Kamis, 18 Maret 2010

Nikmatnya punya banyak teman baik. Alhamdulillah.




Alhamdulillah, dengan teman-teman yang positif thinking selalu menyenangkan menempuh perjalanan. Dibelahan bumi manapun pertolongan Allah selalu bunda dapatkan. Subhanallah.

Nanda tira, Nisa Indie juga Mbak Min yang bunda tinggalkan, Alhamdulillah dengan pertolongan Allahlah bunda dapat ke luar negeri untuk yang pertama kali dalam hidup bunda diusia bunda yang ke 46 tahun. Sungguh sangat bunda syukuri atas semua nikmat yang telah diberikan Allah terhadap bunda, baik yang diminta maupun yang diberikan tanpa diminta sangat banyak dan Subhanallah tak terhitung dan tak terhingga.

Tadi pagi, nanda tira sempat bertanya:"Bunda orang-orang yang keluar negeri pergi berkali-kali, baik untuk ibadah ataupun berwisata liburan pasti banyak uangnya Ya?"
InsyaAllah semua itu bukan faktor banyak uang atau tidak banyak uang tira, semua ini bisa terjadi dengan Ijin Allah swt. Manusia wajib berusaha kerja keras, ibadah tiada henti dan berdoa sepanjang masa. Juga pantang putus asa dalam berusaha.
Dalam Al-Quran diajarkan untuk sabar dan sholat, juga setelah selesai satu urusan maka lanjutkan dengan urusan yang lain.InsyaAllah dengan jujur dalam berusaha akan mendapatkan barokah amin.

Sebaik-baiknya manusia adalah beriman, sehat kuat dan banyak manfaatnya untuk manusia yang lainnya. Bunda percaya anak-anak bunda akan lebih hebat dan luar biasa daripada bunda dalam segala hal. Yang Utama rajin mengaji dan mengamalkan isi Al-Qur'an InsyaAllah apalagi sampai hapal Al-Quran sampai 30 juz bisa jadi bekal anak-anak bunda mendapatkan dunia dan seisinya sudah janjinya Allah swt. Jangan sampai tertipu oleh tipu daya dunia yang hanya sesaat dan akan membuat nanda sesat karena mengikuti hawa nafsu setan.

Nanda sholehah, yang bunda cintai,sayangi. Sangat besar syukur bunda atas kelahiran nanda, semoga menjadi teladan Ahlaq dan Aqidah Islam sesuai teladan kita semua putri kesayangan Rosulullah s a w. Fatimah amin.

Bunda banyak belajar dari teman-teman bunda yang sholehah, Mbak Endah Murdaningsih, Mbak Hajah Rosnida yang peduli dan banyak menolong bunda memberi pencerahan dengan pengetahuan dan mengalaman mereka dalam bekerja dan perjalanan ke luar negeri.
Terimakasih juga pada Mbak Nurul, istri dari Mas Trenggono, Mbak Evi istri dari Pak Andi juga Mbak Endang istri dari Mas Bambang Mul. Semua kebaikan Mbak2 semua semoga mendapat balasan dari Allah swt berlipat ganda amin. Read More..

Togetherness



Alhamdulillah Ya Rabb, hamba sampai juga ke negeri china bagian utara. Dengan segala keterbatasan hamba yang tiada daya dan tiada upaya selain dengan ijin Allah swt, hamba sampai ke negeri China.

Subhanallah, Allahu Akbar......, semoga hamba sampai ke negeri haram, dengan segala kekurangan dan dosa-dosa hamba yang sangat banyak ijinkan hamba mennyucikan diri di Rumah Allah. Mekah dan Madinah beribadah Umrah dan Haji Amin. Read More..

Kamis, 25 Februari 2010

Nanda Sholehah yang rajin ibadah



Nanda sholehah tercinta, bunda berterimakasih atas semua kebaikan nanda sholehah, kelucuan dan hiburan yang tak pernah ada hentinya

Read More..

Kutitipkan Nanda sholehah pada Allah swt.


Nanda sholehah tercinta, bunda berterimakasih atas semua kebaikan nanda sholehah, kelucuan dan hiburan yang tak pernah ada hentinya. Tawa ceria, canda dan jerit tangismu bunda rindukan.

Alhamdulillah Ya Rabb, titipan amanah yang di titipkan pada ayah dan bunda sungguh sangat berharga dan tak ternilai oleh apapun jua. Maha Pengasih dan Maha Penyanyang Ya Rabb yang telah menghadirkan 3 nanda sholehah di antara ayah dan bunda.

Setiap hari kerja bunda tinggalkan engkau di rumah bersama Mba dan bude yang bergantian mengasuhmu, Alhamdulillah dari mulai Mbak Ima dan beberapa mbak dan bude yang meramut nanda di Sedati, dan saat ini Mbak Min seorang membantu bunda meramud ke 3 nanda yang cantik sholehah.

Setiap hari selalu bunda panjatkan doa, Pada Allah swt, agar nanda yang cantik sholehah selalu disayang Allah swt. Read More..

Rabu, 20 Januari 2010

Impian ananda sholehah




Athira impiannya akan sekolah di Al Azhar Kairo Mesir, menjadi anak sholehah disayang oleh Allah swt dan kedua orangtuanya dan semua saudaranya amin.

Juga sangat rindu ingi bertemu dengan nabi Muhammad saw. Berusaha belajar Al-quran dan dapat menghapal dan mengamalkan isi Al quran amin. Bunda selalu mendo'kan setiap langkah ananda selalu dalam lindungan Allah swt amin.

Berusaha mendisiplankan diri dengan melatih sholat secara teratur, senang berbagi dengan saudara dan teman-temannya. Subhanallah, bunda sangat tersemangati oleh kegigihan Athira dalam menghadapi persoalan hidup Bunda.

Nanda athira bunda percaya, segala jerih payah, perjuangan dan doa nanda akan menemukan jalannya dengan ijin dari Allah swt amin. Harapan bunda semoga nanda menjadi orang yang banyak manfaatnya bagi saudara seiman dan selalu berdakwah dengan amal perbuatan yang baik dan selalu menjadi perhiasan yang menyenangkan bunda amin.

