Minggu, 04 September 2011

ANAK-ANAK KARBITAN III


KAMU HARUS TAHU BAHWA TIADA SATU PUN YAN6 LEBIH TIN66I, AtAU LEBIH KUAT, ATAU LEBIH BAIK, ATAU PUN LEBIH BERHARGA DALAM KEHIDUPAN NANTI DARIPADA KENAN6AN INDAH TERUTAMA KENAN6AN MAN1S DI MASA KANAK-KANAK. KAMU MENDEN6AR BANYAK HAL TENTAN6 PENDIDIKAN, NAMUN BEBERAPA HAL YAN6 INDAH, KENAN6AN BERHARGA YANG TERSIMPAN SEJAK KECIL ADALAH MUNGKIN ITU PENDIDIKAN YANG TERBAIK. APABILA SESEORANG MENYIMPAN BANYAK KENAN6AN INDAN DI MASA KECILNYA, MAKA KELAK SELURUH KEHiDUPANNYA AKAN TERSELAMATKAN. BAHKAN APABILA HANYA ADASATU SAJA KENAN6AN 1NDAH YAh'6 TERSIAMPAN DALAM HATI KITA, MAKA ITULAH KENAN6AN YAN6 AKAN MEMBERIKAN SATU HARI UNTUK KESELAMATAN KITA"-DESTOYEVSKY'S BROTHERS KARAM0Z0V---

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah "Industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Adaprogram akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk.

Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "Operator kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran " ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata
pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sckolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi ? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran ? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-pcrilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah--- dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.... Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya !

Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak
hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah....

Mengkompetensi Anak--- merupakan `KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?" "Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasaYanig bertanggungjawab... "(Nature versus Nurture). bagaimana ? Karena ada dua pengertian kompetensi---= ` kompetensi yang
datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendir Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita-­sebagai komponen sentral dari konsEp kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pebelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :
" Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select--doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants.,;, tendencies, vocations, and race of his ancestors ".

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini " setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Adasebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jerseypada tahun 1976. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill) "dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut :
`The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were... simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey".

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-­kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif. Ulah karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja !. Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak
mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan -"curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.

Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan ! "Empty Sacks will never stand upright"---George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru scbagai pendidik akadcmik dan pendidik sanubari "karakter". Dimana mereka pendidik anak menjadi "good and smart "-terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya ber jam jam untuk belajar anatomi tubuh manusia.

Thomas Edison mengatakan bahwa "genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration ". Semangat belajar ---"encourige' - TIdak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati---kesukaan dan kecintaan--- belajar_ Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral litermy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karaktcr inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik ....

PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran--- "good and smart "--- merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan ! Lihatlah nanti...ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

--tp satu hal siy yang aku pegang. Aku gak termasuk ibu2 yang Colette Dowling namakan sebagai "Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata vang mereka jalani. Karena justru siy aku cari2 waktu supaya bisa lebih banyak main dan bercengkrama dengan anakku. But it's true we must reconsidered lagih untuk benar2 menentukan yang terbaik utk anak2 kita.



Read More..

Rabu, 03 Agustus 2011

Jangan Terkecoh Emansipasi Sesat, Bunda


Bunda,
Sebentar lagi, 21 April yang biasa diperingati sebagai hari Kartini. RA Kartini, tokoh emansipasi di Indonesia, akupun menghormatinya. Bahkan waktu SD dulu, aku sering sekali diajak bapak atau ibu guru untuk berziarah ke makam RA Kartini, yang kebetulan tokoh sejarah itu dimakamkan di Bulu-Mantingan, yang kebetulan hanya sekitar 14 km dari Blora ke arah Rembang. Bahkan beberapa kali aku dan teman-teman naik sepeda untuk menuju ke sana. Suasana ziarah akan ramai sekali pada bulan April. Jujur, waktu itu aku hanya tahu yang aku ziarahi bersama teman-teman adalah seorang tokoh perempuan yang sangat terkenal di negeri ini.

Bunda,
Usia emansipasi di negeri ini jauh lebih tua dari usia negerinya sendiri. Emansipasi itu sudah dimulai dari zaman penjajahan Belanda. Dan tokoh-tokohnya adalah muslim-muslimah yang taat, Insya Allah. Karena memang seharusnya seperti itulah adanya. Agama kita tidak pernah membeda-bedakan pahala antara laki-laki dan perempuan dalam hal ketaatan kepada Allah. Begitu juga sebaliknya, kalau perempuan. Ataupun laki-laki berbuat maksiat kepada Allah, balasannya tetap sama. Tidak sedikitpun Allah membedakan balasannya, walaupun secara fisik wanita diciptakan dengan sisi kelembutannya.

Kalaupun ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah dalam hal kodratnya. Karena memang dari penciptaannya pun berbeda. Kalau laki-laki diberi Allah kekuatan dari segi fisik, tetapi di sisi lain sebagai penyeimbang Allah menciptakan perempuan dengan jiwa yang lembut. Tapi justru di situlah letak keperkasaan seorang wanita, dalam kelembutannya. Jadi sangat wajar apabila dalam hal-hal tertentu harus ada pengecualian, karena memang beda. Akan sangat lucu kalau seandainya untuk mencapai kesetaraan seorang laki-laki berhak untuk memakai gaun perempuan dan menunjukkan kefeminimannya sementara sebaliknya sang perempuan harus tampil gagah dan garang seperti layaknya seorang laki-laki. Justru di situlah letak keadilan Allah, karena adil memang tidak mesti harus sama.

Bunda,
Jujur aku katakan, saat ini banyak emansipasi yang menyesatkan dan semakin jauh dari tuntunan Islam, walaupun tentunya tidak semuanya seperti itu. Masih segar dalam ingatan kita ketika pada hari Jum'at tanggal 11 Juni 2010 kemarin di Oxford, Inggris barat dilakukan sholat Jum'at dengan khotib dan dan imam seorang perempuan asal Kanada yang bernama Raheel Raza. Walaupun itu jauh terjadi di sana, efeknya seperti bola salju, menggelinding ke seluruh negara-negara muslim, tanpa bisa di filter informasi tersebut karena memang zamannya memang zaman keterbukaan informasi. Tentu tidak akan menjadi masalah seandainya dia menjadi imam sholat bagi sesama perempuan. Bukan berati menghalangi hak perempuan untuk menjadi pemimpin, tetapi memang area yang harus dipimpinnya sudah diatur jelas oleh Allah melalui Rasul-Nya yang tidak mungkin salah. Percayalah Bunda, pada saat seorang perempuan menjadi imam sholat bagi laki-laki di belakangnya, sangatlah mengganggu kekusyukan dan konsentrasi jamaah pria dibelakangnya, apalagi shaf pertama.

Masih lagi hak waris yang saat ini sedang ramai-ramainya digugat oleh mereka yang mengaku 'aktifis perempuan untuk kesetaraan gender'. Kadang aku tersenyum sendiri kalau mendengar mereka selalu mendengung-dengungkan bahwa Islam memasung kebebasan dan kesetaraan bagi kaum wanita. Kalau dilihat dari sistem pembaginya yang 2 bagian bagi laki-laki dan 1 bagian bagi perempuan memang kelihatan tidak adil bagi otak kita yang memang diciptakan terbatas daya jangkaunya ini. Mereka menuntut pembagian yang adil adalah 1:1. Sayang mereka hanya menonjolkan satu sisi, tetapi tidak mau belajar di sisi yang lain. Dan mereka lupa, tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa walaupun bagiannya hanya satu , tetapi oleh Allah bagian tersebut di atur hanya untuk wanita itu sendiri, tidak wajib baginya berbagi dengan yang lain. Beda sekali dengan 2 bagian bagi laki-laki yang harus dan wajib dipergunakan bersama istri dan anak-anaknya. Masihkah Allah salah mengaturnya?

Bunda,
Pernah dalam satu penerbangan Balikpapan-Surabaya yang kebetulan pesawat tersebut terbang malam hari, aku duduk dalam deretan bangku tengah yang kebetulan dua orang disebelahku adalah ibu-ibu paruh baya. Sesaat setelah duduk merekapun berkenalan dan menanyakan tujuan masing-masing. Rupanya keduanya mantan TKW yang baru berkunjung di tempat saudaranya di Balikpapan. Yang satu pernah bekerja di Arab Saudi selama 3 tahun dan yang satunya lagi bekerja di Malaysia selama 2 tahun, kemudian ke Brunei selama 1.5 tahun.

Yang menarik adalah, begitu pulang ke tanah air ternyata suaminya kawin lagi. Masya Allah. Saking kesalnya maka sisa uang yang didapat selama bekerja diluar negeri digunakan untuk jalan-jalan ke Balikpapan. Siapa yang salah? Suaminya jelas salah karena menelantarkan istri, tidak mau bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan satu lagi mengkhianati istrinya. Tapi juga alangkah indahnya kalau seandainya sang istri juga tidak berani bepergian selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun meninggalkan keluarga tanpa mahrom yang sebenarnya dilarang oleh Islam. Bagaimana bisa mendatangkan rahmat Allah kalau yang kita lakukan menyelisihi aturan-Nya? Terbalik rasanya kalau sang istri harus mencari nafkah sampai harus ke luar negeri menjadi TKW yang mungkin (maaf) dengan keterbatasan skill sementara sang suami enak-enak di rumah, merawat anak, sambil menikmati gaji kiriman dari sang istri? Adalah hak Bunda untuk menyampaikan hal tersebut ke suami, hak Bunda juga untuk mendapatkan nafkah dari suami, baik lahir maupun bathin.

Memang negeri ini jumlah pengangguran sangat tinggi sementara sepertinya para penguasa negeri ini masih bisa tersenyum di sela-sela rintihan rakyatnya yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun masih sebatas kebutuhan primer. Setidaknya itulah yang aku dan banyak orang rasakan saat ini. Satu-satunya jalan pintas yang dianggap mudah adalah memberi fasilitas/kemudahan warganya untuk menjadi TKI di luar negeri walaupun dengan jaminan keamanan dan kenyamanan bekerja yang tidak jelas. Akan sangat indah kalau seandainya yang dikirim adalah tenaga ahli, sehingga bangsa kita tidak menjadi bangsa yang bisa dianggap rendah oleh bangsa lain. Kadang aku miris setiap hari diberitakan tentang TKW yang pulang dengan kondisi kejiwaan yang terganggu atau bahkan menjadi korban perkosaan di tempatnya bekerja dan yang sebagian lagi harus menunggu hukuman mati karena sebenarnya mereka membela diri.

Bunda,
Sering kali di ekspose di media tentang 'wanita-wanita perkasa yang kalau kita tidak jeli bisa membuat pemahaman kita tentang emansipasi menjadi keliru. Di sana ada wanita yang berprofesi sebagai petinju, pemain sepak bola, sopir bis, kondektur bahkan (maaf) tukang becak. Tidak ada maksud sedikitpun dari ananda untuk melecehkan profesi tersebut. Beberapa waktu kemarin aku naik bis Surabaya-Blora yang kebetulan kondekturnya perempuan . Bis itu jadwal berangkatnya jam 22:30. Tak lama setelah bis jalan, distop oleh 2 orang lelaki yang sepertinya baru selesai menenggak minuman keras. Dari bau mulut saat dia ngomong sudah sangat jelas mereka dalam keadaan mabuk. Pada saat di tarik karcis mereka malah marah dan hanya mau membayar 1 tiket. Semakin ditegur oleh ibu kondektur untuk membayar, mereka semakin marah. Akhirnya si ibu kondektur itupun mengalah.

