Nggak ada orang yang nyangka. Nggak ada manusia yang bisa memprediksi dengan tepat akan terjadinya gempa bumi di dekat atau di bawah dasar laut yang memicu gelombang besar bernama tsunami. Menurut para ahli gempa, gelombang tsunami dapat mencapai panjang 161 kilometer dan menjalar dengan kecepatan 966 km/jam (konon kabarnya setara dengan kecepatan pesawat terbang jenis Boeing 747).
Entah berapa panjang gelombang dan kecepatan menjalar tsunami yang dipicu gempa beruntun sepanjang hari di tiga tempat pusat gempa (Kepulauan Nicobar India 3 kali, Sumatera bagian utara 1 kali, Lepas pantai barat Sumatera 3 kali) dengan rata-rata kekuatan gempa di atas angka 5 pada skala richter (gempa pertama bahkan skala richter menunjuk angka 8,9). Yang jelas hasil sapuan tsunami yang terjadi pada 26/12/04 itu menyebabkan puluhan ribu orang meninggal.
Nggak tanggung-tanggung, musibah ini menghantam beberapa negara di Asia Selatan (dan sebagian kecil Afrika). Indonesia, khususnya (sebagian besar di wilayah Aceh) lebih dari 27 ribu korban meninggal dunia. Angka yang besar tentunya. Bahkan jika dijumlah secara total dari beberapa negara lainnya (India, Srilanka, Thailand, Malaysia, Myanmar, Maladewa, dan Bangladesh, bahkan sampe ke Somalia dan Tanzania) diprediksi mencapai lebih dari 55 ribu orang (Koran Tempo, 29 Desember 2004) .
Selain menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia, tsunami juga menyisakan kerusakan yang parah. Selain jutaan orang terpaksa mengungsi ke daerah aman, juga menghancurkan bangunan pribadi dan sejumlah fasilitas umum. Bahkan detik.com pada edisi 28/12/04 menuliskan bahwa kota Meulaboh (yang relatif paling dekat dengan pusat gempa) hampir 80% berantakan dengan jumlah korban meninggal menyentuh angka 10 ribu orang. Sampe tulisan ini selesai dibuat, korban masih terus bertambah. Wallahu'alam.
Entahlah, yang jelas saya sendiri nggak begitu semangat menulis jumlah korban dan penderitaan mereka. Selain nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata gimana perihnya, kamu sendiri udah cukup melihat penderitaan mereka lewat gambar bergerak di layar kaca. Jadi, alangkah baiknya jika kita langsung saja memberikan bantuan riil kepada mereka yang sedang membutuhkan. Minimal, ya minimal sekali adalah bantuan doa. Syukur-syukur buat kamu yang punya kelebihan rezeki, bisa memberikan bantuan dalam bentuk materi. Besar atau pun kecil, yang penting ikhlas, insya Allah jadi pahala. Meski tidak sampe menyelesaikan masalah, minimal meringankan beban dan penderitaan mereka. Semoga saja kepedulian kita yang disalurkan ke pos-pos tertentu untuk diteruskan ke mereka yang tertimpa musibah tidak disalahgunakan pengelolanya. Maklumlah, siapa sih yang nggak ijo ngeliat duit mengalir deras? Semoga Allah selalu bersama kita.
Sobat muda muslim, saya nggak mau panjang lebar ngomongin kondisi tentang musibah ini, karena tulisan ini akan kalah update datanya oleh berita dari media elektronik dan cetak harian. Lagian, kalo cuma menuliskan fakta-faktanya tanpa berbuat untuk menolong mereka, juga kurang bijak. Karena, kita seolah cuma menjadikan mereka yang tengah menderita sebagai objek berita untuk dijual dan dinikmati.
Di buletin ini, saya cuma ingin mengajak kita semua (tentunya termasuk saya sendiri) untuk merenung tentang ?hikmah? di balik musibah ini. Kita berusaha interospeksi dengan kenyataan ini. Kita bisa mencoba menjernihkan pikiran kita, dan juga membersihkan hati kita. Kita jujur pada diri kita sendiri. Apakah selama ini kita sudah bisa mengenal diri sendiri, mengenal siapa pencipta kita, dan tentunya mengenal hak dan kewajiban kita sendiri selama ?bertugas' di dunia ini. Selain itu, kita juga bisa merenungkan tentang makna hidup ini. Karena, pelajaran hidup ini tak mesti dialami langsung oleh diri kita sendiri, bisa saja kita merenungkan setiap peristiwa yang dialami oleh orang lain untuk dijadikan pelajaran bagi hidup kita.
Pelajaran berharga: ujian atau murkaNya?
Nggak salah-salah amat apa yang pernah disampaikan Bang Ebiet G. Ade lewat lagu berjudul ?Untuk Kita Renungkan?. Puisi yang dimusikalisasi itu berisi pesan bagus, di antaranya ada lirik: ?Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, kita mesti tabah menjalani, Hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia di atas segalanya.? Lengkapnya, boleh kamu dengerin lagunya sendiri deh, yang barangkali lebih asyik pesannya ketimbang ?Ada Apa Denganmu?-nya milik Peter Pan.
Sobat muda muslim, sungguh ini pelajaran yang sangat berharga. Jangan salah sangka lho. Maksud saya menuliskan ?pelajaran berharga? sebagai subjudul di atas bukan berarti saya menganggap bahwa ini patut dinikmati. Nggak. Tapi yang jelas wajib direnungkan. Jadi, ?berharga? di sini maksudnya adalah kejadian yang harusnya membuat kita kian taat kepada Allah dan sekaligus mengakui kelemahan kita.
Bang Ebiet benar. Ini bukan hukuman, tapi hanya cambuk kecil agar kita sadar, bahwa Allah di atas segalanya. Allah Maha Kuasa atas apa pun, sehingga Dia ?berhak? menunjukkan kekuasanNya untuk memberikan pelajaran dan mendidik kita, agar lebih taat kepadaNya.
Kenapa ini disebut pelajaran dan Allah sedang berusaha mendidik kita, padahal adakalanya dengan peringatanNya yang terasa begitu keras? Jangan kaget dan jangan heran karena kita nggak pernah tahu skenario Allah. Apa yang kita anggap berat, mudah saja bagiNya. Apa yang kita anggap dahsyat, biasa saja bagiNya. Ini sekaligus menunjukkan keperkasaanNya dan kelemahan kita.
Kejadian bencana alam ini bisa kita lihat dengan dua sudut pandang. Pertama, ini semata memang ujian dari Allah Swt. Insya Allah, bagi orang-orang yang beriman ini adalah ujian. Semoga dengan kejadian yang meskipun menurut kita sangat berat, menyesakkan, dan tentunya menyedihkan, tapi jika kita bersabar, insya Allah ada pahalanya. Jangan pernah berputus asa. Firman Allah Swt.:
?Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ?Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun? (QS al-Baqarah [2]: 155-156)
Kita kayaknya udah akrab juga dengan kalimat ?Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun? . Bahkan kita sangat hapal dengan maksudnya. Yup, arti kalimat itu adalah ?Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya-lah kami kembali.? Kalimat ini oleh para mufasir (ahli tafsir) dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil. Indah sekali bukan, ditimpa musibah bukannya putus asa, tapi kita malah bersabar. Jadi berbahagialah karena kita sebagai seorang muslim dan insya Allah juga seorang mukmin.
Dalam ayat lain, Allah Swt. juga menjelaskan bahwa segala musibah yang menimpa adalah atas kehendakNya:
?Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.? (QS at-Taghaabun [64]: 11)
Sobat muda muslim, kalo sudut pandang pertama musibah ini bisa bermakna ujian, maka pada sudut pandang kedua, justru kita khawatir nih, karena bisa jadi musibah itu adalah bentuk murkaNya. Mungkin lebih halus bisa disebut peringatanNya sebagai bagian dari azabNya karena kita sudah mulai lupa kepadaNya, karena kita sudah mulai berani melawanNya, bahkan nekat menentangNya serta mendustakanNya. Wallahu'alam.
?Pelajaran? tentang peringatanNya itu bisa kita simak dalam firman Allah Swt. (yang artinya): ?Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu.? (QS al-Mulk [67]: 16-18)
Sobat muda muslim, itu semua bisa kita analisis. Mengukur diri. Kita bisa interospeksi diri. Kita bisa menilai diri kita, dan berusaha mencocokkan apakah musibah ini adalah ujian atau justru bagian dari murkaNya? Masing-masing dari kita insya Allah bisa menjawabnya. Asal kita mau jujur pada diri sendiri.
Masih ada waktu
Ya, insya Allah masih ada waktu bagi kita. Kita juga masih diberikan kesempatan untuk berbenah diri, dengan melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Berbenah untuk menjadi lebih baik. Mungkin saja kita bisa belajar lebih peka, lebih peduli, lebih perhatian kepada saudara kita. Mungkin juga kita bisa terdidik dan tercerahkan untuk lebih taat, untuk kian merasa lemah dan hanya Allah yang Maha segalanya, untuk kian meningkatkan kesabaran kita, bisa juga keimanan kita kepadaNya bertambah.
Mungkin saja, skenario Allah ini seperti ingin memberikan gambaran kepada kita, bahwa kita sering nggak peduli, sering nggak perhatian dan merasa tak perlu pusing memikirkan nasib saudara kita yang jauh di negeri lain. Untuk kasus Palestina, Afghanistan, Fallujah (kabar terakhir, rakyat Fallujah yang tewas hampir mencapai 100 ribu orang akibat dibantai pasukan AS) dan wilayah lain, sebagian dari kita sering hanya melahapnya sebagai berita saja. Kita menjadi pribadi yang tega mengabaikan nasib saudara kita di belahan dunia lain, hanya karena terpisah oleh jarak yang jauh dan batas negara akibat ide nasionalisme yang memang menyesatkan. Itu sebabnya, mungkin saja Allah timpakan musibah sebagai peringatanNya dalam bentuk lain, yakni dengan saudara yang dekat dengan kita yang ?habis? dilumat tsunami, agar kita sadar. Wallahu'alam.
Sobat muda muslim, ini bukan kiamat kubra (kiamat besar di mana bumi akan lenyap dan akan menjadi akhir sejarah dunia), ini baru kiamat sughra (kiamat kecil) yang semoga saja menyadarkan kita untuk lebih beriman kepadaNya. Kalo pada ?kiamat kecil? ini kita masih mungkin dan bisa untuk saling menolong, nanti pada kiamat besar (kiamat yang sesungguhnya) kita tak bisa saling menolong.
Insya Allah kita tak pernah takut dengan kematian, tapi bukan berarti kita mengabaikan hidup. Kita bisa berupaya untuk mencegah segalanya, misalnya tentang upaya peringatan dini akan adanya gempa atau gelombang tusnami. Mungkin pemerintah bisa mengupayakan untuk melakukan upaya peringatan dini atau semacam posko antisipasi bencana dengan mengerahkan para ilmuwannya, dan tentunya dilengkapi dengan alat yang canggih menurut ukuran saat ini.
Tapi jangan lupa lho sobat, sebagai seorang muslim, upaya kita dalam rangka pencegahan akan tidak berarti apa-apa jika Allah berkehendak lain. Itu sebabnya, selain usaha duniawi, juga kita gemar memupuk amal kebaikan agar ketika Allah menjemput kita lewat kematian dalam kondisi apa pun (sedang berjihad, diterjang gelombang tsunami, kecelakaan jalan raya, sakit, bahkan sedang tiduran di ranjang) pastikan kita udah banyak membawa amal baik yang akan ?dipamerkan? di hadapan Allah. Alangkah ruginya kita, jika kematian yang memang datang tiba-tiba itu kita masih getol berbuat maksiat tanpa istirahat sedikit pun.
Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang beriman, bertakwa, berilmu, bersabar, dan gemar melakukan amal sholeh. Amin. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua dan dosa kaum muslimin yang telah meninggalkan kita selamanya. Amin. [solihin]
Read More..
Kamis, 23 Oktober 2008
Rabu, 22 Oktober 2008
Dan, Cobaan Itu Pun Menerpa
Perasaan sedih terasa menyeruak ke permukaan, tatkala cobaan yang
Allah berikan ini terasa membebani. Padahal kapasitas cobaanya bisa
dibilang ringan. Saya mungkin bukan hanya satu-satunya orang yang
mendapat cobaan. Bahkan mungkin saja penderitaan atau cobaan saya
tidak seberapa bila dibandingkan dengan cobaan yang menimpa orang
lain. Berapa banyak di dunia ini orang yang terbaring sakit di atas
ranjang selama bertahun-tahun dan hanya mampu membolak-balikkan
badannya saja, lalu merintih kesakitan dan menjerit menahan nyeri.
Berapa banyak orang tua yang harus kehilangan buah hatinya, baik yang
masih belia dan lucu-lucu, atau yang sudah remaja dan penuh harapan.
Betapa banyaknya didunia ini orang yang menderita, mendapat ujian dan
cobaan, belum lagi mereka yang harus setiap saat menahan himpitan hidup.
Seringan apapun cobaan ternyata sangat membebani perasaan, apapun itu
cobaannya. Dan ini bisa dibilang karena lemahnya iman. Iman saya pada
saat itu mungkin berada pada titik terendah sehingga cobaan yang
menimpa terasa berat membebani. Padahal dalam Al-Qur'an surat
Al-Baqarah ayat 286 disana dikatakan bahwa... "Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Tetapi, pada saat itu perasaan ssedih tetap saja ada tak terbendungkan.
Itulah mungkin karena kurangnya iman... Astaghfirullah
Seperti yang kita ketahui, masing-masing orang mempunyai tingkat
keimanan yang berfariasi, hanya Allah lah yang paling tahu kualitas
keimanan seorang hamba. Makin tinggi kualitas iman seseorang, makin
berat pula cobaan yang harus dihadapinya. Tak heran jika para Nabi
harus mengemban cobaan yang sangat berat. Terlepas dari berat atau
ringannya cobaan yang diberikan Allah, yang pasti cobaan itu akan
tetap dialami seorang hamba selama ia berjalan di muka bumi.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar; (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa
lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah(2): 155-157)
Dan di dalam ayat yang lainnya pun Allah SWT telah memberikan arahanya
sebagaimana berikut ini :
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan (selalu)
memberinya jalan keluar dan memberinya rezki dari proses yang tidak
terpikirkan. " (QS. Ath-Thalak (65): 2-3)
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah memberinya kemudahan
dalam urusannya." (QS. Ath-Thalaq (65): 4)
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahan nya dan akan melipatgandakan pahala baginya." (QS. Ath-Thalaq (65): 5)
"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia
akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) kalian." (QS. Al-Anfal (8): 29)
Subhanallah, Allah SWT telah memberikan petunjuk-Nya bagi kita semua
begitu sempurnanya, tapi kitanya sendiri yang lalai, selalu terlena
oleh bujuk rayunya dunia... termasuk diri saya ini...Astaghfirullah
Sahabat... Tengoklah kanan kiri. Tidaklah Anda menyaksikan betapa
banyaknya orang yang sedang mendapatkan cobaan dan betapa banyaknya
orang yang sedang tertimpa bencana? Telusurilah, di setiap rumah pasti
ada yang sedang merintih, dan setiap pipi pasti pernah basah oleh air
mata. Sungguh, betapa banyaknya penderitaan yang terjadi, dan betapa
banyak pula orang-orang yang sabar menghadapinya, dan betapa banyak
pula orang-orang yang tidak sabar menghadapinya yang memerlukan uluran
tangan kita.
Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu haditsnya,
"Belum sempurna iman seseorang kalau tidur dalam keadaan kenyang
padahal dia tahu tetangganya tidak bisa tidur karena -'lapar'-."
"Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga mencintai
saudaranya (keluarga, sahabat, dan sebagainya) seperti mencintai
dirinya sendiri." (HR. Muslim)
Wallahu A'lam Read More..