Dalam suka dan duka selalu ceria, menjadi teladan buat adik-adiknya. tegas dan cerdas dalam menyelesaikan semua persoalan. Rendah hati dan pantang menyerah dalam segala situasi amin.

Ananda Athira, bunda berpesan, berpegangteguhlah di jalan Allah InsyaAllah hidup nanda akan selamat, jangan tergoda oleh permainan dunia yang fana, kita hidup hanya sementara, bekal amal perbuatan yang baiklah yang akan menyelamatkan kaka kelak amin.

Maafkan bunda kaka Athira atas keterbatasan bunda sebagai manusia, trimakasih Kaka atas kepedulian kaka Athira pada setiap permasalahan yang kita hadapi bersama itulah yang membuat kita dikuatkan oleh Allah swt amin. Kuncinya hanya bersabar ketika ditimpa musibah yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Banyak bersyukur telah banyak kenikmatan yang kita dapatkan dari Allah swt pada keluarga kita.

Alhamdulillah atas kelahiran kaka Athira menjadi anugrah terindah dari Allah swt anak bunda yang sholehah, disusul oleh Mbak Anisa juga Teteh Indie Barrah yang lahir kemudian setelah kaka Athira.

InyaAllah dengan pertologan dari Allah swt, yang selama ini telah banyak pertolongan Allah swt yang keluarga kita terima semakin menguatkan iman keluarga kita amin.
Terimakasih kehadiran Mbak mien juga menjadi bagian dari keluarga kita, juga kasih sayang yang tulus kaka Athira berikan pada adik sepupu Kaka athira yang yatim Ayuning Bestari dan Tristan Bagas, bunda juga doakan pada ke dua keponakan bunda Baga dan ayu menjadi anak yang sholeh dan sholehah juga kelak menjadi orang yang sukses dunia akhirat amin.amin Ya Rabb. Read More..

Senin, 14 Desember 2009

Alhamdulillah Makasih Mbak MIN



Subhanallah, Alhamdulillah Ya Rabb Engkau hadirkan Mbak Min ditengah-tengah keluarga kami semoga menambah barokah amin. Read More..

Senin, 23 November 2009

Berhenti Menjadi Pengemis


Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjagajaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, kuberi, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang ke sekian. Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.
Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami samasama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancangancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

"Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya Diding Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

"Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cumacuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?" terang Diding.

Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang seratus ribu itu hanya pinjaman?" "Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis.

Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu memintaminta lagi," katanya. Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya memintaminta.
Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gadogado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gadogado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lainlain. Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersamasama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gadogado, pikirku.

***
Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gadogado itu. Selain untuk mengisi perutnya dengan tetap membayar ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gadogado itu. Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gadogado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gadogado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. "Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat."

Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab.
Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gadogado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti memintaminta.
Read More..

EKSPRESI KEJUJURAN


Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur…….

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Orang paling kejam didunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah Anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya…

Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita berjalan lancar.

Sekarang, beralihlah…
Lihatlah ibunda Anda yang sedang tidur…
Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu, kini kasar karena tempaan hidup yang keras.Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita…


Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

Cobalah tatap wajah orang-orang tercinta itu…
Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya… Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan saat menatap wajah yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya
pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.

Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.
Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.

Tanpa kata, tanpa suara dia berkata…

“betapa lelahnya aku hari ini”.

Dan penyebab lelah itu?
Untuk siapa dia berlelah-lelah?
Tak lain adalah untuk kita.
Suami yang bekerja keras mencari nafkah, Istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, mengatur rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka saat mereka tertidur. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya…

Ya Allah ya Ghaffar…

Muliakanlah Ibu dan bapak kami…
Muliakanlah pula istri/suami dan anak-anak kami…
Muliakanlah kakak dan adik kami…kakak dan adik ipar kami…
Muliakanlah keponakan-keponakan kami…
Muliakanlah mereka dan kami di dunia dan akhiratMu…

Ya Allah ya Rahmaan…
Ijinkanlah kebersamaan yang telah kau berikan di dunia ini bersama mereka,
Engkau kekalkan di akhirat nanti…
Ijinkanlah kami masuk ke dalam Jannah-Mu kelak

“manusia yang biasa dan berharap menjadi sebaik-baik manusia di hadapan tuhannya”
#salman al muhandis
Read More..

Jumat, 23 Oktober 2009

Kapan boleh masuk prasekolah?


Pada dasarnya, kesiapan setiap anak tuh berbeda-beda. Untuk taman kanak-kanak, kesiapan dinilai dari kemampuan anak mengenal warna, beberapa huruf, menghitung sampai 10, bermain secara kooperatif dengan anak lain, mengerjakan instruksi yang agak kompleks sifatnya, berkonsentrasi dan menaruh perhatian, bisa duduk untuk waktu agak lama, serta mampu menyesuaikan dalam kegiatan rutin harian di sekolah. Juga, anak bisa memahami cerita, memakai baju sendiri, mau terpisah dari orangtua untuk waktu agak lama, bisa mengkomunikasikan keinginannya, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jika si kecil kelihatannya belum terlalu siap, bantulah dan diskusikan dengan para guru.

Untuk batita, sekolah yang sesungguhnya adalah sosialisasi, interaksi, memahami dunia di luar rumah, mengenal lingkungan lebih luas, dan mengenal orang lain (selain orangtua dan saudara sekandung). Konkritnya, yang dibutuhkan anak adalah bersosialisasi dengan teman sebaya serta mengenal alam luar. Hal ini tidak perlu dilakukan di sekolah bukan?

Yang terpenting, selama anak belum bersekolah, ‘persiapkan’ dengan beberapa hal berikut:


* Bacakan buku setiap hari dan rangsanglah untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan dongeng yang diceritakan.

* Kunjungi museum, perpustakaan, taman, kebun binatang, kebun teh, sawah, dan tempat lain, dimana anak bisa ’belajar’ mengenal dunia.

* Miliki kamus anak dan usahakan agar perbendaharaan katanya meningkat setiap harinya dengan cara menguasai 1-2 dua kata baru.

