Selasa, 11 Mei 2010

KETEGASAN ADALAH KASIH SAYANG YANG KUAT



Kehidupan ini berisi persaingan antara kemampuan kita dengan masalah-masalah kita.

Semua orang yang berhasil, mencapai keberhasilan mereka melalui ketegasan untuk menjadikan diri mereka lebih kuat daripada masalah-masalah mereka.

Dan dia yang hidup dalam keluhan, adalah biasanya orang yang menunda menyelesaikan masalah kecil, untuk kemudian membiarkannya tumbuh menjadi masalah besar.

Seperti juga dia yang mengeluhkan kesulitan hidup, adalah biasanya orang yang tidak menyelesaikan masalah saat masalah itu masih mudah ditangani, dan membiarkannya tumbuh menjadi masalah yang terlalu sulit untuk diselesaikannya.

Ketegasan!

Seandainya saja setiap jiwa ikhlas untuk berlaku tegas bagi kebaikan hidupnya sendiri …
Mario Teguh Golden Point
KETEGASAN ADALAH KASIH SAYANG YANG KUAT
Decisiveness Is A Forceful Love
………..


Sahabat saya yang baik hatinya,

Marilah kita berhati-hati dan bersikap tegas terhadap daya tarik dari kesenangan-kesenangan sementara. Karena, kesenangan sementara berperan menarik perhatian, merampas waktu, dan memboroskan tenaga kita untuk hal-hal yang tidak akan menjadikan kita lebih mampu.

Jutaan orang di dunia, setiap tahun, menjadi lebih tua tanpa menjadi lebih mampu – karena mendahulukan kesenangan-kesenangan sementara. Dan Tuhan Yang Maha Pengasih memberikan kepada mereka sebuah tanda, yaitu ketidak-damaian.

Ketidak-damaian adalah tanda penuh kasih yang secara khusus ditujukan kepada jiwa-jiwa baik yang sedang mendahulukan kesenangan sementara.

Dan kepada kita, orang tua dan pendidik yang super,
semakin besar keyakinan kita atas kebenaran yang kita nasehatkan, harus semakin tinggi kualitas kesabaran kita.

Karena sesungguhnya, dalam menasehatkan yang baik – tugas kita bukanlah untuk menjamin terjadinya perubahan kepada yang membutuhkan perbaikan, tetapi apakah kita telah berupaya menjadi penyampai nasehat dengan cara yang se-pengasih mungkin.

Perubahan kualitas hidup seseorang sepenuhnya adalah hak Tuhan.

Jika keluhan kita penuh berisi ketidak-nyamanan, kekurangan, kesulitan, dan keterbatasan dalam hidup – akan indah sekali jika kita menengadahkan wajah, membuka telapak tangan, dan melamatkan ratapan hati kita ke langit – ke arah kerajaan langit yang sistem pemerintahannya di tata dalam keterhubungan langsung antara setiap jiwa dengan Tuhan-nya Yang Maha Berkuasa.

Ya ..., langsung - antara satu jiwa dengan Tuhan-nya.

Dan,

Untuk setiap jiwa yang sedih, Tuhan Yang Maha Mendengar sedang menanti ketulusan keluhannya, yang termasuk mengakui perannya sendiri dalam mendekatkan dirinya dengan yang menyedihkannya.

Untuk setiap jiwa yang merasa diperlakukan tidak adil, Tuhan Yang Maha Adil sedang menanti pengertiannya untuk ikhlas menerima keadaan yang diijinkan oleh Tuhan untuk terjadi, dan juga berlaku adil kepada sesama dan kepada Tuhan.

Untuk setiap jiwa yang marah, Tuhan Yang Maha Perkasa sedang menanti keterbukaannya bahwa kemarahannya adalah tenaga yang harus digunakan untuk memindahkan dirinya sendiri dari sikap-sikap dan cara-cara yang memarahkan, dan naik kelas ke keadaan-keadaan yang lebih baik.

Untuk setiap jiwa yang pedih karena perendahan oleh orang lain, Tuhan Yang Maha Memuliakan akan menemaninya dalam perjalanan tenggelam dalam kesedihannya, menemuinya di dasar kesedihannya, dan dengan penuh kasih akan menyisipkan kekuatan yang magis kedalam pikiran, hati, dan otot-ototnya untuk bangkit dan menghadapi perendahan dengan gagah berani - sebagai jiwa yang berhak bagi kemuliaan, yang menyandarkan harapannya bagi kemuliaan diri hanya kepada Tuhan Yang Maha Mulia.

Dan untuk setiap jiwa yang hampir menyerah, Tuhan Yang Maha Penolong akan mendekatkan telinga dari jiwa yang hampir menyerah itu kepada suara-suara yang menasehati, menampilkan teladan baik bagi penglihatannya, dan memasukkannya kedalam pergaulan dengan orang-orang yang menyabarkan diri dan kemudian dimuliakan karena kesabarannya.

………..


Adik-adik dan anak-anak saya yang kebaikan hidupnya adalah isi dari semua doa orang tua,

Dengarkan ini ya? Karena ini yang diyakini oleh Mario Muda (saat saya masih muda dulu, kira-kira dua tahun yang lalu):

Lebih baik dikatakan sok tua, daripada sok keren hari ini, tapi menua tanpa jadi lebih mampu.

Lebih baik dikatakan sok tua, tapi jadi orang sukses tanpa harus jadi tua.

Jangan izinkan orang lain menentukan apa yang bisa membuat Anda merasa yakin, selain kesungguhan Anda untuk mencapai TITIK LEDAK keberhasilan pribadi.

Ya, akan datang suatu saat yang menjadi titik ledak keberhasilan Anda.

Adik-adik dan anak-anakku yang bersabar dalam menjadikan dirinya berhati damai, santun, pandai, dan mudah disenangi orang lain – ketahuilah bahwa kehidupan ini sering berlaku tiba-tiba dan tahu-tahu.

Tiba-tiba Anda dikenalkan kepada seorang besar yang membutuhkan bantuan Anda, atau tiba-tiba Anda dikenal di kalangan yang luas sebagai pribadi yang bernilai.

Tahu-tahu Anda bisa menyelesaikan hal-hal besar yang tadinya sulit dilakukan oleh kebanyakan orang lain, atau tahu-tahu Anda sudah hidup dalam kualitas yang tadinya tidak terbayang dalam mimpi Anda.

Jika Anda mengasihi diri Anda sendiri, dan jika Anda ingin membahagiakan mereka yang mengasihi Anda, tegaslah melakukan yang baik untuk Anda lakukan, dan tegaslah menghindari yang tidak menjadikan Anda lebih sehat dan lebih mampu.

Adik-adik dan anak-anakku yang dikasihi Tuhan,

You are the sons and daughters of life.
You were born to groom yourselves to become leaders gleaming with decisive kindness.
You are the owners of life.
You are the shapers of the future.

Kalian adalah putra dan putri kehidupan.
Kalian dilahirkan untuk menumbuhkan diri menjadi pemimpin yang berkilau dengan ketegasan yang penuh kasih.
Kalian adalah pemilik kehidupan.
Kalian adalah pembentuk masa depan.

Make us proud!

………..


Sahabat baik saya,
yang juga sahabat bagi kebaikan sesama,

Begitu dulu ya?

Mudah-mudahan tulisan sederhana ini dapat mengindahkan renungan Anda mengenai peran Anda yang diharapkan oleh kehidupan.

Berhentilah memikirkan hanya kesusahan kita sendiri.

Sadarilah ada jiwa-jiwa yang mengasihi Anda, yang sedang menanti kelembutan suara Anda dalam mengatakan terima kasih dan pujian atas kehadiran mereka dalam hidup Anda.

Tersenyumlah dengan manis kepada mereka. Senyum itu mudah sekali bagi Anda, dan mungkin tidak bernilai, tetapi bagi hati-hati yang sedang merasa sendiri dan tak terperhatikan – senyuman Anda terasa seperti sentuhan Tuhan yang telah lama mereka rindukan.

Jadikanlah diri Anda pembahagia kehidupan sesama.

