yaitu:

1. Sholat lima waktu
2. Puasa dibulan ramadhan
3. Taat pada suami
4. Menjaga kehormatannya

Seorang lelaki perlu pergi berjihad tetapi wanita jika taat pada suaminya serta menunaikan tanggungjawab kepada ALlah akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Subhanallah...demikian sayangnya Allah pada wanita..


10 Amanat Anak kepada Ayah dan Bunda
1. Tanganku masih kecil, tolong jangan menilaiku terlalu sempurna saat aku sedang membereskan tempat tidurku, menggambar atau melempar bola. Kakiku masih pendek, tolong jangan terlalu cepat kalau berjalan agar aku dapat berjalan bersama Ayah dan Bunda.

2. Mataku tidak seperti Ayah dan Bunda, aku belum melihat semua hal di dunia ini, beri aku kesempatan untuk dapat menjelajahi dunia dengan aman dan jangan larang aku kalau tidak begitu perlu sekali.

3. Aku tahu ada banyak pekerjaan di kantor dan di rumah yang harus Ayah dan Bunda kerjakan, aku tidak akan lama menjadi anak kecil, tolong berikan aku waktu dan perhatian untuk menjelaskan dunia yang indah dan lakukanlah dengan sepenuh hati.

4. Perasaanku lembut, perlakukan aku sebagaimana Ayah dan Bunda ingin diperlakukan oleh orang lain, jangan marah padaku sepanjang hari. Aku ingin Ayah dan Bunda sensitif pada kebutuhanku.

5. Aku adalah hadiah dari Allah swt untuk Ayah dan Bunda, perlakukan aku sesuai dengan kehendak Allah swt. Arahlan, bimbing dan siapkan diriku untuk dapat menghadapi masa depanku yang tidak sama dengan jamanmu, berilah aku aturan, penghargaan dan konsekuensi (bukan hukuman yang tanpa penjelasan yang membuat aku dendam) atas perbuatanku yang salah sehingga aku tahu mana yang benar dan salah.

6. Aku membutuhkan dukungan dan dorongan Ayah serta Bunda untuk tumbuh dan berkembang optimal, bukan hanya kritikan. Ayah dan Bunda dapat mengkritik perbuatanku tanpa harus membenciku.

7. Berikan aku kesempatan berlatih mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Ijinkan aku untuk mengalami kegagalan dan memperbaiki kesalahan sehingga di masa depan aku sudah siap mengambil keputusan yang tepat untuk hidupku.

8. Jangan lakukan semuanya untukku, karena kau akan merasa bahwa apa yang aku lakukan tidak memenuhi standar atau harapan Ayah dan Bunda. Tolong jangan bandingkan aku dengan orang lain atau dengan saudara kandungku, aku tahu ini memang berat bagi Ayah dan Bunda.

9. Jangan takut meninggalkan aku jika memang Ayah dan Bunda perlu pergi berdua. Anak-anak juga butuh liburan tanpa Ayah dan Bunda, sama seperti Ayah dan Bunda yang membutuhkan liburan tanpa anak-anaknya.

10. Bawalah aku ke mesjid secara rutin, berikan aku contoh bagaimana menjadi Umat yang baik. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Allah SWT dan Rosulnya


Bersyukurlah….!
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan… Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu, karena itu memberimu kesempatan untuk belajar…

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit, di masa itulah kamu bertumbuh…

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu, karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang…

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu….

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat, itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga…

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih, karena itu berarti kamu telah membuat suatu perbedaan…

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik … Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa yang surut…

Rasa syukur dapat mengubahkan hal yang negatif menjadi positif….

Temukan cara untuk bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …


Takut Miskin di Akhirat
Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.

“Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?”

”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”

”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan.

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.
”Anda siapa?” tanya pemuda.
”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”
”Ohh… lalu ini istana siapa?”
”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.”
”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?”
”Betul!”
”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?”
”Betul sekali.”
Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.
“Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.
”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.”
”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?”
”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”

”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak...


KENAPA AKU DIUJI......?

Surat Al Ankabut Ayat 2-3
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman". Sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?