Kalau hal seperti ini dianggap lumrah, tentu akan berbeda hasilnya ketika kondekturnya laki-laki, karena memang profesi itu sebenarnya cocok untuk laki-laki. Belum lagi kalau sopir bis nya juga perempuan. Masya Allah … Memang benar ada ungkapan bahwa sebenarnya apapun yang bisa dilakukan laki-laki sebenarnya bisa dilakukan oleh perempuan kecuali mengandung, karena laki-laki memang tidak mempunyai rahim. Dan itulah yang selalu didengung-dengungkan mereka yang mengaku membela perempuan. Dan itu dimanfaatkan oleh pemilik modal untuk mempekerjakan perempuan sebanyak mungkin. Mereka beranggapan bahwa dengan membayar murah dan tidak banyak tingkah seperti laki-laki, merupakan modal untuk mendapatkan keuntungan besar bagi perusahaan. Akan sangat cocok kalau perusahaan tersebut bergerak dibidang garmen, farmasi atau perusahaan bidang lain yang memerlukan ketelitian tinggi.

Mohon maaf kalau ini hanya idealisme ananda. Seandainya kaum hawa sedikit 'merelakan' beberapa pekerjaan yang memang seharusnya di lakukan oleh laki-laki mungkin pengangguran tidak separah ini. Contoh sederhana saja, saat ini banyak perusahaan kayu lapis yang sebagian besar pekerjanya adalah perempuan. Padahal di sana banyak memerlukan kegiatan/pekerjaan yang bersifat fisik. Belum lagi para pekerja di pompa bensin yang saaat ini sebagian besar dilakukan oleh perempuan. Pekerja-pekerja di toko material bangunan juga sebagian besar perempuan. Akan indah kalau sesuatu itu sesuai porsinya.

Mungkin sebagian besar akan sinis dengan hal di atas. Atau bahkan akan semakin menganggap bahwa dunia wanita adalah: sumur, dapur dan kasur. Bukan seperti itu maksudku. Wanita adalah mitra sejajar laki-laki. Bahkan Rasulullah SAW mengajari kita bagaminana mengukur kekuatan suatu bangsa. Ukuran kekuatannya terletak pada kaum wanita. Kalau kaum wanitanya baik Insya Allah baik dan kuatlah negara itu. Sebaliknya kalau kaum wanitanya rusak maka rusaklah seluruh negara itu. Di sini dituntut selain sholihah wanita juga harus pintar. Karena generasi sebuah bangsa berada dalam genggamannya. Islam tidak pernah membatasi kaum perempuan untuk sekolah dan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bahkan walaupun tidak diwajibkan untuk sholat Jum'at, seorang wanita boleh menuntut suaminya untuk menyampaikan ilmu yang didapat dari khotbah Jum'at sang suami.

Bunda,
Kadang hatiku gundah dan geram melihat eksploitasi wanita di semua lini. Coba kita lihat di televisi, iklan apapun akan menggunakan wanita sebagai ikonnya. Bahkan produk yang tidak ada hubungannya dengan wanitapun tetap menggunakan wanita sebagai daya tariknya. Belum lagi saat ini banyak ibu-ibu yang tidak merasa resah pada saat anak gadisnya belum pulang sementara sudah diatas jam 22:00. Justru mereka resah pada saat anak gadisnya yang berusia SMP belum mempunyai pacar. Astaghfirullah. Dan fenomena ini terjadi di depan mata kita, Bunda. Sebuah fenomena yang mungkin tidak terjadi pada saat Bunda masih muda dulu. Padahal mereka adalah generasi penerus kita kelak.

Kekuatan bangsa dimulai dari keluarga yang didalamnya peran Bunda sangatlah dominan. Jepang dikenal sebagai bangsa yang kuat karena kaum ibunya yang kembali ke rumah dengan modal pendidikan yang cukup. Pendidikan itu digunakan untuk mendidik anak-anaknya yang kemudian menjadi generasi yang unggul. Meraka tidak malu berkarir di rumah, sementara di negri kita akan disebut wanita yang sukses adalah yang berkarir tinggi di suatu perusahaan dengan ratusan karyawan pria di bawahnya, atau menjadi selebritis yang dielu-elukan di berbagai tempat. Padahal aku, yang dilahirkan dari salah satu Bunda sangat menantikan dan merindukan datangnya kaum ibu yang menghasilkan generasi yang berkualitas, generasi yang kuat ketakwaannya kepada Allah, sehingga tidak lagi aku harus menyaksikan profesi dokter ahli kebidanan dan kandungan yang saat ini justru masih didominasi oleh kaum pria. Aku tunggu baktimu dengan kerinduanku yang teramat dalam./M .jono AG

Read More..

“Suamiku, Apa Yang Menutupi Hatimu ?”


Prangkkk….!! semua berhamburan, piring-piring dan gelas pecah berserakan.
Plakk…!! kembali tamparan mendarat dipipiku, aku hanya bisa meringis menahan sakit, pipiku lebam. Mungkin sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari saking seringnya aku dapat hadiah tamparan dari suamiku jika dia sedang marah.
Dia tak peduli dengan sakit yang aku rasakan, dia tak pernah menghiraukan ngilunya sendiku setelah dia membanting tubuhku ke lantai, ceceran darah dipipiku dia anggap biasa saja.
Sifatnya itu tak pernah ku temui sewaktu kami masih berpacaran dahulu. Sungguh berbeda.
Kemarahannnya sungguh tak beralasan, hanya karena rasa cemburu yang membakar hatinya.
Sifat cemburunya tak dapat lagi diterima akal sehat. Jika aku pergi kewarung untuk sekedar membeli keperluan dapur, dia akan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, “ Habis dari mana, tadi bertemu dengan siapa saja, kamu bicara dengan siapa saja, laki-laki mana saja yang ajak kamu ngobrol, kamu berbicara tentang apa saja..? dan banyak lagi.
Ya Allah…… aku sungguh tak tahan dengan keadaan ini. aku sungguh lelah…, aku merasa tepasung dalam istanaku sendiri…..
Jika dia berangkat kerja, aku selalu dikurung di rumah, jendela dan pintu selalu di tutup, aku sama sekali tidak diizinkan bergaul dengan lingkunganku. Terkadang aku malu dengan tetangga.
Hampir setiap hari kami bertengkar walau itu hanya masalah sepele. Dia selalu mengutamakan egonya.
Apalagi jika sa’at di panggil aku agak telat merespon, dia langsung marah.
Yang makin membuat hatiku sakit….tatkala malam tiba, dia seperti menganggap tak pernah terjadi apapun pada kami disiang hari, meski dia masih bisa melihat bekas tamparan tangan kekar nya dipipiku, dia dengan leluasanya menikmati “ sajian malam” nya tanpa rasa bersalah ataupun mengluarkan sebait kata ma’af karena telah menyakitiku. Terkadang aku bertanya dalam hati “ sebenarnya hati suamiku terbuat dari apa..”? Astaghfirulllah!..
Pernah suatu hari ihksan anak kami melihat pertengkaran kami. Dia sangat ketakutan tatkala suamiku memukul serta membanting tubuhku kelantai hingga pelipisku berdarah yang menyebabkan pendengaranku agak sedikit terganggu.
Anakku gemetar dan ketakutan hingga dia pipis dicelananya, anakku yang semula periang berubah menjadi pendiam, dia selalu ketakutan jika ada orang asing yang menyapanya, dia sangat susah didekati, dia tak mau lagi datang kesekolah. Dia selalu menangis jika disuruh kesekolah, hingga akhirnya aku terpaksa menitipkan dia untuk sementara di rumah orang tuaku, agar mentalnya kembali stabil. Dia mengalami depresi berat. Aku kasihan jika dia terus-menerus menyaksikan kami bertengkar..
Aku berusaha sekuat tenagaku mempertahankan pernikahanku, walau sejujurnya aku sudah tidak kuat diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Dalam hati aku masih sangat menyayangi suamiku meski sikapnya seperti itu.
Aku sangat sedih dengan sikap suamiku..Bukankah seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang…. ? Jikalaupun si istri melakukan kesalahan apa mesti di tegur dengan tamparan dan pukulan…?
Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ
“Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim
Aku teringat lirik lagu yang pernah aku putar sewaktu aku belum menikah dulu.
“Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu keras membersihkannya Nanti ia mudah retak dan pecah...
Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu lembut membersihkannya... Nanti ia mudah keruh dan ternoda...
Ia bagai permata keindahan... Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
ia sehalus sutera di awan... jagalah hatinya dengan kesabaran...
Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalau .. Tegurlah bila ia bersalah namun jangan lukai hatinya. “
Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, ketika dibiarkan dia akan makin bengkok namun ketika ditarik dengan keras dia akan patah. RASULULLAH Shalallahu 'Alaihi Wasallam adalah sosok pria yang ketika beliau dengan kesabaranya menghadapi banyak sikap dari para istri beliau. Beliau adalah seorang suami yang rela berdiri berjam-jam untuk menjadi sandaran istrinya ('Aisyah) ketika ia ingin melihat suatu pertunjukan olah raga pedang para sahabat. padahal waktu itu usia beliau sudah masuk usia senja. Beliau juga tidak serta merta memarahi istrinya ('Aisyah) ketika ia salah memasukkan sesuatu kedalam minuman Rasulullah , yang seharusnya ia masukkan gula namun garam yang tercampur didalamnya , namun dengan bijaknya beliau tersenyum dan berkata wahai Istriku minuman yang kau buat sangatlah nikmat, Aisyah pun menjawab benarkah Ya...Rasulullah?" kemudian Aisyah mencicipi minuman tersebut dan....Wajahnya memerah karena sangat malu juga khawatir kalau kalau Rasulullah marah. Namun Rasulullah sudah dapat membaca kekhawatiran tersebut dan tersenyum pada istrinya dengan penuh sayang.
Firman Allah Ta‘ala, "Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik." (An-Nisa': 19).
Setiap sujud malamku.. aku selalu ber do’a agar Allah melunakkan hatimu suamiku. Aku hanya bisa memohon kepada yang Maha membolak balikkan hati manusia agar engkau berubah , Aku tak ingin pernikahan ini hancur…, bagaimanapun aku sangat mencintaimu karena Allah , karena aku yakin Allah Maha Pemurah , sehingga kuat keyakinanku bahwa kita akan memetik buah yang indah dan manis pada akhirnya ,
Kembalillah ke jalan Allah suamiku , simpan tangan dan kekuatanmu untuk menegakkan kalimat Allah , bukan untuk meremukkan tulang rusukmu sendiri. Simpan amarahmu untuk musuh – musuh Allah yang kita wajib bersikap keras terhadapnya , bukan kepadaku yang selalu mendampingimu .Kami merindukan imam yang tegas dalam hal yang Allah mengharuskan kita tegas terhadapnya dan lemah lembut terhadap keluarga dan sesame muslim .
Buat suamiku… semoga kau membaca note’sku ini..
Cece (indah_putri85@yahoo.co.id )


Read More..