Jadilah jiwa kecintaan Tuhan, yang menghadiahkan senyuman dan kata-kata penuh kasih kepada mereka yang terluka oleh kurangnya kasih sayang dalam keluarga dan kehidupan mereka.
Nasehatkanlah kesabaran, walaupun Anda sendiri sedang dalam ujian kesabaran.
Nasehatkanlah kekuatan, meskipun Anda sendiri merasakan kesedihan yang melemahkan tubuh Anda.

Berlakulah penuh hormat dan kasih kepada diri sendiri.
Berlakulah penuh hormat dan kelembutan kepada orang tua.
Berlakulah penuh kasih dan dukungan kepada anak-anak.
Berlakulah penuh pengertian dan penerimaan kepada orang lain yang berbeda pendapat.
Berlakulah penuh kebaikan kepada kehidupan.

Karena …
itu semua, adalah cara berlaku baik kepada Tuhan. Read More..

Minggu, 02 Mei 2010

Pudarnya Pesona Cleopatra I


Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia.
Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah.

Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.
Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh.

Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab
” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku,
“Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”.

Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku.
Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman.

Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya.
Aku melepas semua pakaian yang basah.
“Mas airnya sudah siap” kata Raihana.
Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja.
Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu.
” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.
“Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. “
Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya.

Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu.

Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.”
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya.
Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “

Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.

Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana.
Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.

Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
” af1 jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan.
” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar.
“terima kasih dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.

“ Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan ibundaku serta kerabat yang lain.

Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal?

Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku.

Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku.

“ Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis. Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera.

Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku. Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alas an kesehatan.
Read More..

Pudarnya Pesona Cleopatra II

Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan.

Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angina dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita.

Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.

Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.

“Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. “ Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. ” Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.

Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan.

Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia.
Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin.

Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya.
Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir.

Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan.

Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia.

Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku.
Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.

Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong.Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabb ….ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya.
Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku. “Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba…..” tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu.

Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.

Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan.

Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

” Raihana…istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”. ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi.

Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama
menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”. Hatiku bergetar hebat. ” Ke…kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “

Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu.
Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami”.

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada.

Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana.

Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua
oleh, Habiburrahman El Shirazy)

Read More..

IBUNDA......


Kalau ibunda membelai rambutmu
Kalau ibunda mengusap keningmu, memijiti kakimu
Nikmatilah dengan syukur dan bathin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri yang hadir dan maujud

Kalau dari tempat yang jauh engkau kangen kepada ibunda
Kalau dari tempat yang jauh ibunda kangen kepada engkau,
Dendangkanlah nyanyian puji-puji tuk Tuhanmu Karena setiap bunyi
Kerinduan hatimu adalah
Sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaanNya

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan airmata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun ibumu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian
Untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu
Kalau ibundamu menangis,
Para malaikat menjelma jadi butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu

Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu
Ibu kandungmu adalah ibunda kehidupanmu

Jangan sakiti hatinya, karena
Ibundamu akan senantiasa memaafkanmu.
Tetapi setiap permaafan ibundamu atas setiap kesalahanmu
akan digenggam erat-erat oleh para malaikat
untuk mereka usulkan kepada Tuhan
agar dijadikan kayu bakar nerakamu…


(Cuplikan Dari Buku Ibu TamparlahMulut anakmu - Sekelumit Catatan Harian Emha Ainun Nadjib)

Bunda.....hari ini Tira kangennnn bgt....kapan kita bisa bikin kue bareng lagi
Read More..

Jumat, 30 April 2010

My Love Athira

Ananda Sholehah
Bunda tulis ini dengan rasa haru dan bahagia. 10 tahun yang lalu bunda melahirkan kaka, dengan penuh perjuangan dan ditemani oleh ayah juga 2 jagoan Ayah yang 5 tahun kemudian salah satu jagoan ayah kembali kepada Allah swt.

Kaka sholehah, perjalanan hidup kaka sangat sulit dan juga bisa sangat membahagiakan. Sejak kecil curahan kasih sayang Ayah terhadap kaka, agak mengecewakan Kaka. Selanjutnya tahun 2005 lahir adik Nisa, Doa Kaka dikabulkan Allah swt. Disaat usia kandungan bunda 5 bulan Jagoan ayah tersayang kembali menghadap Ilahi Robbi.

Tanggal 17 Agustus 2005 adik yang Kaka inginkan lahir, kasih sayang ayah terhadap Nisa sangat terasa, Nisa sangat disayang ayah. Bunda berusaha untuk membagi cinta dan kasih sayang terhadap ke dua putri bunda.

Dua tahun kemudian ditanggal 8 Agustus 2007 lahir adik ke 2 kaka, anak ke 3 bunda. Dengan perjuangan yang luar biasa dan rasa sakit mengalami oprasi yang ke 4 kali sangat terasa dengan kelahiran Indie. Alhamdulillah dari sisi ekonomi ayah sudah mapan, sementara bunda terpuruk oleh masalah ekonomi yang sangat riskan.

Athira ,Anisa dan Indie buah cinta bunda, amanah yang dititipkan Allah swt pada bunda. Cinta dan kasih sayang ayah tercurah pada Indie yang lucu dan menggemaskan.
Anak-anak sholehah bunda tumbuh dengan kasih sayang Bunda dan Ayah.

Seiring dengan kematangan pribadi ayah dan bunda banyak mengalami benturan, sedikit ketidak cocokan dan kami berusaha untuk saling Setia, saling menyayangi, saling melindungi dan saling membela.

Athira curahan dan belahan jiwa bunda, jangan khawatir dengan kehadiran ke dua adik yang catik sholehah, sama cantiknya dengan Kaka Athira sholehah. Ayah dan bunda berusaha untuk adil dalam berbagi kasih sayang pada semua anaknya.

Buang jauh kekecewaan kaka, cara ayah menyayangi kaka juga terhadap adik yang lain sama, begitu pula bunda. Ketiganya bunda lahirkan ke dunia dengan ijin dari Allah swt. Alhamdulillah perekonomian bunda berangsur pulih, bahkan dengan ijin Allah swt, bunda banyak pengalaman yang menyenangkan, dirumah maupun dikantor juga bertetangga dilingkungan yang baik, sungguh suatu nikmat dan rijki yang sangat patut bunda syukuri.

Kaka tira, tulisan ini sengaja bunda tulis dengan My love Athira karena bunda sangat menyayangi kaka yang sangat cerdas, dewasa, mandiri juga peduli pada saudara yang yatim.

Berkat d'a Enin dan Abah juga Doa Embah Jakarta, juga do'anya Abah dan Umi juga Do'a Ayah tercinta kita sekeluarga selalu dilimpahi oleh kasih sayang dan cinta yang terpenting selalu mendapat pertolongan Allah yang tak terhingga Subhanallah.

Alhamdulillah Ya Rabb, semua nikmat yang kami semua terima sangat kami syukuri. Lindungi keluarga kami dari siksa api neraka amin. Hamba Mohon keluarga hamba keluarga yang sakinah, mawadah dan wa Rohmah amin.

Bunda percaya Kaka athira dibesarkan dan dikuatkan Allah untuk menghadapi cobaan hidup didunia, dengan berbekal iman dan peta hidup kita semua Al-Quran dan Hadis. Alhamdulillah Ya Rabb.
Read More..

Selasa, 06 April 2010

Alhamdulillah bunda perempuan bahagia



Nanda sholehah semua, bulan april 2010 ini, bunda mendapat rijki yang tak diduga, begitu pula di bulan april 2009 bunda mendapat hadiah dari ALlah swt melalui Bude Ratih dan Pakde Monari juga melalui Abah dan Umi.

Subhanallah, dengan ijin Allah bude dak Pak De, merasa bersyukur atas diterimanya Mas Nano di Perum Angkasa Pura 2 (bandara SUTA), demoga barokah amin. Rejeki yang tak terduga ini dihadiahkan untuk semua anggota keluarga bunda di banjar Melati no. 59 Sedati.
Banyak Hal Allah telah memberi nikmat yang banyak, baik diminta maupun tidak diminta semua ini karena Maha Kayanya Allah swt.

Bahagia dan sedih sama saja nilainya, bunda memilih bahagia bersama ananda sholehah. Berkat Doa Orang tua, Suami yang Sholeh dan nanda yang sholehah semuanya. Banyak hal yang bunda syukuri dalam hidup ini. Betapa berharganya hidup ini. Untuk menanam amal baik, InsyaAllah kelak kita panen diakhirat amin.