Surat Al Baqarah Ayat 126"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamumenyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

MENGAPA UJIAN SEBERAT INI..?

Surat Al Baqarah Ayat 286
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

RASA FRUSTASI

Surat Al Imran 139"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA...?

Surat Al Imran 200
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung."

Surat Al Baqarah Ayat 45
"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'."

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI...?

Surat Attaubah Ayat 111
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka."

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP...?

Surat Attaubah Ayat 129
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nyalah aku bertawaqal."

AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI....

Surat Yusuf Ayat 87
"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan yang kafir."

Surat An Nisa Ayat 86
"Apabila kamu dihormati dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."

SUBHANALLAH
Mari kita berbenah dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup kita..
Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah...
Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun...
Selama Allah SWT menjadi "JUST THE ONE Goal"
InsyaAllah akan 'bahagia', sebagaimana do'a yang sering tertaut untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.


Read More..

Selingkuh ??????? !!!!!!!! amit2


Kamu harus bilang sama teman kamu, bahwa ini bukanlah suatu tantangan yg biasanya dia hadapi, tapi ini adalah tantangan yang harus dia jauhi, bukan kata "aku harus bisa memenangkan tantangan dan mendapatkannya", tapi "aku harus bisa memenangkan tantangan untuk menjauhi dia". suruh temanmu itu membalikkan keadaan yg sekarang sedang dilakukannya itu kepada posisi suami, suruh dia membayangkan dan mencoba merasakan apabila yg dilakukannya sekarang ini tengah dilakukan oleh suaminya,dan wanitanya sangat lebih cantik dari temanmu, suruh dia merasakan gimana rasanya dihianati.
bilang sama teman kamu,jika dia tetap melakukan itu, berarti dia harus menemui semua orang yg datang pada saat pernikahannya untuk menyaksikan dan mendoakannya pada aat itu, untuk meminta maaf atas perbuatannya. karna dengan berbuat begitu, berarti dia sudah menghianati suami,keluarga dan org2 yg telah mendoakannya saat itu. kalau temanmu itu beragama islam,suruhlah dia banyak2 membaca ayat kursi dan beristighfar.
bilang padanya, bukan kebanggaan yg akan dia dapatkan jika berhasil mendapatkan kliennya itu,tp cemoohan,kehancuran,kebencian dan dosa yg akan dia dapatkan it's not love but itu nafsu, hasrat ingin memiliki seseorang yang bukan miliknya, dia susah terobsesi sama pria itu dan ingin memilikinya. ketahuilah mencintai memang tidak salah, tapi kalau mencintai orang yang sudah memiliki pasangan yang syah apalagi ingin memisahkannya akan menjadi dosa yang sangat besar. jadi berusahalah untuk terus menyadrakan teman anda sebelum terjadi tragedi yang sangat mengharukan, karena akan sakit rasanya jika tidak dapat memiliki orang yang kita inginkan, dan satu lagi jangan terlalu cinta karena cinta manusia memiliki batas.

sorry, sebaiknya sebelum kamu menasehati dia sebaiknya lihat dulu keadaan keharmonisan keluarga dia yang sekarang.......
ajak dia berfikir tentang perasaan anak dan suaminya jika mengetahui hal ini.......
setelah kamu tau dan ternyata dia masih saja belum bisa berubah, jangan mau lagi jadi tempat curhatnya.......
karena dikwatirkan dia menilai kalau kamu mendukungnya.....

Minta teman kamu, untuk berpikir lebih jauh.
Apa manfaatnya hubungan itu untuk dia dan orang2 terdekatnya. Sepertinya tidak ada hal yang menguntungkan daripada hubungan itu untuk orang terdekatnya, suami - anak, kecuali menyakiti perasaan mereka. Juga menyakiti orang lain istri dan anak teman selingkuhannya.
Memang enak untuk memulai hubungan seperti itu, romantis dan hal2 yang indah untuk saat ini, tapi itu adalah perasaan enak sesaat dan tidak untuk dikemudian hari.