Kasih Sayang Yang Tidak Cukup


“Aduuh, Sinta, ibu sudah tak tahan lagi jagain anak kamu, keduanya bertengkar terus…seperti anjing dan kucing,” ibu melampiaskan kekesalan dan juga kesusahannya menjaga anak-anak Sinta yang dititipkan padanya. Sinta merupakan anak bungsu dan sudah 7 tahun menikah serta memiliki 2 anak, yang sulung berusia hampir 4 tahun dan yang adiknya perempuan berusia 2 tahun. Jarak antara keduanya bukan 2 tahun, namun hampir 1,5 tahun. Sebetulnya untuk anak yang kedua Sinta belum siap melahirkan kembali. Ketika itu Sinta memang menyusui anak sulungnya dan ia berpikir dengan menyusui akan terbentuk KB alami. Namun, karena ia pun bekerja si sulung diberi tambahan susu formula untuk memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut membuat ASI Sinta menjadi semakin tidak lancar, sehingga susu formula lebih berperan dalam proses pertumbuhan gizi anak sulungnya, Imran.

Sinta tetap dalam pemikiran bahwa selagi ASI diberikan, maka tidak akan hamil lagi. Namun Sinta lupa bahwa asi yang diberikanpun hanya sedikit saja, hanya pelengkap sehingga wajar pada saat Imran belum genap satu tahun, Sinta merasa lemas, dan tiba-tiba pusing, mual dan malas, inginnya tidur terus seperti orang ngidam.

Semula Sinta mengira dirinya kelelahan karena kerja lembur gantikan kawannya yang sedang cuti hamil. Tetapi pada saat ia memeriksakan dirinya ke dokter, ia dinyatakan poisitif hamil.

Subhanallah, memang tidak mudah dalam keadaan seperti itu hamil lagi, dan malu rasanya bila sering-sering cuti bekerja. Ketika di kantor inginya pulang duluan, ketika rapat tidak konsentrasi dan rasanya tidak maksimal. Kasihan dengan kawan-kawannya yang bujang maupun kawan lelakinya, walau mereka diam saja namun nampak mereka mengasihani dirinya yang tidak lama kemudian hadir dikantor dengan selalu menggunakan pakaian gombrong menutupi kehamilannya yang sudah cukup besar.

Keadaan Sinta yang hamil kedua cukup payah disamping kondisinya yang harus terus bekerja membuat Sinta menyerahkan anaknya Imran dalam pengasuhan ibunya, dan dibantu dengan satu orang asisten rumah tangga. Imran sehari-hari mendapatkan banyak hal termasuk perhatian dan kasih sayang dari pihak luar, kondisi Sinta tidak memungkinkan untuk bercengkrama dan berkasih sayang dengan Imran, bila hari kerja, Sinta bekerja, bila pulang kerumah Sinta yang sudah kelelahan memilih untuk tidur dan tidur, sementara sang suami yang dikenakan tugas sebagai wartawan memerlukan dirinya untuk meliput berita sampai larut malam dan lebih sering keluar daerah.

Salahkah bila Imran merasakan kurangnya kasih sayang dan perhatian, bila kemudian lahir adiknya Aisyah yang putih, gemuk dan lucu, dan juga menyita perhatian nenek dan semua orang, bahkan bunda lebih memihak pada adiknya yang muncul tiba-tiba.

Mungkin Imran kecil akan berfikir, ” waktu tidak ada adik, aku sudah tidak dipedulikan, ketika ada adik, maka aku lebih lebih lagi tidak dipedulikan, maka adik sebaiknya pergi saja dari rumah ini agar aku lebih banyak waktu dengan bunda, ayah, nenek dan semuanya…”

Bukan salah Imran bila dia menjadi membenci adiknya dan sering bertengkar dengan adiknya, karena ketidakpandaian orangtua dalam memberi perhatian dan kasih sayang. Anak adalah amanah dan rizki dari Allah yang harus dijaga. Kedatangan sang adik yang mungkin terlalu cepat adalah juga sebuah rizki dari Allah yang menuntut orang tua agar dapat membagi kasih sayang yang sama bagi anak-anaknya. Jangan sampai kehadiran si adik justru membuat bunda dan ayah semakin jauh dengan si sulung tetapi justru harus lebih dekat dan sering mengajaknya berbicara mengenai si adik dari sejak di kandungan sehingga si sulung dapat menjadi kakak yang turut menjaga adiknya.


Read More..

Mandikan Aku Bunda


Assalamu'alaikum wr.wb.
Sebagian akhwat menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer di rumahnya tanpaperlu dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukanoleh para bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama. Disisi lain, tidak sedikit akhwat yang tetap "teguh" dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap "sauna" mazola (minyak goreng) dan berparfumkan aroma popok bayi. Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini.
Seperti saya tulis di muka, sudah banyak para ulama dan ustadz yang memberikan arahan. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya.

Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ? "Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." Dan itu betul-betul ia buktikan.

Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif. Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif " begitu setiap pagi.

Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian. Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late.Allah sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya.

Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku.
" Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, "Ini sudah takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan. " Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. " Aku ibunya !" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan it begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah"Apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan Bila dihatimu timbul kecewa, jangan cepat dienyahkan. Bila timbul dihatimu dengki, jangan di perturutkan"Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian tugas suami isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut : " Mandikan aku, Bunda ." Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai terlambat ?
Wassalam,



Read More..

Jumat, 15 Juli 2011

Takut dan Malu, Ciri Utama Hidup Muslim


DALAM postingan status facebooknya, sahabat saya menulis wall begini; "Kalau dinasehati untuk jangan melakukan kejahatan atau dosa, atau semua perbuatan pasti dicatat Malaikat, tetap saja kejahatan demi kejahatan dilakukan. Akan tetapi kalau ada tanda peringatan bahwa kamera CCTV memantau Anda, barulah pada takut untuk berbuat salah. Nampaknya, fenomena ini menunjukan bahwa tingkat keimanan orang seperti itu masih pada tingkatan hal-hal yang nyata saja dan belum sampai pada tingkatan hal-hal yang ghaib”.

Status di atas mencerminkan sebuah keprihatinan terhadap berita-berita kriminal dan kerusakan moral yang sering terjadi di tengah masyarakat kita. Mulai dari penipuan, penculikan, pembunuhan, perzinaan dan perilaku-perilaku yang mengarah kepada kezoliman lainnya.

Semua kenyataan ini kembali kepada kata kunci atau muaranya, yaitu kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Ditinjau di sisi agama, masih maraknya kejahatan dan kemaksiatan adalah disebabkan oleh tingkat iman yang masih rendah dan belum mencapai kepada tahap keyakinan total kepada perkara-perkara yang ghaib.

Efeknya, mereka lebih takut dan malu kepada CCTV yang memantaunya secara temporer dan kondisional daripada takut kepada Malaikat pencatat amal yang memantaunya setiap saat, tanpa batas waktu dan tempat.

Aksi kejahatan atau perbuatan dosa yang apabila diketahui oleh publik sudah barang tentu menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi pelakunya, seperti menanggung rasa malu, reputasi jatuh, merasa asing, dan bahkan kehilangan pekerjaan dan jabatan. Kalau tertangkap aparat kepolisian, mau tidak mau dia harus menerima sangsi hukum, seperti penjara, denda dan sebagainya. Itu baru hukuman di dunia. Padahal di akhirat, hukumannya jauh lebih berat dan hina.
Motif-motif duniawi itulah yang masih mendominiasi diri kita, sehingga rasa takut dan malu tidak terkawal dengan semestinya.

Ciri Orang Mukmin

Dalam adab Islam, melakukan kejahatan dan dosa secara terang-terangan, tanpa rasa malu adalah jauh lebih buruk daripada mengerjakan dosa secara sembunyi-sembunyi karena malu apabila perbuatannya diketahui orang lain. Dalam kitab sahih juga disebutkan, "Setiap umatku memperoleh pengampunan, kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan."

Berkaitan dengan persoalan ini, Ibn Qayyim berkata, "Inilah perkara yang sebaiknya dicermati. Yaitu bahwa "yang besar" terkadang disertai dengan malu, takut, dan menganggapnya besar, maka itu menjadi dosa kecil. Tetapi terkadang "dosa kecil" yang dilakukan tanpa malu, tanpa peduli dan tanpa rasa takut serta menganggapnya remeh, maka bisa saja ia menjadi besar, bahkan menjadi dosa besar dalam urutan teratas." (Kitab Fii Fiqhil Aulawiyyaati, Yusuf Qardhawi)

Hakikatnya, iman yang kuat akan mendorong seseorang untuk lebih bertaqwa atau takut kepada Allah. Sehingga segala godaan untuk melakukan laranganNya dan godaan untuk meninggalkan perintahNya dapat dikalahkan.

Sebaliknya, iman yang lemah akan menjadikan seseorang lebih liar, dan bahkan rasa takutnya kepada Allah dapat dilumpuhkan oleh selainNya, sehingga segala rayuan Syaitan yang datang kepadanya tidak dapat dihindarkan. Perintah agama diabaikan sedangkan laranganya dikerjakan.

Orang-orang yang takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan aksi jahat dan berbuat maksiat. Al-Qur'an sudah menegaskan, bahwa orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah orang-orang yang berilmu. (Q.S. Fathir:28)

Diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, "Orang-orang yang berilmu terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak mengetahui perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengenal Allah. Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui perintah Allah." (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).

Alhasil, takut dan malu berbuat dosa adalah salah satu ciri utama gaya hidup seorang muslim yang harus senantiasa ditanamkan dan hadir dalam diri kita, sehingga dengannya kita mampu menghindari dosa dan maksiat, besar atau pun kecil.

Ucapan yang juga menarik keluar dari Maimun bin Mahran, ungkapnya:"Berzikir kepada Allah dengan lidah itu baik, tetapi lebih utama dari itu adalah apabila seorang hamba ingat kepada Allah pada saat dihadapkan dengan perbuatan maksiat, lalu meninggalkannya. Wallahu al-Musta'an.*

Imron Baehaqi, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah & Tarjih PCIM Kuala Lumpur

Read More..

Selalu Bersyukur, Obat Hilangkan Stres


HARGA terus melonjak naik, sementara lapangan pekerjaan makin susah. “Jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah, “ demikian rakyat kecil sering mengeluh.

Sementara di saat yang sama, sebagian orang menumpuk-numpuk harta dengan cara mengambil hak orang lain. Seperti banyak yang terjadi saat ini, sebagian orang mendapatkan harta dari hasil “memeras” orang lain. Mereka harus menipu atau melakukan korupsi dan berbagai cara-cara yang tidak halal.

Padahal semestinya uang tersebut diperuntukan bagi kemaslahatan orang banyak, namun karena banyak tangan-tangan jahil, harta yang seharusnya merata secara adil dinikmati oleh seluruh masyarakat, hanya dinikmati/dimiliki oleh sebagian kecil orang. Mereka mengira, selagi muda dan punya jabatan, kesempatan mengumpulkan harta agak menjadi modal baginya meraih ketenangan hidup dan kebahagiaan.

Hati yang redup

Antara harta dan ketenangan hati, sesungguhnya dua hal yang berbeda, yang tak ada hubungannya. Sebab, banyak orang berlimpah tapi dia tak mampu merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Ia mampu menyewa hotel dan membeli tempat tidur yang mewah, namun tak bisa membeli rasa nyenyak.

Sementara di saat yang sama, banyak orang bisa bahagia dan tenang meskipun dengan harta yang minim. Di jalan, banyak kita saksikan tukang becak bisa mendengkur menikmati tidurnya, meski badannya tak cukup untuk duduk di kendaraan sederhana itu.