* Sediakan buku sesuai usianya. Ia bisa membuka, melihat dan ‘membaca’ sendiri.

* Batasi menonton TV, sebab ini bukanlah kegiatan yang interaktif!

* Rangsanglah anak untuk mengajukan banyak pertanyaan seputar dunia di sekelilingnya.

* Ciptakan suasana ‘belajar’ yang fun. Jangan tuntut anak untuk duduk, menghapal dan ‘menulis’ di buku ya.

Menilai pengasuh anak

Bila Anda berada di kantor, mungkin berulang kali pikiran Anda melayang ke rumah, apakah si kecil baik-baik saja? Bisakah susternya dipercaya?

Untuk mengurangi kekhawatiran Anda, cobalah mencermati hal-hal berikut:

Ajak si kecil bicara.
Bila anak sudah bisa diajak ngobrol, obrolan santai bersamanya bisa memberikan sinyal. Anda mungkin bisa bertanya padanya, “Adik ngapain saja di rumah hari ini? Main ke mana saja? Nangis nggak, tadi? Ada yang adik nggak suka?” Untuk si bayi, perhatikan apakah dia lebih sulit ketika Anda harus berpisah dengannya saat berangkat ke kantor.

Amati saat si kecil bersama pengasuhnya.
Bahkan bayi pun bisa tersenyum dan langsung merangkak menghampiri bila dia menyukai seseorang. Bila anak Anda sedang ngambek atau menolak, bisakah si pengasuh membujuknya? Bagaimana dengan kejujurannya, apakah dia berterus terang jika terjadi sesuatu dengan anak Anda, termasuk bila si kecil susah makan hari itu? Apakah dia hanya sebatas melapor tanpa berusaha memecahkan masalah lebih dulu?

Catat perkembangan si kecil.
Bila anak tak bahagia, besar kemungkinan mereka bisa mengalami kemunduran. Kalau si kecil sudah bisa pipis sendiri di toilet tapi sekarang tiba-tiba sering mengompol di celana, mungkin saja dia sedang mengalami masa-masa sulit.

Periksa apakah berat badan anak terjaga dengan baik.
Sesuai umurnya berat badan anak seharusnya juga ikut bertambah. Bila berat badan anak mengalami penurunan, mungkin Anda perlu waspada apakah pengasuhnya telah memberikan asupan makanan yang dibutuhkan si kecil dengan baik.

Perhatikan perilaku si kecil.
Apakah bayi Anda lebih rewel daripada biasanya? Bila hal itu berlangsung terus menerus selama berminggu-minggu berikutnya, Anda mungkin harus berbuat sesuatu, termasuk mengganti pengasuh anak bila perlu. Perbedaan signifikan yang terjadi pada kebiasaan makan, tidur, dan tingkah lakuk di luar kebiasaan juga mensinyalkan adanya masalah. (MS)
Read More..

Kenapa menangis, sayang?


Bila anak mudah menangis
Meski sudah kelas satu SD, Eka (7) masih sering menangis. Ibunya, Rani, kerap heran karena hal-hal sepele pun bisa membuat Eka berlinang air mata. Tak menemukan buku pelajaran yang dicari, sedikit bertengkar dengan adik, atau menonton adegan sedih di sinetron hanya sebagian dari hal-hal yang memicu air mata Eka.

Anak-anak memang sering menangis. Sebelum mencapai usia 12 tahun, pola menangis anak laki-laki dan perempuan kurang lebih sama. Sesudah itu, anak perempuan umumnya menangis lebih sering. Hal itu dipercaya terjadi karena pengaruh hormon kedewasaan selain juga karena pengaruh lingkungan sosial. Tapi, boleh-boleh saja, kok, anak laki-laki atau bahkan pria dewasa menangis.


Ketika masih kecil, anak lebih sering menangis karena itulah cara dia berkomunikasi. Setelah makin pintar bicara, tentu seharusnya dia makin jarang menangis. Tapi, kalau dia masih tetap suka menangis setelah makin besar, hati-hatilah. Siapa tahu itu justru terjadi karena sikap Anda, yang secara tak sengaja membuat ia jadi ’cengeng’. Bereaksi berlebihan ketika dia luka, misalnya, akan membuat dia justru menangis makin keras.

Selain itu, mungkin saja anak Anda memang tergolong anak yang sensitif. Sama seperti sifat pemalu, atau pemberani, sifat sensitif seringkali merupakan bawaan sejak lahir. Jadi, apapun alasan anak Anda, menangis tak selalu jelek, kok. Menurut penelitian, tangisan membantu seorang anak menurunkan zat-zat kimia yang diproduksi otak ketika stres. Tak heran kalau penelitian juga membuktikan bahwa orang-orang yang menangis lebih sehat secara fisik maupun emosi dibanding orang yang tidak menangis.

Nah, untuk membantu mengurangi tangis anak Anda:
Cobalah lebih peka terhadap sifatnya yang sensitif. Jangan merespon dengan menertawakan, karena akan membuatnya merasa berbeda dari anak lain. Cobalah memahami dan menanggapinya dengan empati.
Kembangkan rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri yang rendah bisa memicu sensitivitas yang lebih besar dan membuat dia lebih sering menangis. Pastikan Anda tak menuntut terlalu banyak dari dia, atau meminta sesuatu dari dia yang melebihi kemampuannya.
Bersikaplah wajar bila ia menangis. Tak perlu memberi perhatian berlebih, tapi juga jangan memarahinya. Sebaiknya, alihkan perhatiannya ke hal-hal lain agar air matanya mengering.
Berhati-hatilah bila bicara dengannya. Bila Anda harus menegur, lakukan dengan bijak. Hindari kata-kata pedas yang bisa menyakiti hatinya. Ada baiknya melontarkan kritikan padanya setelah mendahuluinya dengan pujian. (JC)



Read More..

Semangkuk bakmi panas


kisah hikmah kasih sayang IBU)

Anak pemalas, kasih ibu, si malaikat, anak durhaka, cintai ibu, cintailah kedua orangtua kamu, sayangi ibu

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan
semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”
Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku
telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

RENUNGAN:
BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
Read More..