Alhamdulillah Ya Rabb, betapa banyak nikmat yang kami sekeluarga terima tak terhingga dan tak terbalas Maha Pengasih dan Penyayang.

Bunda sangat bersyukur menerima semua yang terjadi yang telah diijinkan Allah swt. Semoga Keluarga Abah Umi, Bude Ratih dan semua keluarga Muslim yang seiman mendapat hidayah Allah swt amin. Read More..

Senin, 05 April 2010

Saling menyayangi, saling melindungi, saling membela.



Alhamdulillah, bunda dikelilingi oleh teman-teman yang sholeh dan sholehah. Disaat suka dan duka, kita saling berbagi. Semoga kita semua masuk surga amin.

Tak terasa sudah 1(satu) tahun setengah sejak tanggal 1 september 2008, bunda bergabung dengan segmen 1 di Unit Enterprise 5 Surabaya. Awal yang baik, dengan harapan dan doa dari kedua orang tua, doa suami dan doa ketiga anak sholehah untuk bunda agar bunda dikelilingi oleh Atasan yang sholeh juga teman-teman yang sholeh dan sholehah.

Bunda banyak belajar dari teman-teman yang lebih muda dan semangat dalam bekerja, sayang sama keluarga dan santun terhadap orang tua. Sungguh tepat perusahaan mempunyai motto Hemer's; sangat bunda rasakan kebersamaan dan kebaikan juga nilai spritual yang besar dilingkungan UNER 5. Semoga Allah swt paring barokah amin. Read More..

Jumat, 02 April 2010

APA ITU KESEMPURNAAN ?


Ini kisah pertemuan kembali dua sahabat yang sudah puluhan tahun berpisah. Mereka merindukan satu sama lain. Mereka bercerita, bersenda sambil minum kopi di sebuah café'. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.

"Mengapa sampai sekarang kau belum menikah?" Ujar Latif kepada temannya Borhan yang sampai sekarang masih membujang.

"Hmmm...sebenarnya sampai sekarang ini aku masih belum bertemu dengan seorang wanita yang sempurna. Itulah sebabnya aku masih membujang. Dulu waktu aku bekerja aku berjumpa dengan seorang wanita yang cantik dan bijak. Aku fikir itulah wanita yang ideal untuk aku dan sesuai dijadikan isteri."

"Namun tidak lama selepas mengenalinya..ketika hubungan semakin dekat baru aku tahu dia sebenarnya amat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ"

"Setelah itu aku bertemu seorang perempaun yang cantik jelita, ramah dan dermawan. Pada pertemuan pertama aku begitu takjub. Jantungku berdenyut kencang dan ketika itu aku pun berfikir bahwa inilah wanita idealku. Namun selepas mengenalinya dengan lebih dekat baru aku tahu banyak tingkahlakunya yang tak baik dan tidak bertanggung jawab.?

"Kemudian, aku bertemu dengan seorang wanita yang manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan bila diajak berbicara. Selalu menyambung pembicaraan kami dan penuh humor. Tapi terakhir aku ketahui ia dari keluarga yang berpecah belah dan selalu meminta di luar kemampuan. Akhirnya kami berpisah."

"Aku terus mencari, namun sering mendapati ada kekurangan dan kelemahan pada setiap wanita yang aku temui. Hingga pada suatu hari, aku bertemu dengan wanita ideal yang aku dambakan selama ini. Dia begitu cantik, pintar, baik hati , dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan menyayangi orang lain. Aku fikir inilah pendamping hidup yang dikurniakan oleh Tuhan untuk aku..."

"Kemudian bagaimana?" kata Latif tidak sabar melihat Borhan diam seketika.

" Apa yang terjadi? Bagaimana hubungan kau dengan dia sekarang?" tanya Latif lagi sewaktu mendapati Borhan terus diam.

Kemudian....Borhan bersuara perlahan, "Sebenarnya beberapa hari lalu baru aku mengetahui bahwa wanita itu juga sedang mencari seorang lelaki yang sempurna..."


Faham dengan apa yg tersirat di atas?

No body's Perfect!
Jangn menyia-siakan siapapun yang ada di hadapan kita.
Belum tentu kita akan mendapat lebih baik daripada apa yang kita ada sekarang.

Kalau kita mahu mencari kesempurnaan,
cermin dahulu diri, apakah sudah sempurna di mata org lain.

Wahai Lelaki, luruskan wanita dengan jalan yang ditunjukkan Allah.
Didiklah mereka dengan panduan daripada-Nya.

Jangan coba jinakkan mereka dengan harta,
karena nanti mereka semakin liar.

Jangan menghibur mereka dengan kecantikan,
karena nantinya mereka yang semakin menderita.

Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal?
karena di situlah puncak kekuatan dunia.

Akal wanita setipis rambutnya,
tebalkan ia dengan ilmu.

Hatinya serapuh kaca,
kuatkanlah dengan iman.

Wanita tanpa iman, ilmu dan akhlak
mereka tidak akan lurus bahkan membengkok.

Bila wanita durhaka,
dunia lelaki akan huru-hara.

Lelaki pula janganlah mengharapkan ketaatan?
tetapi binalah kepimpinan.

Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Ilahi,
pimpinlah diri sendiri kepada-Nya.

Jinakkan diri kepada Allah,
niscaya jinaklah segala di bawah pimpinanmu.

Jangan mengharapkan isteri semulia Fatimah Az-Zahra,
seandainya peribadi tidak sehebat Sayidina Ali Karamallahu Wajhah.....
Begitu jugalah sebaliknya.

Oleh : Ratih Purnama

Read More..

Kamis, 18 Maret 2010

Nikmatnya punya banyak teman baik. Alhamdulillah.




Alhamdulillah, dengan teman-teman yang positif thinking selalu menyenangkan menempuh perjalanan. Dibelahan bumi manapun pertolongan Allah selalu bunda dapatkan. Subhanallah.

Nanda tira, Nisa Indie juga Mbak Min yang bunda tinggalkan, Alhamdulillah dengan pertolongan Allahlah bunda dapat ke luar negeri untuk yang pertama kali dalam hidup bunda diusia bunda yang ke 46 tahun. Sungguh sangat bunda syukuri atas semua nikmat yang telah diberikan Allah terhadap bunda, baik yang diminta maupun yang diberikan tanpa diminta sangat banyak dan Subhanallah tak terhitung dan tak terhingga.

Tadi pagi, nanda tira sempat bertanya:"Bunda orang-orang yang keluar negeri pergi berkali-kali, baik untuk ibadah ataupun berwisata liburan pasti banyak uangnya Ya?"
InsyaAllah semua itu bukan faktor banyak uang atau tidak banyak uang tira, semua ini bisa terjadi dengan Ijin Allah swt. Manusia wajib berusaha kerja keras, ibadah tiada henti dan berdoa sepanjang masa. Juga pantang putus asa dalam berusaha.
Dalam Al-Quran diajarkan untuk sabar dan sholat, juga setelah selesai satu urusan maka lanjutkan dengan urusan yang lain.InsyaAllah dengan jujur dalam berusaha akan mendapatkan barokah amin.

Sebaik-baiknya manusia adalah beriman, sehat kuat dan banyak manfaatnya untuk manusia yang lainnya. Bunda percaya anak-anak bunda akan lebih hebat dan luar biasa daripada bunda dalam segala hal. Yang Utama rajin mengaji dan mengamalkan isi Al-Qur'an InsyaAllah apalagi sampai hapal Al-Quran sampai 30 juz bisa jadi bekal anak-anak bunda mendapatkan dunia dan seisinya sudah janjinya Allah swt. Jangan sampai tertipu oleh tipu daya dunia yang hanya sesaat dan akan membuat nanda sesat karena mengikuti hawa nafsu setan.

Nanda sholehah, yang bunda cintai,sayangi. Sangat besar syukur bunda atas kelahiran nanda, semoga menjadi teladan Ahlaq dan Aqidah Islam sesuai teladan kita semua putri kesayangan Rosulullah s a w. Fatimah amin.