Allah berikan ini terasa membebani. Padahal kapasitas cobaanya bisa
dibilang ringan. Saya mungkin bukan hanya satu-satunya orang yang
mendapat cobaan. Bahkan mungkin saja penderitaan atau cobaan saya
tidak seberapa bila dibandingkan dengan cobaan yang menimpa orang
lain. Berapa banyak di dunia ini orang yang terbaring sakit di atas
ranjang selama bertahun-tahun dan hanya mampu membolak-balikkan
badannya saja, lalu merintih kesakitan dan menjerit menahan nyeri.
Berapa banyak orang tua yang harus kehilangan buah hatinya, baik yang
masih belia dan lucu-lucu, atau yang sudah remaja dan penuh harapan.
Betapa banyaknya didunia ini orang yang menderita, mendapat ujian dan
cobaan, belum lagi mereka yang harus setiap saat menahan himpitan hidup.
Seringan apapun cobaan ternyata sangat membebani perasaan, apapun itu
cobaannya. Dan ini bisa dibilang karena lemahnya iman. Iman saya pada
saat itu mungkin berada pada titik terendah sehingga cobaan yang
menimpa terasa berat membebani. Padahal dalam Al-Qur'an surat
Al-Baqarah ayat 286 disana dikatakan bahwa... "Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Tetapi, pada saat itu perasaan ssedih tetap saja ada tak terbendungkan.
Itulah mungkin karena kurangnya iman... Astaghfirullah
Seperti yang kita ketahui, masing-masing orang mempunyai tingkat
keimanan yang berfariasi, hanya Allah lah yang paling tahu kualitas
keimanan seorang hamba. Makin tinggi kualitas iman seseorang, makin
berat pula cobaan yang harus dihadapinya. Tak heran jika para Nabi
harus mengemban cobaan yang sangat berat. Terlepas dari berat atau
ringannya cobaan yang diberikan Allah, yang pasti cobaan itu akan
tetap dialami seorang hamba selama ia berjalan di muka bumi.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar; (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa
lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah(2): 155-157)
Dan di dalam ayat yang lainnya pun Allah SWT telah memberikan arahanya
sebagaimana berikut ini :
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan (selalu)
memberinya jalan keluar dan memberinya rezki dari proses yang tidak
terpikirkan. " (QS. Ath-Thalak (65): 2-3)
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah memberinya kemudahan
dalam urusannya." (QS. Ath-Thalaq (65): 4)
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahan nya dan akan melipatgandakan pahala baginya." (QS. Ath-Thalaq (65): 5)
"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia
akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) kalian." (QS. Al-Anfal (8): 29)
Subhanallah, Allah SWT telah memberikan petunjuk-Nya bagi kita semua
begitu sempurnanya, tapi kitanya sendiri yang lalai, selalu terlena
oleh bujuk rayunya dunia... termasuk diri saya ini...Astaghfirullah
Sahabat... Tengoklah kanan kiri. Tidaklah Anda menyaksikan betapa
banyaknya orang yang sedang mendapatkan cobaan dan betapa banyaknya
orang yang sedang tertimpa bencana? Telusurilah, di setiap rumah pasti
ada yang sedang merintih, dan setiap pipi pasti pernah basah oleh air
mata. Sungguh, betapa banyaknya penderitaan yang terjadi, dan betapa
banyak pula orang-orang yang sabar menghadapinya, dan betapa banyak
pula orang-orang yang tidak sabar menghadapinya yang memerlukan uluran
tangan kita.
Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu haditsnya,
"Belum sempurna iman seseorang kalau tidur dalam keadaan kenyang
padahal dia tahu tetangganya tidak bisa tidur karena -'lapar'-."
"Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga mencintai
saudaranya (keluarga, sahabat, dan sebagainya) seperti mencintai
dirinya sendiri." (HR. Muslim)
Wallahu A'lam Read More..
Indahnya Meminta Maaf a la si Kecil

Pernah mengajari anak balita untuk meminta maaf? Setelah ‘berantem' dengan temannya, mungkin Anda hanya mengatakan, "Ayo baikkan!", atau "Ayo minta maaf!" Bisakah mereka melakukannya? Mereka pasti tidak mengerti maksud Anda. Saya punya sebuah pengalaman bahwa mengajari meminta maaf kepada si kecil, bisa berhasil.
Suatu hari, seperti biasa saya memandikan putri saya, Annisa (3 tahun). Dia masih senang menggunakan bak mandi plastik. Selesai mandi, saya bersihkan baknya. Annisa yang sudah memakai handuk, menunggu saya. Biasanya ia masih bermain dengan bebeknya. Tapi pagi itu saya kaget, karena ia bermain dengan sabun. Tangannya disabuni lagi. Wah, saya kesal. Langsung saya rebut sabunnya dengan kasar. Saya pukul tangannya. Saya basuh tangannya dengan air dingin. Ia kaget. Menangis keras. Saya gendong dia masuk ke kamar. Mengeringkan badannya dan mendandNisa seperti biasa. Ia terus meraung-raung, meronta, membuat saya tambah marah. "Nggak boleh main sabun! Jangan nangis! Diem! Cepet pake baju, dingin!" Kata-kata itulah yang keluar dari mulut saya, sementara puri saya terus menangis. Anak saya juga berteriak, "Bunda nakal! Bunda nakal!" Akhirnya saya mengalah. "Iya, Bunda nakal!" Biasanya memang seperti itu. Kalau saya sudah mengaku nakal, nangisnya berhenti.
Kejadian pagi itu sudah hilang dari ingatan saya. Tapi, rupanya tidak begitu bagi putri saya. Ia masih ‘dendam'. Ketika diajak tidur siang, dia menolak. Saya paksa dia tidur, dia malah minta jalan-jalan. Tapi saya tidak marah. Disuapi makan sore, malas-malasan. Saya pun tidak marah. Akhirnya ia mau makan. Tapi seharian itu ia memang terlihat uring-uringan, membuat saya sangat cape. Seharian itu ia tidak tidur siang, sehingga saya ingin cepat membuatnya tidur agar istirahatnya cukup. Rencananya, sehabis sholat Magrib saya akan menidurkannya. Setelah selesai sholat, biasanya anak saya akan mencium tangan saya dan saya mendoakannya. Tapi saat itu, anak saya diam saja. Rupanya ia masih ‘dendam' kepada saya. Ia bahkan tidak ikut sholat bersama. Tiba-tiba saya berinisiatif, saya raih tangan mungilnya. Saya cium tangannya dan saya berkata dengan lembut kepadanya. "Nisa, maafin Bunda ya..., tadi Bunda bikin Nisa sedih ya? Nisa sedih dipukul tangannya sama Bunda?" Dia mengangguk lalu memeluk saya. Hmm... saya merasa benar-benar bersalah.
Karena itu saya ulangi lagi meminta maaf kepada anak saya. "Nisa maafin Bunda ya!" Kali ini dia menangis. Saya gendong Annisa, membaringkannya di tempat tidur. Setelah membuka mukena, saya ikut berbaring di sebelahnya. Nisa yang kecapean karena tidak tidur siang rupanya benar-benar sudah ingin tidur. Tapi hatinya baru terasa nyaman setelah ucapan maaf mengalir dari mulut saya. Saya jadi merasa sangat bersalah. Saya tepuk-tepuk pantatnya. Saya tawarin untuk bercerita. Dia mengangguk. Maka saya pun bercerita, dan ia langsung tertidur sambil memeluk saya.
Keesokan harinya entah kenapa anak saya sulit diatur. Pagi-pagi setelah mandi, ia ingin memakai baju piyama. Ia menangis memaksa saya memakaikan piyama. Setelah berkali-kali dijelaskan bahwa baju piyama untuk dipakai sore sebagai baju tidur akhirnya anak saya menyerah. Tapi ia masih marah-marah. Siang hari Annisa masih membuat saya jengkel karena mau main di luar pada jam tidur siang. Saya tidak memarahinya sama sekali. Saya turuti permintaan ‘aneh'nya hari itu-jalan-jalan di siang hari. Tapi, ia tetap tidur siang, meskipun sudah agak sore. Saya memang menggerutu karena kesal dan mengadu kepada kakeknya soal tingkah laku Annisa. Ketika Maghrib, ia menolak sholat bersama. Tetapi ia memerhatikan sholat saya. Setelah saya selesai sholat, ia lari mendekat dan mencium tangan saya. Lalu ia berkata. "Bunda, maafin Nisa ya...!" Saya terperanjat. "Hah, anak sekecil ini meminta maaf dengan cara begini? Dari mana ia belajar bersikap seperti ini?", hati saya bertanya-tanya. Ingatan saya langsung kembali pada peristiwa kemarin. Saya terpana. "Oh, jadi ia ingat kemarin saya meminta maaf dengan cara seperti ini. Dan sekarang ia meminta maaf karena telah membuat saya jengkel sejak pagi sampai sore." Saya tidak bisa menjawab permintaan maaf anak saya. Segera saya peluk Annisa sambil saya ciumi pipinya. "Anak pinter!" Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut saya. Annisa telah belajar meminta maaf dari cara saya meminta maaf yang saya lakukan terhadapnya.***
Inspired by Bu Tati , dudung.net
Read More..
Suatu hari, seperti biasa saya memandikan putri saya, Annisa (3 tahun). Dia masih senang menggunakan bak mandi plastik. Selesai mandi, saya bersihkan baknya. Annisa yang sudah memakai handuk, menunggu saya. Biasanya ia masih bermain dengan bebeknya. Tapi pagi itu saya kaget, karena ia bermain dengan sabun. Tangannya disabuni lagi. Wah, saya kesal. Langsung saya rebut sabunnya dengan kasar. Saya pukul tangannya. Saya basuh tangannya dengan air dingin. Ia kaget. Menangis keras. Saya gendong dia masuk ke kamar. Mengeringkan badannya dan mendandNisa seperti biasa. Ia terus meraung-raung, meronta, membuat saya tambah marah. "Nggak boleh main sabun! Jangan nangis! Diem! Cepet pake baju, dingin!" Kata-kata itulah yang keluar dari mulut saya, sementara puri saya terus menangis. Anak saya juga berteriak, "Bunda nakal! Bunda nakal!" Akhirnya saya mengalah. "Iya, Bunda nakal!" Biasanya memang seperti itu. Kalau saya sudah mengaku nakal, nangisnya berhenti.
Kejadian pagi itu sudah hilang dari ingatan saya. Tapi, rupanya tidak begitu bagi putri saya. Ia masih ‘dendam'. Ketika diajak tidur siang, dia menolak. Saya paksa dia tidur, dia malah minta jalan-jalan. Tapi saya tidak marah. Disuapi makan sore, malas-malasan. Saya pun tidak marah. Akhirnya ia mau makan. Tapi seharian itu ia memang terlihat uring-uringan, membuat saya sangat cape. Seharian itu ia tidak tidur siang, sehingga saya ingin cepat membuatnya tidur agar istirahatnya cukup. Rencananya, sehabis sholat Magrib saya akan menidurkannya. Setelah selesai sholat, biasanya anak saya akan mencium tangan saya dan saya mendoakannya. Tapi saat itu, anak saya diam saja. Rupanya ia masih ‘dendam' kepada saya. Ia bahkan tidak ikut sholat bersama. Tiba-tiba saya berinisiatif, saya raih tangan mungilnya. Saya cium tangannya dan saya berkata dengan lembut kepadanya. "Nisa, maafin Bunda ya..., tadi Bunda bikin Nisa sedih ya? Nisa sedih dipukul tangannya sama Bunda?" Dia mengangguk lalu memeluk saya. Hmm... saya merasa benar-benar bersalah.
Karena itu saya ulangi lagi meminta maaf kepada anak saya. "Nisa maafin Bunda ya!" Kali ini dia menangis. Saya gendong Annisa, membaringkannya di tempat tidur. Setelah membuka mukena, saya ikut berbaring di sebelahnya. Nisa yang kecapean karena tidak tidur siang rupanya benar-benar sudah ingin tidur. Tapi hatinya baru terasa nyaman setelah ucapan maaf mengalir dari mulut saya. Saya jadi merasa sangat bersalah. Saya tepuk-tepuk pantatnya. Saya tawarin untuk bercerita. Dia mengangguk. Maka saya pun bercerita, dan ia langsung tertidur sambil memeluk saya.
Keesokan harinya entah kenapa anak saya sulit diatur. Pagi-pagi setelah mandi, ia ingin memakai baju piyama. Ia menangis memaksa saya memakaikan piyama. Setelah berkali-kali dijelaskan bahwa baju piyama untuk dipakai sore sebagai baju tidur akhirnya anak saya menyerah. Tapi ia masih marah-marah. Siang hari Annisa masih membuat saya jengkel karena mau main di luar pada jam tidur siang. Saya tidak memarahinya sama sekali. Saya turuti permintaan ‘aneh'nya hari itu-jalan-jalan di siang hari. Tapi, ia tetap tidur siang, meskipun sudah agak sore. Saya memang menggerutu karena kesal dan mengadu kepada kakeknya soal tingkah laku Annisa. Ketika Maghrib, ia menolak sholat bersama. Tetapi ia memerhatikan sholat saya. Setelah saya selesai sholat, ia lari mendekat dan mencium tangan saya. Lalu ia berkata. "Bunda, maafin Nisa ya...!" Saya terperanjat. "Hah, anak sekecil ini meminta maaf dengan cara begini? Dari mana ia belajar bersikap seperti ini?", hati saya bertanya-tanya. Ingatan saya langsung kembali pada peristiwa kemarin. Saya terpana. "Oh, jadi ia ingat kemarin saya meminta maaf dengan cara seperti ini. Dan sekarang ia meminta maaf karena telah membuat saya jengkel sejak pagi sampai sore." Saya tidak bisa menjawab permintaan maaf anak saya. Segera saya peluk Annisa sambil saya ciumi pipinya. "Anak pinter!" Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut saya. Annisa telah belajar meminta maaf dari cara saya meminta maaf yang saya lakukan terhadapnya.***
Inspired by Bu Tati , dudung.net
Selasa, 21 Oktober 2008
Putri-putri kecilku

Putri-putri kecilku, Engkau adalah permata Bunda !
Ke-1, Athira Ananda Safira Putriarie,
Ke-2, Annisa Fairish langit Biru Putriarie
dan yang ke-3, Indie Barrah Dzakirah Putriarie.
Ya Allah, Melalui mereka
Kokohkan anggota badanku,
Luruskan punggungku,
Banyakkan bilanganku,
Indahkan kehadiranku,
Hidupkan sebutanku,
Ke-1, Athira Ananda Safira Putriarie,
Ke-2, Annisa Fairish langit Biru Putriarie
dan yang ke-3, Indie Barrah Dzakirah Putriarie.
Ya Allah, Melalui mereka
Kokohkan anggota badanku,
Luruskan punggungku,
Banyakkan bilanganku,
Indahkan kehadiranku,
Hidupkan sebutanku,
Cukupkan aku ketika aku tiada,
Bantulah keperluanku.
Jadikan mereka mencintaiku,
Mendekatiku,
Menyayangiku,
Taat dan tidak membantahku,
Tidak durhaka menentangku,
Tidak berbuat salah kepadaku.
Ya Allah, Wahai Tuhanku
Jadikan mereka mencintaiku,
Mendekatiku,
Menyayangiku,
Taat dan tidak membantahku,
Tidak durhaka menentangku,
Tidak berbuat salah kepadaku.
Ya Allah, Wahai Tuhanku
Jadikanlah amal ibadahku,
Amal ibadah yang terbaik untukMU
untuk ulang tahun pertama anakku
INDIE, 080808
Read More..