Sifat qana’ah inilah yang mampu menjadi salah satu potensi positif setiap manusia. Sikap qana'ah banyak didefinisikan sebagai sikap merasa cukup dan ridha atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT pada setiap manusia. Qana\'ah sering menjadi energi kehidupan dan membangkitkan semangat. Hal itu tidak lain dapat dijalani dengan cara menikmati hidup walaupun dengan segala kesederhanaan.

Orang yang selalu bersyukur tak akan dibuat pusing oleh kompleksnya warna-warni kenikmatan dunia di sekitar. Selalu menerima jatah pemberian Allah SAW. Sebab dia yakin bahwa, tiap manusia memiliki jatah rizki masing-masing yang dibagi secara adil oleh Allah SWT.

Sebagaimana dalam al-Quran, ”Dan tidak ada makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan dijamin oleh Allah rizkinya.” (QS. Hud: 8).

Sebaliknya, manusia yang tak pernah puas dengan materi yang diperoleh adalah manusia yang rentran terhadap stres, hatinya redup bahkan mati – walaupun hartanya melimpah. Hati yang mati dan gundah cenderung tidak mudah menerima kenyataan, sehingga apa yang didapat tidak pernah memuaskan.

Maka, jika kita ingin mengubah diri menjadi orang yang selalu bahagia, ceria dan tersenyum di berbagai kondisi, kini saatnya untuk mengubah cara pandang. Cara pandang positif, yaitu selalu bersyukur dengan karunianya dan hidup sederhana. Cara pandang lama, selalu tidak puas dengan rizki cepat-cepat dibuang saat inijuga.

Rasulullah SAW bersabda:“Jadilah kamu seorang yang wara’, nanti kamu akan menjadi sebaik-baik hamba Allah, jadilah kamu seorang qanaah, nanti kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur kepada Allah, sedikitkanlah ketawa kerana banyak ketawa itu mematikan hati.” (HR. al-Baihaqi).

Orang yang qana’ah adalah orang yang tidak meletakkan kenikmatan dunianya di hati, ia senantiasa bersyukur apa yang sudah menjadi jatahnya.

Sedang, orang yang tidak bersyukur selalu dibuat pusing oleh kenikmatan yang diperoleh orang lain. Jika tetangganya bisa membeli satu mobil, dia terkungkung oleh ambisi untuk melebihinya, mampu membeli dua mobil. Jika belum bisa, ia dikejar perasaan tidak puas, makan pun tak enak, tidur juga tidak tenang. Sebabambisinya belum tercapai.

Itulah pentingnya kita simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:“Lihatlah orang yang lebih bawah daripada kamu, jangan melihat orang yang tinggi daripada kamu, karena dengan demikian kamu tidak akan lupa segala nikmat Allah kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Di kesempatan lain Nabi bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa), maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bisa jadi apa yang kita miliki dengan segala keterbatasan, tidak dimiliki orang lain. Sehingga walaupun yang kita miliki terbatas, jelek dan tak bermakna akan menjadi lebih bernilai jika kita melihat orang lain yang masih ada di bawah kita. Di saat itulah, kita bisa bersyukur masih bisa memiliki sesuatu yang sedikit, sedangkan banyak orang lain yang tidak memilikinya. Makanya, dalam soal materi, janganlah melihat kepada orang yang di atas (yang memiliki banyak harta) akan tetapi lihatlah orang yang masih di bawah kita.

Oleh sebab itulah, qana'ah dan syukur adalah salah satu tanda berkualitasnya iman seseorang. Sedang hasud dan dengki adalah ciri nafsu yang terbelenggu syetan. “Hakikat syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan Allah diikuti perasaan tunduk pada-Nya” kata Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. Syukur tidak hanya diucap lisan. Syukur hakiki ada ada perasaan dalam hati, bahwa ia puas dengan apa yang telah diberi Allah.

Apabila hati tunduk, maka akan diikuti oleh organ-organ tubuh lainnya untuk tunduk pada-Nya. Inilah yang disebut ta’at. Seorang manuisa tidak disebut patuh kecuali ia buktikan dengan ta’at pada semua perintah-Nya. Berarti, aktifitas syukur itu biasanya adalah melibatkan hati dan organ tubuh.

Dalam Kitab al-Ghunyah Syeikh al-Jilani membagi syukur menjadi tiga; “Syukur dengan lisan, yaitu mengakui adanya nikmat Allah dan merasa tenang. Syukur dengan badan dan anggota badan, yaitu dengan cara melaksanakan dan pengabdian kepada-Nya. Serta Syukur dengan hati, yaitu ketenangan diri atas keputusan Allah dengan senaniasa menjaga hak Allah yang wajib dikerjakan.
Cara Bersyukur

Tentang bagaimana cara bersyukur, kitab al-Ghunyah memberi arahan; Pertama, syukur dengan lisan, yakni dengan cara mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah dan tidak menyandarkannya kepada makhluk atau kepada diri kita sendiri, daya, kekuatan atau usaha kita. Tidak pula disandarkan kepada orang lain yang melakukan dengan tangan mereka karena kamu dan mereka hanyalah sebagai perantara, alat dan sarana terhadapnya, sedangan penentu, pelaksana, pengada dan penyebabnya hanyalah Allah. Allah lah yang menentukan dan menjalankan sehingga Dia lebih berhak untuk disykuri dari selain-Nya.

Kedua, syukur dengan hati. Yaitu keyakinan yang abadi, kuat, dan kokoh. bahwa semua nikmat, manfaat, dan kelezatan, baik lahir maupun batin, gerakan maupun dia kita, adalah berasal dari Allah bukan dari selain-Nya. Dan syukurnya isan merupakan ungkapan dari apa yang ada di dalam hati.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Bersyukur dengan anggota badan adalah dengan cara menggerakkan dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk selainnya. Tidak memenuhi seruan orang yang mengajak untuk menentang Allah. Hal ini juga mencakup jiwa, hawa nafsu, keinginan, cita-cita dan makhluk-makhluk lainnya. Menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai dasar yang diikuti dan pemimpin, sedangkan selainnya dijadikan hamba, pengikut dan makmum. Allah SWT berfirman: ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS Al-Dhuha: 11).

Bersyukur sesungguhnya juga menjaminkan rizki. Semua jenis syukur tersebut tidak lain adalah taqwa kepada-Nya. Taqwa sebagaiman pernah difirmankan-Nya mendatangkan rizki. “Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dan dia (dalam keadaan) beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia). dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (di akhirat kelak).” (Q.S al-Nahl:97).

Bila kita mau lakukan langkah-langkah itu, jiwa tak akan terbelenggu oleh ambisi duniawi, tidak terpenjara oleh nafsu dan hati pun lapang. Tidak stres dan gundah. Bahkan bisa merubah seseorang menjadi yang pemurah, walau tak berkantong tebal. Tidaklah kekayaan itu dengan banyak harta, tetapi sesungguhnya kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mari kita rayakan bahagia ini bukan karena materi, tapi dengan senantiasa bersyukur atas kenikmatan yang dikaruniakan-Nya pada kita semua.[Kholili Hasib]

Sumber : Hidayatullah


Read More..

'Sukses' yang menyesatkan para wanita


Perubahan jaman telah pula mengubah gaya hidup manusia, khususnya kaum wanita. jika dulu bekerja adalah dominasi pria, saat ini rata-rata wanita merasa tidak pede bila tidak berkarir atau tidak pernah bekerja sebelumnya.

Para wanita berlomba mencapai kata 'sukses' yang diidentikkan dengan karir, bisnis, posisi, jabatan, gaji, atau harta. Wanita yang mengenakan gaun blazer dianggap cerminan wanita sukses. Namun menurut dr. Jill Genobaga, definisi sukses akan menjadi tidak kompatibel ketika seorang wanita memutuskan untuk mengabdikan dirinya bagi keluarga. Inilah problematika besar kaum wanita abad ini.

antara karir dan keluarga seperti dua arah mata angin, bila anda berjalan ke barat maka anak meninggalkan timur dan sebaliknya. Wanita yang memutuskan untuk mengejar karir di luar, akan kehilangan moment indah dalam keluarga, namun mereka akan mendapat uang dan penghargaan dari staff sebagai kompensasinya.

Sebaliknya wanita yang memutuskan untuk 'stay at home' mungkin tidak mendapatkan uang dan penghargaan dari bawahan tetapi ia mendapati dirinya sebagai wanita yang sesungguhnya.

Anak tidak hanya membutuhkan mainan, pakaian dan makanan, mereka butuh kasih sayang dan pendidikan. sehebat apapun baby sitter tidak ada yang bisa mengalahkan cinta kasih dari hati seorang ibu. "Moral" adalah hal urgent baik dalam agama maupun kehidupan sosial. apakah anda rela anak anda belajar moral dari baby sitter atau PRT? sementara kita tidak tahu tingkat moral yang sebenarnya baby sitter tersebut. ini adalah pertaruhan besar bagi nilai moral keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia.

Rusaknya bangsa karena rusaknya kaum wanita. bisa jadi kaum ibu memiliki moral yang bagus, namun bila moral ini tidak diwariskan ke anaknya maka tidak heran kita mendapati anak yang tidak mau mendengar bahkan membenci orang tuanya.Jika anda tidak menanam padi jangan pernah berharap untuk memanennya.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah sebuah cerminan betapa sering saya mendapati anak-anak belajar dari televisi, film kartun barat, lagu-lagu rendah moral, sinetron yang mengajarkan kekerasan, iklan-iklan yang mengajarkan kebohongan, PRT yang kurang mapan dalam ilmu, sementara ibunya yang cerdas, bijak, dan sopan lebih memilih untuk membangun kejayaannya diluar sana.
Read More..

Cara Hidup Muslimah Solehah


TIDAK MEMAKAI PAKAIAN YANG NIPIS

1.Muslimah solehah itu tidak guna kain yang nipis untuk membuat bajunya, sehingga terbayang kulitnya. Kerana dia tahu, bahawa pakaian seperti itu adalah pakaian yg layak dipakai oleh perempuan jalang.

TIDAK MEMAKAI RANTAI BERLOCENG

2. Muslimah solehah memang tidak guna rantai kaki yang berloceng utk dililitkan pada kakinya. Rantai ini apabila dipakai walaupun tersembunyi tetap bergemerincing dan menarik perhatian orang lain, lebih-lebih lagi lelaki JAHAT. Dia tahu sekiranya dia memakainya juga dia telah melanggar larangan Allah dalam ayat 31 surah An-Nur.

TIDAK MEMAKAI WANGIAN SEMERBAK

3.Muslimah solehah memang tidak guna minyak wangi yang baunya semerbak. Wangian sebegini mempunyai kuasa penyerakan bau yang amat tinggi kerana kadar kemeruwapannya tinggi. Biasanya kekuatan bau ini menunjukkan kadar kekompleksan rantai alcohol (secara kimia) yg digunakan utk membuat pewangi itu. Muslimah yang tidak memakai wangian yang kuat ini tahu bahawa inilah yang dipesan oleh nabi. Sabda junjungan bahawa wanita yang keluar rumah dgn memakai wangian, adalah seperti pelacur. Bukan tidak boleh berwangi-wangi tetapi bersederhanalah dalam pemakaian wangian tersebut.