Bunda banyak belajar dari teman-teman bunda yang sholehah, Mbak Endah Murdaningsih, Mbak Hajah Rosnida yang peduli dan banyak menolong bunda memberi pencerahan dengan pengetahuan dan mengalaman mereka dalam bekerja dan perjalanan ke luar negeri.
Terimakasih juga pada Mbak Nurul, istri dari Mas Trenggono, Mbak Evi istri dari Pak Andi juga Mbak Endang istri dari Mas Bambang Mul. Semua kebaikan Mbak2 semua semoga mendapat balasan dari Allah swt berlipat ganda amin. Read More..

Togetherness



Alhamdulillah Ya Rabb, hamba sampai juga ke negeri china bagian utara. Dengan segala keterbatasan hamba yang tiada daya dan tiada upaya selain dengan ijin Allah swt, hamba sampai ke negeri China.

Subhanallah, Allahu Akbar......, semoga hamba sampai ke negeri haram, dengan segala kekurangan dan dosa-dosa hamba yang sangat banyak ijinkan hamba mennyucikan diri di Rumah Allah. Mekah dan Madinah beribadah Umrah dan Haji Amin. Read More..

Kamis, 25 Februari 2010

Nanda Sholehah yang rajin ibadah



Nanda sholehah tercinta, bunda berterimakasih atas semua kebaikan nanda sholehah, kelucuan dan hiburan yang tak pernah ada hentinya

Read More..

Kutitipkan Nanda sholehah pada Allah swt.


Nanda sholehah tercinta, bunda berterimakasih atas semua kebaikan nanda sholehah, kelucuan dan hiburan yang tak pernah ada hentinya. Tawa ceria, canda dan jerit tangismu bunda rindukan.

Alhamdulillah Ya Rabb, titipan amanah yang di titipkan pada ayah dan bunda sungguh sangat berharga dan tak ternilai oleh apapun jua. Maha Pengasih dan Maha Penyanyang Ya Rabb yang telah menghadirkan 3 nanda sholehah di antara ayah dan bunda.

Setiap hari kerja bunda tinggalkan engkau di rumah bersama Mba dan bude yang bergantian mengasuhmu, Alhamdulillah dari mulai Mbak Ima dan beberapa mbak dan bude yang meramut nanda di Sedati, dan saat ini Mbak Min seorang membantu bunda meramud ke 3 nanda yang cantik sholehah.

Setiap hari selalu bunda panjatkan doa, Pada Allah swt, agar nanda yang cantik sholehah selalu disayang Allah swt. Read More..

Rabu, 20 Januari 2010

Impian ananda sholehah




Athira impiannya akan sekolah di Al Azhar Kairo Mesir, menjadi anak sholehah disayang oleh Allah swt dan kedua orangtuanya dan semua saudaranya amin.

Juga sangat rindu ingi bertemu dengan nabi Muhammad saw. Berusaha belajar Al-quran dan dapat menghapal dan mengamalkan isi Al quran amin. Bunda selalu mendo'kan setiap langkah ananda selalu dalam lindungan Allah swt amin.

Berusaha mendisiplankan diri dengan melatih sholat secara teratur, senang berbagi dengan saudara dan teman-temannya. Subhanallah, bunda sangat tersemangati oleh kegigihan Athira dalam menghadapi persoalan hidup Bunda.

Nanda athira bunda percaya, segala jerih payah, perjuangan dan doa nanda akan menemukan jalannya dengan ijin dari Allah swt amin. Harapan bunda semoga nanda menjadi orang yang banyak manfaatnya bagi saudara seiman dan selalu berdakwah dengan amal perbuatan yang baik dan selalu menjadi perhiasan yang menyenangkan bunda amin.

Dalam suka dan duka selalu ceria, menjadi teladan buat adik-adiknya. tegas dan cerdas dalam menyelesaikan semua persoalan. Rendah hati dan pantang menyerah dalam segala situasi amin.

Ananda Athira, bunda berpesan, berpegangteguhlah di jalan Allah InsyaAllah hidup nanda akan selamat, jangan tergoda oleh permainan dunia yang fana, kita hidup hanya sementara, bekal amal perbuatan yang baiklah yang akan menyelamatkan kaka kelak amin.

Maafkan bunda kaka Athira atas keterbatasan bunda sebagai manusia, trimakasih Kaka atas kepedulian kaka Athira pada setiap permasalahan yang kita hadapi bersama itulah yang membuat kita dikuatkan oleh Allah swt amin. Kuncinya hanya bersabar ketika ditimpa musibah yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Banyak bersyukur telah banyak kenikmatan yang kita dapatkan dari Allah swt pada keluarga kita.

Alhamdulillah atas kelahiran kaka Athira menjadi anugrah terindah dari Allah swt anak bunda yang sholehah, disusul oleh Mbak Anisa juga Teteh Indie Barrah yang lahir kemudian setelah kaka Athira.

InyaAllah dengan pertologan dari Allah swt, yang selama ini telah banyak pertolongan Allah swt yang keluarga kita terima semakin menguatkan iman keluarga kita amin.
Terimakasih kehadiran Mbak mien juga menjadi bagian dari keluarga kita, juga kasih sayang yang tulus kaka Athira berikan pada adik sepupu Kaka athira yang yatim Ayuning Bestari dan Tristan Bagas, bunda juga doakan pada ke dua keponakan bunda Baga dan ayu menjadi anak yang sholeh dan sholehah juga kelak menjadi orang yang sukses dunia akhirat amin.amin Ya Rabb. Read More..

Senin, 14 Desember 2009

Alhamdulillah Makasih Mbak MIN



Subhanallah, Alhamdulillah Ya Rabb Engkau hadirkan Mbak Min ditengah-tengah keluarga kami semoga menambah barokah amin. Read More..

Senin, 23 November 2009

Berhenti Menjadi Pengemis


Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjagajaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, kuberi, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang ke sekian. Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.
Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami samasama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancangancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

"Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya Diding Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

"Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cumacuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?" terang Diding.

Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang seratus ribu itu hanya pinjaman?" "Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis.

Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu memintaminta lagi," katanya. Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya memintaminta.
Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gadogado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gadogado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lainlain. Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersamasama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gadogado, pikirku.

***
Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gadogado itu. Selain untuk mengisi perutnya dengan tetap membayar ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gadogado itu. Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gadogado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gadogado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. "Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat."

Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab.
Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gadogado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti memintaminta.
Read More..

EKSPRESI KEJUJURAN


Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur…….

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Orang paling kejam didunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah Anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya…

Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita berjalan lancar.

Sekarang, beralihlah…
Lihatlah ibunda Anda yang sedang tidur…
Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu, kini kasar karena tempaan hidup yang keras.Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita…


Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

Cobalah tatap wajah orang-orang tercinta itu…
Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya… Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan saat menatap wajah yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya
pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.

Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.
Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.

Tanpa kata, tanpa suara dia berkata…

“betapa lelahnya aku hari ini”.

Dan penyebab lelah itu?
Untuk siapa dia berlelah-lelah?
Tak lain adalah untuk kita.
Suami yang bekerja keras mencari nafkah, Istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, mengatur rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka saat mereka tertidur. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya…

Ya Allah ya Ghaffar…

Muliakanlah Ibu dan bapak kami…
Muliakanlah pula istri/suami dan anak-anak kami…
Muliakanlah kakak dan adik kami…kakak dan adik ipar kami…
Muliakanlah keponakan-keponakan kami…
Muliakanlah mereka dan kami di dunia dan akhiratMu…

Ya Allah ya Rahmaan…
Ijinkanlah kebersamaan yang telah kau berikan di dunia ini bersama mereka,
Engkau kekalkan di akhirat nanti…
Ijinkanlah kami masuk ke dalam Jannah-Mu kelak

“manusia yang biasa dan berharap menjadi sebaik-baik manusia di hadapan tuhannya”
#salman al muhandis
Read More..

Jumat, 23 Oktober 2009

Kapan boleh masuk prasekolah?