Tak Mau Berjilbab
Alasan dan Jawaban Seorang muslimah,
Diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah,yaitu dengan mengenakan pakaian syar'i yang dikenal dengan jilbab atauhijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belummau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasanbelum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain.Nah apa jawaban untuk mereka?*1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab* Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan,"Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankahukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin?Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta'aladan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari'atIslam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta'alatelah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pulaRassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda berimankepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengansenang hati memakai hijab itu.*2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.* Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepadasaudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukanyang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka.Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandungmaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , sebagaimana dalam firman-Nya,artinya, "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yangtidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya," (QS. Luqman:15) Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kitaselama di dunia ini. Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namunbermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, padahal AllahSubhannahu wa Ta'ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki,menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?*3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab* Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitumungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannyadia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam,mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Diasebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunansyari'at. Padahal pakaian syar،¦i biasanya tidak semahal pakaian-pakaianmodel baru yang bertabarruj. Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan olehseorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapatmenyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Ta'ala dan kemurkaan-Nya?Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namunpada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dia telah berfirman,artinya, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialahorang yang paling bertaqwa di antara kamu." (QS. al-Hujurat:13) Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniatuntuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Ta'ala akan memberikan jalankeluar. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengatakan, artinya, "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginyajalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiadadisangka-sangkanya." (QS. ath-Thalaq 2-3) Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untukmendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah. *4. Cuaca Sangat Panas* Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbabrasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman AllahSubhannahu wa Ta'ala , artinya, "Katakanlah, "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jikalaumereka mengetahui."(QS. 9:81) Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnyadunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia denganpanasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala , artinya, "Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat)minuman, selain air yang mendidih dan nanah." (QS. 78:24-25) Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagaikesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengansegala yang disenangi hawa nafsu.*5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi* Ada seorang muslimah yang mengatakan, "Kalau aku pakai jilbab, aku khawatirnanti suatu saat melepasnya lagi." Saudariku, kalau seseorang berpikiranseperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaranagama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karenakhawatir nanti tidak bisa terus melakukannya. Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklahsuadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah.Di antaranya dengan banyak berdo'a agar diberikan ketetapan hati di atasagama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu'. Allah Subhannahu waTa'ala berfirman, artinya,"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yangdemikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS.2:45) Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakanmanisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah AllahSubhannahu wa Ta'ala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasatentram dan nikmat.*6. Aku Takut Tidak Ada** Yang Menikahiku* Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yangbertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan makadia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburuterhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta'ala, tidak cemburuterhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga sertamenyelamatkanmu dari neraka. Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Ta'ala engkaumendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yangtidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyakwanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.*7. Kita Harus Bersyukur* "Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Ta'ala,maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh,rambut dan kecantikan kita." Mungkin ada di antara muslimah yang beralasandemikian. Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahuwa Ta'ala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu waTa'ala berfirman, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlahmenampakkan perhiasan mereka." (QS. an-Nur:31) Dalam firman-Nya yang lain,"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu danisteri-isteri orang mu'min, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka". (QS.al-Ahzab:59) Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Ta'ala berikan kepada kita adalahiman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlahkesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan AllahSubhannahu wa Ta'ala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab ataujilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.*8.Belum Mendapatkan Hidayah* Ada sebagian muslimah yang mengatakan, "Saya tahu bahwa jilbab itu wajib,namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya." Kepada saudarikuyang yang beralasan demikian kami katakan, "Bahwa hidayah itu ada sebabnyasebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang jugadengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agarditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya.Diantaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, inimerupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih danterus-menerus terlimpah kepada ukhti.*9.Aku Takut Dikira Golongan Sesat* Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok,hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). GolonganAllah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu waTa'ala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongansetan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan dimuka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakaihijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah ƒ¹, bukan kelompoksesat. Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini danyang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetanatau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Makaberbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Ta'ala yang pastimenang. Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itudengan ocehan manusia rendahan. Dia disyari'atkan oleh Penciptamu, kalauengkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahuwa Ta'ala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau maudiperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu waTa'ala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?*Sumber: Buletin Darul Qasim, " Wa man Yamna'uki minal hijab", Dr HuwaidanIsmail* Read More..
Diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah,yaitu dengan mengenakan pakaian syar'i yang dikenal dengan jilbab atauhijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belummau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasanbelum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain.Nah apa jawaban untuk mereka?*1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab* Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan,"Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankahukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin?Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta'aladan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari'atIslam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta'alatelah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pulaRassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda berimankepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengansenang hati memakai hijab itu.*2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.* Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepadasaudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukanyang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka.Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandungmaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , sebagaimana dalam firman-Nya,artinya, "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yangtidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya," (QS. Luqman:15) Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kitaselama di dunia ini. Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namunbermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, padahal AllahSubhannahu wa Ta'ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki,menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?*3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab* Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitumungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannyadia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam,mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Diasebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunansyari'at. Padahal pakaian syar،¦i biasanya tidak semahal pakaian-pakaianmodel baru yang bertabarruj. Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan olehseorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapatmenyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Ta'ala dan kemurkaan-Nya?Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namunpada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dia telah berfirman,artinya, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialahorang yang paling bertaqwa di antara kamu." (QS. al-Hujurat:13) Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniatuntuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Ta'ala akan memberikan jalankeluar. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengatakan, artinya, "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginyajalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiadadisangka-sangkanya." (QS. ath-Thalaq 2-3) Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untukmendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah. *4. Cuaca Sangat Panas* Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbabrasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman AllahSubhannahu wa Ta'ala , artinya, "Katakanlah, "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jikalaumereka mengetahui."(QS. 9:81) Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnyadunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia denganpanasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala , artinya, "Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat)minuman, selain air yang mendidih dan nanah." (QS. 78:24-25) Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagaikesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengansegala yang disenangi hawa nafsu.*5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi* Ada seorang muslimah yang mengatakan, "Kalau aku pakai jilbab, aku khawatirnanti suatu saat melepasnya lagi." Saudariku, kalau seseorang berpikiranseperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaranagama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karenakhawatir nanti tidak bisa terus melakukannya. Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklahsuadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah.Di antaranya dengan banyak berdo'a agar diberikan ketetapan hati di atasagama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu'. Allah Subhannahu waTa'ala berfirman, artinya,"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yangdemikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS.2:45) Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakanmanisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah AllahSubhannahu wa Ta'ala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasatentram dan nikmat.*6. Aku Takut Tidak Ada** Yang Menikahiku* Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yangbertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan makadia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburuterhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta'ala, tidak cemburuterhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga sertamenyelamatkanmu dari neraka. Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Ta'ala engkaumendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yangtidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyakwanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.*7. Kita Harus Bersyukur* "Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Ta'ala,maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh,rambut dan kecantikan kita." Mungkin ada di antara muslimah yang beralasandemikian. Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahuwa Ta'ala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu waTa'ala berfirman, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlahmenampakkan perhiasan mereka." (QS. an-Nur:31) Dalam firman-Nya yang lain,"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu danisteri-isteri orang mu'min, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka". (QS.al-Ahzab:59) Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Ta'ala berikan kepada kita adalahiman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlahkesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan AllahSubhannahu wa Ta'ala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab ataujilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.*8.Belum Mendapatkan Hidayah* Ada sebagian muslimah yang mengatakan, "Saya tahu bahwa jilbab itu wajib,namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya." Kepada saudarikuyang yang beralasan demikian kami katakan, "Bahwa hidayah itu ada sebabnyasebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang jugadengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agarditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya.Diantaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, inimerupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih danterus-menerus terlimpah kepada ukhti.*9.Aku Takut Dikira Golongan Sesat* Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok,hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). GolonganAllah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu waTa'ala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongansetan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan dimuka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakaihijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah ƒ¹, bukan kelompoksesat. Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini danyang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetanatau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Makaberbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Ta'ala yang pastimenang. Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itudengan ocehan manusia rendahan. Dia disyari'atkan oleh Penciptamu, kalauengkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahuwa Ta'ala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau maudiperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu waTa'ala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?*Sumber: Buletin Darul Qasim, " Wa man Yamna'uki minal hijab", Dr HuwaidanIsmail* Read More..
Sabar dan Bermunajatlah
Ada kenikmatan, ada pula kesulitan. Maka Rasul mengajarkan dua hal untuk mensikapi keduanya. Syukur dan sabar. Keduanya baik untuk kehidupan kaum Mukminin. Sabar bukan berarti diam. Sabar bukan berarti kita tidak boleh menangis dan sedih. Sabar bukan berarti kita tidak boleh mencari bantuan untuk mendapat solusi.
Rasulullah pernah menangis ketika kehilangan putranya, Ibrahim, yang sedang lucu-lucunya. Para sahabat heran melihat air mata Rasulullah tumpah. Rasulullah berkata, "Sesungguhnya hati ini bersedih, air mata pun mengalir dan kami sangat sedih dengan kepergianmu, wahai ibrahim. Tetapi kami tidak berkata kecuali sesuai dengan keridhaan Allah."
Sabar adalah suatu sikap menerima musibah sebagai bagian dari takdir. Sabar adalah ketenangan yang melindungi dari penyesalan yang tak berujung, yang akan menyebabkan kesengsaraan semakin berat dan stress menjangkiti. Sabar menstabilkan kondisi hati yang sedang labil karena kesulitan. Dengan jiwa dan hati yang stabil, akan membuka jalan lebih lebar menuju solusi.
Kemudian, bantulah solusinya dengan munajat dan do'a. Adukan segala kesulitan kita kepada Allah. Di tengah malam, di saat manusia terlelap dalam mimpinya, kita bermunajat. Kita adukan permasalahan kita dalam sujud panjang kita. Kita tengadahkan tangan sambil berurai air mata penuh harap akan pertolonganNya. Do'a-do'a pun meluncur deras seiring desakan-desakan hati yang telah lelah terbebani kesulitan.
Umar bin Khaththab, di saat bangun malam, membaca, "Sesungguhnya aku adukan keluh kesah dan kesedihanku kepada Allah." (QS. Yusuf : 86) sambil berurai air mata. Dia sadar betul bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah.
Perbanyaklah do'a. Tidak rugi orang yang banyak berdo'a, karena tidak ada orang yang tidak dikabulkan, jika kita memenuhi seruan Allah. Memang, kadang apa yang kita minta tidak kunjung tiba. Tetapi pengabulan do'a bukan hanya itu bentuknya. Kadangkala Allah mengabulkannya dengan cara menjauhkannya dari musibah. Atau Allah menyimpannya untuk kekayaan simpanan kita di akhirat sana.
Kesulitan adalah keniscayaan kehidupan. Tetapi tak ada sedikit pun alasan untuk dapat terkalahkan oleh kesulitan itu.
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ] Read More..
Rasulullah pernah menangis ketika kehilangan putranya, Ibrahim, yang sedang lucu-lucunya. Para sahabat heran melihat air mata Rasulullah tumpah. Rasulullah berkata, "Sesungguhnya hati ini bersedih, air mata pun mengalir dan kami sangat sedih dengan kepergianmu, wahai ibrahim. Tetapi kami tidak berkata kecuali sesuai dengan keridhaan Allah."
Sabar adalah suatu sikap menerima musibah sebagai bagian dari takdir. Sabar adalah ketenangan yang melindungi dari penyesalan yang tak berujung, yang akan menyebabkan kesengsaraan semakin berat dan stress menjangkiti. Sabar menstabilkan kondisi hati yang sedang labil karena kesulitan. Dengan jiwa dan hati yang stabil, akan membuka jalan lebih lebar menuju solusi.
Kemudian, bantulah solusinya dengan munajat dan do'a. Adukan segala kesulitan kita kepada Allah. Di tengah malam, di saat manusia terlelap dalam mimpinya, kita bermunajat. Kita adukan permasalahan kita dalam sujud panjang kita. Kita tengadahkan tangan sambil berurai air mata penuh harap akan pertolonganNya. Do'a-do'a pun meluncur deras seiring desakan-desakan hati yang telah lelah terbebani kesulitan.
Umar bin Khaththab, di saat bangun malam, membaca, "Sesungguhnya aku adukan keluh kesah dan kesedihanku kepada Allah." (QS. Yusuf : 86) sambil berurai air mata. Dia sadar betul bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah.
Perbanyaklah do'a. Tidak rugi orang yang banyak berdo'a, karena tidak ada orang yang tidak dikabulkan, jika kita memenuhi seruan Allah. Memang, kadang apa yang kita minta tidak kunjung tiba. Tetapi pengabulan do'a bukan hanya itu bentuknya. Kadangkala Allah mengabulkannya dengan cara menjauhkannya dari musibah. Atau Allah menyimpannya untuk kekayaan simpanan kita di akhirat sana.
Kesulitan adalah keniscayaan kehidupan. Tetapi tak ada sedikit pun alasan untuk dapat terkalahkan oleh kesulitan itu.
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ] Read More..
Poligami, Wahyu Ilahi Yang Ditolak
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Suatu hal yang patut disayangkan pada saat ini. Wahyu yang sudah semestinya hamba tunduk untuk mengikutinya, malah ditolak begitu saja. Padahal wahyu adalah ruh, cahaya, dan penopang kehidupan alam semesta. Apa yang terjadi jika wahyu ilahi ini ditolak ?!
Wahyu Adalah Ruh
Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Kebahagiaan Hanya Akan Diraih Dengan Mengikuti Wahyu
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Kebutuhan hamba terhadap risalah (wahyu) lebih besar daripada kebutuhan pasien kepada dokter. Apabila suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dokter tersebut ditangguhkan, tentu seorang pasien bisa kehilangan jiwanya. Adapun jika seorang hamba tidak memperoleh cahaya dan pelita wahyu, maka hatinya pasti akan mati dan kehidupannya tidak akan kembali selamanya. Atau dia akan mendapatkan penderitaan yang penuh dengan kesengsaraan dan tidak merasakan kebahagiaan selamanya. Maka tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti Rasul (wahyu yang beliau bawa dari Al Qur’an dan As Sunnah, pen). Allah menegaskan hanya orang yang mengikuti Rasul -yaitu orang mu’min dan orang yang menolongnya- yang akan mendapatkan keberuntungan, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157) (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak
Saat ini, poligami telah menjadi perdebatan yang sangat sengit di tengah kaum muslimin dan sampai terjadi penolakan terhadap hukum poligami itu sendiri. Dan yang menolaknya bukanlah tokoh yang tidak mengerti agama, bahkan mereka adalah tokoh-tokoh yang dikatakan sebagai cendekiawan muslim. Lalu bagaimana sebenarnya hukum poligami itu sendiri [?!] Marilah kita kembalikan perselisihan ini kepada Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah Ta’ala telah menyebutkan hukum poligami ini melalui wahyu-Nya yang suci, yang patut setiap orang yang mengaku muslim tunduk pada wahyu tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3)
Poligami juga tersirat dari perkataan Anas bin Malik, beliau berkata,”Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan isteri.” (HR. Bukhari). Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Nikahilah wanita yang kalian suka selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita.” (Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Nashir As Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Poligami ini dibolehkan karena terkadang seorang pria kebutuhan biologisnya belum terpenuhi bila dengan hanya satu istri (karena seringnya istri berhalangan melayani suaminya seperti tatkala haidh, pen). Maka Allah membolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dan dibatasi dengan empat istri. Dibatasi demikian karena biasanya setiap orang sudah merasa cukup dengan empat istri, dan jarang sekali yang belum merasa puas dengan yang demikian. Dan poligami ini diperbolehkan baginya jika dia yakin tidak berbuat aniaya dan kezaliman (dalam hal pembagian giliran dan nafkah, pen) serta yakin dapat menunaikan hak-hak istri. (Taisirul Karimir Rohman).
Imam Syafi’i mengatakan bahwa tidak boleh memperistri lebih dari empat wanita sekaligus merupakan ijma’ (konsensus) para ulama dan yang menyelisihinya adalah sekelompok orang Syi’ah. Memiliki istri lebih dari empat hanya merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i ketika ditanya mengenai hukum berpoligami, apakah dianjurkan atau tidak? Beliau menjawab: “Tidak disunnahkan, tetapi hanya dibolehkan.” (Lihat ‘Inilah hakmu wahai muslimah’, hal 123, Media Hidayah). Maka dari penjelasan ini, jelaslah bahwa poligami memiliki ketetapan hukum dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya setiap orang tunduk pada wahyu tersebut.