TIDAK BIADAB DALAM BERKATA

4. Muslimah solehah memang tidak guna kata- kata yang keji, kerana dia tahu sesiapa sahaja yang bercakap perkara yang keji adalah mereka yang rendah akhlaknya. Lelaki atau perempuan yang bercakap menggunakan perkataan yang buruk @ jahat, adalah seperti sepohon pokok yang rosak akar tunjangnya. Dia tahu bahawa perumpamaan perkataan yang baik dan buruk dinyatakan dengan jelas dalam ayat 24-26 surah Ibrahim.

TIDAK BERKATA SIA-SIA

5. Muslimah solehah tidak guna masa berborak untuk mengatakan hal-hal orang yang disekitarnya atau dengan kata lain mengumpat, memperkatakan keabaian saudaranya. Dia tahu bahawa sekiranya orang yang suka mengumpat baik lelaki atau perempuan dia seolah-olah memakan daging saudaranya sendiri. Apakah sanggup kita memakan daging saudara sendiri? Persoalan ini ditanyakan kepada kita dalam firmanNya ayat 12. surah al-Hujurat.

TIDAK MEMAKAI TUDUNG TIGA SEGI

6. Muslimah solehah memang tidak guna tudung tiga segi, apabila memakainya diselempangkannya sehingga nyata bentuk perbukitan pada badannya. Sememangnya ia menjadi tatapan mata lelaki yang jahat yang terkena panahan syaitan. Dia tahu apabila bertudung, dia mesti melabuhkan tudungnya sehingga menutup alur lehernya dan tidak menampakkan bentuk di bahagian dadanya. Pesan Rasul seperti yang disuruh oleh Allah tersebut dalam ayat 59 al-Ahzab.Begitu juga seorang lelaki yang bergelar suami mesti memberi peringatan untuk isteri dan anak-anaknya.

TIDAK MENGADA-NGADA

7. Muslimah solehah memang tidak guna lenggok bahasa yang boleh menggoda seorang lelaki. Jika bercakap dengan lelaki yang bukan mahramnya, bercakaplah dengan tegas. Jangan biarkan suara lentukmu untuk menarik perhatian lelaki yang sakit dalam hatinya. Sememangnya suara perempuan bukanlah aurat, jika aurat maka Allah tidak akan menjadikan perempuan boleh berkata-kata. Bertegaslah dalam percakapan, jangan gunakan suaramu untuk menarik perhatian lelaki sehingga menjadi fitnah buatmu. Bahaya suara wanita yang bercakap dengan gaya membujuk yang boleh mencairkan keegoan lelaki (yg bukan mahramnya) dicatat dalam ayat 32 surah al-Ahzab. Makna ayatnya lebih kurang begini. Maka janganlah kamu tunduk dlm berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dlm hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik Tunduk disini ditafsirkan sbg berbicara dgn sikap yang oleh menimbulkan kebaranian orang untuk bertindak jahat kpd mereka. Penyakit dlm hati adalah keinginan seorang lelaki utk melakukan perbuatan sumbang dgnnya seperti berzina. Mengapa? Lelaki sangat mudah tertarik kpd seorang wanita melalui suaranya.

TIDAK MENGHIAS DIRI BERLEBIHAN

8.Muslimah solehah memang tidak guna alat make-up untuk menonjolkan kejelitaannya melainkan di hadapan suaminya sahaja. Adab bersolek (tabarruj) ini amat ditekankan kepada wanita muslim (muslimah) kerana semestinya kecantikannya adalah hak ekslusif yang mesti dipersembahkan kepada suaminya. Jika ingin keluar bekerja,dia memakai make-up secara bersederhana sahaja sehingga tidak jelas kelihatan pada wajahnya dia bersolek. Jangan bersolek sehingga cantiknya anda sehingga kadang2 wajah anda menjadi seperti hantu. Hendak bergincu? Jika bergincu, pakailah yg tidak menyerlah warnanya. atau Mengapa tidak pakai lipstick sahaja?

TIDAK MEMAKAI TUDUNG JARANG

9. Muslimah solehah tidak guna kain tudung yang jarang-jarang seperti jarangnya jalah yang digunakan untuk memukat haiwan akuatik.Kerana apabila memakai tudung seperti ini, akan nampak juga bahagian yang sepatutnya ditutup rapi dari pandangan orang lain. Rambut adalah mahkota, tetapi jangan biarkan mahkota itu tidak berharga dengan menayangkannya tanpa sebarang perlindungan. Jika mahkota berharga disimpan dengan rapi di dlam sangkar, dan ditambah pula pengawal untuk menjaga keselamatannya, maka demikian juga dengan rambut wanita. Sangkar itu adalah kain litup yang sempurna dan pengawalnya pula adalah ilmu yang diamalkan oleh anda untuk memakainya dengan cara yang terbaik.

_________________
KEMULIAAN SEORANG WANITA BUKAN PADA RUPA TAPI SIFAT DAN KELEMBUTANNYA....................


JANGAN DIHARAPKAN PADA SEBUAH PERTEMUAN JIKA TAKUT PADA SEBUAH PERPISAHAN..................


Read More..

Kamis, 09 Juni 2011

Istri Salehah yang Senantiasa Bersyukur

Sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tidak di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya, yaitu Nabi Ibrahim. Setelah sampai di rumah anaknya itu, terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.

Nabi Ibrahim : Siapakah kamu?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan santai.
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya menceraikan istrinya).
Menantu : Ya, baiklah.

Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.
Nabi Ismail : Apakah ada yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan salam kepadamu serta meminta kamu menukar tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah. Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.

Ismail pun menceraikan isterinya yang suka menggerutu, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah S.W.T. Sanggup pula menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.

Tidak lama sesudah itu, Nabi Ismail kawin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Terjadi lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.
Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?
Menantu : Dia tidak dirumah. Dia sedang berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu : Syukurlah kepada Tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera, tiada kekurangan.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silakan duduk sebentar. Boleh saya hidangkan sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!Berkatilah mereka dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampai- kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk melanggengkan isteri Nabi Ismail).

Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya siapa yang datang mencarinya.
Nabi Ismail : Ada sesiapa yang datang sewaktu aku tidak di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tidak kekurangan apapun, Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu melanggengkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku langgengkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukur.

Read More..

Ketika Bunda Harus Memilih!


Saat seorang bunda
berkiprah di dunia kerja
Misi suci yang diembannya.

Semua karya dan manfaat dunia kerja
Hendaknya sebanding dengan pengorbanan
Meninggalkan ananda.

Betapa galau hati seorang bunda
Tatkala tuntutan dunia kerja mulai tak searah
Dengan bisikan nurani suci.

Saat tangan harus melakoni
Hal yang bertentangan dengan bisikan hati
Nurani terkebiri.

Maka dimulailah jihad itu
Dengan ucapan “Bismillah”
Sang bunda membulatkan tekad
Stelan jas kantor kini telah berganti
Dengan kebaya Muslimah model terkini
Rekan dan sejawat telah berganti
Dengan ahli bordir, jahit dan desainer bergengsi.

Ternyata dengan beristiqamah di jalan-Nya
Tuhan membukakan jalan
Seorang bunda pekerja telah menjelma
Menjadi seorang bunda pengusaha
Dalam keramahan surga dunia
“Baiti Jannati”

SAHABATKU menumpahkan kekesalan hatinya.

“Bayangkan! Dengan kedua tanganku ini, aku telah menandatangani hal-hal yang bertentangan dengan nuraniku, dan semuanya demi mempertahankan karir dan jabatan. Sungguh bagai mendapat himpitan berat di dada, aku bagai terbelah dua. Sebagian diriku mengatakan tidak! Aku tidak akan larut tercebur pada arus yang tidak sesuai dengan jalan-Nya. Tetapi sebagian diriku lagi berkata, 15 tahun lebih meniti karir akankah semudah itu sirna?”

Mendengarkan keluh kesahnya, sejujurnya aku turut prihatin. Aku dapat membayangkan perjuangan batin yang dialami sahabatku.

Hari-harinya selama ini dilalui sebagai seorang wanita karir yang mengabdikan diri pada kepentingan pekerjaan dan kepentingan sang pemilik modal. Sahabat karibku ini mempunyai tekad yang membara. Selama ini pilihan yang berat sebagai seorang wanita karir profesional telah dijalaninya demi aktualisasi diri dan memanfaatkan ilmu yang telah dituntutnya.

Namun sejak berganti kepemilikan di perusahaan tempatnya bekerja, tumbuh budaya baru yang praktik manajemennya berlawanan dengan bisikan nurani. Peraturan yang jelas dan selama ini ditegakkan dengan teguh, harus dianulir dan dipelintir sedemikian rupa demi keuntungan si pemilik modal.

Sahabatku sebagai orang kepercayaan harus mengesahkan langsung melalui goresan tanda tangannya. Ia dikondisikan untuk menjalankan praktik-praktik yang bertentangan dengan hati nuraninya. Untuk melawan, ia sungguh tak kuasa. Dirinya bagaikan sebongkah tanah yang melawan air bah yang melanda.

Kini dilema hidup sebagai ibu yang membina karir semakin meruncing. Kalau selama ini ia masih bertahan karena meniatkan kerja sebagai salah satu sarananya dalam beribadah, namun niat itu kini tidak lagi menemukan pembenaran. Ia berperang dengan hati nuraninya.

Hari-hari penuh munajat dan shalat istikharah dilaluinya. Namun kelihatannya belum berhasil tuntas menjawab kemelut di dalam hati. Hingga untuk ber-khalwat dan mengadukan ihwal dirinya pada Sang Khalik, sahabatku bertekad untuk melaksanakan umrah. Ia begitu merindukan hari-hari penuh kemesraan berkomunikasi dengan-Nya, ketika antara dirinya dan rumah Allah tiada secarik tabir pun yang menghalangi.

Sahabatku bercerita bahwa kekhusyukannya berumrah semakin terasa kental auranya ketika bulan Ramadhan tiba. Ia berkesempatan untuk lebih banyak lagi merenung dan meng-hisab kembali peran dirinya dalam kehidupan.

Penggodogan Ramadhan melalui puasa, shalat tarawih, muhasabah, dan i’tikaf di tengah keheningan malam, telah membukakan pintu hati nuraninya. Lima belas tahun karir yang dilalui dan dipertahankannya selama ini, menjadi tak berarti apa-apa bila dibanding tekanan batin yang kini diterimanya. Perlawatannya ke tanah suci begitu mencerahkan. Hatinya kini terbuka terang benderang dengan sinaran kasih-Nya yang tak pernah pupus pada hamba-Nya yang ridha.

Sekembalinya dari tanah suci dengan bertekad kembali kepada fitrah, sahabatku membulatkan tekadnya dan mengajukan permohonan pensiun dini. Ia yakin bila satu pintu jalan rezeki harus ditutup karena semangat beristiqamah untuk berjalan selalu di jalan-Nya, maka pasti akan ada pintu lain yang terbuka.

Begitulah, ia mulai merintis jalur karir yang sama sekali berbeda. Membangun home industry butik Muslimah langsung di kepermaian rumahnya. Ia tak gentar meski harus berganti posisi, dari seorang eksekutif yang penuh jaminan gaji bulanan, belum lagi bonus-bonus serta insentif rutin, menjadi seorang pengusaha yang harus rela berinvestasi untuk suatu hasil yang tidak segera langsung dapat dinikmati. Apalagi bila dia kembali mengingat nawaitu awal membangun bisnis mulia ini. Selain mengembangkan usaha yang lebih sesuai dengan nurani diri, juga berniat untuk menawarkan lapangan pekerjaan, yang insya Allah dapat turut mengurangi jumlah angka-angka kaum pengangguran.