Apa manfaatnya menyakiti perasaan orang terdekat kita dan orang lain? Bila iya tidak ambil pusing dengan perasaan orang terdekatnya atau orang lain, jangan heran bila suatu hari kelak perasaan yang paling mengecewakan hatinya akan juga datang kepadanya. Apakah teman kamu siap untuk menerimanya?

Kamu berikan nasehat saja, kalau perbuatannya itu membahayakan rumah tangganya dan bisa merugikan dirinya.
Kalau dia ditolak jelas dapatnya rasa malu dan merasa diri terhina, diterima artinya masuk dalam perselingkuhan, jika hal ini diketahui pihak suami dan keluarganya maka jelas mereka tidak akan terima, ya kalau dikasih kesempatan maka hidup dalam pandangan merendahkan dan tidak percayaan kepada teman anda dari mereka.
Kalau tidak diberi kesempatan diceraikan dan jangan pernah mimpi hak asuh bisa jatuh ke wanita yang selingkuh, berarti kehilangan buah hati yang sedang lucu-lucunya itu.
Setelah ini masih belum cukup juga, kalau anak 4 tahun itu tumbuh menjadi anak belasan tahun yang mulai mengerti kekurangajaran mamanya maka rasa jijik dan penolakan akan dirasakannya.
Kalau yang diatas namanya bukan tantang lagi deh namanya tragedi, mudah-mudahan teman anda mau mengurungkan niatnya, karena kalau kerjaan adalah tantangan tapi kalau komitmen itu tidak boleh ditantang.

Sebenarnya teman anda hanya penasaran dan ingin menaklukan cowok itu saja, jadi cinta sesaat saja, ntar juga dia tau kalau cowok yg tebar pesona itu ternyata ngak jauh lebih baik dari suaminya. sebagai teman yang baik, nasehati dia supaya menjaga jarak dengan suami orang, selain jaga perasaan dan harga diri suami sendiri.

Kata pepatah rumput di pekarangan tetangga lebih hijau padahal kalau dilihat dari dekat ada tahi kucingnya lohhhhhhhhhh..... jodoh,rejeki,umur...itu kuasa tuhan.
mungkin ini adalah kehendak yg harus dia jalani,tp takdir bisa di rubah jika kita mau...masalahnya siap atau tdk kita menerima segala resikonya,jgn sampe kita berlindung dibalik cinta atas pengkhianatan yg kita lakukan pada pasangan kita...yg lbh penting anak adalah segalanya... mungkin tmn loe bkn lg jatuh cinta, dia kira dia jatuh cinta pdhal cuma lg puber kedua kali.. elo balikin aja ke dia, kalo suaminya kayak dia, merasa jatuh cinta sm perempuan lain, gmn perasaannya? dan gmn kalo ada perempuan lain yg jatuh cinta sm suaminya? kalo dia merasa gak rela, yah... begitu jg yg dirasakan sm suami dan istri kliennya itu kalo mereka sampai tahu... coba deh utk menempatkan diri di posisi org2 tsb sebelum mengambil keputusan ato tindakan yg kemungkinan bsr akan disesali nanti..

Karena wanita adalah mahluk sosial yang memiliki empati lebih tinggi dibandingkan pria. Ukuran otak wanita lebih kecil dibandingkan para pria sehingga dampaknya pada prilaku mereka kepedulian, perasaan dan empatilah yang sangat penting.

Otak pria memiliki ruang 2.5 lebih luas yang ditujukan sebagai hasrat sexsual, pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar, Untuk memecahkan masalah Logis dan agresi didalam hipotalamusnya Bahkan sejak umur tiga bulan pertama otak seorang bayi perempuan mampu berkembang sebesar 400% lebih baik dalam membedakan ekpresi wajah, tatapan, sentuhan dibandingkan seorang bayi laki-laki.
sejak bayi wanita lebih tertarik dengan emosi, coba saja anda perhatikan anak-anak perempuan sedang bermain bersama mereka lebih mementingkan sosial dan bahasa ketimbang agresi, mereka sejak kecil saja sudah mengerti dan tahu cara terbaik menghindari konflik bandingkan dengan anak laki-laki hahahaha jelas akan sangat berbeda.