Tidak Mau Poligami, Janganlah Menolak Wahyu Ilahi
Jadi sebenarnya poligami sifatnya tidaklah memaksa. Kalau pun seorang wanita tidak mau di madu atau seorang lelaki tidak mau berpoligami tidak ada masalah. Dan hal ini tidak perlu diikuti dengan menolak hukum poligami (menggugat hukum poligami). Seakan-akan ingin menjadi pahlawan bagi wanita, kemudian mati-matian untuk menolak konsep poligami. Di antara mereka mengatakan bahwa poligami adalah sumber kesengsaraan dan kehinaan wanita. Poligami juga dianggap sebagai biang keladi rumah tangga yang berantakan. Dan berbagai alasan lainnya yang muncul di tengah masyarakat saat ini sehingga dianggap cukup jadi alasan agar poligami di negeri ini dilarang.
Hikmah Wahyu Ilahi
Setiap wahyu yang diturunkan oleh pembuat syariat pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Begitu juga dibolehkannya poligami oleh Allah, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar baik bagi individu, masyarakat dan umat Islam. Di antaranya: (1) Dengan banyak istri akan memperbanyak jumlah kaum muslimin. (2) Bagi laki-laki, manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan untuk memperbanyak umat ini, dan tidak mungkin optimalisasi ini terlaksana jika hanya memiliki satu istri saja. (3) Untuk kebaikan wanita, karena sebagian wanita terhalang untuk menikah dan jumlah laki-laki itu lebih sedikit dibanding wanita, sehingga akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. (4) Dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya, dengan menikah lagi ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. (Lihat penjelasan ini di Majalah As Sunnah, edisi 12/X/1428)
Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami
Saat ini terdapat berbagai macam penolakan terhadap hukum Allah yang satu ini, dikomandoi oleh tokoh-tokoh Islam itu sendiri. Di antara pernyataan penolak wahyu tersebut adalah : “Tidak mungkin para suami mampu berbuat adil di antara para isteri tatkala berpoligami, dengan dalih firman Allah yang artinya,”Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An Nisaa’: 3). Dan firman Allah yang artinya,”Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (QS. An Nisaa’: 129).”
Sanggahan: Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil” dalam ayat di atas adalah kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil dalam rasa cinta, kecondongan hati dan berhubungan intim. Karena kaum muslimin telah sepakat, bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia, kecuali jika Allah menghendakinya. Dan telah diketahui bersama bahwa Ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha lebih dicintai Rasulullah daripada istri beliau yang lain, karena Aisyah masih muda, cantik dan cerdas. Adapun hal-hal yang bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu untuk berbuat adil. Hal ini sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, dan Ibnu Hajar.
Ada juga di antara tokoh tersebut yang menyatakan bahwa poligami akan mengancam mahligai rumah tangga (sering timbul percekcokan). Sanggahan: Perselisihan yang muncul di antara para istri merupakan sesuatu yang wajar, karena rasa cemburu adalah tabiat mereka. Untuk mengatasi hal ini, tergantung dari para suami untuk mengatur urusan rumah tangganya, keadilan terhadap istri-istrinya, dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, juga tawakkal kepada Allah. Dan kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga dengan satu istri (monogami) juga sering terjadi pertengkaran/percekcokan dan bahkan lebih. Jadi, ini bukanlah alasan untuk menolak poligami. (Silakan lihat Majalah As Sunnah edisi 12/X/1428)
Apa yang Terjadi Jika Wahyu Ilahi Ditolak ?
Kaum muslimin –yang semoga dirahmati Allah-. Renungkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini, apa yang terjadi jika wahyu ilahi yang suci itu ditentang.
Allah telah banyak mengisahkan di dalam al-Qur’an kepada kita tentang umat-umat yang mendustakan para rasul. Mereka ditimpa berbagai macam bencana dan masih nampak bekas-bekas dari negeri-negeri mereka sebagai pelajaran bagi umat-umat sesudahnya. Mereka di rubah bentuknya menjadi kera dan babi disebabkan menyelisihi rasul mereka. Ada juga yang terbenam dalam tanah, dihujani batu dari langit, ditenggelamkan di laut, ditimpa petir dan disiksa dengan berbagai siksaan lainnya. Semua ini disebabkan karena mereka menyelisihi para rasul, menentang wahyu yang mereka bawa, dan mengambil penolong-penolong selain Allah.
Allah menyebutkan seperti ini dalam surat Asy Syu’ara mulai dari kisah Musa, Ibrahim, Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Luth, dan Syu’aib. Allah menyebut pada setiap Nabi tentang kebinasaan orang yang menyelisihi mereka dan keselamatan bagi para rasul dan pengikut mereka. Kemudian Allah menutup kisah tersebut dengan firman-Nya yang artinya,”Maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata, dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy Syu’ara: 158-159). Allah mengakhiri kisah tersebut dengan dua asma’ (nama) -Nya yang agung dan dari kedua nama itu akan menunjukkan sifat-Nya. Kedua nama tersebut adalah Al ‘Aziz dan Ar Rohim (Maha Perkasa dan Maha Penyayang). Yaitu Allah akan membinasakan musuh-Nya dengan ‘izzah/keperkasaan-Nya. Dan Allah akan menyelamatkan rasul dan pengikutnya dengan rahmat/kasih sayang-Nya. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman terhadap apa yang beliau bawa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Do’a hamba-Nya. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ashabihi ath thoyyibina ath thohirin.
*** Read More..
Wahyu Adalah Ruh
Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Kebahagiaan Hanya Akan Diraih Dengan Mengikuti Wahyu
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Kebutuhan hamba terhadap risalah (wahyu) lebih besar daripada kebutuhan pasien kepada dokter. Apabila suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dokter tersebut ditangguhkan, tentu seorang pasien bisa kehilangan jiwanya. Adapun jika seorang hamba tidak memperoleh cahaya dan pelita wahyu, maka hatinya pasti akan mati dan kehidupannya tidak akan kembali selamanya. Atau dia akan mendapatkan penderitaan yang penuh dengan kesengsaraan dan tidak merasakan kebahagiaan selamanya. Maka tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti Rasul (wahyu yang beliau bawa dari Al Qur’an dan As Sunnah, pen). Allah menegaskan hanya orang yang mengikuti Rasul -yaitu orang mu’min dan orang yang menolongnya- yang akan mendapatkan keberuntungan, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157) (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak
Saat ini, poligami telah menjadi perdebatan yang sangat sengit di tengah kaum muslimin dan sampai terjadi penolakan terhadap hukum poligami itu sendiri. Dan yang menolaknya bukanlah tokoh yang tidak mengerti agama, bahkan mereka adalah tokoh-tokoh yang dikatakan sebagai cendekiawan muslim. Lalu bagaimana sebenarnya hukum poligami itu sendiri [?!] Marilah kita kembalikan perselisihan ini kepada Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah Ta’ala telah menyebutkan hukum poligami ini melalui wahyu-Nya yang suci, yang patut setiap orang yang mengaku muslim tunduk pada wahyu tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3)
Poligami juga tersirat dari perkataan Anas bin Malik, beliau berkata,”Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan isteri.” (HR. Bukhari). Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Nikahilah wanita yang kalian suka selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita.” (Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Nashir As Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Poligami ini dibolehkan karena terkadang seorang pria kebutuhan biologisnya belum terpenuhi bila dengan hanya satu istri (karena seringnya istri berhalangan melayani suaminya seperti tatkala haidh, pen). Maka Allah membolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dan dibatasi dengan empat istri. Dibatasi demikian karena biasanya setiap orang sudah merasa cukup dengan empat istri, dan jarang sekali yang belum merasa puas dengan yang demikian. Dan poligami ini diperbolehkan baginya jika dia yakin tidak berbuat aniaya dan kezaliman (dalam hal pembagian giliran dan nafkah, pen) serta yakin dapat menunaikan hak-hak istri. (Taisirul Karimir Rohman).
Imam Syafi’i mengatakan bahwa tidak boleh memperistri lebih dari empat wanita sekaligus merupakan ijma’ (konsensus) para ulama dan yang menyelisihinya adalah sekelompok orang Syi’ah. Memiliki istri lebih dari empat hanya merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i ketika ditanya mengenai hukum berpoligami, apakah dianjurkan atau tidak? Beliau menjawab: “Tidak disunnahkan, tetapi hanya dibolehkan.” (Lihat ‘Inilah hakmu wahai muslimah’, hal 123, Media Hidayah). Maka dari penjelasan ini, jelaslah bahwa poligami memiliki ketetapan hukum dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya setiap orang tunduk pada wahyu tersebut.
Tidak Mau Poligami, Janganlah Menolak Wahyu Ilahi
Jadi sebenarnya poligami sifatnya tidaklah memaksa. Kalau pun seorang wanita tidak mau di madu atau seorang lelaki tidak mau berpoligami tidak ada masalah. Dan hal ini tidak perlu diikuti dengan menolak hukum poligami (menggugat hukum poligami). Seakan-akan ingin menjadi pahlawan bagi wanita, kemudian mati-matian untuk menolak konsep poligami. Di antara mereka mengatakan bahwa poligami adalah sumber kesengsaraan dan kehinaan wanita. Poligami juga dianggap sebagai biang keladi rumah tangga yang berantakan. Dan berbagai alasan lainnya yang muncul di tengah masyarakat saat ini sehingga dianggap cukup jadi alasan agar poligami di negeri ini dilarang.
Hikmah Wahyu Ilahi
Setiap wahyu yang diturunkan oleh pembuat syariat pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Begitu juga dibolehkannya poligami oleh Allah, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar baik bagi individu, masyarakat dan umat Islam. Di antaranya: (1) Dengan banyak istri akan memperbanyak jumlah kaum muslimin. (2) Bagi laki-laki, manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan untuk memperbanyak umat ini, dan tidak mungkin optimalisasi ini terlaksana jika hanya memiliki satu istri saja. (3) Untuk kebaikan wanita, karena sebagian wanita terhalang untuk menikah dan jumlah laki-laki itu lebih sedikit dibanding wanita, sehingga akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. (4) Dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya, dengan menikah lagi ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. (Lihat penjelasan ini di Majalah As Sunnah, edisi 12/X/1428)
Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami
Saat ini terdapat berbagai macam penolakan terhadap hukum Allah yang satu ini, dikomandoi oleh tokoh-tokoh Islam itu sendiri. Di antara pernyataan penolak wahyu tersebut adalah : “Tidak mungkin para suami mampu berbuat adil di antara para isteri tatkala berpoligami, dengan dalih firman Allah yang artinya,”Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An Nisaa’: 3). Dan firman Allah yang artinya,”Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (QS. An Nisaa’: 129).”
Sanggahan: Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil” dalam ayat di atas adalah kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil dalam rasa cinta, kecondongan hati dan berhubungan intim. Karena kaum muslimin telah sepakat, bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia, kecuali jika Allah menghendakinya. Dan telah diketahui bersama bahwa Ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha lebih dicintai Rasulullah daripada istri beliau yang lain, karena Aisyah masih muda, cantik dan cerdas. Adapun hal-hal yang bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu untuk berbuat adil. Hal ini sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, dan Ibnu Hajar.
Ada juga di antara tokoh tersebut yang menyatakan bahwa poligami akan mengancam mahligai rumah tangga (sering timbul percekcokan). Sanggahan: Perselisihan yang muncul di antara para istri merupakan sesuatu yang wajar, karena rasa cemburu adalah tabiat mereka. Untuk mengatasi hal ini, tergantung dari para suami untuk mengatur urusan rumah tangganya, keadilan terhadap istri-istrinya, dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, juga tawakkal kepada Allah. Dan kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga dengan satu istri (monogami) juga sering terjadi pertengkaran/percekcokan dan bahkan lebih. Jadi, ini bukanlah alasan untuk menolak poligami. (Silakan lihat Majalah As Sunnah edisi 12/X/1428)
Apa yang Terjadi Jika Wahyu Ilahi Ditolak ?
Kaum muslimin –yang semoga dirahmati Allah-. Renungkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini, apa yang terjadi jika wahyu ilahi yang suci itu ditentang.
Allah telah banyak mengisahkan di dalam al-Qur’an kepada kita tentang umat-umat yang mendustakan para rasul. Mereka ditimpa berbagai macam bencana dan masih nampak bekas-bekas dari negeri-negeri mereka sebagai pelajaran bagi umat-umat sesudahnya. Mereka di rubah bentuknya menjadi kera dan babi disebabkan menyelisihi rasul mereka. Ada juga yang terbenam dalam tanah, dihujani batu dari langit, ditenggelamkan di laut, ditimpa petir dan disiksa dengan berbagai siksaan lainnya. Semua ini disebabkan karena mereka menyelisihi para rasul, menentang wahyu yang mereka bawa, dan mengambil penolong-penolong selain Allah.
Allah menyebutkan seperti ini dalam surat Asy Syu’ara mulai dari kisah Musa, Ibrahim, Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Luth, dan Syu’aib. Allah menyebut pada setiap Nabi tentang kebinasaan orang yang menyelisihi mereka dan keselamatan bagi para rasul dan pengikut mereka. Kemudian Allah menutup kisah tersebut dengan firman-Nya yang artinya,”Maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata, dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy Syu’ara: 158-159). Allah mengakhiri kisah tersebut dengan dua asma’ (nama) -Nya yang agung dan dari kedua nama itu akan menunjukkan sifat-Nya. Kedua nama tersebut adalah Al ‘Aziz dan Ar Rohim (Maha Perkasa dan Maha Penyayang). Yaitu Allah akan membinasakan musuh-Nya dengan ‘izzah/keperkasaan-Nya. Dan Allah akan menyelamatkan rasul dan pengikutnya dengan rahmat/kasih sayang-Nya. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman terhadap apa yang beliau bawa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Do’a hamba-Nya. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ashabihi ath thoyyibina ath thohirin.
*** Read More..
Kamis, 02 Oktober 2008
Mother is the best super hero in the world
Mumpung Ibu Masih ada, coba saat BELIAU tidur saat matanya terpejam kamu tatap wajahnya itu 5 menit saja, kamu akan tau bagaimana rasanya nanti bila wajah itu sudah tak ada di situ...
Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya...
LAKUKAN SEKARANG teman2ku sayang, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali...
Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa ma TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum...
Luv U all
Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya.
Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung: Rp20.000
2) Menjaga adik: Rp20.000
3) Membuang sampah: Rp5.000
4) Membereskan tempat tidur: Rp10.000
5) Menyiram bunga: Rp15.000
6) Menyapu halaman: Rp15.000
Jumlah: Rp85.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama:
1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu: GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu: GRATIS
4) Ongkos khawatir krn memikirkan keadaanmu: GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu: GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku: GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu". Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar"
LUv Mom I miss u forever
Mother is the best super hero in the world. Read More..
Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya...
LAKUKAN SEKARANG teman2ku sayang, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali...
Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa ma TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum...
Luv U all
Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya.
Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung: Rp20.000
2) Menjaga adik: Rp20.000
3) Membuang sampah: Rp5.000
4) Membereskan tempat tidur: Rp10.000
5) Menyiram bunga: Rp15.000
6) Menyapu halaman: Rp15.000
Jumlah: Rp85.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama:
1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu: GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu: GRATIS
4) Ongkos khawatir krn memikirkan keadaanmu: GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu: GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku: GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu". Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar"
LUv Mom I miss u forever
Mother is the best super hero in the world. Read More..
Feminisme koq..salah kaprah?
Feminisme rasanya tidak asing lagi di telinga kita. Adalah gerakan yang diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi keperempuanan. Kartini -pahlawan Indonesia-red- biasa menyebutnya dengan Emansipasi. Pada awalnya feminisme bangkit untuk membela para wanita dari ketertindasan serta menuntut penyerataan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang.
Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah menjatuhkan (harga) diri sendiri.
Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata “Feminisme”, membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan “Boys can do it, then why we can`t…saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti pasangan, kemudian menyakiti para gadis”.
Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet, karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan “Feminisme bertelanjang dada” dan “gerakan pembakaran BH”.
Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya - namun juga menyedihkan – si wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.
Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi wanita Indonesia(tidak semuanya), sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab “Kalau pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak virgin lagi”. Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?
Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).
Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia, Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan shopping&ngemil –ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan cara-cara ini-red.
Dan alasan lainnya, tentu saja “cowok juga ngerokok kok… kenapa kita-kita gak boleh??” Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum wanita itu sendiri.
Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? “Feminisme”(radikal) telah menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami. Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan dan pengajaran.
Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada kesalahan yang tidak ‘disengaja’ tadi, bangkitlah dari keterpurukan. Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.
O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran (yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul yang namanya “Feminisme”yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus menjaganya (keperjakaan) juga.
Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang Virgin atau tidaknya.
Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala), sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang seperti itu dalam hal ini.
Mengenai rokok? Katakan saja ”Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa ngelarang doang”. Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita benar-benar mengubahnya.
Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih tahu caranya Read More..
Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah menjatuhkan (harga) diri sendiri.
Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata “Feminisme”, membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan “Boys can do it, then why we can`t…saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti pasangan, kemudian menyakiti para gadis”.
Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet, karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan “Feminisme bertelanjang dada” dan “gerakan pembakaran BH”.
Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya - namun juga menyedihkan – si wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.
Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi wanita Indonesia(tidak semuanya), sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab “Kalau pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak virgin lagi”. Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?
Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).
Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia, Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan shopping&ngemil –ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan cara-cara ini-red.
Dan alasan lainnya, tentu saja “cowok juga ngerokok kok… kenapa kita-kita gak boleh??” Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum wanita itu sendiri.
Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? “Feminisme”(radikal) telah menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami. Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan dan pengajaran.
Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada kesalahan yang tidak ‘disengaja’ tadi, bangkitlah dari keterpurukan. Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.
O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran (yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul yang namanya “Feminisme”yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus menjaganya (keperjakaan) juga.
Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang Virgin atau tidaknya.
Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala), sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang seperti itu dalam hal ini.
Mengenai rokok? Katakan saja ”Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa ngelarang doang”. Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita benar-benar mengubahnya.
Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih tahu caranya Read More..
Senin, 22 September 2008
Bertahan di Tengah Badai
Badai tak datang tiap hari.
Ia hanya datang sesekali saja dalam hidup, itulah badai persoalan. Memang begitulah kenyataan hidup yang kita alami. Kita pasti pernah mengalami cobaan hidup yang begitu berat terasakan. Kadang, buntu, tak tahu apakah cobaan berat itu dapat terselesaikan. Kemudian, setelahnya, kita baru menyadari hikmahnya ketika cobaan itu berlalu sudah. Dan, kita pasti mengenangkan kisah-kisah sedih hidup kita itu. Menjadi catatan sejarah tersendiri bagi diri dan kehidupan ini. Dari rangkaian hidup yang demikian, alangkah baiknya ketika kita mau berbagi pengalaman dengan orang lain. Siapa tahu bermanfaat bagi kehidupannya.
Saya membicarakan badai kehidupan ini karena teramat banyak kasus yang saya baca dan lihat baik di koran maupun televisi. Semakin banyak saja orang yang melakukan jalan pintas untuk bisa keluar dari persoalan yang dia hadapi. Jalan pintas yang tentunya tak sesuai dengan akal sehat dan norma agama yang diyakininya. Sungguh, kadang tak habis pikir dengan kenyataan yang demikian. Bunuh diri, adalah salah satunya.
Sebenarnya, kalau kita bisa jernih membaca keadaan, besar kecilnya persoalan itu tergantung dari cara pandangan kita. Dan, cara pandang kita ini terkait erat dengan keilmuwan dan wawasan kita. Nah, dalam hal ini, kita mesti punya frame (bingkai) dalam memandang setiap persoalan. Kalau tidak, kadang, memang kita sering salah dalam mensikapi berbagai badai persoalan yang datang.
Bagi kaum muslim, tentu sudah mengenal konsep yang sungguh indah.
Jika mendapat kenikmatan ia bersyukur
Jika sedang tertimpa musibah ia bersabar.
Subhanallah, konsep yang ideal sekali. Hanya saja, kadang kita, dan saya sendiri sering lupa dengan konsep tersebut. Lebih banyak lupanya untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian kita. Makanya, tak heran jika kita masih saja sering salah dalam mengambil keputusan.
Kalau di antara kita ada yang sedang bahagia hari ini, bersyukurlah, Jangan biarkan kenikmatan itu dirasakan sendiri, berbagilah kenikmatan yang dirasakan bersama orang lain. Keluarga, sahabat, kaum du’afa, atau orang-orang tercinta.
Kemudian, bagi yang saat ini sedang merasa sedih, jengkel, kecewa atau sedang mengalami cobaat yang besar. Bersabar itu perlu sebagai awalan. Setelahnya, kita pelan-pelan mencari jalan keluar yang tepat. Tergesa-gesa mengambil keputusan bukan cara yang bijak karena selalu buruk pada akhirnya. Kita mungkin perlu merenung sejenak, apakah jalan keluar yang kita semai nantinya benar-benar sebuah jalan yang benar. Atau justru sebaliknya. Sekali lagi, frame yang akan berbicara. Jika ia seorang muslim, tentu merujuk pada kidah-kaidah agama yang ia pahami.
Kita mesti ingat, akan menjadi pahlawan atau pecundang.
Pahlawan adalah mereka yang cerdas memaknai masalah yang dihadapinya, justru dengan keadaan demikian, menjadikannya kreatif untuk menghasilkan suasana baru. Sebuah kondisi yang kadang akan membuatnya dikenang dalam sepanjang sejarah. Ini bisa juga berarti kesuksesan dan kejayaan dalam sepanjang hidupnya. Dan, pecundang adalah mereka yang selalu saja berkeluh kesah, menyalahkan takdir, atau justru menyalahkan orang lain sebagai penyebab dirinya begitu. Sekarang, silakan memilih.
Persoalan selalu ada. Besar kecilnya persoalan tergantung dari cara pandang kita. Datangnya persoalan bukan untuk disesali. Yang terpenting adalah sikap kita dalam mensikapi persoalan itu. Jika orang bisa bertahan di tengah badai. Kelak, kesuksesan dan kejayaan yang akan diraihnya, Percayalah!. Read More..
Ia hanya datang sesekali saja dalam hidup, itulah badai persoalan. Memang begitulah kenyataan hidup yang kita alami. Kita pasti pernah mengalami cobaan hidup yang begitu berat terasakan. Kadang, buntu, tak tahu apakah cobaan berat itu dapat terselesaikan. Kemudian, setelahnya, kita baru menyadari hikmahnya ketika cobaan itu berlalu sudah. Dan, kita pasti mengenangkan kisah-kisah sedih hidup kita itu. Menjadi catatan sejarah tersendiri bagi diri dan kehidupan ini. Dari rangkaian hidup yang demikian, alangkah baiknya ketika kita mau berbagi pengalaman dengan orang lain. Siapa tahu bermanfaat bagi kehidupannya.
Saya membicarakan badai kehidupan ini karena teramat banyak kasus yang saya baca dan lihat baik di koran maupun televisi. Semakin banyak saja orang yang melakukan jalan pintas untuk bisa keluar dari persoalan yang dia hadapi. Jalan pintas yang tentunya tak sesuai dengan akal sehat dan norma agama yang diyakininya. Sungguh, kadang tak habis pikir dengan kenyataan yang demikian. Bunuh diri, adalah salah satunya.
Sebenarnya, kalau kita bisa jernih membaca keadaan, besar kecilnya persoalan itu tergantung dari cara pandangan kita. Dan, cara pandang kita ini terkait erat dengan keilmuwan dan wawasan kita. Nah, dalam hal ini, kita mesti punya frame (bingkai) dalam memandang setiap persoalan. Kalau tidak, kadang, memang kita sering salah dalam mensikapi berbagai badai persoalan yang datang.
Bagi kaum muslim, tentu sudah mengenal konsep yang sungguh indah.
Jika mendapat kenikmatan ia bersyukur
Jika sedang tertimpa musibah ia bersabar.
Subhanallah, konsep yang ideal sekali. Hanya saja, kadang kita, dan saya sendiri sering lupa dengan konsep tersebut. Lebih banyak lupanya untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian kita. Makanya, tak heran jika kita masih saja sering salah dalam mengambil keputusan.
Kalau di antara kita ada yang sedang bahagia hari ini, bersyukurlah, Jangan biarkan kenikmatan itu dirasakan sendiri, berbagilah kenikmatan yang dirasakan bersama orang lain. Keluarga, sahabat, kaum du’afa, atau orang-orang tercinta.
Kemudian, bagi yang saat ini sedang merasa sedih, jengkel, kecewa atau sedang mengalami cobaat yang besar. Bersabar itu perlu sebagai awalan. Setelahnya, kita pelan-pelan mencari jalan keluar yang tepat. Tergesa-gesa mengambil keputusan bukan cara yang bijak karena selalu buruk pada akhirnya. Kita mungkin perlu merenung sejenak, apakah jalan keluar yang kita semai nantinya benar-benar sebuah jalan yang benar. Atau justru sebaliknya. Sekali lagi, frame yang akan berbicara. Jika ia seorang muslim, tentu merujuk pada kidah-kaidah agama yang ia pahami.
Kita mesti ingat, akan menjadi pahlawan atau pecundang.
Pahlawan adalah mereka yang cerdas memaknai masalah yang dihadapinya, justru dengan keadaan demikian, menjadikannya kreatif untuk menghasilkan suasana baru. Sebuah kondisi yang kadang akan membuatnya dikenang dalam sepanjang sejarah. Ini bisa juga berarti kesuksesan dan kejayaan dalam sepanjang hidupnya. Dan, pecundang adalah mereka yang selalu saja berkeluh kesah, menyalahkan takdir, atau justru menyalahkan orang lain sebagai penyebab dirinya begitu. Sekarang, silakan memilih.
Persoalan selalu ada. Besar kecilnya persoalan tergantung dari cara pandang kita. Datangnya persoalan bukan untuk disesali. Yang terpenting adalah sikap kita dalam mensikapi persoalan itu. Jika orang bisa bertahan di tengah badai. Kelak, kesuksesan dan kejayaan yang akan diraihnya, Percayalah!. Read More..
7 Faktor Kehancuran Keluarga
Di dalam rumah tangga selalu memiliki rintangan dan penyebab
kehancuran, dalam pandangan Psikofitrah ada 7 penyebab kehancuran
keluarga. Kehancuran keluarga ditengah masyarakat berarti juga
kehancuran satu bangsa sebab keluarga adalah cermin dari satu bangsa.
1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun,
magic dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja
membuat langkah hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan
pada bencana yang fatal.
2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong
daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung
mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al
haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil,
pakaian dan lain-lainnya.
3. Kemewahan. Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai
dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya
kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki
pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku
manyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.
4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL
dan PIL). Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan"
dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud
apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis
"berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.
5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada
juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis
dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika
sosial.
6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi
penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah
terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.
7. Jauh dari agama. Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi
agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang
terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah
tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu. Read More..
kehancuran, dalam pandangan Psikofitrah ada 7 penyebab kehancuran
keluarga. Kehancuran keluarga ditengah masyarakat berarti juga
kehancuran satu bangsa sebab keluarga adalah cermin dari satu bangsa.
1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun,
magic dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja
membuat langkah hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan
pada bencana yang fatal.
2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong
daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung
mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al
haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil,
pakaian dan lain-lainnya.
3. Kemewahan. Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai
dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya
kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki
pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku
manyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.
4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL
dan PIL). Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan"
dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud
apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis
"berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.
5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada
juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis
dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika
sosial.
6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi
penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah
terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.
7. Jauh dari agama. Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi
agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang
terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah
tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu. Read More..
10 Jenis Siksaan Yang Menimpa Wanita Penghuni Neraka
Inilah sepuluh jenis siksaan yang menimpa wanita yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika melalui peristiwa Israk dan Mikraj, inilah peristiwa yang membuat Rasulullah menangis setiap kali mengenangkannya.
Dalam perjalanan itu, antaranya Rasulullah SAW diperlihatkan (1) perempuan yang digantung dengan rambutnya, sementara itu otak di kepalanya mendidih. Mereka adalah perempuan yang tidak mau melindungi rambutnya agar tidak dilihat lelaki lain.
Siksaan lain yang diperlihatkan Rasulullah SAW ialah (2) perempuan yang digantung dengan lidahnya dan (3) tangannya dikeluarkan dari punggungnya dan (4) minyak panas dituangkan ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang suka menyakiti hati suami dengan kata-katanya.
Rasulullah SAW juga melihat bagaimana (5) perempuan digantung buah dadanya dari arah punggung dan air pohon zakum dituang ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa keizinan suaminya.
Ada pula (6) perempuan diikat dua kakinya serta dua tangannya sampai ke ubun dan dibelit beberapa ular dan kala jengking. Mereka adalah perempuan yang mampu sholat dan berpuasa tetapi tidak mau mengerjakannya, tidak berwudhu dan tidak mau mandi junub. Mereka sering keluar rumah tanpa mendapat izin suaminya terlebih dulu dan tidak mandi yaitu tidak bersuci selepas habis haid dan nifas.
Selain itu, Rasulullah SAW melihat (7) perempuan yang makan daging tubuhnya sendiri sementara di bawahnya ada api yang menyala. Mereka adalah perempuan yang berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang lain.
Rasulullah SAW juga melihat (8) perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting neraka. Mereka adalah perempuan yang suka mencari perhatian orang lain agar melihat perhiasan dirinya.
Siksaan lain yang dilihat Rasulullah SAW ialah (9) perempuan yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya pula seperti keledai. Mereka adalah perempuan yang suka mengadu domba dan sangat suka berdusta.
Ada pula perempuan yang Rasulullah SAW lihat (10) bentuk rupanya seperti anjing dan beberapa ekor ular serta kala jengking masuk ke dalam mulutnya dan keluar melalui duburnya. Mereka adalah perempuan yang suka marah kepada suaminya dan memfitnah orang lain.
Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan wanita atau menempatkan wanita sebagai sumber dosa. Inilah keadaan seadanya yang sesuai riwayat yang ada. Read More..
Dalam perjalanan itu, antaranya Rasulullah SAW diperlihatkan (1) perempuan yang digantung dengan rambutnya, sementara itu otak di kepalanya mendidih. Mereka adalah perempuan yang tidak mau melindungi rambutnya agar tidak dilihat lelaki lain.
Siksaan lain yang diperlihatkan Rasulullah SAW ialah (2) perempuan yang digantung dengan lidahnya dan (3) tangannya dikeluarkan dari punggungnya dan (4) minyak panas dituangkan ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang suka menyakiti hati suami dengan kata-katanya.
Rasulullah SAW juga melihat bagaimana (5) perempuan digantung buah dadanya dari arah punggung dan air pohon zakum dituang ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa keizinan suaminya.
Ada pula (6) perempuan diikat dua kakinya serta dua tangannya sampai ke ubun dan dibelit beberapa ular dan kala jengking. Mereka adalah perempuan yang mampu sholat dan berpuasa tetapi tidak mau mengerjakannya, tidak berwudhu dan tidak mau mandi junub. Mereka sering keluar rumah tanpa mendapat izin suaminya terlebih dulu dan tidak mandi yaitu tidak bersuci selepas habis haid dan nifas.
Selain itu, Rasulullah SAW melihat (7) perempuan yang makan daging tubuhnya sendiri sementara di bawahnya ada api yang menyala. Mereka adalah perempuan yang berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang lain.