Sholatlah Dengan Tuma’ninah


Peristiwa Isra’ Mi’raj yang baru saja berlalu meninggalkan 1 perintah untuk mendirikan ibadah yang begitu istimewa. Yak, ibadah tersebut adalah sholat (sedikitnya) 5 waktu, sebagai sarana komunikasi seorang muslim dengan Sang Khalik.

Seperti kita ketahui bersama, sedemikian istimewanya ibadah sholat ini, sehingga ALLOH SWT mesti ‘mendatangkan’ Rasululloh SAW untuk bertemu dengan-Nya langsung untuk menyampaikan ibadah ini. Tidak seperti ibadah-ibadah lain yang disampaikan melalui Jibril sebagai perantara, melalui ibadah sholat ini ALLOH SWT seakan ingin menunjukkan agar manusia menaruh perhatian khusus pada ibadah ini.

Terlebih seperti yang sudah sering kita dengar, sholat merupakan ibadah (hal) pertama yang ditanyakan di hari akhirat kelak. Jika sholatnya baik, maka ibadah lainnya pun akan baik. Sebaliknya, jika sholatnya buruk, maka ibadah lain pun akan buruk. “Amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka sungguh dia telah berbahagia dan selamat. Dan apabila jelek shalatnya maka dia telah binasa dan merugi” (HR. Baihaqi)


Perhatikan juga hadits berikut. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasululloh saw., beliau bersabda : “Sesuatu yang pertama kali diperhitungkan pada hamba adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya. Jika tidak (sempurna) maka ALLOH Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Lihatlah apakah hambaKu mempunyai (shalat) sunat ?”. Jika kedapatan padanya (shalat) sunat, maka ALLOH berfirman : “Sempurnakanlah fardhu itu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari sekian banyak hal tentang sholat, kali ini saya (terutama) ingin mengingatkan diri sendiri mengenai sholat yg tuma’ninah.

Apakah sholat yg tuma’ninah itu?

Tuma’ninah dalam sholat adalah gerakan sholat yang sempurna, di beberapa bacaan dituliskan tuma’ninah sebagai hal yg rileks. Pengertian saya, tuma’ninah adalah tindakan menyempurnakan gerakan sholat dengan kondisi yang rileks.

Lho, sholat kok malah rileks?

Jadi begini, saat ini banyak di antara kita yang sholat dengan gerakan yang tergesa-gesa. Sholat menjadi gerakan tanpa arti, bahkan malah berkesan sebagai gerakan senam. Padahal Rasululloh SAW sudah menjelaskan dalam hadits,“Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan kata lain, sholatlah dengan tenang. Berikut ini adalah penjelasan saya mengenai tuma’ninah yang MESTI DILAKUKAN PADA SAAT SHOLAT.

1. Jika ruku’, maka posisi badan mestilah benar-benar hingga membungkuk (dari beberapa tulisan, saya pernah baca, ruku’ yg ‘benar’ adalah jika anda merasakan adanya tarikan otot di kaki anda).

2. Pada saat i’tidal, hendaknya berdiri hingga posisi berdiri anda sudah benar dan dalam kondisi rileks (tidak tegang).

3. Ketika sujud, dahi benar-benar menempel (dan sedikit ditekan, dari beberapa referensi yang saya baca) pada tempat sujud. Kemudian punggungnya mesti dalam keadaan rileks (saya baca ada 2 posisi rileks untuk punggung dalam kondisi sujud, yakni melengkung ataupun ‘dibuat lurus’).

4. Duduk usai sujud, posisi anda benar-benar sudah ‘tenang’, tidak gelisah mengubah-ubah posisi.

Demikian sekelumit gerakan tuma’ninah yang saya ketahui berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca.

Dengan gerakan tuma’ninah, sholat akan memakan waktu (normalnya) sekitar 10-15 menit. Namun, seringkali saya temui orang sholat dengan waktu kurang dari 5 menit untuk sholat Dhuhur, Ashar, dan Isya, yang jumlah raka’atnya sebanyak 4 raka’at. Padahal kita baru bahas mengenai tuma’ninah, belum ke bagian khusyu’.

Mari kita benahi sholat kita, minimal dimulai dengan gerakan yg tuma’ninah. Semoga ibadah sholat kita diterima ALLOH SWT. Aamiin.
Read More..

Rabu, 07 Oktober 2009

Alhamdulillah Ya Rabb


Subhanallah Maha Suci Allah swt, telah banyak memberi nikmat pada keluarga kami. Athira sudah tumbuh dibesarkan Allah dengan berbagai macam pengasuh yang keluar masuk di rumah sedati. Setelah 5 tahun mbak Ima menemani bunda dalam suka dan duka. Alhamdulillah pertolongan Allah pulalah yang telah meringankan pekerjaan bunda di rumah. Kehadiran Mbak Min dari Bojonegoro.


Alhamdulillah setelah Tira lahir 5 tahun kemudian nanda sholehah yang cantik Anisa kemudian 2 tahun kemudian lahirlah nanda sholehah yang cantik juga ananda Indie, sudah lebih dari cukup kebahagiaan yang bunda dapatkan dari Allah swt. Read More..

Selasa, 01 September 2009

Seberapa menarikkah?


Bulan Ramadhan adalah bulannya ibadah. Apapun telah tersedia untuk mewujudkannya. Bukankah ada shalat sunat yang khas Ramadhan untuk menjawab kebutuhan Anda akan tambahan jenis ibadah shalat, yakni tarawih. Ada tambahan amal harta di bulan Ramadhan, yakni zakat fithrah. Ada momentum sangat spesial di 10 hari terakhir Ramadhan dalam perburuan malam lailatul qadr dengan ‘itikaf. Ada malam nuzulul Quran sebagai penguat keutamaan membaca kitab paling mulia. Dan tentu saja ada puasa wajib Ramadhan yang membuat segala sesuatunya menjadi sangat berbeda.