Bagi seorang wanita emosi sama saja dengan membaca sebuah realitas, rata-rata seorang wanita menghabiskan sekitar 20.000 kata perhari bahkan bisa lebih, sedangkan seorang pria rata-rata mereka hanya menghabiskan 7000 kata perhari. Jadi wajar saja mengapa wanita lebih ego dibandingkan pria karena mereka ingin agar pria itu mengerti bagaimana cara mereka berpikir, berkomunikasi dan mengerti perasaan mereka. Karena itulah sehingga wanita bertindak egois "Bahasa pria mungkin menyebut mereka egois tapi bagi seorang wanita inilah cara dia menunjukkan dan mengungkapkan bahasanya". (Coba klo anda wanita mungkin ia tidak akan se-egois itu, lihat saja para wanita kalau curhat satu sama lain mereka akan cepat akrab karena mereka saling mengerti satu sama lain. Wanita lebih berpengalaman dibanding pria klo berbicara soal perasaan).

Dalam sebuah realitas yang saling tuduh menuduh antar 2 gender "Laki-laki menuduh perempuan terlalu emosional dan perempuan menuduh laki-laki tidak cukup emosional". Karena dari otak saja sudah berbeda, lalu bagaimana cara masing-masing gender berkembang dan memandang sesuatu pun sudah berbeda, jadi sangatlah wajar jika wanita
memiliki ego yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Dilema cinta suami orang
Cinta lahir tanpa diduga apabila hati mula terpikat dengan seseorang lantaran kesamaan minat, sikap ambil berat di samping kekerapan bertemu dan saling mencurahkan rasa.

Pernahkah anda berasa terlalu teruja dengan lelaki sedangkan anda tahu banyak duri yang bakal menghalang perjalanannya?

Barangkali inilah yang dikatakan takdir apabila hati terpaut pada yang sudah berpunya terutama suami orang. Sikapnya yang prihatin, bertanggungjawab, penuh perhatian dan sentiasa di sisi di saat bantuan diperlukan membuatkan hati sentiasa terkenang-kenang.

Lalu bagaimana hendak mengikis perasaan itu kerana anda merasakan bagai bertemu cinta sejati dengan lelaki milik wanita lain?

Jika anda baru belajar menyintai suami orang, renunglah rencana ini yang mungkin sedikit sebanyak membuatkan anda cuak untuk jatuh cinta dengan ‘hak milik orang’ itu.

Si dia tidak berani membuat sebarang komitmen dengan anda

Seorang lelaki yang tidak bahagia dalam rumah tangganya pasti terasa amat gembira dengan kehadiran anda apatah lagi dia terasa dirinya diberi sepenuh perhatian yang mungkin tidak diperoleh daripada isterinya sendiri.

Pasti saban masa dia akan melahirkan rasa bahagianya berada di sisi anda. Ini mungkin kelihatan seperti komitmen terhadap masa depan anda tetapi percayalah, itu hanya kata-kata manis sekadar untuk mendapatkan cinta anda saja.

Sanggup menipu isterinya

Sikapnya yang tidak jujur terhadap isterinya sendiri sudah cukup untuk dijadikan bukti jelas kepada anda sikap sebenar si dia yang tidak jujur.

Dia sanggup mencari hiburan di luar rumah apabila mendapati ada masalah atau perkara yang tidak memuaskan hatinya di rumah tanpa cuba untuk mengatasi masalah itu.

Tambahan pula, anda menjadi punca sebenar si dia menipu isterinya. Ingat, si dia mungkin akan mengulangi sikap menipu ini pada anda apabila hubungan anda berdua menghadapi masalah dalam hubungan seterusnya.

Hubungan secara sulit

Merahsiakan sesebuah perhubungan itu sememangnya suatu perkara yang meletihkan. Membabitkan diri dalam perhubungan sulit seperti ini akan membuatkan anda kehilangan keyakinan diri kerana anda akan ketinggalan dalam pelbagai aspek perhubungan yang indah.