Pada dasarnya, kesiapan setiap anak tuh berbeda-beda. Untuk taman kanak-kanak, kesiapan dinilai dari kemampuan anak mengenal warna, beberapa huruf, menghitung sampai 10, bermain secara kooperatif dengan anak lain, mengerjakan instruksi yang agak kompleks sifatnya, berkonsentrasi dan menaruh perhatian, bisa duduk untuk waktu agak lama, serta mampu menyesuaikan dalam kegiatan rutin harian di sekolah. Juga, anak bisa memahami cerita, memakai baju sendiri, mau terpisah dari orangtua untuk waktu agak lama, bisa mengkomunikasikan keinginannya, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jika si kecil kelihatannya belum terlalu siap, bantulah dan diskusikan dengan para guru.

Untuk batita, sekolah yang sesungguhnya adalah sosialisasi, interaksi, memahami dunia di luar rumah, mengenal lingkungan lebih luas, dan mengenal orang lain (selain orangtua dan saudara sekandung). Konkritnya, yang dibutuhkan anak adalah bersosialisasi dengan teman sebaya serta mengenal alam luar. Hal ini tidak perlu dilakukan di sekolah bukan?

Yang terpenting, selama anak belum bersekolah, ‘persiapkan’ dengan beberapa hal berikut:


* Bacakan buku setiap hari dan rangsanglah untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan dongeng yang diceritakan.

* Kunjungi museum, perpustakaan, taman, kebun binatang, kebun teh, sawah, dan tempat lain, dimana anak bisa ’belajar’ mengenal dunia.

* Miliki kamus anak dan usahakan agar perbendaharaan katanya meningkat setiap harinya dengan cara menguasai 1-2 dua kata baru.

* Sediakan buku sesuai usianya. Ia bisa membuka, melihat dan ‘membaca’ sendiri.

* Batasi menonton TV, sebab ini bukanlah kegiatan yang interaktif!

* Rangsanglah anak untuk mengajukan banyak pertanyaan seputar dunia di sekelilingnya.

* Ciptakan suasana ‘belajar’ yang fun. Jangan tuntut anak untuk duduk, menghapal dan ‘menulis’ di buku ya.

Menilai pengasuh anak

Bila Anda berada di kantor, mungkin berulang kali pikiran Anda melayang ke rumah, apakah si kecil baik-baik saja? Bisakah susternya dipercaya?

Untuk mengurangi kekhawatiran Anda, cobalah mencermati hal-hal berikut:

Ajak si kecil bicara.
Bila anak sudah bisa diajak ngobrol, obrolan santai bersamanya bisa memberikan sinyal. Anda mungkin bisa bertanya padanya, “Adik ngapain saja di rumah hari ini? Main ke mana saja? Nangis nggak, tadi? Ada yang adik nggak suka?” Untuk si bayi, perhatikan apakah dia lebih sulit ketika Anda harus berpisah dengannya saat berangkat ke kantor.

Amati saat si kecil bersama pengasuhnya.
Bahkan bayi pun bisa tersenyum dan langsung merangkak menghampiri bila dia menyukai seseorang. Bila anak Anda sedang ngambek atau menolak, bisakah si pengasuh membujuknya? Bagaimana dengan kejujurannya, apakah dia berterus terang jika terjadi sesuatu dengan anak Anda, termasuk bila si kecil susah makan hari itu? Apakah dia hanya sebatas melapor tanpa berusaha memecahkan masalah lebih dulu?

Catat perkembangan si kecil.
Bila anak tak bahagia, besar kemungkinan mereka bisa mengalami kemunduran. Kalau si kecil sudah bisa pipis sendiri di toilet tapi sekarang tiba-tiba sering mengompol di celana, mungkin saja dia sedang mengalami masa-masa sulit.

Periksa apakah berat badan anak terjaga dengan baik.
Sesuai umurnya berat badan anak seharusnya juga ikut bertambah. Bila berat badan anak mengalami penurunan, mungkin Anda perlu waspada apakah pengasuhnya telah memberikan asupan makanan yang dibutuhkan si kecil dengan baik.

Perhatikan perilaku si kecil.
Apakah bayi Anda lebih rewel daripada biasanya? Bila hal itu berlangsung terus menerus selama berminggu-minggu berikutnya, Anda mungkin harus berbuat sesuatu, termasuk mengganti pengasuh anak bila perlu. Perbedaan signifikan yang terjadi pada kebiasaan makan, tidur, dan tingkah lakuk di luar kebiasaan juga mensinyalkan adanya masalah. (MS)
Read More..

Kenapa menangis, sayang?


Bila anak mudah menangis
Meski sudah kelas satu SD, Eka (7) masih sering menangis. Ibunya, Rani, kerap heran karena hal-hal sepele pun bisa membuat Eka berlinang air mata. Tak menemukan buku pelajaran yang dicari, sedikit bertengkar dengan adik, atau menonton adegan sedih di sinetron hanya sebagian dari hal-hal yang memicu air mata Eka.

Anak-anak memang sering menangis. Sebelum mencapai usia 12 tahun, pola menangis anak laki-laki dan perempuan kurang lebih sama. Sesudah itu, anak perempuan umumnya menangis lebih sering. Hal itu dipercaya terjadi karena pengaruh hormon kedewasaan selain juga karena pengaruh lingkungan sosial. Tapi, boleh-boleh saja, kok, anak laki-laki atau bahkan pria dewasa menangis.


Ketika masih kecil, anak lebih sering menangis karena itulah cara dia berkomunikasi. Setelah makin pintar bicara, tentu seharusnya dia makin jarang menangis. Tapi, kalau dia masih tetap suka menangis setelah makin besar, hati-hatilah. Siapa tahu itu justru terjadi karena sikap Anda, yang secara tak sengaja membuat ia jadi ’cengeng’. Bereaksi berlebihan ketika dia luka, misalnya, akan membuat dia justru menangis makin keras.

Selain itu, mungkin saja anak Anda memang tergolong anak yang sensitif. Sama seperti sifat pemalu, atau pemberani, sifat sensitif seringkali merupakan bawaan sejak lahir. Jadi, apapun alasan anak Anda, menangis tak selalu jelek, kok. Menurut penelitian, tangisan membantu seorang anak menurunkan zat-zat kimia yang diproduksi otak ketika stres. Tak heran kalau penelitian juga membuktikan bahwa orang-orang yang menangis lebih sehat secara fisik maupun emosi dibanding orang yang tidak menangis.

Nah, untuk membantu mengurangi tangis anak Anda:
Cobalah lebih peka terhadap sifatnya yang sensitif. Jangan merespon dengan menertawakan, karena akan membuatnya merasa berbeda dari anak lain. Cobalah memahami dan menanggapinya dengan empati.
Kembangkan rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri yang rendah bisa memicu sensitivitas yang lebih besar dan membuat dia lebih sering menangis. Pastikan Anda tak menuntut terlalu banyak dari dia, atau meminta sesuatu dari dia yang melebihi kemampuannya.
Bersikaplah wajar bila ia menangis. Tak perlu memberi perhatian berlebih, tapi juga jangan memarahinya. Sebaiknya, alihkan perhatiannya ke hal-hal lain agar air matanya mengering.
Berhati-hatilah bila bicara dengannya. Bila Anda harus menegur, lakukan dengan bijak. Hindari kata-kata pedas yang bisa menyakiti hatinya. Ada baiknya melontarkan kritikan padanya setelah mendahuluinya dengan pujian. (JC)



Read More..

Semangkuk bakmi panas


kisah hikmah kasih sayang IBU)

Anak pemalas, kasih ibu, si malaikat, anak durhaka, cintai ibu, cintailah kedua orangtua kamu, sayangi ibu

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan
semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”
Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku
telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

RENUNGAN:
BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
Read More..

Sholatlah Dengan Tuma’ninah


Peristiwa Isra’ Mi’raj yang baru saja berlalu meninggalkan 1 perintah untuk mendirikan ibadah yang begitu istimewa. Yak, ibadah tersebut adalah sholat (sedikitnya) 5 waktu, sebagai sarana komunikasi seorang muslim dengan Sang Khalik.