Cukup? Belum. Karena manusia pada dasarnya memiliki sifat pamrih, maka khusus bulan Ramadhan semua kompensasi berlipat-lipat. Standard kompensasi sunnat dinaikkan menjadi setara dengan kompensasi utama, wajib. Bagaimana dengan sistem kompensasi wajib? Tentu saja dinaikkan berkali-kali lipat. Saking tingginya, biarlah Allah Swt saja yang menentukannya. Seperti kenaikan gaji yang sangat khusus, diperlukan kebijakan khusus non reguler dari pemilik kewenangan tertinggi. Demikianlah dengan kompensasi puasa, biarlah menjadi rahasia antara yang berpuasa dengan Yang Maha Menguasai. Subhanallah, Mahasuci Allah Swt yang demikian Berkasihsayang pada
makhluk-Nya.


Tapi apakah itu semua cukup? Untuk segelintir orang, entahlah.

Pada hari ketiga Ramadhan pukul 16.30, saya melihat tiga pemuda tanggung dengan dandanan jauh dari kesan perlente sedang menghisap rokok di perempatan gang yang sangat ramai di Cicadas - Bandung. Ketiga pemuda dengan muka kusam tak terawat itu seolah sedang memamerkan dirinya bahwa “Lihatlah kami yang gagah ini. Kami sangat bangga tidak berpuasa. Mengapa pula kalian bersusah-susah menahan lapar, haus, dan tidak merokok. Bodoh sekali kalian.
Mengapa kalian tidak seperti kami, tidak berpuasa. Menghormati orang berpuasa? Huh, tidak. Kamilah yang lebih hebat!” Ketika saya dan anak usia prasekolah saya yang sedang belajar berpuasa melewatinya, mereka nampak angkuh melihat anak saya yang berjalan gontai tak bertenaga. “Abi, kenapa Kak Ahmad, Kak Rahmat, dan Kak Sidik itu merokok? Bukankah belum adzan maghrib?”

---

Kata Pak Mario Teguh, motivasi itu adalah target yang bergerak. Akan selalu diperlukan cara tertentu yang tepat sesuai dengan kondisinya. Sesuatu yang sangat membuat Anda termotivasi hari ini, bisa jadi esok hari adalah hal biasa saja.

Motivasi atau alasan, ada dalam ranah persepsi atau pikiran. Jika suatu alasan dipersepsikan sangat menarik, maka dia akan menjadi energi pendorong yang luar biasa. Mungkin bagi Anda, disebut takwa oleh Yang Maha Pencipta sangat menarik. Tapi mungkin bagi ketiga pemuda tadi, ‘terlihat gagah tidak berpuasa di depan khalayak’ jauh lebih menarik daripada gemerlap kemewahan surga, kesyahduan disambut-Nya, serta terhindarnya dari gemeratak nyala api abadi neraka. Who knows?

Sahabat, seberapa menarikkah beribadah di bulan Ramadhan bagi Anda?By Syarif Niskala
Read More..

Nilai Sebuah Kehidupan


Entah siapa yang memberitahunya alamat saya, ia tiba-tiba sudah berdiri di
hadapan saya. Seorang sahabat lama yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah
bertemu, perawakannya tidak ada yang berubah mulai dari cara bersisirnya hingga
cara berpakaiannya. Bahkan jika saya tidak salah ingat, pakaian yang dikenakannya saat itu adalah pakaian sehari-hari yang saya lihat sepuluh tahun yang lalu. ia bersepatu, tetapi saya tak sanggup menatap lama-lama sepatunya itu, hanya karena khawatir ia tersinggung jika saya menatapnya lama. Sebuah tas gemblok lusuh menempel di punggungnya, selusuh celana panjang yang warna hitamnya sudah memudar.

Sebut saja Mino, ia langsung membuka tangannya berharap saya memeluknya sama
hangatnya seperti dulu setiap kali kami bertemu. Tentu saja saya menyambut haru
tangan terbukanya itu, kami pun berpelukan hangat dan cukup lama. Aroma matahari cukup menyengat dari tubuhnya tak membuat saya ingin melepaskannya, semerbak kerinduan diantara kami telah mengalahkan segalanya. Mino, lelaki seusia saya itu bergetar hebat meski hanya beberapa menit kami berpelukan, saya merasa ada tetesan air di pundak saya. “Sudah jadi orang hebat sahabatku ini rupanya…” bibirnya bergetar.

Setelah berbicara sedikit tentang perjalanan masa lalu, saya agak iseng menanyakan keluarganya. Mino langsung tertegun, membuat saya merasa bersalah melepaskan pertanyaan itu. Bibirnya seperti hendak bergerak mengatakan sesuatu, tetapi yang terdengar hanya gumaman yang tak jelas. “Maaf jika saya menyinggung perasaanmu…” kalimat saya dipotong cepat, “Ooh tidak, tidak apa-apa…”


Beberapa detik kemudian saya mampu membaca pikirannya, “Apa yang bisa saya bantu No?” Wajahnya sumringah mendadak, senyum yang sudah lama tak pernah saya lihat, yang saya lihat terakhir kali sepuluh tahun lalu itu. Sambil menepuk pundak saya ia pun berseloroh, “Orang sukses seperti kamu pasti bisa membantu saya untuk keluar dari persoalan kehidupan ini…”

Saya mendengarkan kisahnya, tentang usaha reparasi komputernya yang bangkrut sehingga ia menjalani hari-hari tanpa penghasilan sepanjang hampir tiga tahun.
Tentang hidupnya yang terus nomaden karena tak sanggup membayar biaya kontrakan, kontrakan terakhirnya yang ia tempati saat ini pun sudah menunggak tiga bulan dan diberi ultimatum satu bulan lagi untuk segera melunasinya. Belum lagi soal biaya masuk sekolah untuk anaknya yang sama sekali tak ia sanggupi.