Anda tidak boleh berjalan berdua-duaan dengan bebas dan bangga. Ini kerana anda akan sentiasa diselubungi perasaan takut dan bimbang. Takut orang lain terlihat anda berdua-duaan lalu mengadu kepada isteri si dia. Mati anda kena serang!

Lelaki lebih beruntung

Apa yang dimaksudkan ialah dia dianggap lebih bertuah kerana pada masa sama, tetap mempunyai sebuah keluarga yang akan tetap menyayanginya. Sebaliknya dalam diam, anda pula kerugian kerana terpaksa berkongsi kasih dengan keluarganya yang sah.

Bayangkan, anda tidak boleh menemaninya ke majlis kerana sudah pasti dia akan membawa isterinya. Anda hanyalah sebagai teman di kala ingin mengubat kesunyian atau mencari hiburan jika ada masalah di rumah saja.

Mampukah anda mencintainya?

Persoalannya, apakah anda masih sanggup meneruskan perhubungan dengan seorang lelaki yang tidak jujur dan tidak hormat kepada isterinya?

Dengan menjalinkan perhubungan secara sulit dengan anda sudah jelas menunjukkan bahawa dia menganggap perempuan mudah untuk dipikat dan diperlakukan sewenang-wenangnya.

Jika dia benar-benar menyayangi dan jujur dengan isterinya, sudah pasti dia sanggup berterus-terang. Alasan untuk tidak melukai hati isterinya bukannya alasan yang kukuh memandangkan dia sememangnya sudah melukai hati isterinya di saat dia menjalinkan hubungan dengan wanita lain.

Si dia akan hilang hormat

Jangan terkejut! Walaupun dia yang jatuh cinta pada anda dan menarik minat anda, di dalam hati lelakinya dia mungkin akan pandang rendah terhadap wanita seperti anda yang mudah terpedaya dengan kata-kata lelaki sepertinya.

Siapa tahu, mungkin pada awalnya dia sekadar hendak ‘mencuba’ saja. Tidak sangka pula anda benar-benar terpikat. Dalam keadaan seperti inilah yang selalunya akan timbul soal dipermainkan.

Anda menipu diri sendiri

Si dia sentiasa mengucapkan kata-kata manis pada anda tetapi masih tidak menamatkan perhubungannya dengan isterinya, dan pada masa sama, masih tidak memulakan perhubungan yang sah dengan anda.

Masa itu emas dan jangan mensia-siakannya

Hubungan dengan lelaki yang sudah berkahwin boleh berlanjutan selama beberapa tahun manakala usia anda pula semakin meningkat.

Apabila sudah tua, baru sedar yang anda terjerat dan tidak boleh melarikan diri lagi. Jika boleh melarikan diri pun, anda sudah tidak tahu apa yang patut dilakukan. Terasa begitu lama anda mempersiakan zaman muda dengan menjalinkan hubungan yang mungkin tidak bermakna.

Read More..

La Tahzan, Bunda...


”Tadi Ibu diremehkan oleh Tante A… mungkin karena Ibu tidak memiliki banyak harta seperti Tante”.

Terdengar lirih suara ibu, ada guratan sedih di wajahnya. Bisa kubayangkan betapa sedih hati ibu diperlakukan seperti itu. Sebagai anaknya, aku tak rela ibu tersayang tersakiti hatinya.

Duhai Bunda, maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakanmu dengan harta… Kupeluk erat ibu, kuyakinkan dengan sebuah ayat Allah bahwa Janganlah merasa lemah dan jangan pula bersedih hati sesungguhnya derajatmu tinggi, jika kamu orang yang beriman.” Ibu pun tersenyum.

Di sajadahku,ketika bermunajat kepada-Mu kembali kumohon kepada-Mu,”Ya Allah… sayangilah Ayah Bunda, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka sangat meyayangiku di waktu aku kecil. Berikan untuk Ayah Bunda kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat nanti… amiin.

Tante A memang hidup bergelimang harta. Ia tinggal di sebuah rumah megah di kawasan elit Jakarta, lengkap dengan barisan mobil mewah di garasinya. Tante A menjabat posisi penting di sebuah perusahaan besar, belum lagi bisnis sampingan lainnya. Terakhir kudengar ia menjalin bisnis dengan seorang pengusaha ternama dengan proyek bernilai miliaran rupiah.