Seperti kita ketahui bersama, sedemikian istimewanya ibadah sholat ini, sehingga ALLOH SWT mesti ‘mendatangkan’ Rasululloh SAW untuk bertemu dengan-Nya langsung untuk menyampaikan ibadah ini. Tidak seperti ibadah-ibadah lain yang disampaikan melalui Jibril sebagai perantara, melalui ibadah sholat ini ALLOH SWT seakan ingin menunjukkan agar manusia menaruh perhatian khusus pada ibadah ini.

Terlebih seperti yang sudah sering kita dengar, sholat merupakan ibadah (hal) pertama yang ditanyakan di hari akhirat kelak. Jika sholatnya baik, maka ibadah lainnya pun akan baik. Sebaliknya, jika sholatnya buruk, maka ibadah lain pun akan buruk. “Amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka sungguh dia telah berbahagia dan selamat. Dan apabila jelek shalatnya maka dia telah binasa dan merugi” (HR. Baihaqi)


Perhatikan juga hadits berikut. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasululloh saw., beliau bersabda : “Sesuatu yang pertama kali diperhitungkan pada hamba adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya. Jika tidak (sempurna) maka ALLOH Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Lihatlah apakah hambaKu mempunyai (shalat) sunat ?”. Jika kedapatan padanya (shalat) sunat, maka ALLOH berfirman : “Sempurnakanlah fardhu itu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari sekian banyak hal tentang sholat, kali ini saya (terutama) ingin mengingatkan diri sendiri mengenai sholat yg tuma’ninah.

Apakah sholat yg tuma’ninah itu?

Tuma’ninah dalam sholat adalah gerakan sholat yang sempurna, di beberapa bacaan dituliskan tuma’ninah sebagai hal yg rileks. Pengertian saya, tuma’ninah adalah tindakan menyempurnakan gerakan sholat dengan kondisi yang rileks.

Lho, sholat kok malah rileks?

Jadi begini, saat ini banyak di antara kita yang sholat dengan gerakan yang tergesa-gesa. Sholat menjadi gerakan tanpa arti, bahkan malah berkesan sebagai gerakan senam. Padahal Rasululloh SAW sudah menjelaskan dalam hadits,“Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan kata lain, sholatlah dengan tenang. Berikut ini adalah penjelasan saya mengenai tuma’ninah yang MESTI DILAKUKAN PADA SAAT SHOLAT.

1. Jika ruku’, maka posisi badan mestilah benar-benar hingga membungkuk (dari beberapa tulisan, saya pernah baca, ruku’ yg ‘benar’ adalah jika anda merasakan adanya tarikan otot di kaki anda).

2. Pada saat i’tidal, hendaknya berdiri hingga posisi berdiri anda sudah benar dan dalam kondisi rileks (tidak tegang).

3. Ketika sujud, dahi benar-benar menempel (dan sedikit ditekan, dari beberapa referensi yang saya baca) pada tempat sujud. Kemudian punggungnya mesti dalam keadaan rileks (saya baca ada 2 posisi rileks untuk punggung dalam kondisi sujud, yakni melengkung ataupun ‘dibuat lurus’).

4. Duduk usai sujud, posisi anda benar-benar sudah ‘tenang’, tidak gelisah mengubah-ubah posisi.

Demikian sekelumit gerakan tuma’ninah yang saya ketahui berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca.

Dengan gerakan tuma’ninah, sholat akan memakan waktu (normalnya) sekitar 10-15 menit. Namun, seringkali saya temui orang sholat dengan waktu kurang dari 5 menit untuk sholat Dhuhur, Ashar, dan Isya, yang jumlah raka’atnya sebanyak 4 raka’at. Padahal kita baru bahas mengenai tuma’ninah, belum ke bagian khusyu’.

Mari kita benahi sholat kita, minimal dimulai dengan gerakan yg tuma’ninah. Semoga ibadah sholat kita diterima ALLOH SWT. Aamiin.
Read More..

Rabu, 07 Oktober 2009

Alhamdulillah Ya Rabb


Subhanallah Maha Suci Allah swt, telah banyak memberi nikmat pada keluarga kami. Athira sudah tumbuh dibesarkan Allah dengan berbagai macam pengasuh yang keluar masuk di rumah sedati. Setelah 5 tahun mbak Ima menemani bunda dalam suka dan duka. Alhamdulillah pertolongan Allah pulalah yang telah meringankan pekerjaan bunda di rumah. Kehadiran Mbak Min dari Bojonegoro.


Alhamdulillah setelah Tira lahir 5 tahun kemudian nanda sholehah yang cantik Anisa kemudian 2 tahun kemudian lahirlah nanda sholehah yang cantik juga ananda Indie, sudah lebih dari cukup kebahagiaan yang bunda dapatkan dari Allah swt. Read More..

Selasa, 01 September 2009

Seberapa menarikkah?


Bulan Ramadhan adalah bulannya ibadah. Apapun telah tersedia untuk mewujudkannya. Bukankah ada shalat sunat yang khas Ramadhan untuk menjawab kebutuhan Anda akan tambahan jenis ibadah shalat, yakni tarawih. Ada tambahan amal harta di bulan Ramadhan, yakni zakat fithrah. Ada momentum sangat spesial di 10 hari terakhir Ramadhan dalam perburuan malam lailatul qadr dengan ‘itikaf. Ada malam nuzulul Quran sebagai penguat keutamaan membaca kitab paling mulia. Dan tentu saja ada puasa wajib Ramadhan yang membuat segala sesuatunya menjadi sangat berbeda.

Cukup? Belum. Karena manusia pada dasarnya memiliki sifat pamrih, maka khusus bulan Ramadhan semua kompensasi berlipat-lipat. Standard kompensasi sunnat dinaikkan menjadi setara dengan kompensasi utama, wajib. Bagaimana dengan sistem kompensasi wajib? Tentu saja dinaikkan berkali-kali lipat. Saking tingginya, biarlah Allah Swt saja yang menentukannya. Seperti kenaikan gaji yang sangat khusus, diperlukan kebijakan khusus non reguler dari pemilik kewenangan tertinggi. Demikianlah dengan kompensasi puasa, biarlah menjadi rahasia antara yang berpuasa dengan Yang Maha Menguasai. Subhanallah, Mahasuci Allah Swt yang demikian Berkasihsayang pada
makhluk-Nya.


Tapi apakah itu semua cukup? Untuk segelintir orang, entahlah.

Pada hari ketiga Ramadhan pukul 16.30, saya melihat tiga pemuda tanggung dengan dandanan jauh dari kesan perlente sedang menghisap rokok di perempatan gang yang sangat ramai di Cicadas - Bandung. Ketiga pemuda dengan muka kusam tak terawat itu seolah sedang memamerkan dirinya bahwa “Lihatlah kami yang gagah ini. Kami sangat bangga tidak berpuasa. Mengapa pula kalian bersusah-susah menahan lapar, haus, dan tidak merokok. Bodoh sekali kalian.
Mengapa kalian tidak seperti kami, tidak berpuasa. Menghormati orang berpuasa? Huh, tidak. Kamilah yang lebih hebat!” Ketika saya dan anak usia prasekolah saya yang sedang belajar berpuasa melewatinya, mereka nampak angkuh melihat anak saya yang berjalan gontai tak bertenaga. “Abi, kenapa Kak Ahmad, Kak Rahmat, dan Kak Sidik itu merokok? Bukankah belum adzan maghrib?”

---

Kata Pak Mario Teguh, motivasi itu adalah target yang bergerak. Akan selalu diperlukan cara tertentu yang tepat sesuai dengan kondisinya. Sesuatu yang sangat membuat Anda termotivasi hari ini, bisa jadi esok hari adalah hal biasa saja.

Motivasi atau alasan, ada dalam ranah persepsi atau pikiran. Jika suatu alasan dipersepsikan sangat menarik, maka dia akan menjadi energi pendorong yang luar biasa. Mungkin bagi Anda, disebut takwa oleh Yang Maha Pencipta sangat menarik. Tapi mungkin bagi ketiga pemuda tadi, ‘terlihat gagah tidak berpuasa di depan khalayak’ jauh lebih menarik daripada gemerlap kemewahan surga, kesyahduan disambut-Nya, serta terhindarnya dari gemeratak nyala api abadi neraka. Who knows?