Dalam benak saya, “Mungkin ia akan meminjam atau meminta bantuan sejumlah uang
yang cukup besar”. Kadang saya berlaku sok pahlawan, ingin membantu seseorang
walaupun kondisi sering tidak memungkinkan untuk membantu maksimal. Namun rupanya dugaan saya salah, Mino hanya meminta sedikit dari yang saya kira, itupun meminjam. “Saya mau pinjam uang dua puluh ribu, bolehkah?” tanyanya hati-hati, mungkin ia khawatir saya tak bisa meminjaminya.

Saya tersenyum, dua puluh ribu tentu saja bukan lagi pinjaman. Dalam kebiasaan
saya, yang namanya pinjaman itu nilainya bisa sampai jutaan. “Begini No, kalau
dua puluh ribu saya tidak mau meminjamkannya, tapi saya akan memberikannya kepadamu… ikhl…” saya batalkan menyebut kata ini. Bahkan saya memberi lebih dari yang dimintanya, meski kemudian Mino bilang bahwa yang saya berikan itu statusnya tetap pinjaman. Saya bilang, “itu pemberian” dia bilang, “ini pinjaman”, saya menyudahi perdebatan soal status itu dengan menyerah pada kegigihannya untuk tetap “meminjam”, bukan “meminta”.

Dua bulan sudah saya tak mendengar kabar darinya. Entah apa yang bisa dilakukannya dengan uang yang tak seberapa itu. Hingga beberapa hari lalu, saya mendapat pesan singkat dari seseorang, “Saya ingin kembalikan lima puluh ribu yang saya pinjam tempo hari”. Saya bingung siapa yang mengirim pesan singkat tersebut karena namanya tidak tertera, setelah saya tanya siapa yang mengirimnya, terkirim lagi satu pesan singkat, “Ini Mino, maaf tidak bisa balas sms lagi soalnya pakai hape teman”.

Saya putuskan untuk menelepon langsung nomor tersebut dan berbicara dengannya. Saya sudah katakan bahwa uang itu bukan pinjaman, tetapi hadiah. Namun ia tetap bersikeras ingin mengembalikannya. Cerita ia, hari itu juga setelah mendapat uang dari saya ia langsung membeli satu dus air mineral untuk dijual satuan. Habis satu dus, ia membeli lagi, dijual lagi dan begitu seterusnya. Sehingga satu bulan kemudian ia punya sedikit uang untuk dijadikan modal berdagang ala kadarnya. Tidak hanya itu, ia pun terselamatkan dari usiran pemilik kontrakan karena mulai bisa menyicil biaya kontrakan yang tertunggak. “Alhamdulillaah, saya masih punya sahabat yang memerhatikan…” ujarnya dari seberang telepon.

Ingin sekali saya bertemu lagi dengan sahabat saya itu, kali ini saya akan memeluknya lebih lama dan lebih erat meski saya tahu aroma mataharinya lebih
menyengat dari yang saya reguk sekitar dua bulan lalu. Hati ini jelas berbunga-bunga, ada haru yang terus menyelimuti dinding-dinding jiwa ini selepas pembicaraan di telepon itu. Masih terngiang di telinga saya ketika ia hanya ingin meminjam dua puluh ribu rupiah, jauh dari dugaan saya sebelumnya. Namun dua puluh ribu yang ingin ia pinjam itu adalah sebuah nilai kehidupan bagi seorang Mino.

Dua puluh ribu rupiah, bagi sebagian kita hanyalah senilai sebungkus nasi di warung padang saat makan siang. Tetapi bagi orang seperti Mino adalah kehidupan panjang bagi ia, isteri dan dua anaknya. Dua puluh ribu bagi sebagian kita tidak cukup untuk uang jajan sehari anak-anak kita, namun bagi Mino berarti senyum panjang isteri dan anak-anaknya. Dua puluh ribu rupiah yang bagi sebagian kita sering dianggap recehan, namun bagi seorang Mino adalah nilai kehidupannya yang sangat berarti.

Sahabat, tahukah arti dua puluh ribu rupiah miliki Anda? (Bayu Gautama/Gaw)

Read More..

Sabtu, 01 Agustus 2009

Kebiasaan Baik


Ada seorang laki-laki yang mengidap susah tidur. Bahkan sudah berhari-hari tidak bisa tidur, akhirnya memutuskan datang ke dokter untuk berobat. Sang dokter menyarankan agar pasiennya menghitung satu sampai sepuluh, lalu ulangilah berkali-kali sampai bapak merasa ngantuk berat tak tertahankan. Begitulah dokter menyarankan.
Namun yang terjadi bapak itu malah tetap juga tidak bisa tidur. Bahkan dokter itu bilang, keadaan bapak malah lebih parah daripada yang sebelumnya. Kenapa bisa begitu pak, tanya sang dokter.

Benar pak, saya sudah mengikuti saran pak dokter, tetapi setiap hitungan ke delapan saya selalu melompat dari tempat tidur.

Loh, kok bisa begitu? Tanya sang dokter.

Iya pak, karena saya ini seorang petinju, jawab sang pasien...

Barangkali begitulah kita, senantiasa dibentuk oleh kebiasaan. Menurut Stephen Covey dalam buku Seven Habit, manusia pada dasarnya dibentuk dari perilaku kebiasaan sehari-hari. Bila yang dilakukan baik maka akan mengendap dalam alam bawah sadar, terlihat dari perilakunya maupun ucapannya. Sama seperti halnya petinju yang susah tidur yang disuruh berhitung satu sampai sepuluh oleh dokter maka hitungan yang kedelapan langsung loncat dari tempat tidur karena alam bawah sadar dirinya sedang berada diatas ring.

Itulah sebabnya Baginda Nabi Muhamad selalu menyarankan agar kita selalu berbuat baik dan juga berkata baik. Bila tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa berkata baik hendaknya diam saja agar kita menjaga diri dari perbuatan ataupun perkataan yang menyakiti orang lain karena nanti akan menjadi kebiasaan dan memilih diam agar tidak menyakiti orang berarti melatih diri untuk kebiasaan baik.

hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam’ (HR Bukhari)
Wassalam,a,syafii
Read More..