Di antara seluruh keluarga kami, kulihat Tante mendapat perlakuansangat istimewa, Ia menjadi orang VVIP dalam setiap acara keluarga. Kedatangannya begitu dinanti-nantikan, hidangan istimewa kegemaran Tante selalu tersaji untuknya.

Aku sendiri ikut bahagia dengan kesuksesan Tante. Aku menghormatinya, tapi tidak berlebihan. Harta benda yang kita miliki di dunia ini toh hanya titipan Allah semata, setiap saat Allah bisa memintanya kembali, dan Allah akan meminta pertanggungjawaban kita , dari mana kita memperoleh harta tersebut, dan bagaimana kita menafkahkannya.

Milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang MahaKaya, Maha Terpuji (Q.S Luqman :26.). Semua milik Allah… Segala harta benda yang kita miliki, kecantikan, ketampanan, ilmu pengetahuan , dan diri kitapun milik Allah, akan kembali kepada Nya… Lalu apa yang bisa kita banggakan? masihkah kita membanggakan dan menyombongkan diri?

Kenyataannya memang masih banyak orang yang silau harta. Mereka menganggap orang ‘besar’ adalah orang yang berharta banyak. Orang berharta begitu sangat dihormati dan dipuja-puji, tanpa dilihat lagi ahlak yang dimiliki…

Tak ingatkah mereka kisah Qarun dan Fir’aun? Jika harta menjadi penentu derajat seseorang, apakah lantas Apakah Qarun dan Fir’aun juga merupakan ‘orang besar’? Mereka justru orang berharta yang celaka dibinasakan oleh Allah. Qarun beserta hartanya dibenamkan Allah ke dalam bumi, dan Fir’aun ditenggelamkan di Laut Merah.

Penentu derajat seseorang bukan harta, bukan pula jabatan… berharta dan berkuasa tapi tak beriman pastilah binasa seperti Qarun dan Fir’aun. Banyak contoh lain, dari negeri kita sendiri. Orang yang dulunya kita anggap ‘besar’ ,namun ternyata pada akhirnya harus menghabiskan masa hidupnya di penjara, karena mereka ternyata tidak amanah, memakan uang rakyat yang sama sekali bukan haknya.

Kehidupan mereka berakhir tragis di penjara, ditambah lagi hujatan masyarakat. Bagaimana dengan kehidupan alam kubur dan kehidupan akhirat mereka? Mungkin lebih mengerikan…

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya pasti Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah disana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang mereka kerjakan ( Q.S Hud 15-16)/Silvani
Wallohu a’laam bishshowaab.

Read More..

Rabu, 02 Februari 2011

Surat untuk Ananda Sholehah Kaka ATHIRA


Yang tercinta Ananda sholehah, bunda doakan agar ananda menjadi orang yang banyak manfaatnya bagi semua orang, terutama untuk keluarga besar ayah dan bunda, sayangi adik Anisa,Indie,Mbak Min. Taat pada Allah swt dan meneladani ahlak Rosulullah SAW. Nabi Muhammad SAW. Berbakti kepada Ayah dan Bunda. Sayang pada Enin, Abah dan Mbah Putri juga Mbah kakung.

Ananda, bunda berharap, ananda mengenal ALLAH SWT, seperti ananda mengenal diri ananda. Setelah ananda mengenal diri ananda yang telah disayang oleh Allah swt, dilahirkan melalui Ayah dan Bunda.InsyaAllah ananda akan lebih mensyukuri nikmat dari Allah swt.

Laksanakan Sholat 5(lima) waktu, tepat waktu. Rajin sholat dan berdoa juga mengaji dan menghapal Al-Quran dengan istiqomah(rutin) dan terus menerus.

Semoga cita-cita ananda tercapai menjadi Ustadzah yang kuliah di CAIRO amin. Belajar disekolah, disayang oleh Guru/Utadz/Ustadzah juga teman-teman dan semua keluarga.