Rasulullah SAW juga melihat (8) perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting neraka. Mereka adalah perempuan yang suka mencari perhatian orang lain agar melihat perhiasan dirinya.
Siksaan lain yang dilihat Rasulullah SAW ialah (9) perempuan yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya pula seperti keledai. Mereka adalah perempuan yang suka mengadu domba dan sangat suka berdusta.
Ada pula perempuan yang Rasulullah SAW lihat (10) bentuk rupanya seperti anjing dan beberapa ekor ular serta kala jengking masuk ke dalam mulutnya dan keluar melalui duburnya. Mereka adalah perempuan yang suka marah kepada suaminya dan memfitnah orang lain.
Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan wanita atau menempatkan wanita sebagai sumber dosa. Inilah keadaan seadanya yang sesuai riwayat yang ada. Read More..
10 KESALAHAN BESAR DALAM PERKAWINAN
Tak ada gading yang tak retak. Begitu kata pepatah untuk menggambarkan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia yang kerap melakukan kesalahan. Meski begitu, kesalahan tetap bisa dihindari atau diperbaiki. Termasuk kesalahan-kesalahan yang kerap kita lakukan dalam perkawinan. Nah, berikut ini sejumlah kesalahan yang paling sering dilakukan pasangan dalam sebuah perkawinan yang tak jarang memberi dampak amat buruk yaitu perceraian. Karena itu, simak baik-baik dan sedapat mungkin hindarilah.
1.Kurang MenghormatiJangan menjelek-jelekan pasangan kepada teman-teman atau rekan kerja. Ingat, Anda dan suami/istri saling membutuhkan dan masing-masing juga harus tahu bahwa dirinya dihormati pasangan.
2. Tak Mengindahkan atau Mendengarkan Jangan memberikan perhatian lebih kepada komputer, teve, dan lainnya sementara pasangan sedang berada di sisi kita. Perhatikan pula bahasa tubuh pasangan karena dari situ kita juga bisa tahu, apa yang sebetulnya ia inginkan.
3. Kurang GairahPadamnya gairah, tak ada lagi kemesraan apalagi keintiman, merupakan tanda-tanda bahaya dari sebuah perkawinan. Jangan tunggu lebih lama lagi. Segeralah cari nasihat dari penasihat perkawinan atau dokter yang bisa membantu jika memang harus dilakukan pengobatan tertentu. Jangan biarkan pasangan Anda bertanya, mengapa Anda tidak tertarik (lagi) pada seks.
4. Selalu Harus Benar & MenangSikap selalu menggurui bahkan memerintah pasangan atau harus selalu menang di dalam setiap percakapan, juga merupakan bahaya besar yang mengancam kehidupan perkawinan. Jarang sekali ada orang yang bisa bertahan menyintai pasangan yang selalu mau menang sendiri, inginnya dituruti, tak boleh dibantah. Sesekali terimalah, bahwa ada kesalahan yangt telah Anda buat dan jangan selalu menjawab setiap pertanyaan yang sederhana dengan kalimat panjang dengan nada tinggi pula.
5. CerewetTerlalu banyak bicara juga amat menjengkelkan pasangan kita, lo. Lebih baik bertindak daripada cuma banyak bicara. Jika Anda mengatakan akan megerjakannya, kerjakanlah! Dan bila Anda tidak mau mengerjakannya, tinggalkan!
6. Sindiran MenyakitkanJika pasangan berbicara dengan gaya dan kalimat yang menyakitkan, coba pikirkan baik-baik, kemudian tenangkan hati dan jangan membantah atau balik menyerang. Cobalah mengerti, pasangan sedang tidak memiliki rasa humor atau tengah senssitif. Jika keadaan sudah tenang, ajak ia bicara baik-baik. Tak perlu balas menyindir atau melontarkan kata-lata menyakitkan karena masalah tak akan pernah selesai dengan cara seperti itu.
7. KetidakjujuranBerbohong dan mempunyai rahasia di dalam perkawinan hanya akan menciptakan jarak alias jurang pemisah dia antara Anda berdua. Awalilah kehidupan perkawinan dengan kejujuran dan niat tulus untuk tidak akan berbohong dan bersikap tak jujur pada belahan jiwa.
8. MenyebalkanJelas, suatu perilaku buruk yang terus saja dilakukan, akan membuat pasangan kesal dan sebal. Ingat, lo, kesabaran manusia ada batasnya. Jika Anda selalu mengritik segala tindakan pasangan, kelewat mencampuri urusannya sampai terkesan mendikte, tak pernah "absen" memberi komentar, jangan salahkan pasangan jika satu saat ia berpaling ke lain hati. Coba, deh, tempatkan diri di posisi dia. Pasti Anda pun akan melakukan hal sama. Jadi, berhentilah bersikap menyebalkan.
9. Egois & PelitGiliran belanja untuk keperluan sendiri, Anda tidak peduli berapa besarnya harus mengeluarkan uang namun begitu untuk keperluan pasangan, Anda tiba-tiba berubah menjadi seorang juru hitung yang amat handal. Kalau mengajak makan di restoran, Anda selalu memilih yang termurah atau bermuka masam ketika sanak keluarganya datang berkunjung ke rumah. Nah, tanggalkan sikap-sikap yang menjengkelkan seperti itu. Ingat, Anda dan pasangan adalah belahan jiwa yang saling memerlukan dan harusnya saling mengisi.
10. PemarahSetiap pasangan harus dapat menghadapi konflik dengan cara yang positif. Jika Anda memiliki sifat pemarah, mungkin Anda dapat memenangkan perselisihan yang terjadi namun pada akhirnya malah bisa mengakibatkan kehilangan semuanya. Anda tak mau hal itu terjadi, kan?
12 CARA MEMPERBAIKI PERKAWINAN
1. Bersikap jujur.
2. Saling mendorong cita-cita untuk mendapatkan keberhasilan bersama.
3. Saling menghormati.
4. Luangkanlah waktu bersama untuk saling membagi cita-cita.
5. Luangkan waktu untuk berdialog, berdiskusi dalam percakapan sehari-hari sebagai cara untuk meningkatkan dan memperbaiki komunikasi.
6. Tertawalah bersama-sama sekurang-kurangnya sehari sekali.
7. Selisih paham boleh-boleh saja, tapi lakukan dengan cara yang fair.
8. Bersedia untuk saling memaafkan.
9. Ingat, saling berbaik hati adalah suatu hadiah yang amat besar nilainya.
10. Saling berbagi keinginan sehari-hari.
11. Buatlah keputusan bersama mengenai keuangan, disiplin anak-anak, pekerjaan rumah, liburan, dan lainnya. Jangan putuskan segala sesuatu sendirian. Ingat, dua kepala lebih baik dari saru kepala!
12. Luangkanlah waktu untuk berdua saja agar rasa keintiman terus terjalin dengan baik dan makin kuat. Rencakanlah liburan atau bepergian berdua yang romantis. Read More..
1.Kurang MenghormatiJangan menjelek-jelekan pasangan kepada teman-teman atau rekan kerja. Ingat, Anda dan suami/istri saling membutuhkan dan masing-masing juga harus tahu bahwa dirinya dihormati pasangan.
2. Tak Mengindahkan atau Mendengarkan Jangan memberikan perhatian lebih kepada komputer, teve, dan lainnya sementara pasangan sedang berada di sisi kita. Perhatikan pula bahasa tubuh pasangan karena dari situ kita juga bisa tahu, apa yang sebetulnya ia inginkan.
3. Kurang GairahPadamnya gairah, tak ada lagi kemesraan apalagi keintiman, merupakan tanda-tanda bahaya dari sebuah perkawinan. Jangan tunggu lebih lama lagi. Segeralah cari nasihat dari penasihat perkawinan atau dokter yang bisa membantu jika memang harus dilakukan pengobatan tertentu. Jangan biarkan pasangan Anda bertanya, mengapa Anda tidak tertarik (lagi) pada seks.
4. Selalu Harus Benar & MenangSikap selalu menggurui bahkan memerintah pasangan atau harus selalu menang di dalam setiap percakapan, juga merupakan bahaya besar yang mengancam kehidupan perkawinan. Jarang sekali ada orang yang bisa bertahan menyintai pasangan yang selalu mau menang sendiri, inginnya dituruti, tak boleh dibantah. Sesekali terimalah, bahwa ada kesalahan yangt telah Anda buat dan jangan selalu menjawab setiap pertanyaan yang sederhana dengan kalimat panjang dengan nada tinggi pula.
5. CerewetTerlalu banyak bicara juga amat menjengkelkan pasangan kita, lo. Lebih baik bertindak daripada cuma banyak bicara. Jika Anda mengatakan akan megerjakannya, kerjakanlah! Dan bila Anda tidak mau mengerjakannya, tinggalkan!
6. Sindiran MenyakitkanJika pasangan berbicara dengan gaya dan kalimat yang menyakitkan, coba pikirkan baik-baik, kemudian tenangkan hati dan jangan membantah atau balik menyerang. Cobalah mengerti, pasangan sedang tidak memiliki rasa humor atau tengah senssitif. Jika keadaan sudah tenang, ajak ia bicara baik-baik. Tak perlu balas menyindir atau melontarkan kata-lata menyakitkan karena masalah tak akan pernah selesai dengan cara seperti itu.
7. KetidakjujuranBerbohong dan mempunyai rahasia di dalam perkawinan hanya akan menciptakan jarak alias jurang pemisah dia antara Anda berdua. Awalilah kehidupan perkawinan dengan kejujuran dan niat tulus untuk tidak akan berbohong dan bersikap tak jujur pada belahan jiwa.
8. MenyebalkanJelas, suatu perilaku buruk yang terus saja dilakukan, akan membuat pasangan kesal dan sebal. Ingat, lo, kesabaran manusia ada batasnya. Jika Anda selalu mengritik segala tindakan pasangan, kelewat mencampuri urusannya sampai terkesan mendikte, tak pernah "absen" memberi komentar, jangan salahkan pasangan jika satu saat ia berpaling ke lain hati. Coba, deh, tempatkan diri di posisi dia. Pasti Anda pun akan melakukan hal sama. Jadi, berhentilah bersikap menyebalkan.
9. Egois & PelitGiliran belanja untuk keperluan sendiri, Anda tidak peduli berapa besarnya harus mengeluarkan uang namun begitu untuk keperluan pasangan, Anda tiba-tiba berubah menjadi seorang juru hitung yang amat handal. Kalau mengajak makan di restoran, Anda selalu memilih yang termurah atau bermuka masam ketika sanak keluarganya datang berkunjung ke rumah. Nah, tanggalkan sikap-sikap yang menjengkelkan seperti itu. Ingat, Anda dan pasangan adalah belahan jiwa yang saling memerlukan dan harusnya saling mengisi.
10. PemarahSetiap pasangan harus dapat menghadapi konflik dengan cara yang positif. Jika Anda memiliki sifat pemarah, mungkin Anda dapat memenangkan perselisihan yang terjadi namun pada akhirnya malah bisa mengakibatkan kehilangan semuanya. Anda tak mau hal itu terjadi, kan?
12 CARA MEMPERBAIKI PERKAWINAN
1. Bersikap jujur.
2. Saling mendorong cita-cita untuk mendapatkan keberhasilan bersama.
3. Saling menghormati.
4. Luangkanlah waktu bersama untuk saling membagi cita-cita.
5. Luangkan waktu untuk berdialog, berdiskusi dalam percakapan sehari-hari sebagai cara untuk meningkatkan dan memperbaiki komunikasi.
6. Tertawalah bersama-sama sekurang-kurangnya sehari sekali.
7. Selisih paham boleh-boleh saja, tapi lakukan dengan cara yang fair.
8. Bersedia untuk saling memaafkan.
9. Ingat, saling berbaik hati adalah suatu hadiah yang amat besar nilainya.
10. Saling berbagi keinginan sehari-hari.
11. Buatlah keputusan bersama mengenai keuangan, disiplin anak-anak, pekerjaan rumah, liburan, dan lainnya. Jangan putuskan segala sesuatu sendirian. Ingat, dua kepala lebih baik dari saru kepala!
12. Luangkanlah waktu untuk berdua saja agar rasa keintiman terus terjalin dengan baik dan makin kuat. Rencakanlah liburan atau bepergian berdua yang romantis. Read More..
Jangan Meminta Keadilan Allah
Beberapa kali aku pernah mendengar dalam forum pengajian Cahaya Ilahi, Syaikh Luqman mengatakan bahwa jangan meminta keadilan Allah serem soalnya. Iya ya... baru ngerti sekarang aku maksudnya. Menurut pemahamanku biasanya seseorang memohon keadilan Allah bila dalam kondisi merasa sedang dizholimi oleh pihak lain. Maka biasanya dia berdoa mohon keadilan Allah, tetapi setelah aku bayangkan jika misalnya aku sendiri yang berdoa seperti itu, wuih... bener serem banget. Seremnya itu karena kita mohon keadilan-Nya, sedangkan Allah itu benar-benar maha adil, maka misalnya saat itu juga keadilan Allah turun bisa-bisa aku sendiri yang terkena akibat doaku sendiri. Coba deh dianalisa, aku berdoa karena merasa dizholimi pihak lain dan mohon keadilan Allah, maka begitu keadilan Allah itu datang pasti kezholiman-kezholiman yang pernah aku lakukan juga diadili oleh Allah, serem engga ? Padahal sudah berapa kali dalam usiaku yang sekarang ini aku berbuat zholim ? Yang pertama pasti aku zholim terhadap diriku sendiri, dengan menyepelekan maksiat, kufur nikmat dan jauh dari thaat. Kezholiman berikutnya malah lebih banyak lagi, zholim pada orang tua, istri, anak, tetangga, teman, sahabat, rekan kerja, pimpinan dan yang lainnya, yang mungkin seluruh kadar kezholimanku jauh melebihi pihak-pihak yang aku anggap zholim terhadap diriku. Timbangan zholimku jauh lebih berat, ya terlempar aku ke dalam neraka-Nya. Nah !!! Yang berikutnya terkait masalah surga dan neraka, terutama bagi yang ke mana-mana kalo ibadah mesti membawa kalkulator untuk menghitung ibadahnya : tahajudnya sudah berapa juta rakaat, zakat-infaq-shodaqohnya sudah berapa triliun, khatam Qur’annya sudah berapa ribu kali dan sebagainya, ini malah lebih sueremmm lagi. Kok bisa ? Lha iya, dengan hitungan ibadah yang sudah dilakukan, biasanya seseorang selalu berharap mendapat balasan berupa surganya Allah. Padahal sebenarnya ibadah kita tidak mungkin bisa menyebabkan kita masuk surga (baca posting : Takkan teraih surga), kalau pun kita masuk surga sebenarnya hanya karena rahmat dan fadhalnya Allah saja bukan karena ibadah kita. Misalnya saja kita diberi usia 100 tahun dan sejak lahir sampai 100 tahun tersebut kita hanya melakukan ibadah terus, melakukan amal sholih terus tanpa sekalipun berbuat maksiat dan kemudian keadilan Allah turun. Ibadah kita yang seratus tahun itu ditimbang dan diperbandingkan dengan keabadian surga, maka tentu saja njomplang berat keabadian surga. Ibadah yang seratus tahun itu tidak ada artinya dalam timbangan keadilan Allah, maka terlempar kita ke dalam neraka-Nya. Nah lagi !!!Bagaimana ? Masih meminta keadilan Allah ?
Read More..