Saat Idul Fitri tiba, sahabatku sungguh merasa dirinya seperti dilahirkan kembali. Ia berhasil mengambil suatu keputusan berat untuk menanggalkan karir yang telah dirintisnya selama 15 tahun. Karir yang selama ini menggembleng dirinya menjadi seorang wanita karir yang profesional.

Kemarin aku bertemu kembali dengan sahabatku. Kutemukan aura yang berbeda pada dirinya. Wajahnya cerah dan bersinar. Di rumahnya telah berdiri sebuah butik Muslimah yang berhasil memberikan lahan pekerjaan pada lingkungan sekitarnya.

Dari rumah, sambil mendidik langsung si buah hati, ia mengendalikan bisnis keluarga, yang prospeknya amat menjanjikan. Malaysia dan Brunei Darussalam hanyalah sebagian dari sasaran ekspor dari hasil karya butiknya. Diam-diam sahabatku telah menjelma dari seorang pegawai yang dipaksa untuk mempraktikkan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya, menjadi seorang penyedia lapangan pekerjaan yang sekaligus berkontribusi terhadap devisa negara melalui produk ekspornya.

Ia berbisik, “Kemarin, ketika aku bertemu dengan bekas kolegaku yang masih berkutat sebagai wanita karir profesional, hampir saja aku merasa minder dan malu karena posisi baruku sebagai ibu rumah tangga. Namun aku segera tersadar, kujabat tangannya dan kukatakan padanya, ‘Perkenalkan, Rini yang baru, yang telah kembali pada fitrahnya, sebagai bunda yang profesional.’”

“Kau tak dapat membayangkan,” tambahnya, “betapa damainya hati ini menghadapi Idul Fitri dalam keadaan kembali pada fitrah-Nya.”

Ternyata, seiring dengan hari kemenangan, sahabatku telah terlahir kembali dan menemukan jati dirinya.*

Amelia Naim, penulis buku-buku parenting. Artikel diambil dari Majalah Hidayatullah


Read More..

Jangan Umbar Urusan Ranjangmu pada Orang Lain!


HARI itu, Arif Budiman (bukan nama sebenarnya) telah mulai masuk kantor setelah lebih dari seminggu cuti karena telah mengakhiri masa lajang dan menikah dengan gadis pilihannya.

Baginya, masuk kantor pertama kali setelah pernikahan, ibarat menjadi mahasiswa baru yang mendapat perpeloncoan. Ia mengaku heran, mengapa hari itu semua ingin saja mau tahu urusan ranjangnya.

“Hei, gimana malam pertamanya? Seru gak?,” demikian ujar Agus, salah satu teman bagian pemasaran.

“Bagi-bagi dong, ceritanya, “ tambah teman lainnya.

Di saat istirahat, rupanya mereka semua ngerumpi seolah ingin melanjutkan cerita ranjang itu. Bahkan, tak jarang, sahabat yang telah lama menikah, ikut membagi-bagi cerita yang disebutnya ‘tips memuaskan istri’.

Ini hanya secuil kasus yang terjadi di masyarakat. Selama, tiga kali penulis pindah kantor, hal-hal seperti kerap terjadi, seolah bukan masalah serius.

Tak hanya kalangan pria, kalangan wanita juga tak kalah hebatnya. Jika sudah bertemu dan ngerumpi, mereka juga saling bercerita urusan ranjangnya pada teman-teman yang lain.

Kadangkala, atas nama hubungan pertemanan dan kedekatan, seseorang dengan tenangnya menceritakan kehidupan rumah tangganya pada oranglain, termasuk urusan di atas tempat tidur.

Padahal dalam Islam, Allah mencela perbuatan seperti ini. Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam Kitabnya yang berjudul, "Al-Halal Wal Haram Fil Islam” mengutip bahasan ini.

Dalam Islam, di antara rahasia yang harus dijaga para suami dan istri selain harta adalah menceritakan urusan ranjang suami-istri kepada orang lain. Karena itu, ia tidak boleh menjadi pembicaraan di forum, atau obrolan malam di tempat-tempat berkumpul bersama, baik laki-laki maupun perempuan.

Dalam sebuah hadits dikatakan,

“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat nanti adalah suami yang memberitahukan kepada istrinya dan istrinya memberitahukan kepada suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya itu.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

"Termasuk orang yang paling jelek di sisi Allah kedudukannya pada hari kiamat yaitu lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian lelaki itu menyebarkan rahasianya." (HR. Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, bahwa dalam hadits ini diharamkan seorang suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya dari perkara jima’. Juga diharamkan menyebutkan perinciannya , serta apa yang terjadi pada istrinya baik berupa perkataan maupun perbuatan dan yang lain”.

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Rasulullah saw. shalat bersama kami. Setelah salam, beliau membalikkan badannya ke arah kami lalu bersabda, “tetaplah berada di tempat duduk kalian masing-masing, adakah di antara kalian orang yang bila mendatangi istrinya menutup pintu dan gorden, kemudian keluar dan menceritakan kepada orang lain dan mengatakan, “Aku telah melakukan begini dan begitu dengan istriku, dan melakukan ini dan itu bersamanya?” ‘mereka semua terdiam. Kemudian beliau menghadap ke arah kaum perempuan dan bersabda, “Adakah di antara kalian yang menceritakannya?” Maka berdirilah seorang gadis berdada montok dengan salah satu lututnya dan mendongak supaya dapat dilihat Rasulullah saw. dan didengar perkataannya. Ia berkata, “Benar, demi Allah, mereka membicarakannya.” Maka beliau saw. bersabda, “Tahukah kalian apa perumpamaan orang yang melakukan itu adalah seperti halnya setan laki-laki dan setan perempuan. Salah seorang di antaranya bertemu pasangannya itu di sebuah lorong, kemudian ia melampiaskan hajadnya kepadanya dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Ahmad, abu Daud, dan Bazzar).

Perumpamaan Nabi yang keras ini seharusnya menjadi peringatan pada kita semua dalam urusan rahasia ranjang kita.

Berbeda dengan agama lain, Islam sangat menjaga pernikahan kaum Muslim. Ikatan pernikahan kaum Muslim diibaratkan sebuah perjanjian yang kuat. Sehingga antara keduanya memiliki perjanjian kuat (al–mlitsaq al-ghalizha) yang tak boleh dikhianati secara seenaknya.

Karenanya, Allah berfirman;

“Dan mereka ( istri istrimu ) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.“ [an Nisa:21]

Wahai para suami dan para istri, sesungguhnya hubungan antara engkau dan istrimu adalah hubungan yang kuat dan suci. Hargailah kesucian itu dengan cara menjaga rahasianya!*

AF.I. Maulana & Binti Djazuli. Penulis Suami-istri, dengan empat orang anak


Read More..

Rahasia Pelipur Lara

ADALAH Panglima Besar Nuruddin Mahmud al-Zinki (sebagian menyebutnya Zanki) yang berada di Damaskus. Saat itu sedang berkecamuk Perang Salib. Mendengar Tentara Salib telah masuk ke pesisir Mesir dan berhasil mengepung kaum Muslimin di kota Dumyat, Mesir, hati Nuruddin merasa gundah dan gelisah. Senyumnya yang kerapkali menghiasi wajahnyapun terlihat sirna. Imam Masjid Omawi merasa iba dan turut sedih melihatnya. Imam Masjid tersebut ingin memberikan pelipur lara untuk menghibur beliau agar dapat tersenyum.

Ba’da shalat, Imam menyampaikan dalam halaqah (pengajian) yang biasa dihadiri Nuruddin. Dibacakanlah sebuah hadits Rasul saw, yang setiap orang mendengar hadits tersebut pasti tersenyum. Ketika semua orang tersenyum mendengar hadits itu, Nuruddin Zinki masih belum bisa tersenyum. Dengan keheranan Imam bertanya kepada Nuruddin, ”Mengapa Paduka tidak tersenyum, saat semua orang yang mendengar hadits tersebut tersenyum?”

Nurudin menjawab,”Saya malu kepada Allah melihat saya tersenyum, sedangkan kaum Muslimin di Dumyath masih terkepung oleh Tentara Salib!”

Setiap malam, Nuruddin Mahmud melakukan shalat, bersujud dan berdoa sebanyak-banyaknya sambil menangis, memohon kepada Allah swt agar segera membebaskan kaum Muslimin yang terkepung di Dumyat.

Beberapa hari kemudian, saat Nuruddin berangkat ke mesjid Omawi untuk melakukan shalat subuh, Imam masjid mencegat nya, seraya mengatakan kepadanya.

”Paduka, saya bermimpi telah bertemu dengan Baginda Rasulullah saw dan meminta kepada saya untuk menyampaikan kabar gembira kepada Paduka bahwa Allah swt telah membebaskan kaum Muslimin di Dimyath. Lalu saya tanyakan kepada Rasulullah saw (dalam mimpi itu), ”Wahai Baginda Rasulullah, apa tandanya agar Nuruddin dapat mempercayai berita gembira ini dariku?”

Rasulullah saw (dalam mimpi itu menjawab); “Katakan padanya, masih ingatkah saat ia di Tal Harem, ketika turun dari kudanya, melakukan shalat, bersujud, berdoa sambil menciumkan wajahnya di atas tanah, seraya mengatakan: ”Ya Allah tolonglah agama-Mu ini, tolonglah tentara-tentaramu dan jangan tolong Nuruddin Mahmud yang hina ini, apalah artinya seorang Nuruddin hingga Engkau tolong.”

Benar, memang hal itu yang dilakukan dan diucapkan Panglima Nuruddin Mahmud saat di Tal Harem, ketika beliau dan tentaranya akan berhadapan dengan tentara Salib, saat itu ia menyendiri berdoa. Tanda dan bukti itu dibenarkan oleh Nuruddin Mahmud karena hanya ia sendiri yang tahu saat bermunajat dengan Tuhannya, sehingga iapun percaya bahwa Dumyath telah dapat dibebaskan dari kepungan.

Beliau terharu, terkesima, menangis sebagai ungkapan syukur, dan kemudian ia telah dapat tersenyum lagi.

Penawar Hati

Tak pelak lagi bahwa shalat, sujud untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Sang Pencipta merupakan penawar hati yang luka dan solusi aneka ragam duka lara, tentunya dengan diiringi keikhlasan dan tawakkal kepada-Nya pada setiap usaha yang diridhai-Nya.

Firman Allah swt: ”Dan Kami sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat).” (QS: Al-Hijr: 15/97).

Ayat di atas, selain sebagai pelipur lara yang menghibur Nabi saw, karena kesedihannya dan terasa sesak dadanya mendengar ejekan, ulah dan kesombongan kaum musyrikin kala itu. Ayat di atas juga memberikan solusi dan kiat untuk menghilangkan kesedihan dan duka tsb, yaitu dengan cara bersujud (shalat) disertai memperbanyak tasbih, tahmid dan doa untuk kebaikan diri, keluarga dan umat.