Selalu sayang pada adik-adik yang sudah tidak memiliki ayah atau bunda yaitu anak Yatim dan Piatu. Juga anak-anak yang kesusahan dan yang tidak seberuntung kaka yang disayang Ayahbunda.

Bunda percaya kaka sangat menyayangi Ayah dan Bunda juga adik Nisa dan Indie. Jangan khawatir, kehadiran(kelahiran) ke dua adiknya kaka, tidak membuat Ayah dan Bunda melalaikan Kaka.

Disiplin dalam ibadah dan sekolah, rajin menolong mbak Min, Ayahbunda dan Nisa, Indie.

Peduli dengan semua anak Yatim.

Tidak boleh iri hati, dengki, sombong, serakah dengan siapapun. Kecuali iri pada Orang yang rajin Ibadah, rajin belajar dan rajin dan peduli membantu temannya yang sedang kesusahan.

Setiap selesai bermain, belajar, berkegiatan dimanapun tolong dirapihkan dan dibersihkan kembali.

Buang rasa malas, rajin membaca: buku, majalah, apasaja yang bermanfaat. Bermain denga riang gembira.

Sebaiknya nonton TV, Acara yang menambah Keimanan dan pengetahuan dan sedikit hiburan.

Gunakan dan manfaatkanlah waktu sebaik mungkin.

Demikian surat dari Bunda teriring do'a dan kasih sayang bunda untuk Kaka tercinta.

Wassalam.

Surabaya,3 Februari 2011

Bunda Mekarwaty.

Read More..

Minggu, 02 Januari 2011

Jangan Menyalahkan Orang Lain


Dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ada seseorang berkata, "orang banyak (sekarang ini) sudah rusak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka." (HR. Muslim)

Keterangan
Imam Nawawi ketika menulis Hadits ini dalam kitab Riyadhus-Shalihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: "Larangan semacam di atas itu (larangan mengatakan orang banyak telah rusak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rusak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram.

Adapun orang yang berkata seperti ini karena ia melihat kurangnya perhatian orang banyak terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasib yang dialami oleh mereka, dan timbul dari perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya.

Hadits ini sengaja diletakkan di permulaan buku ini supaya menjadi suatu peringatan kepada Umat Islam bila menerangkan Hadits-hadits akhir zaman seperti apa yang dituliskan di sini yang banyak menyingkap tentang kemunduran umat Islam dan kemerosotan moral mereka.

Oleh karena itu, kita coba mengaitkan hadits-'hadits tersebut dengan realitas umat Islam dewasa ini, maka janganlah kita merasa bangga dan 'ujub dengan diri sendiri, bahkan hendaklah kita menegur diri kita masing-masing dan jangan seenaknya menuding orang lain. Walaupun kerusakan moral umat Islam dewasa ini perlu dibicarakan untuk tujuan perbaikan, namun penyingkapannya itu perlu dalam bentuk yang sehat dan dengan perasaan yang penuh kasih sayang serta dengan rasa cemburu terhadap agama, bukan dengan perasaan bangga diri dan memandang rendah kepada orang lain.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan limpah karunia-Nya mencucuri kita rahmat, taufiq dan hidayah.
Read More..

Mudahnya Menyalahkan Orang Lain


Setiap manusia itu tempatnya salah dan lupa. Maka sudah menjadi kewajiban kita-lah untuk selalu memohon ampun kepada-Nya. Serta rajin mencatat segala sesuatu supaya tidak mudah lupa dan gampang salah.

Saya rasa, kita semua memahami akan hal itu. Namun kenapa seringkali kita menutup mata akan fakta ini. Serta terus mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan mengumbar-ngumbarnya ke banyak orang? Sadarkah kita, bahwa mencari kesalahan orang lain itu sangatlah gampang….

“Semut di seberang pulau bisa ditampakkan bagaikan gajah”

Biasanya mahasiswa (seperti saya) adalah yang paling hobi mencari kesalahan orang lain. Melihat dosennya salah nulis, langsung diprotes. Melihat rekannya salah ngomong, langsung diprotes. Pendek kata, melihat orang lain dan menemukan kesalahan adalah kepandaiannya… Apalagi kalo sudah pakai jurus pokoknya™. Wah semakin hilanglah martabat orang lain.