Sahabat, seberapa menarikkah beribadah di bulan Ramadhan bagi Anda?By Syarif Niskala
Read More..

Nilai Sebuah Kehidupan


Entah siapa yang memberitahunya alamat saya, ia tiba-tiba sudah berdiri di
hadapan saya. Seorang sahabat lama yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah
bertemu, perawakannya tidak ada yang berubah mulai dari cara bersisirnya hingga
cara berpakaiannya. Bahkan jika saya tidak salah ingat, pakaian yang dikenakannya saat itu adalah pakaian sehari-hari yang saya lihat sepuluh tahun yang lalu. ia bersepatu, tetapi saya tak sanggup menatap lama-lama sepatunya itu, hanya karena khawatir ia tersinggung jika saya menatapnya lama. Sebuah tas gemblok lusuh menempel di punggungnya, selusuh celana panjang yang warna hitamnya sudah memudar.

Sebut saja Mino, ia langsung membuka tangannya berharap saya memeluknya sama
hangatnya seperti dulu setiap kali kami bertemu. Tentu saja saya menyambut haru
tangan terbukanya itu, kami pun berpelukan hangat dan cukup lama. Aroma matahari cukup menyengat dari tubuhnya tak membuat saya ingin melepaskannya, semerbak kerinduan diantara kami telah mengalahkan segalanya. Mino, lelaki seusia saya itu bergetar hebat meski hanya beberapa menit kami berpelukan, saya merasa ada tetesan air di pundak saya. “Sudah jadi orang hebat sahabatku ini rupanya…” bibirnya bergetar.

Setelah berbicara sedikit tentang perjalanan masa lalu, saya agak iseng menanyakan keluarganya. Mino langsung tertegun, membuat saya merasa bersalah melepaskan pertanyaan itu. Bibirnya seperti hendak bergerak mengatakan sesuatu, tetapi yang terdengar hanya gumaman yang tak jelas. “Maaf jika saya menyinggung perasaanmu…” kalimat saya dipotong cepat, “Ooh tidak, tidak apa-apa…”


Beberapa detik kemudian saya mampu membaca pikirannya, “Apa yang bisa saya bantu No?” Wajahnya sumringah mendadak, senyum yang sudah lama tak pernah saya lihat, yang saya lihat terakhir kali sepuluh tahun lalu itu. Sambil menepuk pundak saya ia pun berseloroh, “Orang sukses seperti kamu pasti bisa membantu saya untuk keluar dari persoalan kehidupan ini…”

Saya mendengarkan kisahnya, tentang usaha reparasi komputernya yang bangkrut sehingga ia menjalani hari-hari tanpa penghasilan sepanjang hampir tiga tahun.
Tentang hidupnya yang terus nomaden karena tak sanggup membayar biaya kontrakan, kontrakan terakhirnya yang ia tempati saat ini pun sudah menunggak tiga bulan dan diberi ultimatum satu bulan lagi untuk segera melunasinya. Belum lagi soal biaya masuk sekolah untuk anaknya yang sama sekali tak ia sanggupi.

Dalam benak saya, “Mungkin ia akan meminjam atau meminta bantuan sejumlah uang
yang cukup besar”. Kadang saya berlaku sok pahlawan, ingin membantu seseorang
walaupun kondisi sering tidak memungkinkan untuk membantu maksimal. Namun rupanya dugaan saya salah, Mino hanya meminta sedikit dari yang saya kira, itupun meminjam. “Saya mau pinjam uang dua puluh ribu, bolehkah?” tanyanya hati-hati, mungkin ia khawatir saya tak bisa meminjaminya.

Saya tersenyum, dua puluh ribu tentu saja bukan lagi pinjaman. Dalam kebiasaan
saya, yang namanya pinjaman itu nilainya bisa sampai jutaan. “Begini No, kalau
dua puluh ribu saya tidak mau meminjamkannya, tapi saya akan memberikannya kepadamu… ikhl…” saya batalkan menyebut kata ini. Bahkan saya memberi lebih dari yang dimintanya, meski kemudian Mino bilang bahwa yang saya berikan itu statusnya tetap pinjaman. Saya bilang, “itu pemberian” dia bilang, “ini pinjaman”, saya menyudahi perdebatan soal status itu dengan menyerah pada kegigihannya untuk tetap “meminjam”, bukan “meminta”.

Dua bulan sudah saya tak mendengar kabar darinya. Entah apa yang bisa dilakukannya dengan uang yang tak seberapa itu. Hingga beberapa hari lalu, saya mendapat pesan singkat dari seseorang, “Saya ingin kembalikan lima puluh ribu yang saya pinjam tempo hari”. Saya bingung siapa yang mengirim pesan singkat tersebut karena namanya tidak tertera, setelah saya tanya siapa yang mengirimnya, terkirim lagi satu pesan singkat, “Ini Mino, maaf tidak bisa balas sms lagi soalnya pakai hape teman”.

Saya putuskan untuk menelepon langsung nomor tersebut dan berbicara dengannya. Saya sudah katakan bahwa uang itu bukan pinjaman, tetapi hadiah. Namun ia tetap bersikeras ingin mengembalikannya. Cerita ia, hari itu juga setelah mendapat uang dari saya ia langsung membeli satu dus air mineral untuk dijual satuan. Habis satu dus, ia membeli lagi, dijual lagi dan begitu seterusnya. Sehingga satu bulan kemudian ia punya sedikit uang untuk dijadikan modal berdagang ala kadarnya. Tidak hanya itu, ia pun terselamatkan dari usiran pemilik kontrakan karena mulai bisa menyicil biaya kontrakan yang tertunggak. “Alhamdulillaah, saya masih punya sahabat yang memerhatikan…” ujarnya dari seberang telepon.

Ingin sekali saya bertemu lagi dengan sahabat saya itu, kali ini saya akan memeluknya lebih lama dan lebih erat meski saya tahu aroma mataharinya lebih
menyengat dari yang saya reguk sekitar dua bulan lalu. Hati ini jelas berbunga-bunga, ada haru yang terus menyelimuti dinding-dinding jiwa ini selepas pembicaraan di telepon itu. Masih terngiang di telinga saya ketika ia hanya ingin meminjam dua puluh ribu rupiah, jauh dari dugaan saya sebelumnya. Namun dua puluh ribu yang ingin ia pinjam itu adalah sebuah nilai kehidupan bagi seorang Mino.

Dua puluh ribu rupiah, bagi sebagian kita hanyalah senilai sebungkus nasi di warung padang saat makan siang. Tetapi bagi orang seperti Mino adalah kehidupan panjang bagi ia, isteri dan dua anaknya. Dua puluh ribu bagi sebagian kita tidak cukup untuk uang jajan sehari anak-anak kita, namun bagi Mino berarti senyum panjang isteri dan anak-anaknya. Dua puluh ribu rupiah yang bagi sebagian kita sering dianggap recehan, namun bagi seorang Mino adalah nilai kehidupannya yang sangat berarti.

Sahabat, tahukah arti dua puluh ribu rupiah miliki Anda? (Bayu Gautama/Gaw)

Read More..

Sabtu, 01 Agustus 2009

Kebiasaan Baik


Ada seorang laki-laki yang mengidap susah tidur. Bahkan sudah berhari-hari tidak bisa tidur, akhirnya memutuskan datang ke dokter untuk berobat. Sang dokter menyarankan agar pasiennya menghitung satu sampai sepuluh, lalu ulangilah berkali-kali sampai bapak merasa ngantuk berat tak tertahankan. Begitulah dokter menyarankan.
Namun yang terjadi bapak itu malah tetap juga tidak bisa tidur. Bahkan dokter itu bilang, keadaan bapak malah lebih parah daripada yang sebelumnya. Kenapa bisa begitu pak, tanya sang dokter.

Benar pak, saya sudah mengikuti saran pak dokter, tetapi setiap hitungan ke delapan saya selalu melompat dari tempat tidur.

Loh, kok bisa begitu? Tanya sang dokter.

Iya pak, karena saya ini seorang petinju, jawab sang pasien...