Tuntunan bagi Nabi saw, berarti juga tuntunan bagi umatnya. Banyak sekali hal yang dapat membawa kepada kesedihan, seperti musibah yang menimpa diri, saudara, teman, atau merajalelanya kezaliman, kemungkaran, ….… yang terkadang seorang tidak mampu untuk mencegah atau menghilangkannya dengan kekuatan tangannya.

Hamba yang dekat dan dicintai Allah swt adalah pada saat seorang hamba bersujud, sebagaimana Rasul saw bersabda:”Hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah saat hamba-Nya bersujud, karenanya ikhlaskanlah dalam berdoa pada saat bersujud”.

Mudah-mudahan kita semula menjadikan shalat, sujud untuk mengadu dan berkomunikasi bukan dengan cara lain.*

Amiruddin Thamrin, kini tinggal di Damaskus-Suriah




Read More..

Kamis, 05 Mei 2011

Menjaga Hati Nan Tetap Ikhlas


“lho... masak sih ngasihnya cuma segitu...? Apalagi dari luar negeri, masak infaknya kecil amat, sih...?” keluh seseorang yang kusegani itu. “gak pantes deh, memang sih udah gede bagi orang sini, tapi bagusnya double ngasih dananya...” lanjutnya lagi.

Sudah berulang kali topik seperti ini mampir di telingaku. Bahkan kualami sendiri di depan mata, skala prioritas yang biasanya kita tetapkan dalam menyalurkan zakat, infaq atau sedekah, seringkali “dikomplain” oleh pihak yang kita beri, herannya hal ini biasanya terjadi di tanah air.

Bahkan hal yang seperti itu bisa menjadi ajang gossip di mana-mana. Padahal jika berada di negara rantau, saling memberi bukan hanya tradisi muslim, tetanggaku banyak yang non-muslim. Sekeping coklat saja yang diberikan sulungku untuk teman bermainnya membuat mama anak itu berterima kasih berulang kali kepada kami. Juga saat sepotong roti yang ia berikan kepada pak tua pembersih taman, “ketulusan ucapan terima kasih” bersinar di mata bapak tersebut.

Dan yang paling menyedihkan dari isu di negeri kita akan hal ini, ada sikap yang berbeda dari sang penerima dana kepada donaturnya berdasarkan jumlah rupiah yang diberikan. Mungkin kalian pernah mengalami hal ini, dalam kehidupan bersanak-saudara, ataupun lingkungan pertemanan dan relasi. Dan kebanyakan “pembumbu cerita” telah lupa, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia berkata dengan perkataan yang baik-baik atau dia berdiam saja.” (HR. Bukhari) dan pada riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Kebanyakan dosa anak Adam adalah karena lidahnya.” (HR. Tabrani dan Baihaqi)

Suatu hari ibu Sishy (bukan nama sebenarnya) bercerita kepadaku, “kalau infak buat ustadzahnya, satu orang lima ribu, neng... saya ngasihnya sepuluh ribu atau lima belas ribu, nah... kalau neng ini kan orang berduit, mestinya dua puluh lima ribu-lah pantasnya...” seraya mimik mukanya meyakinkan kalau “hal pantas” yang diungkapkannya adalah pengertian yang tepat.

Sejujurnya, malas meladeni perangai yang seperti ini. Pernah kuungkapkan perihal “pantasnya sedekah seberapa besar”, subjek aneh ini kepada sang kekasih. Suamiku mengutip nasehat, secuil tapi sangat bermakna, “mi... seorang petani yang penghasilannya cuma sejuta perbulan, lalu dia memberikan 500 ribu saat berinfaq tentulah lebih besar nilainya di mata Allah SWT jika dibandingkan seorang milyuner yang memberikan jumlah yang sama, 500 ribu rupiah. Mungkin bagi si milyuner jumlah itu cuma untuk beli kaos kaki, misalnya. Namun, semua orang tidak perlu menilai “pantas atau tidak pantas” jumlah uang itu, apalagi mereka-reka penghasilan seseorang dan membanding-bandingkan. Itu akan mengotori keikhlasan, dan bisa memancing seseorang untuk menyombongkan diri atau malah emosi... Bisa jadi milyuner itu punya pos donasi sendiri di ribuan yayasan atau rumah santunan lainnya, banyak para dermawan yang merahasiakan dana pemberiannya guna menjaga keikhlasan hati...” ujarnya lembut.

Saudara-saudariku, Allah SWT berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2] : 195)

Jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani semata-mata untuk mengabdi kepadaNYA, salah satunya terwujud dalam bentuk melakukan segala amalan kebaikan. Dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai bekal timbangan di yaumil hisab. Namun menjaga “rewards” dari Allah SWT ini ada dua syarat:

Kesatu, ikhlas dalam beramal, yakni melakukan suatu amal dengan niat semata-mata karena Allah SWT, atau tidak riya dalam arti mengharap pujian dari selain Allah SWT. Karena itu, dalam hadits arbain yang terkenal, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada niatnya.”

Kedua, melakukan kebaikan itu secara benar, karena meskipun niat seseorang sudah baik, bila ia melakukan amal dengan cara yang tidak benar, maka hal itu tetap tidak bisa diterima oleh Allah SWT, misalnya mencampuradukkan harta halal dengan korupsi (yang haram).

Tidak ada seorang pun yang berhak menilai “pantas atau tidak pantasnya” pemberian seseorang, malah prilaku ini dapat berbuah buruk sangka, dengki dan berdampak buruk lainnya, antara lain :

1. Dengki menggusur hati yang bersih, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (QS. Al-Baqarah [2] : 10)

2. Buruk sangka menyebabkan renggangnya tali persaudaraan, salah satu sifat terbaik dalam ukhuwah islamiyah adalah husnuzhon (berbaik sangka). Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi lahir bathin, perkara ini disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta." (HR. Muttafaqun alaihi)

Bahkan Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat [49] : 12)

3. Memancing amarah dan menyebut-nyebut pemberian, misalkan terjadi pada salah seorang ibu yang juga disindir oleh ibu Sishy dalam wacana tsb. Sang ibu menjadi emosi dengan pembanding-bandingan donasi, “eh, bu Sishy... gue bukan cuma infak di RT ini, anak yatim asuhan gue banyak, ngurusin persatuan ibu-ibu RT sebelah juga, sedekah gue kemana-mana, sampe’ ikutan dana bantuan Palestine...” uppps...! Kita yang mendengarnya pasti miris.

Padahal Allah SWT berfirman, “Wahai orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekahmu itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati (penerimanya).” (QS Al-Baqarah [2] : 264)

Serta peringatanNya dalam surah An-Najm agar tidak meremehkan orang lain, ayat 32 : “(Oleh karena itu), janganlah kamu memuji dirimu sendiri. Dia (Allah) Maha Mengetahui siapa yang sebenarnya takut.” (QS. An-Najm [53] : 32)

4. Membuat saudara bersedih hati atau malah menyakiti hatinya. Padahal saling memberi hadiah dan kegiatan tolong-menolong adalah suatu kebiasaan yang bertujuan untuk saling berbagi kebahagiaan,dll. Semoga kita makin pandai meresapi makna ayatNya, berlomba-lomba dalam kebaikan dengan tetap mengutamakan keikhlasan hati, senantiasa istighfar, Astaghfirullahal 'adzim... kala “mulai men-judge” amalan orang lain

Cukup hanya Allah yang paling berhak menilai dan menghitung amal kita!

Allah SWT mengingatkan, "Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar." (QS. An-Nisa [4] : 146)

Wallohu'alam bisshowab.
(Bidadari Azzam, krakow, 2010, edit 2011)

Read More..

Doa Menolak Takdir


Dari Salman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Tak ada yang dapat menolak takdir selain doa, dan tak ada yang dapat memperpanjang umur selain kebajikan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2139. Al-Albani menganggapnya hasan lighairih dalam Shahih At-Targhib, no. 1639).

Ada beberapa hadits lain yang senada dengan ini dan menunjukkan bahwa takdir bisa dicegah dengan doa, tapi semuanya dha’if. Sedangkan hadits ini derajatnya hasan, sehingga bisa dipakai sebagai hujjah.

Bagaimana doa bisa menolak takdir padahal takdir sudah ditentukan?

Jawabnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan takdir dan menciptakan pula sebabnya. Allah maha tahu apa yang akan terjadi nanti dan Ia tidak mungkin lupa atau kecolongan sehingga mengubah keputusan-Nya yang telah lalu. Tapi itu semua berada dalam dimensi ilahiyyah yang tak mungkin bisa diselami akal manusia yang serba terbatas ini. Maka tak perlu membahas masalah tersebut lebih lanjut.

Manusia hanya diperintahkan untuk melakukan sebab. Bila ingin mendapatkan rezki harus bekerja, tidak mungkin bisa kaya dengan bermalas-malasan. Nah, kerja adalah sebab dan rezki memang di tangan tuhan. Hanya orang kurang akal yang mengatakan, “Ah, buat apa bekerja bukankah rezki di tangan tuhan. Jadi, kalau saya sudah ditakdirkan kaya, maka saya akan kaya dengan sendirinya.”

Demikianlah doa, ia merupakan sebab yang diciptakan Allah untuk memperoleh keuntungan dan menolak kerugian, sama seperti kerja yang diciptakan sebagai sebab untuk mendapat kekayaan.

Kesimpulannya, takdir sudah ditetapkan dan tidak akan berubah dalam dimensi Allah. Ia hanya akan berubah dalam dimensi manusia. Manusia tidak boleh tahu apa yang sudah diputuskan Allah, tapi hanya harus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Dan, Allah telah menunjukkan jalan terbaik untuk selamat dari keburukan yang kemungkinan besar akan terjadi, yaitu dengan doa. Itulah takdir dalam dimensi manusia, sesuatu yang sudah dipastikan akan terjadi, sehingga secara logika tak mungkin tertolak. Misalnya, ada yang sakit dan menurut dokter tinggal menunggu waktu saja dan tidak mungkin disembuhkan. Tapi, dengan doa siapa tahu terjadi keajaiban dan yang bersangkutan ternyata sembuh. Inilah maksud doa menolak takdir. Walahu ‘alam.

Kisah nyata:

Kisah ini dialami oleh salah seorang teman istri saya yang bekerja di PT Sanyo Electronics Cikarang. Dia menuliskan ceritanya khusus untuk penulisan buku saya ini, semoga Allah membalasnya dengan kabaikan.

Ia mengalami kehamilan pertama, dan ketika diperiksa oleh dokter ternyata janin yang ia kandung terinveksi virus rubella akibat sakit yang diderita sang ibu. Virus itu menyerang pada saat usia kandungannya 3,5 bulan. Hasilnya, sang bayi positif akan lahir dalam keadaan cacat, seperti buta, gangguan pendengaran dan lain sebagainya.

Beberapa kali ia berusaha memeriksakan kandungannya melalui USG. Menurut dokter yang memeriksa bayi tersebut memiliki kelainan kromosom di tengkorak belakang yang akan mengakibatkan anak itu jadi idiot setelah lahir nanti.

Dengan perasaan tak menentu sang teman ini berusaha untuk pasrah. Sampai pada saatnya untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di RSCM. Pada malam sebelum pemeriksaan itu dia bangun shalat tahajjud dan berdoa kepada Allah, dengan keyakinan penuh bahwa Allah pasti mendengar doa hamba-Nya yang kesusahan. Lalu dia juga berusaha bertawassul dengan meminum air zam-zam. Dan sangat mengejutkan bahwa hasil pemeriksaan di RSCM menyatakan bahwa sang janin sehat dan tidak terdapat kelainan apapun. ALLAHU AKBAR!