Astagfirullah
Astaghfirullah Robbal baroya
Astaghfirullah minal khothoya
Hidup di dunia sebentar saja
Sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terperdaya
Akhirat nanti tempat pulang kita
Akhirat nanti hidup sebenarnya
Barang siapa Allah tujuannya
Niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya
Niscaya letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa
Kasih sayang Allah Maha Mempesona
Betapa pun kita mengkhianati-Nya
Tiada terputus curahan nikmat-Nya
Selalu dinanti kembali pada-Nya
Selalu dinanti bertaubat pada-Nya
Allah melihat Allah mendengar
Segala sikap dan kata kita
Tiada nan luput satu pun jua
Allah takkan lupa selama-lamanya
Allah takkan lupa selama-lamanya
Ingatlah maut yang pasti menjemput
Putuskan nikmat dan cita-cita
Tiada tertolak tiada tercegah
Bila ajal tiba pun berakhir sudah
Bila waktu hidup berakhir sudah
Tubuh pun kaku terbungkus kafan
Tiada guna harta pangkat jabatan
Tinggallah ratapan dan penyesalan
Menanti peradilan yang menentukan
Menanti peradilan yang menentukan
Wahai sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Takutlah azab yang mengerikan
Siksa jahanam sepanjang zaman
Siksa jahanam sepanjang zaman
Allah pengampun penerima taubat
walaupun dosa sepenuh jagat
Wahai sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Karena ajal kian mendekat
Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) Read More..
Astaghfirullah minal khothoya
Hidup di dunia sebentar saja
Sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terperdaya
Akhirat nanti tempat pulang kita
Akhirat nanti hidup sebenarnya
Barang siapa Allah tujuannya
Niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya
Niscaya letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa
Kasih sayang Allah Maha Mempesona
Betapa pun kita mengkhianati-Nya
Tiada terputus curahan nikmat-Nya
Selalu dinanti kembali pada-Nya
Selalu dinanti bertaubat pada-Nya
Allah melihat Allah mendengar
Segala sikap dan kata kita
Tiada nan luput satu pun jua
Allah takkan lupa selama-lamanya
Allah takkan lupa selama-lamanya
Ingatlah maut yang pasti menjemput
Putuskan nikmat dan cita-cita
Tiada tertolak tiada tercegah
Bila ajal tiba pun berakhir sudah
Bila waktu hidup berakhir sudah
Tubuh pun kaku terbungkus kafan
Tiada guna harta pangkat jabatan
Tinggallah ratapan dan penyesalan
Menanti peradilan yang menentukan
Menanti peradilan yang menentukan
Wahai sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Takutlah azab yang mengerikan
Siksa jahanam sepanjang zaman
Siksa jahanam sepanjang zaman
Allah pengampun penerima taubat
walaupun dosa sepenuh jagat
Wahai sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Karena ajal kian mendekat
Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) Read More..
Ayah.., Dengarkanlah!
Ayah sebagai kepala keluarga mendapat amanat dari Allah berupa anak. Terkadang, bahkan sering seorang ayah hanya mementingkan hal-hal yang bersifat keduniaan berupa kesenangan dan kebahagiaan anaknya di dunia saja. Ingatlah wahai ayah ..! apabila engkau menelantarkan akhirat mereka, berarti engkau telah mendzalimi mereka. Apa yang akan engkau katakan jika mereka mengadu kepada Rabb di akhirat kelak Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridlai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak yang hanya mementingkan dunia. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang mencelakakan kehidupan akhirat kami dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami?
Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo'a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.
Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu -karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu- sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.
Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!
Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!
Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!
Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu?
Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta'at atau maksiat?
Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi, apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?
Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan yang ada hanyalah pembalasan?
Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya -kita berlindung kepada Allah darinya- maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia. Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian mereka akan berteriak:
Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)
Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap…yang ada hanyalah kerugian dan kegagalan.
Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?
Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah, saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.
Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur'an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta'at kepada-Nya.
Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur'anul Karim atau beberapa hadits dari hadits Nabi saw ? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini. Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan. Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji dan mengunjungi masjid Nabi saw?
Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur'an berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka tidak. Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Di samping memperhatikan pekembangan fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.
Langkah pertama untuk itu adalah kita perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah swt. Allah berfirman:Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih (Al-Kahfi: 82)
Kedua, kita jadikan bimbingan dan pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap akhirat. Allah berfirman:Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib (bagian)mu dari (keni'matan) dunia. (Al-Qashash: 77)
Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron, perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu. Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw bersabda:Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah haramkan baginya surga. (Bukhari Muslim)
Ayah….! Jika engkau memang sayang pada buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah mengabadikannya dalam Al-Qur'an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau apakah wasiatnya itu?
Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)
Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu?
Kemudian, beliau dengan segenap kasih sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah? Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian…maka ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.
Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)
Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan seluruhnya..?!
Ada fenomena yang sangat kita sesali dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Bahkan di antara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya, sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada mereka?
Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!(Al-An'am:32)
Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga) jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta'at kepada Allah.
Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridlai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami. Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu sayangnya sehingga menjerumuskan anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam kebinasaan.
Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu'araa': 88-89)
Maka di manakah hartamu? Di manakah anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk itu.
Kita berlindung kepada Allah dari semua itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih ada di hadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan. Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah lah pahala yang besar. (At-Thagaabun: 15)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6) Read More..
Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo'a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.
Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu -karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu- sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.
Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!
Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!
Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!
Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu?
Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta'at atau maksiat?
Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi, apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?
Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan yang ada hanyalah pembalasan?
Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya -kita berlindung kepada Allah darinya- maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia. Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian mereka akan berteriak:
Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)
Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap…yang ada hanyalah kerugian dan kegagalan.
Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?
Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah, saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.
Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur'an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta'at kepada-Nya.
Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur'anul Karim atau beberapa hadits dari hadits Nabi saw ? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini. Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan. Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji dan mengunjungi masjid Nabi saw?
Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur'an berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka tidak. Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Di samping memperhatikan pekembangan fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.
Langkah pertama untuk itu adalah kita perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah swt. Allah berfirman:Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih (Al-Kahfi: 82)
Kedua, kita jadikan bimbingan dan pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap akhirat. Allah berfirman:Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib (bagian)mu dari (keni'matan) dunia. (Al-Qashash: 77)
Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron, perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu. Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw bersabda:Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah haramkan baginya surga. (Bukhari Muslim)
Ayah….! Jika engkau memang sayang pada buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah mengabadikannya dalam Al-Qur'an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau apakah wasiatnya itu?
Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)
Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu?
Kemudian, beliau dengan segenap kasih sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah? Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian…maka ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.
Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)
Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan seluruhnya..?!
Ada fenomena yang sangat kita sesali dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Bahkan di antara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya, sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada mereka?
Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!(Al-An'am:32)
Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga) jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta'at kepada Allah.
Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridlai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami. Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu sayangnya sehingga menjerumuskan anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam kebinasaan.
Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu'araa': 88-89)
Maka di manakah hartamu? Di manakah anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk itu.
Kita berlindung kepada Allah dari semua itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih ada di hadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan. Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah lah pahala yang besar. (At-Thagaabun: 15)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6) Read More..
Bunda, Mari Mengamati Buah Hati Kita
Sepanjang hidup anak berkembang dan berubah, seiring itu pulalah sebaiknya sang ibu tetap mengamati dan mencoba mengenal anaknya.
Siapakah anak kita? Bayi mungil yang ditimang ibu dan ayah saat pertama kali?
Sembilan bulan sepuluh hari seorang ibu membawa bayinya dalam kandungan, secara naluri seorang ibu ia sudah mengenalinya. Betapapun ia belum pernah melihatnya, namun perasaan saling mengenal sudah tertanam di antara ibu dan anak.
Sejak dalam kandungan, sang ibu sudah dapat membedakan apakah anak yang ini terbilang gesit karena banyak geraknya di dalam kandungan, atau tergolong tenang. Sepanjang kehamilan, sebagian ibu menyempatkan diri berdialog dengan jabang bayinya lewat usapan lembut di kulit perutnya, dan kadang ada “jawabannya” dari dalam berupa tendangan halus atau terasa sang jabang bayi bergerak.
Inilah yang menyebabkan orang tidak boleh meremehkan naluri seorang ibu terhadap anaknya, sebab hubungan batin sudah terjalin lewat komunikasi aktif bahkan sejak masih dalam kandungan. Ini juga yang menyebabkan anak yang tidak dikehendaki (unwanted child) seringkali berkembang menjadi pribadi bermasalah, karena sejak masih dalam kandungan iapun sudah merasa tidak diterima, lewat cara bagaimana sang ibu memperlakukan kandungannya sendiri.
Selanjutnya, perkenalan pertama itupun terjadilah. Pandangan pertama ini segera menguatkan rasa cinta yang mendalam dan sang ibu mulai mengamati wajah buah hatinya. Seperti siapakah dia? Demikian pertanyaan yang paling pertama muncul. Laki-laki atau perempuan? Cantikkah? Gantengkah?
Seorang sholihah yang pandai bersyukur tak akan berlama-lama mempersoalkan penampilan fisik, rupa maupun jenis kelamin. Ibu sholihat segera mengisi hatinya dengan rasa syukur dan segera menerima buah hatinya dengan hati lapang. Sebaliknya, seorang ibu yang kurang pandai bersyukur mungkin menyesali bahwa bayinya lahir dengan jenis kelamin yang tidak diharapkannya. Atau merasa kecewa karena anaknya tidak mirip dirinya, atau kecewa dengan cacat-cacat fisik lain, dan lain sebagainya.
Ibu sholihat kelak akan lebih mudah melakukan pengamatan dan pengenalan yang benar terhadap anaknya. Sedang ibu yang kurang bersyukur justru akan mengalami hambatan dalam mengenali anaknya. Kekecewaan dirinya akan menjadi sekat pengamatan. Ia memandang anaknya tidak dengan obyektif karena sudah dilandasi rasa kecewa tadi. Semakin besar kekecewaannya, semakin sulit ia menemukan kebaikan atau kelebihan anaknya. Dapat dibayangkan, anak seperti ini sejak lahir sudah mempunyai beban yang berat dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Tahun-tahun pertama bersama, jika si anak beruntung, ia akan mendapatkan kasih sayang yang cukup. Ini akan membuatnya tumbuh kembang dengan sehat dan optimal. Semakin pandai sang ibu mengasuhnya, semakin optimal bakatnya berkembang dan akan semakin cemerlanglah dia. Tidak ada bakat yang jelek yang akan membawa seseorang kepada takdir keburukan. Allah Maha Adil.
Sejumlah sifat bawaan hanya membawa kemungkinan yang masih perlu diformat lagi oleh faktor pengalaman hidup anak tersebut. Jika sang anak kurang beruntung, ia akan tumbuh kembang dalam lingkungan yang merugikan dirinya. Semakin buruk perlakuan yang diterimanya, akan berinteraksi dengan bakat bawaannya menjadi sifat-sifat buruk dan lemah.
Lima tahun pertama hidupnya merupakan masa-masa penting. Umumnya di usia ini anak masih tergantung pada ibu. Oleh karena itu, ibu-lah yang paling dominan dalam membentuk karakter dasar seseorang. Tidaklah heran jika para ibu menjadi target perusakan oleh musuh.
Tragedi Bosnia salah satu contoh ekstrimnya. Pemerkosaan massal atas kaum wanita suatu bangsa sama juga dengan menghancurkan karakter seluruh bangsa selama beberapa generasi.
Ibu sholihat akan memanfaatkan golden age ini sebaik-baiknya. Sahabat Ali Ra menganjurkan agar dalam tujuh tahun pertama anak dibesarkan dengan penuh permainan, karena selain cara itulah yang paling cocok dengan perkembangan otaknya, juga agar anak mengawali tahun-tahun pertamanya dengan kegembiraan, bukan kesedihan atau beban kewajiban. Pribadi yang gembira lebih berpotensi menjadi pribadi yang kuat.
Coba amati anak kita, apakah ia sudah tampak sebagai anak yang ceria? Jika tampak belum cukup ceria, atau bahkan tampak agak menarik diri, segeralah amati dengan teliti. Semoga bukan karena ada kelainan perkembangan atau cacat fisik yang belum diketahui. Jika penyebabnya sudah diketahui, maka coba pelajari bagaimana mengatasinya, jika perlu, carilah bantuan profesional.
Sebagian besar kelainan anak diketahui pertama kali oleh pengamatan jeli sang ibu. Semakin jeli seorang ibu mengamati anak, semakin cepat cacat atau kelemahan anak diketahui dan Insya Allah akan semakin mudah pula ditangani sejak dini.
Tahun-tahun berlalu kemudian buah hati kita mulai mengenal otoritas lain, yaitu guru. Kini sebagian waktunya ia lewatkan bersama orang lain. Ibu yang bijaksana akan membangun hubungan baik dengan guru anaknya, sehingga pendidikan rumah dan sekolah tetap bersambung. Jika tidak, anak akan mengalami kebingunan karena adanya perbedaan-perbedaan pendapat antara orangtua dan guru berbeda.
Ibu bijaksana juga akan aktif bertanya dan memberi masukan kepada guru tetang perkembangan anaknya. Ia tak akan kehilangan kesempatan mengamati anaknya meskipun ia tidak lagi selalu bersama anaknya.
Tahapan pengamatan dan pengenalan terakhir yang akan dilalui bersama antara ibu dan anak adalah memasuki usia dewasa. Diawali dengan masa transisi yang disebut remaja.
Di masa ini, ibu dan anak seringkali kehilangan pola komunikasi yang selama ini sudah terbentuk dengan baik. Ini karena sifat dari tahapan itu sendiri. Tahapan remaja adalah tahapan gejolak, di mana banyak perubahan besar terjadi.
Perubahan terbesar adalah perubahan status antara kanak-kanak menjadi dewasa. Masa ini diakui sebagai masa sulit bagi ibu dan dan anak yang bahkan sebelumnya cukup harmonis. Bagi yang sebelumnya sudah tidak harmonis. Sedangkan bagi hubungan yang sebelumnya sudah terputus, maka masa ini menjadi masa yang mengokohkan keterpisahan antara orangtua dengan anaknya.
Jika itu semua sudah dilalui dengan sukses, Insya Allah seorang bunda akandengan mudah mengenali siapa anaknya, dan juga berarti akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Wallahu a’lam (SAN) Read More..
Siapakah anak kita? Bayi mungil yang ditimang ibu dan ayah saat pertama kali?
Sembilan bulan sepuluh hari seorang ibu membawa bayinya dalam kandungan, secara naluri seorang ibu ia sudah mengenalinya. Betapapun ia belum pernah melihatnya, namun perasaan saling mengenal sudah tertanam di antara ibu dan anak.
Sejak dalam kandungan, sang ibu sudah dapat membedakan apakah anak yang ini terbilang gesit karena banyak geraknya di dalam kandungan, atau tergolong tenang. Sepanjang kehamilan, sebagian ibu menyempatkan diri berdialog dengan jabang bayinya lewat usapan lembut di kulit perutnya, dan kadang ada “jawabannya” dari dalam berupa tendangan halus atau terasa sang jabang bayi bergerak.
Inilah yang menyebabkan orang tidak boleh meremehkan naluri seorang ibu terhadap anaknya, sebab hubungan batin sudah terjalin lewat komunikasi aktif bahkan sejak masih dalam kandungan. Ini juga yang menyebabkan anak yang tidak dikehendaki (unwanted child) seringkali berkembang menjadi pribadi bermasalah, karena sejak masih dalam kandungan iapun sudah merasa tidak diterima, lewat cara bagaimana sang ibu memperlakukan kandungannya sendiri.
Selanjutnya, perkenalan pertama itupun terjadilah. Pandangan pertama ini segera menguatkan rasa cinta yang mendalam dan sang ibu mulai mengamati wajah buah hatinya. Seperti siapakah dia? Demikian pertanyaan yang paling pertama muncul. Laki-laki atau perempuan? Cantikkah? Gantengkah?
Seorang sholihah yang pandai bersyukur tak akan berlama-lama mempersoalkan penampilan fisik, rupa maupun jenis kelamin. Ibu sholihat segera mengisi hatinya dengan rasa syukur dan segera menerima buah hatinya dengan hati lapang. Sebaliknya, seorang ibu yang kurang pandai bersyukur mungkin menyesali bahwa bayinya lahir dengan jenis kelamin yang tidak diharapkannya. Atau merasa kecewa karena anaknya tidak mirip dirinya, atau kecewa dengan cacat-cacat fisik lain, dan lain sebagainya.