Barangkali begitulah kita, senantiasa dibentuk oleh kebiasaan. Menurut Stephen Covey dalam buku Seven Habit, manusia pada dasarnya dibentuk dari perilaku kebiasaan sehari-hari. Bila yang dilakukan baik maka akan mengendap dalam alam bawah sadar, terlihat dari perilakunya maupun ucapannya. Sama seperti halnya petinju yang susah tidur yang disuruh berhitung satu sampai sepuluh oleh dokter maka hitungan yang kedelapan langsung loncat dari tempat tidur karena alam bawah sadar dirinya sedang berada diatas ring.

Itulah sebabnya Baginda Nabi Muhamad selalu menyarankan agar kita selalu berbuat baik dan juga berkata baik. Bila tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa berkata baik hendaknya diam saja agar kita menjaga diri dari perbuatan ataupun perkataan yang menyakiti orang lain karena nanti akan menjadi kebiasaan dan memilih diam agar tidak menyakiti orang berarti melatih diri untuk kebiasaan baik.

hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam’ (HR Bukhari)
Wassalam,a,syafii
Read More..

Tergesa-gesa


Seorang pegawai terlambat pergi ke kantor, ia tergesa-gesa dengan motornya. Ditengah jalan terjadi razia dadakan oleh polisi. Prriiittt.., motornya dihentikan oleh polisi. "Mana surat-suratnya!", kata polisi. Ternyata si pengendara motor itu nggak bawa SIM. "Kamu saya tilang!", seru polisi. "wah, jangan pak, damai saja ya pak..", kata si pengendara mengiba. "Ya sudah, tidak usah damai, kamu pulang lagi, ambil dulu surat kelengkapan yang kurang!".

Si pengendara akhirnya pulang untuk mengambil SIM dan kembali berangkat ke kantor untuk bekerja. Priiitttt.., si pengendara diberhentikan polisi lagi. "Ada apa lagi sih pak?", kata si pengendara. "Anda tidak pakai helm!", kata polisi. Wah, gara-gara pulang mengambil SIM malah kelupaan helm, akhirnya si pengendara pulang mengambil helmnya.

Di tengah jalan saat kembali ke kantor, priiittttt!, "Nih.. surat-surat lengkap, helm udah bawa, serakah amat, ada apa lagi sih pak?", kata pengendara.

“Surat lengkap, helm sudah dipakai.. sekarang motornya mana?” seru polisi.

Begitulah bila kita selalu terburu-buru tidaklah ada manfaatnya selalu saja ada
yang tertinggal bahkan bisa berakibat fatal pada kondisi tertentu, misalnya jika terjadi gempa.

Ada seorang teman yang menyarankan bila terjadi gempa perlu diprioritaskan adalah melindungi tubuh. Bersembunyilah di bawah meja atau bergeraklah ke ruangan yang sedikit peralatannya. Bila tidak ada meja, lindungi kepala dengan bantal atau buku. Pastikan keselamatan orang-orang di dalam rumah atau didalam gedung dengan memanggil dan menanyakan keadaan mereka. Jangan berlari ke luar dengan tergesa-gesa. Berhati-hati dengan jatuhnya pecahan genting atau kaca.

Nah, maka dari itu sebaiknya mulai sekarang jika mengerjakan sesuatu tidaklah dengan tergesa-gesa atau terburu-buru, bersikaplah dengan tenang dan bersabar serta jangan lupa bawa SIM jika mengendarai motor atau mobil, nanti bisa ditilang ama Pak Polisi kalo lupa bawa SIM.

“Bertakwalah kepada Allah, sabarlah dan jangan engkau terburu – buru.”(al-Hasan al-Basri) Wassalam,a,syafii
Read More..

MOTIVASI


Assalamu’alaikum wr.wb

Salam kebahagian untukmu shahabat. Semoga di hari yang indah penuh dengan semangat baru. Harapan besar kita kepada Allah, agar kita selalu mendapatkan Cinta dan Kasih Sayang Nya. Mudah-mudahan kecemerlangan, kesuksesan dan keberhasilan menjadi pencapaian bagi kita.

Kebahagiaan adalah sebuah rasa yang amat dalam. Ia terkadang sulit untuk dilukiskan dan dijelaskan. Selain ia berbentuk relatif, terkadang menjelaskan dengan nada-nada indahpun, bukan begitu bunyinya. Karena ia terpatri dalam sanubari…dan hanya dirasakan bagi mereka menginginkan.

Alkisah di suatu siang, digubuk sawah yang kecil. istirahatlah sepasang suami – istri disana. Istrinya yang setia, sedang menyiapkan makanan untuk suami tercinta. Satu persatu dikeluarkan makanan yang telah disiapkan. Begitu selesai, diajaklah suaminya untuk makan bersama. Sungguh mesra. Saat makan, lewatlah mobil sedan BMW di tengah jalan, melewati hamparan sawah dan gubuk kecil. Sang suami bertutur kepada istrinya; “Istriku, alangkah bahagianya bila kita dapat berada dalam mobil itu. Setiap hari engkau bisa aku ajak jalan-jalan, tanpa kuizinkan matahari menyengat tubuhmu”… (duh mesranya…)...


Di mobil BMW mewahpun, di dalamnya ada suami dan istri, Sedang jalan-jalan ke sudut desa. Untuk menghilangkan penat di kepala akibat kerja dan hiruk pikuk kesibukan kota. Tatkala mereka melewati gubuk kecil. Ia melihat dua insan penuh mesra, makan siang bersama. Tiba-tiba terucap olehnya “Istriku…perhatikanlah mereka yang di sana…betapa indah dan bahagia bila kita dapat duduk dan makan bersama, ditemani oleh padi yang terus menari-menari bersama angin. Kita dapat merasakan hembusan nafas alam”…

Shahabatku yang baik…
Barangkali engkau pernah mengeluh, “Mengapa ini terjadi kepadaku”… mungkin juga engkau berucap, “mengapa aku terus sengsara seperti ini, sampai kapan ?” atau bisa jadi kau mendengar kata-kata mu sendiri “Mengapa hidupku tak Bahagia ?”…

Shahabat…aku merasakan yang kau alami. Bisa jadi karena sedikitnya alat tukar belanja di tangan, atau mungkin tempat peristirahatan belum senyaman kau harapkan. Atasan dan bawahan di kantor, tidak semua mendukung pendapatmu. Langkah-langkah besar kau jalani, belum membuahkan hasil sebagaimana keinginan. Kendaraan yang kau gunakan masih beroda dua. Mungkin juga engkau ingin melihat tubuhmu, lebih ideal. Dan masih ada hal lain . Mungkin kalimat-kalimat ini belumlah cukup mewakili apa yang kau rasakan…

Mari kita sadari bersama. Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup. Seringkali Karena memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga kenikmatan yang kita punya, tak pernah kita meRASAkannya.

Bukankah uang Rp.100.000 masih cukup buat kita makan bersama istri, suami dan anak di rumah? Rumah yang kita tinggali masih bisa melindungi dari sengatan matahari dan terpaan angin malam? Apakah tatkala pendapatmu belum diterima dan disetujui, menghalangimu untuk bekerja? Bukankah hasil yang belum sempurna itu, telah menghasilkan sesuatu bagimu? Bukankah kendaraan roda dua, masih bisa mengantarkan istrimu belanja, membawamu ke kantor dan mengantar anak-anakmu ke sekolah? Sisi yang manakah lagi ingin kau sempurnakan? Bukankah teman, suami dan anak-anakmu masih sangat sayang dan bangga akan dirimu?

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Pasti akan menambahkan (nikmat) kepadamu ; dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. (Ibrahim; 7)

Shahabatku yang baik…
Kita diberikan kekuatan oleh Yang Maha Bijaksana untuk memilih. Dari pilihan-pilihan inilah kita memutuskan. Apakah menjadi Bahagia ataukah Sedih ? Dan Tuhan tak pernah melarang kita untuk berkeinginan lebih. Karena salah satu pencapaian dan keberhasilan dimulai dari keinginan besar. Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Doaku untukmu semoga engkau selalu bahagia …

Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup (Tidak bahagia). Seringkali Karena memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga kenikmatan yang kita punya, tak pernah kita meRASAkannya.

disadur dari : RAHMADSYAH, C.MNLP (dengan perubahan seperlunya)
Read More..