Tergesa-gesa


Seorang pegawai terlambat pergi ke kantor, ia tergesa-gesa dengan motornya. Ditengah jalan terjadi razia dadakan oleh polisi. Prriiittt.., motornya dihentikan oleh polisi. "Mana surat-suratnya!", kata polisi. Ternyata si pengendara motor itu nggak bawa SIM. "Kamu saya tilang!", seru polisi. "wah, jangan pak, damai saja ya pak..", kata si pengendara mengiba. "Ya sudah, tidak usah damai, kamu pulang lagi, ambil dulu surat kelengkapan yang kurang!".

Si pengendara akhirnya pulang untuk mengambil SIM dan kembali berangkat ke kantor untuk bekerja. Priiitttt.., si pengendara diberhentikan polisi lagi. "Ada apa lagi sih pak?", kata si pengendara. "Anda tidak pakai helm!", kata polisi. Wah, gara-gara pulang mengambil SIM malah kelupaan helm, akhirnya si pengendara pulang mengambil helmnya.

Di tengah jalan saat kembali ke kantor, priiittttt!, "Nih.. surat-surat lengkap, helm udah bawa, serakah amat, ada apa lagi sih pak?", kata pengendara.

“Surat lengkap, helm sudah dipakai.. sekarang motornya mana?” seru polisi.

Begitulah bila kita selalu terburu-buru tidaklah ada manfaatnya selalu saja ada
yang tertinggal bahkan bisa berakibat fatal pada kondisi tertentu, misalnya jika terjadi gempa.

Ada seorang teman yang menyarankan bila terjadi gempa perlu diprioritaskan adalah melindungi tubuh. Bersembunyilah di bawah meja atau bergeraklah ke ruangan yang sedikit peralatannya. Bila tidak ada meja, lindungi kepala dengan bantal atau buku. Pastikan keselamatan orang-orang di dalam rumah atau didalam gedung dengan memanggil dan menanyakan keadaan mereka. Jangan berlari ke luar dengan tergesa-gesa. Berhati-hati dengan jatuhnya pecahan genting atau kaca.

Nah, maka dari itu sebaiknya mulai sekarang jika mengerjakan sesuatu tidaklah dengan tergesa-gesa atau terburu-buru, bersikaplah dengan tenang dan bersabar serta jangan lupa bawa SIM jika mengendarai motor atau mobil, nanti bisa ditilang ama Pak Polisi kalo lupa bawa SIM.

“Bertakwalah kepada Allah, sabarlah dan jangan engkau terburu – buru.”(al-Hasan al-Basri) Wassalam,a,syafii
Read More..

MOTIVASI


Assalamu’alaikum wr.wb

Salam kebahagian untukmu shahabat. Semoga di hari yang indah penuh dengan semangat baru. Harapan besar kita kepada Allah, agar kita selalu mendapatkan Cinta dan Kasih Sayang Nya. Mudah-mudahan kecemerlangan, kesuksesan dan keberhasilan menjadi pencapaian bagi kita.

Kebahagiaan adalah sebuah rasa yang amat dalam. Ia terkadang sulit untuk dilukiskan dan dijelaskan. Selain ia berbentuk relatif, terkadang menjelaskan dengan nada-nada indahpun, bukan begitu bunyinya. Karena ia terpatri dalam sanubari…dan hanya dirasakan bagi mereka menginginkan.

Alkisah di suatu siang, digubuk sawah yang kecil. istirahatlah sepasang suami – istri disana. Istrinya yang setia, sedang menyiapkan makanan untuk suami tercinta. Satu persatu dikeluarkan makanan yang telah disiapkan. Begitu selesai, diajaklah suaminya untuk makan bersama. Sungguh mesra. Saat makan, lewatlah mobil sedan BMW di tengah jalan, melewati hamparan sawah dan gubuk kecil. Sang suami bertutur kepada istrinya; “Istriku, alangkah bahagianya bila kita dapat berada dalam mobil itu. Setiap hari engkau bisa aku ajak jalan-jalan, tanpa kuizinkan matahari menyengat tubuhmu”… (duh mesranya…)...


Di mobil BMW mewahpun, di dalamnya ada suami dan istri, Sedang jalan-jalan ke sudut desa. Untuk menghilangkan penat di kepala akibat kerja dan hiruk pikuk kesibukan kota. Tatkala mereka melewati gubuk kecil. Ia melihat dua insan penuh mesra, makan siang bersama. Tiba-tiba terucap olehnya “Istriku…perhatikanlah mereka yang di sana…betapa indah dan bahagia bila kita dapat duduk dan makan bersama, ditemani oleh padi yang terus menari-menari bersama angin. Kita dapat merasakan hembusan nafas alam”…

Shahabatku yang baik…
Barangkali engkau pernah mengeluh, “Mengapa ini terjadi kepadaku”… mungkin juga engkau berucap, “mengapa aku terus sengsara seperti ini, sampai kapan ?” atau bisa jadi kau mendengar kata-kata mu sendiri “Mengapa hidupku tak Bahagia ?”…

Shahabat…aku merasakan yang kau alami. Bisa jadi karena sedikitnya alat tukar belanja di tangan, atau mungkin tempat peristirahatan belum senyaman kau harapkan. Atasan dan bawahan di kantor, tidak semua mendukung pendapatmu. Langkah-langkah besar kau jalani, belum membuahkan hasil sebagaimana keinginan. Kendaraan yang kau gunakan masih beroda dua. Mungkin juga engkau ingin melihat tubuhmu, lebih ideal. Dan masih ada hal lain . Mungkin kalimat-kalimat ini belumlah cukup mewakili apa yang kau rasakan…

Mari kita sadari bersama. Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup. Seringkali Karena memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga kenikmatan yang kita punya, tak pernah kita meRASAkannya.

Bukankah uang Rp.100.000 masih cukup buat kita makan bersama istri, suami dan anak di rumah? Rumah yang kita tinggali masih bisa melindungi dari sengatan matahari dan terpaan angin malam? Apakah tatkala pendapatmu belum diterima dan disetujui, menghalangimu untuk bekerja? Bukankah hasil yang belum sempurna itu, telah menghasilkan sesuatu bagimu? Bukankah kendaraan roda dua, masih bisa mengantarkan istrimu belanja, membawamu ke kantor dan mengantar anak-anakmu ke sekolah? Sisi yang manakah lagi ingin kau sempurnakan? Bukankah teman, suami dan anak-anakmu masih sangat sayang dan bangga akan dirimu?