Ibu sholihat kelak akan lebih mudah melakukan pengamatan dan pengenalan yang benar terhadap anaknya. Sedang ibu yang kurang bersyukur justru akan mengalami hambatan dalam mengenali anaknya. Kekecewaan dirinya akan menjadi sekat pengamatan. Ia memandang anaknya tidak dengan obyektif karena sudah dilandasi rasa kecewa tadi. Semakin besar kekecewaannya, semakin sulit ia menemukan kebaikan atau kelebihan anaknya. Dapat dibayangkan, anak seperti ini sejak lahir sudah mempunyai beban yang berat dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Tahun-tahun pertama bersama, jika si anak beruntung, ia akan mendapatkan kasih sayang yang cukup. Ini akan membuatnya tumbuh kembang dengan sehat dan optimal. Semakin pandai sang ibu mengasuhnya, semakin optimal bakatnya berkembang dan akan semakin cemerlanglah dia. Tidak ada bakat yang jelek yang akan membawa seseorang kepada takdir keburukan. Allah Maha Adil.
Sejumlah sifat bawaan hanya membawa kemungkinan yang masih perlu diformat lagi oleh faktor pengalaman hidup anak tersebut. Jika sang anak kurang beruntung, ia akan tumbuh kembang dalam lingkungan yang merugikan dirinya. Semakin buruk perlakuan yang diterimanya, akan berinteraksi dengan bakat bawaannya menjadi sifat-sifat buruk dan lemah.
Lima tahun pertama hidupnya merupakan masa-masa penting. Umumnya di usia ini anak masih tergantung pada ibu. Oleh karena itu, ibu-lah yang paling dominan dalam membentuk karakter dasar seseorang. Tidaklah heran jika para ibu menjadi target perusakan oleh musuh.
Tragedi Bosnia salah satu contoh ekstrimnya. Pemerkosaan massal atas kaum wanita suatu bangsa sama juga dengan menghancurkan karakter seluruh bangsa selama beberapa generasi.
Ibu sholihat akan memanfaatkan golden age ini sebaik-baiknya. Sahabat Ali Ra menganjurkan agar dalam tujuh tahun pertama anak dibesarkan dengan penuh permainan, karena selain cara itulah yang paling cocok dengan perkembangan otaknya, juga agar anak mengawali tahun-tahun pertamanya dengan kegembiraan, bukan kesedihan atau beban kewajiban. Pribadi yang gembira lebih berpotensi menjadi pribadi yang kuat.
Coba amati anak kita, apakah ia sudah tampak sebagai anak yang ceria? Jika tampak belum cukup ceria, atau bahkan tampak agak menarik diri, segeralah amati dengan teliti. Semoga bukan karena ada kelainan perkembangan atau cacat fisik yang belum diketahui. Jika penyebabnya sudah diketahui, maka coba pelajari bagaimana mengatasinya, jika perlu, carilah bantuan profesional.
Sebagian besar kelainan anak diketahui pertama kali oleh pengamatan jeli sang ibu. Semakin jeli seorang ibu mengamati anak, semakin cepat cacat atau kelemahan anak diketahui dan Insya Allah akan semakin mudah pula ditangani sejak dini.
Tahun-tahun berlalu kemudian buah hati kita mulai mengenal otoritas lain, yaitu guru. Kini sebagian waktunya ia lewatkan bersama orang lain. Ibu yang bijaksana akan membangun hubungan baik dengan guru anaknya, sehingga pendidikan rumah dan sekolah tetap bersambung. Jika tidak, anak akan mengalami kebingunan karena adanya perbedaan-perbedaan pendapat antara orangtua dan guru berbeda.
Ibu bijaksana juga akan aktif bertanya dan memberi masukan kepada guru tetang perkembangan anaknya. Ia tak akan kehilangan kesempatan mengamati anaknya meskipun ia tidak lagi selalu bersama anaknya.
Tahapan pengamatan dan pengenalan terakhir yang akan dilalui bersama antara ibu dan anak adalah memasuki usia dewasa. Diawali dengan masa transisi yang disebut remaja.
Di masa ini, ibu dan anak seringkali kehilangan pola komunikasi yang selama ini sudah terbentuk dengan baik. Ini karena sifat dari tahapan itu sendiri. Tahapan remaja adalah tahapan gejolak, di mana banyak perubahan besar terjadi.
Perubahan terbesar adalah perubahan status antara kanak-kanak menjadi dewasa. Masa ini diakui sebagai masa sulit bagi ibu dan dan anak yang bahkan sebelumnya cukup harmonis. Bagi yang sebelumnya sudah tidak harmonis. Sedangkan bagi hubungan yang sebelumnya sudah terputus, maka masa ini menjadi masa yang mengokohkan keterpisahan antara orangtua dengan anaknya.
Jika itu semua sudah dilalui dengan sukses, Insya Allah seorang bunda akandengan mudah mengenali siapa anaknya, dan juga berarti akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Wallahu a’lam (SAN) Read More..
Kamis, 18 September 2008
JANJI PADA IBU
Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan pernah putus. Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu anak yang mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh mengusangkan kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya. Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan "sayang" ketimbang janji manis atau bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum tersedia. Tetapi terkadang janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu dari mulut anak-anaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada menjernihkan mata karena melihat bukti dari janji-janji itu. Ada sebuah fragmen yang cukup menarik,Dikisahkan pada suatu ketika seorang anak yang merasa sudah cukup sukses berucap janji kepada orang tua yang tinggal satu-satunya; ibu yang sangat disayanginya. "Ibu, kalau sudah punya cukup uang saya ingin sekali mengongkosi ibu naik haji." Ibunya tersenyum. Dari ujung matanya kristal-kristal bening meleleh. Didekapnya buah hati yang memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya yang bergemuruh memikul haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya yang menyimpan banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan yang sangat untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, "Semoga niat sucimu terkabul, sayang." Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik itu. Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya ia kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu telah terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya berbunga menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya. Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori oleh sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan janji yang diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang bunda menunggu-nunggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji) atas namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji kapan peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah dalam diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji untuk dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa. Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau, karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun tidak. Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan keuntungan. Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang tidak banyak memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang ikut menggunakan uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari mereka yang sukses. Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan keharmonisan keluarga ibu yang diingkari janji itu. Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah mengingkari janji untuknya? Hanya "mungkin" jawabannya. Karena senyum ibu tidak pernah berubah untuk semua anaknya; do'a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah hatinya, selalu untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk seluruh belahan jiwanya. Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya untuk ditukar dengan janji-janji kosong. Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu menyembunyikan sepedih apapun sakit hatinya, namun Allah tetaplah Dzat yang Maha Adil yang telah mentakdirkan Rasul-Nya bersabda: "Keridhoan Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan Allah." Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai anaknya, kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati yang sakit jika tergores. Dan yang pasti Allah adalah Dzat yang Maha Adil, dan tidak pernah lupa dengan janji-janji yang tertuang dalam ajaran-ajaran Rasul-Nya. Jadi, berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda. Sahabat, sayangi ibumu, ibumu, ibumu!
Read More..
Ibunda Mengapa Engkau Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada
ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu
adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak
akan pernah mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu
menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang
ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan".
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-
tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah,
mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan
menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat
utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan
isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk
menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan
bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali
menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang
menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau
letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai
semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai
hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan
memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-
masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang
rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan
kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah
yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula,
kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling
melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat
mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita,
agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan
yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air
mata kehidupan".
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup
Read More..
ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu
adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak
akan pernah mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu
menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang
ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan".
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-
tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah,
mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan
menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat
utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan
isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk
menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan
bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali
menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang
menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau
letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai
semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai
hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan
memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-
masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang
rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan
kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah
yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula,
kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling
melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat
mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita,
agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan
yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air
mata kehidupan".
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup
Berbicara Kepada Anak-anak

Anda mungkin tahu rasanya, bagaimana berkomunikasi dengan anak-anak.Terlebih lagi, anak-anak sendiri. Berbicara kepada anak-anak, sebetulnya menyenangkan walau kadang-kadangmengesalkan. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian, mengingat pekanya perasaanmereka, mengingat masih sedikit dan sempitnya wawasan mereka, dan masihpolosnya cara berpikir mereka. Di sela semua "kelemahan" itu, ada satu kekuatan terbesar yang dimilikihanya di saat tertentu dalam hidup setiap manusia. Kekuatan yang dimilikihanya di saat manusia masih menjadi anak-anak, yaitu daya ingat dan dayacerna yang luar biasa pesat dan hebatnya. Berhati-hatilah. Berhati-hatilah jika Anda bermasalah di kantor. Jangan sampai kekesalan Andatertumpah pada diri dan perasaan mereka. Apapun yang buruk dari mereka, akanberasal dari perkataan Anda sebagai orang tua. Berhati-hatilah jika Anda bermasalah dengan pasangan atau keluarga Anda.Jangan sampai kemarahan Anda terlampiaskan pada perasaan dan jiwa yang masihbenar-benar apa adanya. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dariperkataan Anda sebagai orang tua. Berhati-hatilah jika jalan hidup Anda tidak sesempurna yang Anda minta.Jangan sampai kekecewaan Anda menerpa pada hati dan pikiran suci mereka.Sebab Anda akan menciptakan anak-anak yang penuh cacat dan cela di dalamjiwanya. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Andasebagai orang tua. Berikut ini adalah tips dari seorang konsultan komunikasi yang mendalamipersoalan komunikasi antar pribadi, termasuk berkomunikasi dengan anak-anak. *TERSENYUMLAH DENGAN TULUS PADA MEREKA* Smile! And mean it! Lebih dari 50% komunikasi Anda, dilakukan dengan bahasatubuh termasuk ekspresi wajah. Saat berbicara kepada anak-anak, persentaseitu akan bertambah. Sebab bahasa tubuhlah yang lebih mereka pahami,ketimbang bahasa intelektual Anda sebagai orang dewasa. *JANGANLAH MERENDAHKAN MEREKA* Janganlah berbicara dengan merendahkan mereka. Adalah baik untuk mengetahuiterlebih dahulu, seberapa jauh pemahaman mereka tentang suatu topik.Snorklinglah sebelum diving. *GUNAKANLAH ALAT PERAGA* Gunakan sesuatu yang anak-anak dapat melihat, mendengar dan menyentuhnya.Gunakanlah alat peraga secukupnya. Tidak perlu kebanyakan dan bertaburan.Anda tahu bagaimana anak-anak. Dengan alat peraga, mereka akan lebih mudahmengingat berbagai hal. *SEDERHANAKANLAH BICARA ANDA* Anak-anak akan cepat lelah dengan deskripsi yang terlalu detil, dan denganteori serta konsep. Gunakanlah cerita, untuk mendemostrasikan informasi yangakan Anda sampaikan. Buatlah proses itu menjadi fun. *BERTANYALAH PADA MEREKA* Pertanyaan akan membuat anak-anak berpikir dan terlibat. Menjawabpertanyaan, bertanya, mengutarakan pendapat, dan melakukan evaluasi, adalahlebih menyenangkan bagi mereka dalam memahami berbagai fakta. *ANTUSIASLAH DI HADAPAN MEREKA* Jadilah antusias dan enerjik. Ini akan membuat Anda dan mereka tetap terjagadan tertarik pada topik. *PAKAILAH KACAMATA MEREKA* Anak-anak melihat berbagai hal dengan cara pandang yang berbeda. Merekamelihatnya dengan kacamata mereka, bukan kacamata Anda. Concern, prioritasdan sistem nilai mereka, juga berbeda. Temukanlah apa yang penting bagimereka, sebelum berbicara. Doronglah mereka untuk meminta penjelasan, jikamereka tidak memahami apa yang Anda katakan. *MEREKA TIDAK PEDULI ANDA SEBAGAI PEMBICARA* Mereka, tidak peduli apakah Anda seorang pembicara yang hebat atau tidak.Apa yang mereka inginkan, hanyalah kejujuran, antusiasme, dan respek. JikaAnda melakukan kesalahan berbicara atau lupa akan sesuatu, tak perlukhawatir. Anak-anak itu menyenangkan, sebab mereka tak akan menghakimi Anda.Teruskan saja bicara Anda. *JUJURLAH PADA MEREKA* Jika Anda tidak tahu jawaban dari pertanyaan mereka, jujur saja. Tak usahAnda karang-karang jawabannya. Anak-anak, biasanya mengetahui jika Andangibul. Bilang saja nanti akan Anda cari jawabannya. Dan ingatlah, merekaakan menagihnya. *LIBATKANLAH MEREKA* Libatkanlah mereka. Jika ada bagian dari bicara Anda di mana mereka bisatampil ke depan, melakukan penghitungan, atau membicarakan sesuatu, berikankesempatan itu pada mereka. *JIKA MEREKA HARUS DUDUK DAN DIAM: TEKNIK ABC* Ada saat atau sesi tertentu di mana anak-anak memang diharapkan hanya dudukdan mendengarkan. Untuk sesi seperti ini, Anda hanya perlu melakukanbeberapa penyesuaian. *A: Attention Span* Attention span atau rentang perhatian, adalah faktor yang membedakankemampuan mendengar, antara anak-anak dan orang dewasa. Setelah dewasa, Andatelah bisa mengembangkan kemampuan untuk lebih fokus dan lebih lama bertahanmendengarkan sesuatu. Anak-anak belum bisa sejauh itu. Perhatikanlah acara bagus untuk anak-anak di televisi. Semuanyadipecah-pecah ke dalam berbagai segmen yang pendek-pendek. Dibuat sepertiitu, agar anak-anak tetap duduk dan mendengarkan. Jika anak-anak terlibat dalam suatu aktivitas yang tidak dipilihnya sendiri,mereka akan lebih enggan mendengarkan. Prediksilah secara realistis, berapalama mereka akan tetap fokus. *B: Break it Up* Jika Anda berbicara pada sekelompok anak-anak, pecahlah mereka menjadikelompok-kelompok kecil. Jika bicara Anda akan panjang atau menyangkutbeberapa isu sekaligus, pecahlah bahan bicara Anda menjadi potongan-potonganyang sederhana dan mudah dicerna. *C: Children are Still Children* Seberapa pun besarnya energi dan antusiasme Anda, mereka tak akan pernahmelihatnya dari perspektif Anda. Selogis apapun pernyataan Anda, mereka takakan pernah melihatnya seperti Anda melihatnya. Cobalah untuk memasuki sudutpandang mereka, kemudian bertanyalan WIIFM (What's In It For Me?). Sebab,mereka juga punya yang namanya minat dan ketertarikan pada sesuatu. *KESIMPULAN* Sebagian besar dari kita, adalah orang-orang dewasa yang tak sempurna,manusia-manusia yang penuh dengan cacat dan cela. Sebagian besarnya,disebabkan oleh kata dan bicara para orang tua kita. Kita masih bisamerasakan bekas dan carut-marutnya. Itulah luka lama kita, yang kecilkemungkinan bisa hilang selamanya. Kita tidak akan menyalahkan para orang tua. Sebab mereka hanya berjalansesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan, sejalan dengan impian danharapan, seiring dengan wawasan dan kemampuan. Begitulah yang telah terjadi,dan kita sudah tidak bisa apa-apa lagi, kecuali membangun masa depan. Apa yang terpenting, adalah menciptakan masa depan yang lebih baik dan makinbaik. Masa depan dari anak-anak kita. Kita tak ingin mereka sama tak sempurnanya dengan kita. Kita ingin merekalebih baik dari kita. Kita tak ingin semua cacat dan cela menggores lagi,seperti yang terjadi pada diri kita sendiri. Kita tak ingin semua itu datangdan datang lagi. Oleh sebab itu, janganlah kita ulangi kembali. Anak-anak tetaplah anak-anak. Orang dewasa mestinya makin dewasa.
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