Bukan main gembiranya perasaan sang teman ini, dan dia merasakan betapa Allah maha baik bila diminta dengan ikhlas oleh sang hamba. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengenakan jilbab (sebelumnya dia tidak berjilbab) pasca melahirkan sebagai bentuk syukurnya kepada Allah Taala.

Dari sini ada beberapa hal menurut pandangan syar’i mengapa anaknya itu sembuh. Beberapa ikhtiyar yang dia lakukan adalah:

Dia berdoa
Dia pasrah pada keputusan Allah
Dia Shalat Tahajjud
Dia bertawassul dengan meminum air zamzam

Semua itu memang disunnahkan, dan masing-masing akan menyebabkan terkabulnya doa bila dilakukan ikhlas dan memasrahkan diri kepada Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu makna hadits Rasulullah SAW di atas yang menerangkan bahwa doa bisa mengubah takdir. Maksudnya, takdir yang sudah diperkirakan bakal terjadi tapi masih mengandung kemungkinan lain. Wallahu a’lam.

Anshari Taslim.

Read More..

PANTASKAH SUAMI MEMUKUL ISTRI


Setiap orang senantiasa mendambakan kebahagaiaan, namun kadang harapan indah itu tak selamanya terwujud di dalam kehidupan berumah tangga, konflik dan pertengkaran kecil antara suami istri adalah suatu yang lumrah yang tak bisa di tampik dari fakta yang ada, bahkan kadang konflik tersebut berubah manjadi sangat negatif

Kenyataan pahit ini banyak dirasakan dan dialami oleh pasangan suami-istri jika mereka tidak pandai-pandai mengelolah konflik yang muncul, disebabkan kurangnya pengertian antara keduanya, bermula dari hal kecil namun begitu kompleks menimbulkan ketidak senangan terhadap pasangan, lama kelamaan perasaan ini berubah menjadi sangat benci dan membangkang oleh salah satu pihak dari suami maupun istri, sikap inilah yang dikenal dengan Nusyuz.

Banyaknya fakta aktual yang membuktikan, dengan kompleksnya konflik berumah tangga membuat suami tak segan-segan untuk memukul istrinya. Dalam majalah Family Relation menyatakan, 79% laki-laki di Amerika memukul istrinya hingga koma, 17% dari wanita yang dipukul suami harus dirawat di rumah sakit jiwa, begitu pun di Inggris dan Perancis, bahkan di Indonesia sendiri telah bosan koran dan majalah memuat berita tersebut. Kejadian demikian haruslah di pertanyakan, apakah pantas seorang suami memukul istri yang telah ia pilih sendiri sebagai pendamping hidupnya dan apakah penyebab yang membuat ia memukul istri itu logis atau hanya mengada-ada? Apakah suami pernah terpikirkan atau sadar mengapa harus melakukan perbuatan tersebut? pasti jawaban rata-rata suami adalah gelap mata disebabkan karena telah naik pitam termakan ego sendiri, padahal masalahnya sangat simpel dan mudah untuk dibenahi, karena wanita adalah makhluk yang lemah, dan segala sesuatu yang lemah mudah untuk diluruskan agar tidak terjadi pemukulan.

Di dalam Al Quran, masalah memukul istri hanya termuat sekali yang terdapat dalam surah An Nisa ayat:12 “Wallati takhafuna Nusyuzahunna fa’idzuhunna wahjuruhunna fil Madhaji’ wadhribuhunna”, Nusyuz adalah pelanggaran terhadap nilai sosial dan moral dimana seorang istri lalai dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang mana kewajiban tersebut adalah hak dari seorang suami, begitupun sebaliknya terhadap seorang suami. Ibnu Mandzur (630-711 H) dalam Lisanul Arab mendefenisikan Nusyuz adalah rasa kebencian salah satu pihak (suami atau istri) terhadap pasangannya. Wahbah Az Zuhaili, guru besar ilmu fiqh pada Universitas Damascus, mengartikan Nusyuz sebagai ketidakpatuhan salah seorang pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi atau rasa benci terhadap pasangannya. Lebih jelas lagi, Nusyuz berarti tidak taatnya istri terhadap suami dan suami terhadap istri secara tidak sahatau tidak mempunyai alasan yang cukup kuat, kecuali membangkan terhadap susuatu yang memang tidak wajib untuk dipatuhi maka tidak dikategorikan sebagai nusyuz, misalnya suami menyuruh istri untuk berbuat maksiat dan sebaliknya.

Inti dari arti Nusyuz adalah pelanggaran terhadap nilai moral dan sosial, apabila istri melakukan pelanggaran tersebut maka bagi suami diperintahkan untuk menasehati istrinya dengan perkataan yang lemah lembut untuk mengingatkan akan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri yang telah diberikan oleh Allah SWT yang merupakan bagian dari masalah sosial, apabila belum berhasil dalam mengingatkannya cara kedua adalah pisah ranjang sebagai tekanan agar ia lebih berfikir tentang hak dan kewajibannya. Jika kedua cara tersebut belum juga berhasil, agama membolehkan untuk memukul sebagai ungkapan rasa ketidakrelaan melihatnya lalai dalam melaksanakan kewajiban ataupun ungkapan kemarahan. Akan tetapi haruslah diingat bahwa pukulan itu janganlah sampai meninggalkan bekas apalagi melukai. Tidaklah menjadi keharusan bagi suami untuk memukul karena semua ulama menganjurkan agar suami menjauhi dari perbuatan tercela tersebut, begitupun jika suami yang melanggar dan lalai akan kewajibannya maka istri harus mengingatkannya, contohnya suami memecahkan keperawanan istri dengan memakai jari, meskipun hal itu enak namun tidak sesuai dengan akhlak, tidak heran ulama-ulama berkata: Izalatul bakarah bil Asba’i haramun”, apalagi hingga memukul istri.

Dalam islam, Rasulullah SAW mensunahkan kepada orang muslim agar tidak memukul istrinya, Nabi sendiri tidak pernah memukul istrinya hal itu menunjukan bahwa memukul adalah tercela yang tergolong ke dalam perbuatan makruh bahkan haram, karena Nabi sangat marah dan murka terhadap para suami yang memukul istri mereka, sebagaimana yang terdapat dalam sunan Abi Dawud hal:245, banyaknya suami-suami yang memukul istrinya sehingga mereka mengadu kepada rasul SAW, seraya Rasul marah dan keras terhadap suami-suami yang telah memukul istrinya. Kalaupun terpakasa dan tak bisa mengelak untuk memukul, maka Rasulullah SAW menganjurkan untuk memukul dengan siwak seperti sikat gigi dan semacamnya. Menurut Muhammad Ali As Shabuni dan Wahbah Az Zuhaili, saat suami melakukan pemukulan terhadap istri haruslah dihindari, 1. bagian wajah, sebab wajahn adalah bagian tubuh yang paling dihormati, 2. Bagian perut dan bagian tubuh lain yang dapat menyebabkan hal yang negatif atau kematian, sebab pemukulan tidak dimaksudkan untuk mencederai apalagi membunuh istri yang nusyuz melainkan untuk mengubah sikap nusyuznya, 3. Memukul hanya pada suatu tempat , karena akan menambah rasa sakit dan memperbesar kemungkinan timbulnya bahaya di daerah lain. Dalam soal memukul istri yang nusyuz, dalam mazhab Hanafi dianjurkan agar menggunakan alat berupa sepuluh lidi atau kurang atau dengan alat yang tidak akan melukai istri.

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana jika suami memukul istri atas permintaan istri itu sendiri dengan maksud untuk bertamattu’ atau bersenang senang, atau si istri yang hyper yang lebih bersemangat dan bernafsu jika dupukuli oleh suami? Islam adalah agama yang mengajarkan untuk tidak melukai sesorang lahir batin, dan tidak seorang pun ingin celaka, olehnya itu islam menganjurkan untuk tidak mencelakai dan mengantarkan diri ke dalam kecelakaan yang berakibat buruk. Dan para ulama telah sepakat bahwa suami yang memecahkan keperawanan istri dengan jari adalah haram meskipun hal itu enak apalagi sampai memuku “Izaalatul bakarah bil Asba’i haramun”.

Dari uraian di atas, jelas bahwa pengertian memukul dalam islam adalah suatu musibah yang harus dijauhi dan ditentang oleh setiap orang muslim sebagaimana para ulama telah menentangnya, karena Rasulullah SAW sendiri telah menjelaskan bahwa hubungan antara suami istri adalah hubungan yang berdasarkan mawaddah warahmah yang menunjukkan tidak boleh adanya pemukulan dan penyiksaan sebagaimana sabdanya:”Ayadhribu ahadukum imraatahu kama yudhrabul ‘abdu tsumma yujaamiuha akhiral yaum”, apakah pantas bagimu untuk memukul istrimu seperti seorang hamba yang dipukul kemudian setelah itu engkau gauli ia pada malam hari?,pantaskah atau tidak, tanya saja pada diri anda sendiri./fikar


Read More..

Istri Yang Di Anggap Durhaka Kepada Suami


Apabila dipanggil oleh suaminya ia tidak datang. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Apabila suami memanggil isterinya ke tempat tidur. ia tidak datang nescaya malaikat melaknat isteri itu sampai Subuh.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Membantah suruhan atau perintah suami. Sabda Rasulullah SAW:
‘Siapa saja yang tidak berbakti kepada suaminya maka ia mendapat laknat dan Allah dan malaikat serta semua manusia.”
Bermuka masam terhadap suami. Sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja perempuan yang bermuka masam di hadapan suaminya berarti ia dalam kemurkaan Allah sampai ia senyum kepada suaminya atau ia meminta keredhaannya.”

Jahat lidah atau mulut pada suami. Sabda Rasulullah SAW:
“Dan ada empat golongan wanita yang akan dimasukkan ke dalai Neraka (diantaranya) ialah wanita yang kotor atau jahat lidahnya terhadap suaminya.”

Membebankan suami dengan permintaan yang diluar kemampuannya.

Keluar rumah tanpa izin suaminya. Sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya d akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminy atau suaminya redha terhadapnya.”
(Riwayat Al Khatib)

Berhias ketika suaminya tidak disampingnya. Maksud firman Allah
“Janganlah mereka (perempuan-perempuan) menampakkan perhiasannya melainkan untuk suaminya.”
(An Nur 31)

Menghina pengorbanan suaminya. Maksud Hadis Rasulullah SAW
“Allah tidak akan memandang (benci) siapa saja perempuan yang tidak berterima kasih di atas pengorbanan suaminya sedangkan dia masih memerlukan suaminya.”

Mengijinkan masuk orang yang tidak diijinkan suaminya ke rumah
maksud Hadis:
“Jangan ijinkan masuk ke rumahnya melainkan yang diijinkan A suaminya.” (Riwayat Tarmizi)

Tidak mau menerima petunjuk suaminya.
Maksud Hadis:
“Isteri yang durhaka hukumnya berdosa dan dapat gugur nafkahnya ketika itu. Jika ia tidak segera bertaubat dan memint ampun dari suaminya, Nerakalah tempatnya di Akhirat kelak. Apa yang isteri buat untuk suami adalah semata-mata untuk mendapat keredhaan Allah SWT”

Read More..