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Pasti akan menambahkan (nikmat) kepadamu ; dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. (Ibrahim; 7)

Shahabatku yang baik…
Kita diberikan kekuatan oleh Yang Maha Bijaksana untuk memilih. Dari pilihan-pilihan inilah kita memutuskan. Apakah menjadi Bahagia ataukah Sedih ? Dan Tuhan tak pernah melarang kita untuk berkeinginan lebih. Karena salah satu pencapaian dan keberhasilan dimulai dari keinginan besar. Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Doaku untukmu semoga engkau selalu bahagia …

Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup (Tidak bahagia). Seringkali Karena memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga kenikmatan yang kita punya, tak pernah kita meRASAkannya.

disadur dari : RAHMADSYAH, C.MNLP (dengan perubahan seperlunya)
Read More..

Senin, 06 Juli 2009

Alhamdulillah Ya Rabb

Alhamdulillah Ya rabb, dari hari jum,at kemarin di awal bulan juni 2009 kemarin diberi nikmat yang banyak sekali. Bisa jalan-jalan ke Malang dan ke Suramadu. Alhamdulillah terimakasih banyak untuk pak Cacuk dan Bu Ambar yang baik hati mau berbagi rejeki memudahkan dan melancarkan urusan bunda di kantor dan keluarga di rumah. Syukur bunda panjatkan atas rejeki dari Allah yang diberikan pada anak2 bunda semua. Subhanallah.

Berkat pertolongan dari Allah swt melalui bapak dan ibu juga pak Amiruddin yang sangat baik hati mau memberi bunda sesuatu yang sangat berharga untuk ananda athira supaya dapat berkomputer ria di rumah. Subhanallah sungguh sangat banyak nikmat Allah yang telah diberikan pada bunda sekeluarga amin.

Dengan Pertolongan dari Allah swt pulalah bunda dan keluarga dapat membawa jalan-jalan bersama bagas dan ayu yang sudah yatim. Hamba Mohon Ya Rabb jangan hapus kasih sayang Engkau pada hamba sekeluarga amin Read More..

Kamis, 02 Juli 2009

Hati Seorang Ayah

Seorang ayah memiliki hati yang penuh kasih untuk anak-anaknya. Hati seorang ayah akan tahan menderita bila sakit untuk dirinya sendiri, namun tidak akan tahan disaat melihat buah hatinya yang menderita. Bahkan jika sakit itu bisa digantikannya, ayah bersedia menggantikan sakit anaknya. Itulah hati seorang ayah.

Saya mengenal seorang teman yang juga seorang ayah. Saya biasa memanggilnya Mas Jay. Kami biasa berdiskusi lewat milis dan malam itu Mas Jay berkunjung ke Rumah Amalia. Mas Jay bertutur mulanya dirinya orang yang ‘mbeling’ tidak memiliki keyakinan yang mantap dan tetap. Ketertarikan belajar sholat secara serius ketika ajakan yang begitu menyentuh dari anaknya yang masih TK. Anak yang masih relatif kecil setiap hari selalu mengajaknya untuk mengerjakan sholat. Awalnya dirinya menanggapi hal itu sebagai biasa saja.

Ajakannya itu terasa betul-betul menampar hatinya. Begitu sangat berharga dan membuatnya menangis meraung-raung justru ketika anaknya sedang sakit masih sempat mengajaknya sholat Isya’. Katanya, ditengah malam anak saya suhu badannya panas tinggi dan perutnya mengeras. Anaknya menangis tak henti-hentinya merengek mengajak saya sholat. Tanpa berpikir panjang saya memenuhi permintaannya untuk mengambil air wudhu. Setelah mengerjakan sholat, kami bergegas menuju Rumah Sakit...


Setelah diperiksa ternyata putranya harus dioperasi. Karuan saja dirinya menjadi panik. Bagaimana mungkin anaknya yang masih kecil itu dengan kekuatan fisiknya yang masih lemah untuk menghadapi operasi. ‘Saya hanya bisa berserah diri kepada Alloh SWT, saya berjanji jika anak saya sembuh. Saya akan rajin melaksanakan sholat seperti yang dimintanya.’ Tuturnya.

Katanya Mas Jay sebelum anak saya masuk ruang operasi masih sempat bertanya pada dirinya, ‘ayah sudah sholat belum.’ Kata-kata itu begitu mengiris-iris hati saya. Dulu bila mendengar ajakan teman-temannya untuk sholat selalu menolaknya karena keengganan untuk melaksanakan sholat. Sekarang kata-kata itu justru muncul dari anak yang disayanginya, bagaimana mungkin dirinya bisa menolaknya, lanjutnya. Mas Jay tak bisa menyembunyikan airmatanya yang terus bercucuran.

‘Saya menunggu putranya didepan kamar operasi’ tuturnya. Ketika lampu operasi menyala. Dirinya bersama istri tercinta tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, hilir mudik didepan kamar operasi. Waktu seolah berjalan lama sekali. ‘Segala macam doa yang saya tahu saya panjatkan kehadirat Alloh SWT.’
Setelah begitu lama, kamar operasi itu terbuka. Seorang dokter muncul dari pintu. Mencopot sarung tangannya. ‘Operasinya berjalan dengan baik, anak bapak sekarang perlu istirahat setelah itu boleh pulang.’ Mas Jay menangis bahagia. ‘Alangkah nikmatnya anugerah Alloh SWT yang diberikan kepada saya disaat harapan mulai memudar, Alloh SWT menyelamatkan putra saya,’ tuturnya. ‘Dan sejak itu saya lebih giat untuk melaksanakan sholat karena saya harus memenuhi janji saya,’ kata Mas Jay malam itu. Saya bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Begitulah hati seorang ayah yang penuh kasih untuk sang buah hatinya.

Read More..