Memang mencari kesalahan akan mudah dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan. Seperti mahasiswa itu contohnya. Apalagi kalo mahasiswa tingkat graduate, wah pasti lebih jago lagi cara cari kesalahan orang lain. Apalagi (lagi) kalo seorang Profesor, mantan pejabat lagi, wah pasti jago banget…

“Gajah di depan mata, akan ditampakkan bagaikan semut”

Kalo paragraf di atas kita amini kebenarannya, ini berarti petaka tambahan dari sistem pendidikan kita. Pendidikan yang harusnya menghasilkan anak didik bermoral dan beretika. Ternyata hanya menghasilkan orang-orang pandai tanpa moral yang memadai…

Semut itu kecil, kalo jauh ya gak kelihatan
Gajah itu besar, kalo dekat ya pasti kelihatan

Sudah selayaknyalah kita meletakkan setiap hal pada porsinya. Istilah kerennya secara proporsional. Jangan dilebihkan dan jangan pula dikurangi. Memang sekecil apapun kesalahan yang diperbuat orang lain bila dibiarkan bisa berakibat fatal. Apalagi yang besar, wah malah bisa mengganggu keseimbangan bersama…

Dan untuk itu memang harus diperbaiki, bahkan segera. Tapi lihat caranya dong…

Pantaskah menyalahkan individu ke khalayak ramai untuk kesalahan yang bersifat pribadi? Pantaskah menjelek-jelekkan orang lain ketika kita punya pandangan yang berbeda? Pantaskah kita mengubur mimpi orang lain ketika kita lihat dia menyindir kita? Apalagi individu itu seorang yunior? Ya gak level lha…

Maunya itu membenahi kesalahan atau menghina-dinakan orangnya sih???

Jangan-jangan kita menyalah-nyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan kita sendiri. Atau untuk memperlihatkan kelebihan kita dengan merendahkan orang lain??? Atau karena kita belum begitu dewasa dalam hal kejiwaan sehingga susah menerima pendapat orang laen???

(Wah kalo diteruskan tambah jadi emosional ini, hehe…. Udah sampai sini aja dulu postingannya. Btw, jangan cari-cari semut pada gambar di atas lho ya…)

Read More..

Orang Mukmin Tidak Pernah Stress


Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Ta’ala berfirman,

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Kebahagiaan hidup dengan bertakwa kepada Allah

Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia
dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu.” (Qs al-Anfaal: 24)

Ibnul Qayyim -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin.” (Kitab Al Fawa-id, hal. 121, Cet. Muassasatu Ummil Qura’)

Inilah yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs ?An Nahl: 97)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu
mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Huud: 3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Ibnul Qayyim mengatakan, “Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat.” (HR. Ahmad 3/128, An Nasa’i 7/61 dan imam-imam lainnya, dari Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ish Shagiir, hal. 544)

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati. (Lihat Fatul Qadiir, Asy Syaukaani, 4/129)

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah

Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs At Taghaabun: 11)

Ibnu Katsir mengatakan, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)
Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (Qs An Nisaa’: 104)

Oleh karena itu, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan. Akan tetapi, orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.” (Ighaatsatul Lahfan, hal. 421-422, Mawaaridul Amaan)

Hikmah cobaan

Di samping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Ta’ala.
Semua ini di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dengan sikap ini Allah Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HSR al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675)

Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)
Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:

[Pertama]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan hal. 422, Mawaaridul Amaan). Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143)

[Kedua]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HSR Muslim no. 2999)

[Ketiga]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HSR Al Bukhari no. 6053)

Penutup

Sebagai penutup, kami akan membawakan sebuah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim tentang gambaran kehidupan guru beliau, Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Allah merahmatinya–. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allah Ta’ala takdirkan bagi dirinya.

Ibnul Qayyim bercerita, “Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada gurunya, Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua, aku mendapati beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 15 Rabi’ul awwal 1430 H
***
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, Lc
Read More..